Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 185 : TIDAK SABAR


__ADS_3

-POV Author-


Tidak mungkin dugaan ku salah.


Johan menyanggah punggung 'mawar'. Jelas, dia yakin mengenali bibir ini.


Mengabaikan musik salsa dan orang-orang di sekeliling. Lebih mendekat, Johan ingin meraih bibir itu untuk memastikan.


Wanita itu beralih dari pandangan Johan, menoleh ke kanan berkata dengan dingin, "saya rasa, hadiah untuk Shasa sudah cukup." Menjadikan bahu Johan untuk bangkit, meninggalkan Johan yang masih termenung.


Selintas bayangan muncul di kepala Johan dimana diawal pertemuan dengan Lala -Lala yang kabur terengah-engah di hotel besar Martini dan jatuh di area parkir -di depan mobilnya.


Gerak-gerik wanita itu sama.


Tiba-tiba mata Johan memanas, TIDAK MUNGKIN.


"Tunggu," teriak Johan saat mengejar dalam lompatan besar melewati banyak pasang mata. Di luar gedung, Johan berhasil mencekal tangan wanita yang terengah-engah. "Mengapa anda berlari? anda bisa jatuh...hh"


Sontak Johan tidak bisa menahan kekhawatirannya,"Dan anda mau kemana?" Sekilas melihat sekitar, ada dua orang tukang parkir yang menunggu mobil-mobil.


"Anda menyakiti tangan saya."


Sontak Johan melepas cengkraman.


"Saya membutuhkan udara segar," kata wanita itu datar.


"Di luar dingin, ini tidak bagus." Johan mencuri pandang menatap -punggung wanita, dan pantat kencang- yang selalu berhasil menarik perhatiannya. "Sepertinya, anda bukan asli sini."


Wanita itu tertawa. "Ya, saya tidak tinggal di kota ini." Wanita itu meremas tangannya.


"Gaun mu bagus, cocok dengan gayamu. Kalau boleh tahu beli di mana? ya, saya punya anak-anak perempuan, terpikir mencari kado untuk mereka."


"Ini hadiah dari seorang teman, jadi saya tidak tahu tokonya."


"Bukankah tidak sopan, jika berbicara dengan cara memunggungi seperti ini."


"Bila, anda tidak suka pergilah. Terimakasih untuk menjadi pasangan dansa saya," kata wanita itu dengan lembut saat tangannya di perut. Sedangkan tangan lain tak bisa diam, sepertinya menyentuh mulut.


Setiap Johan bergeser ingin melihat wajah itu, wanita itu memutar menyembunyikannya.


"Jadi putra anda berusia berapa tahun?" tanya Johan akhirnya menyerah, mengambil bungkus rokok dari saku celana. Satu puntung terjepit diantara telunjuk-jempol berpindah ke jepitan bibirnya, ada rasa Mint.


"Untuk apa anda menanyakan itu," wanita itu berbalik. Johan menahan tangan kiri wanita itu.


"Saya merasa anda terus menghindari saya?" Johan bertanya sambil menatap langit malam yang cerah, mengambil korek di saku dada.


"Itu hanya perasaan anda. Saya tidak terbiasa bau rokok, biarkan saya pergi," wanita itu menatap rumah Sasha.


Memadamkan pemantik api, Johan melepas rokok dari mulutnya. "Jika saya tidak jadi merokok, anda akan tetap bersama saya?"


"Tergantung."

__ADS_1


Menoleh ke kiri, matanya meredup melihat wanita itu."Maksud anda?"


"Jika anda tidak memasuki ranah pribadi-"


"Deal, anda menang,"Johan menyeringai, melepas tangan wanita itu.


Membuang rokok yang belum menyala, ujung sepatu hitam itu menekan dengan kuat, hingga puntung rokok hancur di susunan paving. "Jadi." berdeham dua kali. "Hidangan pembukanya, belum kita cicipi kan," suaranya berubah melunak kembali mengaitkan ke jemari lentik hangat.


"Tolong," tangan wanita itu membuka genggaman jemari Johan, dia berjalan dengan kepala menunduk di depan Johan, sikap wanita itu membuat Johan tersenyum-senyum sendiri ditambah sulit untuk tidak menatap punggung itu.


"Silahkan, Anda duluan," kata wanita itu setelah berhenti sejenak, terdengar lebih galak.


Semakin menyeringai, Johan menunduk menatap rambut pendek lembut, ingin menyentuhnya. "Saya berjalan di depan anda, dan membiarkan anda memandangi saya sepuasnya..."


Johan melihat telinga yang semu-semu memerah karena malu wanita itu bergumam tidak terima.


Wanita itu berbalik dengan sorot mata protes.


Manisnya, - "Apa?" tanya Johan dengan senyuman tak tertahankan.


Histeria tamu undangan menggema diikuti musik dengan bass lebih kuat di ikuti suara tawa bersahutan.


Wanita itu berbalik menoleh ke kerumunan. dan berbalik lagi mendongak "Apa anda tidak ingin ikut bergabung? lihat gamesnya seru."


"Sebelum itu,-" kata Johan, menunjuk deretan makanan.


Wanita itu terseret oleh langkah cepat Johan.


**


"Hm?"


"Gimana pria semalem?"Sasha mendapat tatapan yang tidak bisa ditebak.


"Apanya yang gimana?"


Membuka solasi dari kertas biru, "apa teman saya semalam menarik?"


"Ya, menarik, sangat menarik."


Shasa menaikan alis, Jadi mereka sudah tau identitas satu sama lain, apa belum? membuka kardus kotak yang terlepas dari bungkusnya.


"Wah humidifernya keren lucu," ujar Lala melihat kado yang baru dibuka Sasha.


"Jadi, apa kalian bertukar nomer hp?" tanya Sasha memancing.


"Untuk apa?Sudahlah Sasha. Aku sudah memiliki Richie."


Menggeser kardus berisi humidifer, mengambil kardus besar yang tingginya sekepala. "Tapi, Richie dan kamu belum pacaran, kan? Jadi, cobalah kencan dengan pria semalam."


"Sasha, aku dan Richi sangat dekat."

__ADS_1


Pandangan Sasha terhalang kardus, "Hmm? apa? eh LDR itu banyak ujian. Saya si punya saran, yang dekat-dekat saja deh."


Lala memutar matanya, "Richie itu berbeda, Sha. Dia bukan orang yang suka main hati."


Shasa menarik Cutter membuka dus yang di dalamnya terdapat dus.


Lala tertawa. "Banyak dus yang membungkusnya."


"Ini dari tetangga lama, dia jauh-jauh datang kesini. Orangnya memang suka iseng." Dibuka lagi, kado itu berisi -jam transparan dari mika- yangmana ada foto Shasa berpelukan dengan seorang wanita.


"Wah, itu unik."Lala, memegang jam mika persegi.


"Eh, pria semalam juga nggak pernah main hati. Dia jomblo seumur hidup."


"Kasian," sahut Lala datar sambil menjauhkan jam mika dari tangan Vino.


"Jomblo, tetapi memiliki anak? maksudmu."


"Oh, kamu sudah tahu dia memiliki anak? Haiya, iya ... ya gitu deh."


Lala menaikan alis, "apa sih, nggak jelas."


"Jadi, kamu belum tahu nama aslinya?" tanya Sasha, sedikit menebak.


***


Tidak jauh dari tepi pantai di dekat hotelnya. Johan menatap kubangan luas, dimana puluhan excavator mengeruk tanah memindahkan pada dump truck.


"Pastikan mereka semua, berkerja. Saya tidak mau ada yang duduk lehai-lehai," kata Johan mengingat beberapa waktu lalu mendapat laporan tentang adanya pekerja yang bekerja tidak maksimal.


"Para Mandor sudah saya peringatkan, pak Presdir," jelas manager proyek. "Dan dalam dua minggu pengerukan itu sudah selesai.


"Satu minggu. Aku memberimu waktu satu minggu."


"Satu minggu? Pak Presdir, itu mustahil. Cuaca belakangan ini sangat tidak mendukung, bahkan sehari bisa hujan dalam empat jam."


Johan melihat hembusan asap dari mulutnya. Dia membuang dengan kasar rokok yang tersisa setengah. Dengan kasar menginjaknya ke -tanah bertekstur keras- "Terserah kamu. Saya tinggal membebankan pembengkakan operasional dari gaji mu , kan?atau kau mau dimutasi ke proyek lebih kecil? saya bisa mencari yang lebih handal darimu kan."


"Baik Pak Presdir, akan saya usahakan dalam seminggu." Manager proyek itu gemetar menyadari situasinya, dia tidak mau pindah ke kota lain dan jauh dari anak istrinya.


Di bawah terik matahari Johan melonggarkan dasi, membuka dua kancing teratas, merasakan hembusan angin saat -bulir keringat sebesar biji jagung- mengalir dingin dari kening ke pelipisnya.


Dia kembali melihat jam tangan, menunggu jam makan siang.


Waktu berlalu, sopir membuka pintu mobil. Johan mendaratkan sepatu di paving, menghirup aroma panggangan manis seperti kopi atau kayu manis. Dimana terlihat di depan matanya, pembeli keluar bergantian membawa jinjingan kotak kue dalam plastik besar.


Johan Menarik jas abu-abu pada bagian bawah. Kemudian mengibas pada area lipatan perut yang sedikit kusut. Johan menyisir rambut yang terasa lembab dengan jemari sebanyak tiga kali. Dia mengambil nafas dalam-dalam.


Setelah dia yakin penampilannya rapih, kakinya melangkah dengan ringan dan mantap. Seolah melihat daging berlumur darah, dia merasakan singa dalam dirinya begitu lapar.


"Apa yang kamu sembunyikan..." Johan menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2