
Sebuah buku bersampul warna lemon didorong Mas Aris di atas meja kayu Ek. Mata Lala terpaku, sedetik kemudian mengerutkan kening, dia tau itu warna kesukaan Bella.
Dada Lala mulai bergemuruh begitu menyentuh buku di dalam dompet plastik bening yang juga terdapat bandul persahabatan.
Itu Bandul Dewa Eros.
Ini bandul milik Bella karena tepat di bagian panahnya telah ditandai dengan cat agar tidak tertukar. Sedangkan miliknya saat itu telah terkubur saat kos itu rata.
Lala termenung teringat Bella yang memberikan bandul tepat saat baru satu bulan mengekos di kamar Bella.
"Apa ini Bell?" tanya Lala yang masih rebahan di kasur Bella menelisik bandul warna emas.
"Ini satu untuk kamu, dan satu untu ku, kamu harus terus menyimpannya, La. Ini adalah Dewa Cinta Eros. Salah satu dewa Yunani yang lebih kuat dan menurut mitos tidak ada yang kebal terhadap efek panahnya.
"La, jika kamu memiliki ini, dan percaya, ya, kamu akan memiliki cinta abadi. Seperti yang terjadi pada hubunganku dengan kekasihku, bahkan kami sudah berpacaran sejak sekolah tingkat menengah sampai sekarang."
Lala menatap Bella yang kemudian tampak termenung dan berpikir dalam.
Bella meraih satu bandul. "Orang yang menjadi targetnya akan mengalami apa yang orang rasakan sebagai 'jatuh cinta' pasti kamu akan menemukannya segera." Bella lalu tertawa "atau mungkin dengan Johan, kalian cocok deh." Bella tertawa lagi menatapnya saat rebahan saling berhadapan.
"Apaan sih, nggak lucu, Bell. Dia hanya-"
"Hanya apa? bahkan kalian selalu malam mingguan bareng dan basah-basahan kehujanan bareng, apa kamu kira dia mau susah-susahan bareng elu kalo dia tidak ada perasaan? coba deh pikir." Bella menyarankan dan menggoyangkan bandul Eros.
"Nggak tahu, lah ... kita lihat apa Dewa Eros ini bekerja!" Lala menantang Bella.
Lala memerjapkan mata menyingkirkan kabut bening yang menghalangi pandangannya.
Kenapa kamu memberikan ini untukku? apa artinya. ( Batin Lala)
Eros adalah dewa cinta menurut mitologi Yunani, atau lebih tepatnya dewa nafsu ****..ual.
__ADS_1
Mas Aris berdeham, dan Lala menatapnya. "Dia memintaku agar kamu membaca tulisan tangannya, saat sendiri. Jangan dibaca saat masih di satu kota yang sama dengan Bella, jadi tunggulah saat kamu pulang nanti."
"Kapan dia memberikan ini mas?" Lala memasukan buku ke dalam tasnya.
"Sejak dua tahun lalu dia menitipkan ini. Aslinya ini boleh diberikan padamu bila kondisi dia sudah sangat fatal. Tetapi, bagiku dia sekarang sudah sangat menderita. Ya, kita berharap dia segera siuman."
Lala merasakan suara Mas Aris yang serak seolah menahan getir.
"La, tolong maafkan adikku. Jangan kamu membenci dia. Kamu tahu dia bagaimana, kan?"
"Aku tidak pernah membencinya. Iya, hubungan kami sangat baik, mas. Tak perlu khawatir." Lala mencoba tersenyum menyembunyikan setitik nyeri di ulu hati, tanpa bisa berkata berkomentar, bahkan untuk membayangkan jejak rumit di hatinya.
*
Ketika tiba-tiba mendapat kabar menggembirakan bahwa Bella baru siuman, Lala dan Mas Aris bergegas kembali ke ICU dan menengoknya bergantian.
Mata Lala bergetar dan hatinya menghangat begitu mendapati kelopak mata Bella yang mengepak perlahan. Lala menyentuh bahu Bella dan duduk mencondongkan tubuhnya menyerong ke wajah sang sahabat.
"Kamu lihat, Edric sangat merindukan mu. Semangat, Bell," kata Lala dengan suara bergetar tidak kuat menahan getir, merasa trenyuh karena kondisi Bella yang belum terlalu merespon.
"Kamu juga ingin pulang, kan. Ayo, kita hidup bersama ke depannya." Lala mengelus rambut kanan Bella.
"Jangan menangis, Bell, kenapa? aku jadi bingung kamu ingin apa?" Lala mengelap tetesan air bening di pelipis Bella, dan embun yang membendung di sudut mata Bella.
"Bell, aku menerima buku diary mu dan bandul kita-Dewa Eros. Itu milikmu kenapa kau memberikan padaku. Kamu harus cepat pulih dan jelaskan padaku kenapa kau memberikannya." Bahu Lala terguncang dan mulai terisak. "Aku merindukan mu, Bell. Banyak yang harus ku ceritakan, termasuk-"
Menghela nafas panjang, Lala menghirup oksigen ke dalam paru-parunya mencoba menenangkan perasaannya yang tak karuan. Menggenggam telapak tangan Bella, sahabatnya itu telapaknya terasa sangat dingin, dan begitu terkulai.
"Bella, Dewa Eros putra 'Dewi Cinta Aphrodite' telah menembakkan panah pada Richie, tampaknya. Dan nama panggilan Richie sebenarnya Eros, kan, kenapa namannya sama dengan Dewa Eros, ya ampun. Bella, ternyata, aku sudah memiliki kekasih saat kecil, ya aku sempat melupakan itu, dan saat aku terjebak di hutan, aku menjadi mengingatnya--
"Nit! Nit! Nit!
__ADS_1
"Bella ... Bell." Mata Lala membesar menatap dengan takut pada mata Bella yang mendelik sesaat dan lalu meredup dan perlahan menutup. Alarm monitor berbunyi semakin cepat.
Dokter datang dan mendorong Lala ke luar saat kemudian tubuh Bella kejang-kejang. Badan Lala gemetar ketakutan, menyalahkan dan menebak-nebak dirinya menjadi penyebab ini semua. Ataukah dirinya telah salah berbicara atau menyinggung Bella.
Lala menunduk, menutupi wajah dengan dua tangan. Bernafas kasar saat tulang belikat membentur dinding. Rasanya mau jatuh. Sebuah tangan seseorang menyentuh bahunya.
"Tenang, Lala, kita berharap semua akan baik-baik saja." Aris menyarankan, padahal dirinya sendiri juga tidak bisa menghilangkan kecemasan tentang kondisi adik tirinya yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya.
"Tante, ada apa dengan Mami? mengapa dokter-dokter berlarian?"
Lala menjauhkan tangan dari wajah begitu mendengar suara protes Edric. Lala menggigit kuku jempol menghilangkan pikiran buruk dan menyibak helaian rambutnya yang menutupi wajah. "Belum tahu, Edric, kita berdoa ya," jawabnya dengan lemah.
Menuntun Edric, Lala duduk bersebelahan, dan bolak-balik melirik ke arah pintu yang tertutup. Kaki Lala terus bergerak tak bisa diam, menunggu kabar dokter, sesekali melirik Edrick yang tampak berdoa dan duduk tidak tenang, sama sepertinya.
Lala melirik ke arah penjaga yang bersuara, tampaknya mereka menghubungi Richie yang sedang menjaga Vino di luar rumah sakit.
'Ayo, Bell, kau harus kuat!' Hati Lala terus menjerit. Berteriak dan berdoa dengan penuh harap kepada Tuhan agar memberikannya kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Bella.
Merasa tidak siap kehilangan sahabatnya, tawa dan ocehan Bella yang terus berputar di otaknya. Lala sesenggukan, bahkan dia merasa bodoh saat Kevin membawa Bella ke rumah, dia tidak terlalu bersikap dingin pada Bella, tanpa terlebih dulu memahami Bella. Padahal selama ini sahabatnya lebih menderita daripada dirinya. Jika Bella tidak mengatakan semua saat di kapal, dia tidak akan tahu apa yang sebenarnya.
Dulu dirinya sempat berpikir, mereka selingkuh, dan justru Bella menderita dibawah sekapan Kevin. Lala mengepalkan tangan.
'Breng*ek kau, Kevin!' Hati Lala menjerit meneriaki mantan suaminya. Dadanya sakit karena, bahwa, tidak hanya pada Lala, Kevin berperilaku biadap. Bahkan pada sahabat Lala, dan juga membunuh suami Bella.
Sekarang semua tampak jelas, dia seperti merasa ditidurkan selama ini dan saat bangun baru menyadari bahwa tampaknya Kevin memiliki penyakit mental psikopat. Ya, dari awal Kevin juga menyekapnya, ternyata rasa cintanya dulu pada Kevin membutakan matanya yang selalu menilai Kevin dengan sempurna tanpa ada cacat.
Kekecewaan itu kini tampak seperti seolah seluruh air laut ditumpahkan ke dalam dirinya dan menenggelamkan, bahwa mantan suaminya tidak memiliki rasa simpati apalagi empati. 'DIA MONSTER KEKEJAMAN BIADAP'
Lala baru sadar, dan membenarkan fakta perkataan Dima, bahwa Black Lion adalah perusahaan pembunuh bayaran! Dan pencipta mesin pembu..nuh itu adalah mantan suaminya!
Seolah dirinya dilempar ke kawah gunung yang sedang meletus, dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, terhenyak oleh kenyataan. Lala mengepalkan tangan menyadari selama ini hidup nyaman di atas penderitaan orang-orang yang dirampas hak hidupnya.
__ADS_1
'Itu tidak boleh terjadi lagi. Apa aku bisa meminta Kevin untuk menghentikan perusahan biadabnya. Aku tidak mau anak-anak ku menanggung karma dari ayahnya, dan memakan uang dari hasil pem..bunuhan! (Lala)