Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 190 : TERLIHAT AKUR?


__ADS_3

-POV LALA-


Sikapnya yang terlalu intim darimana badai muncul di dalam. Aroma maskulinnya begitu kental dari rambut dan wajahnya.


"Kau menikmatinya, sayang?" bisik Richie.


Panas terbakar. Menyala di perut bagian bawah dan perlahan naik, ke telinga. Lidahnya yang basah menimbulkan suara yang menggelitik.


Aku terkesiap marah, saat jari-jari itu terus membelai leher, saya gemetar dan itu meningkat menjadi demam, lutut dan kaki menghangat dan menjadi panas.


Sementara tangan lain Richie mere..mas pinggang saya, jari-jarinya terbakar. Apa tangan pria sepanas itu? manakala sesuatu keras menekan saya, memancing desiran aneh.


Dia begitu dekat tanpa batas, aku gemetar koktail ketakutan dan adrenalin memercik. Memberikan kehangatan yang tidak bisa dipahami di perut bagian bawah.


"Papa..."


Saya mendengarkan suara Lydia dan langkah kaki ...


DEG Saya dan Richie membulatkan mata dan dia mendorong saya ke kamar mandi.


Aku terkunci, tulang belikat saya menempel pada pintu kamar mandi yang tertutup.


Tatapan meluncur di bagian leher Richie, dia terluka? aku baru menyadari.


Kami berpandangan, aku seperti akan menghadapi malaikat maut. Mati aku. Namun, Richie terlihat santai dan justru menyeringai.


Kenapa saya merasa seperti maling, terlepas dari semua itu, ini jelas salah. Apa tanggapan Lydia jika menemukan mamahnya di kamar mandi hanya memakai handuk dengan seorang pria, dunia pasti kiamat. Jantungku berdebar, tangan saya menutupi belitan handuk.


"Papa di dalam?" tanya Lydia dari luar, dan saya berbalik menghadap pintu.


"Sayang, ini MAMA..." teriakku bergetar menyembunyikan ketakutan.


"Mama??? Mama Lala???" Suara gadis itu terpekik diikuti rengekan tak percaya.


"Nak, bisa tolongin mamah."


"Apa.." suara Lydia lembut terasa di balik pintu.


"Ya, mamah butuh, air hangat, bisa kau pesan langsung ke resepsionis nak, mamah liat tadi mineral habis?"


"Kan ada kran kamar mandi."


"Mama maunya mineral botolan."

__ADS_1


"Biar, Lydia pesan via telepon ya?"


"Nggak, kamu datangi saja langsung, mamah udah nggak tahan, perut mama sakit, tolong ya, atau tanya apa mereka memiliki sejenis obat atau yogurt, tapi cepat bawa air mineral."


"Ah aku ambil di kamar ayah saja."


"Yaudah, cepet sekarang.Ugh sakit,"kataku berusaha sedikit merintih.


"Tunggu." Suara langkah kaki Lydia mondar mandir, sementara aku menggeser kakiku ke kanan menjauh dari Richie yang mendekat menekan tonjolan keras.


Sungguh mesum, mengapa saya harus memiliki calon pacar mesum, menyebalkan, mengapa? dan jika selain ini tentu dia orang baik dan sopan. Sebenarnya, ada apa dengan dia hari ini? apa dia marah?


Suara pintu luar terbuka dan tertutup, Lydia pasti sudah keluar. Saya membuka pintu kamar mandi dan Richie justru membanting sayang ke pintu, membuat pintu tertutup lagi, dia mengukir pola aneh di paha saya, saya meremas jemari kaki saya. dan dia justru melahap bibirku. Semua terjadi begitu cepat. Saya menggigit bibir -mint froza dia- dengan keras mencubit pinggangnya, justru membuat Richie terlihat semakin senang di matanya. Ia menarik lidah saya begitu kuat. Saya tak tahu cara menghentikannya. Dia justru menyeringai dan memandangku dengan api membara.


Aku mendorong tubuhnya yang berat dan mengencangkan handuk di sekitar dadaku agar tidak jatuh.


"Cepat keluar, aku tidak akan memaafkan mu!"


"Itukah tanggapan mu setelah saya jauh-jauh-"


"Sudah cepat keluar, aku benar-benar tidak mau bertemu denganmu lagi jika sampai anak ku melihat ini, mengertilah," rengek ku dengan keputusasaan.


"Sayang," dia cemberut tapi mengikuti langkahku menuju pintu belakang yang menghadap pantai. Saya membuka pintu dan mengintip ke luar sedikit gelap, tapi tidak ada siapa-siapa.


Saya mengelus dada, menghembuskan nafas kasar, menempelkan punggung saya pada pintu. "Dia sungguh gila, bagaimana bisa mendapat kunci ini, hah."


"MAH ... " Kenop pintu lain- bergerak. Saya menghembus nafas perlahan dan sedikit berlari ke pintu depan. Belum sempat memakai baju, membukanya dan Lydia yang memegang botol langsung mendekapku. "Mamah, Lydia kangenn."


"Mama lebih kangen-" Mataku membelalak saat Johan di balik pintu.


"Apa kamu sakit?" dia tercengang menatapku yang seakan menelanja..ngi bahu saya.


"Jo, keluarlah!!!"


"Haiya, okeh," Dia menatapku begitu dalam sampai akhirnya keluar, tapi mendorong pintu lagi, "minum obatnya." Dia tersenyum hangat.


Pintu tertutup, saya menggelengkan kepala, mengeratkan pelukan Lydia di dada saya, membelai rambutnya. Anak ku menangis, imutnya ...


...***...


Matahari mulai naik dan menyinari, setelah dari jam enam, saya, Lydia dan Johan yang menggendong Vino. Berjalan cukup jauh menyusuri tepi pantai, sekitar satu kilo dan bermain dengan ombak, mencicipi makanan tradisional.


Ini seperti mimpi indah yang menyenangkan.

__ADS_1


Beberes mandi pagi, saya menggendong Vino menuju restoran.


"Paman Richie," ujar Lydia yang berjalan di depanku membuatku tersentak.


Benar, Dia duduk dengan Johan. Saya mengerutkan alis, dan Richie menatap ke arah kami diikuti Johan.


"Ah, mama ada yang ketinggalan," saya berbalik dan buru-buru melangkah.


"Mamah," panggil Ivy tidak kupedulikan, melangkahi lantai marmer coklat, langkahku terhalang sepatu hitam.Mengangkat dagu, saya tercekat.


"Vino, sayang huh," Richie menarik Vino dari tangan ku, terasa betul aura mendominasi Richie, dan saya melepas Vino saat tatapan dalam Richie penuh tanda tanya.


Tanpa babibu, Richie menarik lengan ku, untung saja Lydia sudah berjalan ke deretan makanan, dan hanya tatapan macan Johan yang tajam sementara bibirnya tampak kaku, aku tertunduk.


Aku menjadi tidak fokus. Mengambil nasi goreng, mie goreng, ayam dan ikan bumbu, sambal tiga macam bahkan aku ambil setiap sendok.


"Apa makan mu begitu banyak?"


"Hah?" Aku melihat ke kiri, ternyata Johan.


"Ya, makan banyak."


Kami menjadi kikuk. Dia memegangi lehernya, dan saya nyaris menubruk dia. Saya ingin keluar dari situasi ini.


"Apa kamu mau omellete dan sosis?" tanya Johan yang belum mengambil apa-apa di tangannya.


"Ya, boleh, saus pedas sedikit banyak," kataku penuh dengan kekikukan.


Di meja saya berhadapan dengan Richie, dan Lydia di kanan saya. Saya melihat Richie sibuk dengan Vino, Ah mereka terlihat serasi, cakep, sama-sama berwajah oval. Jadi bagaimana jika kami menikah nanti? wajahku menghangat, memilah-milah sambal berwarna hijau, merah terang dan merah gelap. Aku tidak sadar terlalu banyak mengambil sambal.


Suapan pertama saya,mengunyah perlahan, menyisihkan daging ayam dari tulang dan memindahkan ke piring Lydia.


"Mamah, kapan masak buat Lydia?" rengek dia, yang memakan sayurnya sedikit sekali.


"Besok ya," kata ku saat Johan duduk di sebelah Richie, dan mendorong piring berisi dua sosis sapi, dua sosis ayam dan omelet.


Saya lebih banyak menunduk memperhatikan makanan saya, makanan seenak ini jadi terasa hambar, menghadapi dua orang penting sedang di depanku dan semakin kikuk karena menyembunyikan semua ini dari Lydia.


Teringat permintaan Putriku yang meminta ku untuk kembali bersama Johan. Itu sangat mengejutkan saya, saya yang baru bangun dari tidur sampai harus berpura-pura ke kamar mandi menghindari pertanyaannya. Entah apa yang ada dalam benak pikiran putriku, aku seperti disambar petir.


Keringat dingin membanjir telapak tangan dan kaki, wajah saya menegang.


"Kemana rencana mu siang ini? ada acara di balai kota, ikutlah," tawar Johan pada Richie.

__ADS_1


Saya tak menyangka, mereka yang dulu seperti musuh bebuyutan, terlihat akur?


__ADS_2