Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 261 : BUIH TERAKHIR


__ADS_3

Pernikahan kurang dua hari lagi, selama satu minggu ini Richie telah menyewa mansion di Paris untuk keluarga. Kini Richie sedang sibuk, mengatur pertemuan dengan teman bisnisnya.


Lala berpikir lagi tentang kue pernikahan, sepertinya ada yang kurang. Saat dia siap dengan tas dan Johan baru muncul dari kamarnya, Johan yang wajahnya tampak sangat kusut hingga Lala akan menyapanya, tapi tiba-tiba lelaki itu langsung tersenyum dan raut kemuraman hilang dari sana.


“Mau kemana, La?”


“Toko kue, ada yang salah.” Lala membawa sepatu hak dan meletakkan di samping kaki, lalu mengambil ponsel dari tas dan mencari kontak telepon toko kue.


“Dimana Vino?” Johan duduk di karpet dan meraih sepatu hak Lala, melepas kancingnya.


Berpikir dalam, karena pertanyaan Johan membuatnya tidak fokus untuk mengingat nama toko. “Kutinggal dengan Amber, aku hanya sebentar. Ku tinggalin asi, eh Jo!” Lala menyingkirkan hp dan mendapati Johan menyentuh telapak kakinya membuatnya geli.


“Aku pakai sendiri saja.” Lala mendapati Johan memasukan telapak kaki itu ke higheels dan Johan tampak hati-hati mengangkat kaki dan sepatunya ke atas paha Johan, hingga ujung hak lancip itu menekan paha Johan, dan Johan melingkarkan tali di pergelangan kakinya.


“Diam.” Johan tersenyum menatap kaki jenjang Lala, wanita itu mengenakan gaun warna anggur sepanjang betis. Posisi duduk wanita itu membuat gaunnya terangkat sampai di bawah lutut persis.


Johan teringat kaki Lala yang dulu, itu penuh goresan dan dirinya mengolesi dengan salep dengan kengerian dan hati terluka. Dan beruntung karena goresan penjahat Se..x itu tidak meninggalkan bekas di sepanjang kulit mulus kaki Lala yang indah.


Johan terdiam sesaat menatap Lala yang berbicara dengan serius di telepon begitu semangat dengan kue pernikahannya.


Satu tetes air bening lolos dari mata Johan saat akan memasukan sepatu hak berwarna putih tulang, dan dia menunda, meletakan sepatu hak satunya. Mengamati jari-jari kaki Lala yang mungil, jemari Johan menyusuri ujung jari kaki itu. Johan mendengar suara tawa Lala dan lalu terpekik.


“Geli, berhenti,” Lala tersenyum pada Johan, karena hatinya sedang sangat baik sekaligus dipenuhi kecemasan.


Tulang-tulang Johan terasa seperti kapas, dan lalu mendengar Lala kembali tertawa kecil melanjutkan teleponnya. Selesai memasang sepatunya, Johan meraih kunci mobil menunggu wanita itu selesai telepon dan berniat mengantarnya.


Saat kembali ke mansion, sore, tidak ada siapapun di sana. Lala yang sudah lelah, belum sempat mencuci wajah dan memilih merebahkan diri di sofa.


“Lala … kekuranganku dimana?” Johan mengecup kening Lala, merasakan embusan nafas teratur wanita yang tampak kelelahan itu. "Aku mencintaimu, kau dengar?"


"Apa sulit?" Jemarinya menyusuri wajah wanita itu, menyingkirkan sehelai rambut, ke belakang telinga. "Tidak bisakah kau menikah denganku dan bukan orang lain?"


Lala merasakan geli di lehernya, "Ah, Eros, kamu sudah pulang, ehm," suaranya serak dan dia menyipitkan mata lalu matanya membesar mendapati bukan Richie. "Johan," pekik Lala dan Johan terdiam, wanita itu menyingkirkan tangan pria jangkung dari leher.

__ADS_1


"Tidurlah di dalam," kata Johan dingin, dia duduk tegap dan menatap kosong karpet ruangan.


"Jo, bukalah hatimu untuk dunia. Sampai kapan mau menyendiri. Lala melembutkan suara, mengusap lehernya atas bekas sentuhan Jo yang masih terasa, dan menurunkan kaki dari belakang pantat Johan ke lantai.


"Kekuranganku dimana?" Johan mengepal tangan di antara kaki.


“Tidak ada." Lala menelan salivanya.


“Katakan dimana aku bisa menemukan hatimu?" Johan semakin lirih dan bergetar, oleh kekesalan.


"Johan, aku akan menikah dengannya lusa. Kau mempermasalahkan ini, sekarang? apa kamu memaksaku untuk berpaling ke hatimu dan meninggalkan Richie!?" ucapnya merasakan getir dari dalam.


“Kamu memutuskan- menikah, dengan Richie. Terhitung dua kali, Lala," geram Johan, "harus melihatmu menikah dengan orang lain? La! kamu tahu ini? terlalu sakittt .... ”


"Johan-"


“Apa aku tidak layak untuk dicinta?! Lala Chlarisaa! jawabbb."


"Tapi-"


"Kamu pantas! justru aku yang tidak pantas di sisimu." Lala mengembuskan nafas panjang. "Akan ada perempuan baik hati, bahkan sempurna, banyak ... untukmu."


"Bukankah aku dulu yang melamarmu pertama kali, tapi apa? kamu tidak menjawab dan menghilang!? Sekejap saja ... olehmu apa tidak bisa memberikan ruang untuk saya!? hmm.” Johan lalu tertawa dengan penuh kegetiran dan menggigit bibirnya sendiri.


Menoleh tajam di depan wajah Lala, dengan mata nyalang. “Aku kecewa padamu, sungguh!”


Sebuah usapan kassr berasal dari jempol Johan  di bibir Lala dan menekan bibir selembut beludru.


“Aku tidak bisa. Kamu harus menghapusku dari dalam hatimu.” Lala berbicara dengan tenang, tidak mau tersulut emosi dan melempar pandangan ke kanan. “Kamu tahu sendiri.”


Lala Menarik pandangan dan kembali menelisik ke dalam netra coklat yang telah mengembun. “Kamu membuatku selalu ingat dengan Kevin, tapi bukan tentang ini. Dan faktanya, aku terhubung lama dengan Richie, dan itu sejak kecil," kata Lala dengan penekanan. "Maaf, Johan, aku pernah berusaha menumbuhkan hati ini untuk kamu, tetapi gagal.” Lala merasakan jari Johan berjalan di dagunya dengan kelembutan.


Terdiam, Lala merasakan getaran di hatinya saat menatap mata sayu di atasnya.

__ADS_1


"Kamu tidak memahamiku! Kamu belum berusaha untukku dan belum mencobanya! Aku sudah terlalu memahami mu untuk selalu menunggu. Kamu belum,” geram Johan tidak tahu harus berkata apa lagi untuk bisa Lala mengerti. "Batalkan!! pergi bersama ku, Lala!!"


Lala tersenyum sangat tipis, dalam kebingungan di ambang kegelapan.


“Jangan sesali nantinya, ya, Lala," geram Johan. "Karena aku tidak bisa hidup TANPA MU”


“Maksud menyesali dengan apa? Memangnya, kamu akan apa!” Lala menjadi berdebar sekaligus bergidik oleh kecemasan dan insting buruk yang tidak beres dengan Johan. “Katakan apa maksudmu?! ada apa denganmu?!!" mendesis menepuk dada Johan, "BERHENTI UNTUK BERJUANG PADA HUBUNGAN KITA."


“Aku tidak bisa Lala-” Johan merengek dengan keputusasaan dan kekesalan menjadi satu.


“Tidak bisa apa!?” Lala menatap mata memgembun Johan, matanya yang sering tak fokus seolah sangat gelisah, demi apapun dia tidak ingin terus menyakiti pria di depan.


“Aku menyayangi mu lebih dari semuanya." Johan berteriak dengan suara diatas biasanya. "Aku pikir aku mampu. Merelakannya? " Meremas kepala Lala dengan gemetar hingga telinga Lala tersembunyi dalam telapak tangannya "Dan tidak dapat memungkiri! bila benar-benar aku mencintaimu terlalu dalam!”


“Lalu?” Lala tercekat dan pikiran bercampur aduk dalam kepelikan. Bukannya dari kemarin pria itu terus tersenyum, bahkan bercanda, tertawa bersama Richie? dalam mendukung pernikahannya. Pria itu juga memilih dekorasi bunga, dan memilih bunga serba putih yang katanya itu suci. Atau Johan menyembunyikan kesedihan dari semua orang.


Dada Lala terasa panas. Sesuatu yang berbeda yang tidak Lala mengerti.


Ciuman penuh kelembutan datang dari Johan, mata pria meredup dengan ciuman ringan terasa manis seperti saat di tepi pantai dan di kos. Instingnya merasakan Johan yang dipenuhi kabut emosi saat air mata Johan mengalir jatuh melewati pipi dan rasa asin bercampur dengan rasa lemon dari lidah Johan.


Mata Johan menuntutnya dengan hal mustahil. Sudah berungkali Lala menolaknya, dan lelaki itu gigih ingin bersamanya.


Lelaki yang sangat baik, tapi hati Lala tidak pernah berniat bersinggah di sana, di hati Johan yang seperti malaikat.


Lala berharap, dengan terakhir kali untuk membalas ciuman itu  setidaknya mengurangi kesakitan Johan.


Bahkan pria itu sudah membantunya untuk memutuskan, meyakinkan untuk melepaskan diri dari Kevin, secara mental.


Johan adalah super hero baginya, yang selalu menolong dirinya bahkan sejak awal pertemuan tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Terimakasih,  Johan Orion Abimanyu.


Johan memeluk bahu Lala dalam-dalam, tidak mau melepas ciuman kegetiran, tidak ingin.


Menarik lidah wanita itu dalam kemarahan. Pahit dirasa, sakit melanda, cinta di depan mata, meninggalkan dalam kehampaan hatinya.

__ADS_1


Lampu relung jiwa telah padam. Hati kembali mati dipenuhi cairan empedu. Atau seperti racun agen saraf yang melumpuhkan saraf-sarafnya ... membuatnya sesak, dan mungkin tubuhnya akan ikut mati.


Mati oleh cintanya. Semua itu sama saja, mati atau hidup, sama tidak ada artinya, bagi Johan yang sedang merasakan kembali jatuh dalam lubang kehancuran dan lalu menjadi buih-buih di udara meninggalkan racun mematikan.


__ADS_2