Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 66 : KERINDUAN JOHAN


__ADS_3

Seharian Tiara membujuk putranya yang tidak mau keluar kamar walau sekedar makan. Lewis pun turut membujuk cucunya, tapi hasilnya nihil.


Malam itu juga, Hans yang baru datang mendobrak pintu kamar. Terlihat Johan sudah mabuk dengan tiga botol minuman yang telah kosong.


Mata sembab dengan wajah begitu kelam, dan masih saja sang putra mengigau nama Lala.


Miris sekali. Tiara yang selalu mencoba membantu pemulihan depresi anak-anak terlantar bermasalah, sekarang justru putranya sendiri tak mempan dengan segalanya upayanya.


Hans meminta istrinya menghubungi anak pertamanya, agar mengatasi masalah Johan.


Tiara pun meninggalkan kamar.


"Anak ini benar-benar!" Hans mengangkat tubuh putranya dari lantai. "Papa kan bisa menculik Lala dan membawanya pulang..."


"Tidak bisa, wilayah itu dikuasai mafia yang paling di hindari para Klan."


"Kenapa menyembunyikan undangan pernikahan Lala, Pah?"


"Tak usah memberitahunya sekarang." Lewis duduk di sebelah tubuh Johan, menyadari sikap sang cucu sering tak terkendali.


Hans ikut duduk di samping Lewis, " tapi kehamilan Lala, apa benar itu cucu ku dan cicitnya Papah?"


"Kau meragukan ku? Pasti itu darah daging Johan."


"Aku tak bisa mengikuti jalan pikiran papa. Jika itu cicit papa, kenapa membiarkannya menikah dengan Kevin? seharusnya Johan yang bertanggung jawab." Dia melonggarkan dasinya, bahkan Hans belum sempat ganti pakaian karena Tiara langsung menariknya saat baru pulang.


Hans menggulung lengan kemejanya, Ia merasa bingung dengan setiap keputusan sang mertua, "bagaimana nasib cucuku?"


"Kita tidak bisa apa-apa, memasuki zonanya sama saja mencari masalah."


"Papa jangan lupakan Johan yang akan marah besar, lalu Tiara ..."


Lewis menepuk punggung Hans, "Aku menunggu."


DEG


Pembicaraan dua lelaki terhenti saat Tiara memasuki kamar.

__ADS_1


"Jaga Batasan mu," kata Lewis pada hans lalu meninggalkan kamar.


Hans sedang mengganti kemejanya dengan kaos yang diberikan istrinya, "apa katanya?"


Tiara meraih hp Johan dari sofa dan membawanya ke kasur. "Zack besok akan pulang."


"Bagus. Semoga Zack bisa membujuk adiknya," sahut Hans, melepas celana kerjanya, menyisakan celana kolornya.


Ia merebahkan diri tidur di sebelah Johan, menatap Tiara yang sedang merapikan baju bekas kerjanya.


Hans yang kasian pada putranya, sekaligus marah karena putranya itu menodai Lala. Di peluknya tubuh sang putra.


Sang putra yang sekarang sudah besar dan tinggi 'Turun dari siapa sikap mesum mu? Ingin sekali menghajar mu dasar bocah tengik.'


Padahal Alen dari kecil selalu menjaga Johan. 'Apa itu rasa terimakasih mu pada Alen? kau brengsek sekali sih nak.'


Hans membenci segala sesuatu yang tak benar karena -Orang tua Hans- terlalu ketat pada aturan.


Saat melamar Tiara, Hans tidak tahu bila ternyata calon mertuanya adalah kepala gangster.


Bila -orang tua hans- dulu tahu, pasti hari ini tidak mungkin dia bersanding dengan Tiara.


Dia baru sadar, mertuanya adalah gangster saat dirinya diculik oleh musuh.


Sang musuh sudah menceritakan semua perbuatan kotor mertuanya yang sering melakukan pemerasan ke elit politik dan pengusaha besar.


Yang sangat Hans tentang, Johan terjerumus mengikuti Kakeknya.


Hans menyayangkan sikap Lewis yang mendidik Johan dengan segala benda tajam dan pertarungan sedari kecil. Tapi bukan Lewis namanya, jika semua keinginannya tidak terpenuhi.


Besar harapan Hans pada Zack, semoga anak pertamanya mengikuti dirinya, yang lebih memilih berkerja dengan cara lurus.


Namun tetap saja, sang mertua ikut campur dalam pekerjaan hans. Diam-diam sang mertua mengancam pesaing hans, membuat kantornya itu bergelimpangan proyek dari pemerintah.


Bahkan teman hans turut dimiskinkan oleh sang ayah mertua. Tak ayal banyak teman-temannya, menjauhi Hans.


Hans marah besar, tapi titah mertua lebih mengerikan dimatanya. Selalu saja mengancam akan menjauhkan dia dari anak dan istrinya.

__ADS_1


Sebetulnya hans terlalu jengah dengan Lewis. Namun karena cintanya pada Tiara , Zack dan Johan ... Ia harus bertahan. Asalkan musuh Lewis tidak menyentuh anak dan istrinya.


"Kenapa sayang? banyak pikiran?" tanya Tiara setelah mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur.


Wanita itu berbaring memeluk punggung Hans yang sedang memeluk Johan.


"Sedikit urusan kantor mengganggu pikiranku, sudahlah ayo tidur." Hans memejamkan matanya.


Johan malam itu tidur di temani kedua orang tuanya.


...**...


Terik matahari diluar rumah menyilaukan sampai masuk jendela kamar.


Tiara yang sudah kehabisan cara membangunkan Johan karena tidak mau bangun, dan terus tidur. Sedangkan suami dan Ayahnya telah di kantor dari pagi.


"Sudah jam satu nak, ayo makan dulu. Kau dari kemarin belum makan. Jangan begitulah."


Kring-


Tiara melihat ponselnya yang berbunyi.


"Halo Lala."


Johan yang mendengar nama Lala disebut, langsung membuka mata.


"Ya ... tak apa. Johan? sepertinya dia tak mau bangun."


"Mamah!" Johan langsung menarik hp Tiara, dilihatnya nomor Lala yang biasa di hubungi.


" Halo Lala, Aku Jo!" Johan berkaca-kaca hingga kristal air mata jatuh berlomba meraih pipinya, menahan kerinduannya karena tak pernah bisa menghubungi Lala.


Tiara menatap putranya itu berkaca-kaca, Ia meninggalkan kamar Johan memberi waktu sang putra berbicara dengan Lala, setelah semalam Ia terus menghubungi Lala dengan banyak harapan agar Lala mau menghubungi Johan.


Bersambung ...


____________________________

__ADS_1


Hai teman-teman aku punya rekomendasi novel yang bagus untukmu, mampir ya ... tinggalin jejaknya. terimakasih...



__ADS_2