
Sebuah tv tipis paling besar mungkin berukuran tiga meter kali dua meter, memutar video ayahnya. Orang-orang berbaris itu lebih seperti barisan upacara. Lala ternganga, karena ayahnya terlihat kasar menendang begitu keras pada seseorang, mereka semua di gunduli, apakah itu latihan tentara, Apakah itu beneran ayah?
Dua tangan Kevin menyentuh bahu Lala dari arah belakang, "Sepertinya kamu sudah tahu semuanya, tahu darimana, apa dari Ars? apa yang kamu tahu? jawab aku maka aku akan jujur padamu."
Kevin meraih kursi lain dan menariknya ke sebelah Lala, dia menggerakkan mouse mengganti gambar Ars, Daniel dan beberapa aktifitas Ars dengan beberapa orang termasuk operasi organ. Kevin melirik Lala yang mual akan muntah dan Kevin langsung lari membawa tempat sampah lalu membukanya, benar wanita itu muntah, dan Kevin memijat tengkuk mengelus punggung Lala.
"Itu menjijikan Kevin, aku mau ke kamar mandi." Lala bergidik melihat tampilan organ manusia penuh darah, kepalanya pening.
Kevin menunjuk kamar mandi, setelah beberapa menit wanita itu kembali dari kamar mandi dengan mata merah.
"Kamu baik-baik saja? apa perlu kita keluar saja?" Kevin memijat lehernya sendiri yang pegal, dari kemarin bahkan dia belum sempat tidur.
"Aku akan menceritakan semua tentang Ars, saat ... " Lala mulai menceritakan ruangan pribadi Ars tentang diagram Blue shark, Veeper, Bee, dan Black Lion- macan putih. Kevin tertawa tetapi lelaki itu antusias mendengarnya.
"Jadi, apa kamu bertanya-tanya soal hubungan Alen dengan semua klan?" Kevin akan membuka semua berhubung wanita itu sudah mengetahuinya.
Lala mengangguk perlahan. Kevin dapat mencium kecemasan dan ketakutan yang coba disembunyikan Lala.
Semua biografi Alen dari kecil di buka Kevin. Lala terkesiap karena pria itu tahu jauh lebih banyak tentang ayahnya, dibandingkan dia sendiri. Bahkan Kevin memiliki cuplikan video kebakaran apartemennya di Moskow.
Siapa Kevin, apa saat dulu aku menikah dengan monster.
"Jadi semua perkataan Ars benar?" Lala menyembunyikan kening diantara kedua telapak tangan.
"Tidak semua. Ada yang janggal di sini." Kevin menunjuk tampilan layar sebuah gedung tinggi.
"Lala, ini sebuah kantor keamanan, perusahaan besar. Alen bekerja disini di usia ke 27 tahun, di bagian kontrol peluru kendali atau semacam peluncuran rudal. Setahun kemudian perusahaan ini menghancurkan rumah Ars. Dan seharusnya setiap peluncuran itu Alen yang memegang kendali untuk tombol ini, tentu atas dasar perintah atasan.
"Saya kira, Alen bukan orang yang semudah itu mengkhianati mantan tuannya, apalagi jika dia patuh tetap meluncurkan rudal ke rumah Ars, tidak masuk akal."
__ADS_1
Kevin mengelus-ngelus dagu diantara telunjuk dan jempol, "Alen itu seorang yatim piatu, mungkin sampai sekarang belum tahu siapa orang tuanya, dia dibesarkan di panti."
Menatap Lala yang gemetar, " di usia ke tiga belas tahun, dia dari panti dan bertemu dengan seorang yang lebih tua. Sayangnya, pria itu seorang pengedar obat-obatan dan Alen akhirnya tergiur bergabung dengan orang itu, sampai pindah negara dan akhirnya dia sendiri terjebak dalam obat-obatan itu.
"Alen menjadi preman jalanan. Hidup sebatang kara, yang dihadapinya hanya kekerasan antar geng-" Kevin menghentikan kalimat saat Lala mere..mas pegangan kursi.
"Lanjutkan..." Lala menelan benjolan rasa sakit di tenggorokan, beberapa kali mendengarkan tetap saja tidak bisa menerima kenyataan. Meskipun sadar, bahwa dirinya sendiri sama-sama pendosa, sangat jauh dari kata baik.
Lala tidak menyangka, ayahnya yang selalu memasang wajah baik-baik saja, ternyata menyimpan banyak sisi kelam. Jika ia berada di posisi itu, mungkin tidak akan sekuat ayah, apalagi hidup tanpa tahu siapa kedua orang tua.
"Suatu hari di usia ke lima belas, serombongan anak buah geng terkuat menyerang Alen sampai babak belur, lalu membawa Alen ke bos mereka, itu papanya Ars."
"Sergey namanya, Alen menjadi sasaran kemarahan Sergey saat awal-awal. Tahun berganti tahun, Alen menjadi anak kesayangan Sergey."
"Menurutmu bagaimana? lucu tidak? anak kesayangan menjadi musuh, untuk sekelas Alen bukankah itu tidak masuk akal, Lala?" Kevin mengangkat bahunya, dia sendiri masih mencari tahu.
"Hey, kamu tidak apa-apa?" Kevin menatap Lala yang bernafas dengan berat, "menangis bukan hal yang memalukan kan ..." Kevin melirik dan memeriksa wanita itu yang hanya menggeleng seperti menyembunyikan sesuatu.
"Sejak kematian Sergey, Alen keluar dari negara itu dan kembali ke Indo. Lalu Pedro memasukan Alen ke dalam klan Bee, yang diketuai kakeknya Johan." Kevin menyeringai ketika Lala membelalakkan mata entah karena apa.
Jadi, Paman Pedro membawa ayahku ke Bee! pantas, paman dan ayah dekat. (Lala)
Meneliti netra biru langit, Kevin menjepit sehelai rambut Lala di pipi kiri dan membawa ke belakang telinga. Kevin tanpa sengaja menyentuh pipi yang sehalus beludru, pipi yang dulu selalu disentuhnya.
Lala menarik kepala untuk menjauh, jantungnya entah menjadi berdebar.
Menatap Lala sejenak, Kevin lalu beralih mengetikan sesuatu di komputer.
Lala termenung dengan tampilan ayah saat muda, ayah yang dulu gondrong hampir sepanjang rambut Ars. Dan kakek Lewis juga sangat berkarisma saat muda dengan bahu kokoh dan aura menyeramkan.
__ADS_1
"Di usia ke 28, Alen masuk ke dalam Bee. Saat itu perusahaan itu kacau. Dan yang sedikit ku ingat antara Lewis, Alen, Pedro dan satu orang lainnya membangun Bee -" Kevin memutar kursi kembali menghadap Lala yang tampak penasaran.
"Apa yang di lakukan ayah di sana?" leher Lala miring ke kanan sebentar karena pegal.
"Kamu tanya sendiri pada Johan."
"Apa Johan tau?" Jantung Lala berdebar, tidak mempercayai.
"Tanyakan sendiri ... itu bukan kewajiban saya untuk bercerita padamu," menggaruk mengacak-ngacak rambut kiri Lala sampai mengenai telinga mungil.
Rasanya, sudah lama tak mengobrol banyak dengan wanita itu, ini sedikit menghibur.
Aku merindukanmu, aku masih menganggap mu ... tetap istriku.
Lala menyingkirkan tangan Kevin, "Dan lalu Black Lion dan macan putih?"
Seolah petir menyambar Kevin. Jika Ivy tahu, itu masih wajar karena anak itu ahli peretas, ya kecerdasan Ivy hampir melampaui dirinya.
Namun, untuk wanita yang sering ceroboh, penurut, kalem ... Kevin tidak ingin Lala tahu. Apa tanggapannya jika Lala tahu black Lion adalah perusahaan pembunuh bayaran.
"Kevin?"
Melirik jam pada layar komputer, Kevin memijat lehernya yang sudah sangat pegal. "Jam dua pagi, Lala, tidurlah." Tiba-tiba matanya teralihkan oleh lampu indikator yang berkedip hijau, pada bagian area landasan helipad.
"Tidak, Kevin. Aku ingin tahu apa itu diagram di bawah nama mu dan apa pekerjaan Tuan Parker sebenarnya."
Kevin tidak menoleh, tetapi menekan remote kecil dan TV terbesar menampilkan klan macan putih, tapi matanya melirik ke belakang.
"Lala, lihatlah cctv, sebentar lagi Johan mendarat, lampu landasan telah menyala. Ayo keluar."
__ADS_1
Lala mencekal tangan Kevin, dia meringis geram dengan Kevin yang tidak mau menjawabnya. Dan Kevin tertawa, entah apa yang ditertawakannya, lelaki itu mendekati wajahnya sampai jarak satu jengkal.
"Lala, kau punya dua opsi. Satu : Bagaimana jika kita berbulan madu? atau Dua : kau pijat leherku yang sakit? dan aku akan menceritakan itu setelahnya."