Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 100 : MANDI


__ADS_3

Film telah di putar setengah jam lamanya. Richie melihat jam ponselnya, mengutus anak buahnya mencari informasi sesuai permintaan Lala. Sebenarnya dirinya enggan mencampuri urusan Kevin... tapi mengapa dirinya tak tega.


Padahal sudah dari lama, dirinya tahu Lala sejak pertemuan pertama Kevin. karena saat itu awal-awal Kevin gabung dalam anggota fraksi utara, otomatis harus mengintai Kevin diam-diam saat itu.


Tapi nama Bella ini baru muncul, apa Kevin dan Bella baru berhubungan? bahkan Kevin tak pernah membahas Bella selama ini.


Richie melirik Lala yang terus mematung dengan tangan yang memegang perut. Apa dia tak pegal seperti itu. Kasian sekali. Kevin dimana coba, hubungan mereka benar-benar rumit.


Sampai film selesai, Kevin masih juga belum datang.


"Kamu mau saya memanggil Kevin kemari?" tanya Richie yang duduk di sebelah Lala.


Dengan pelan Lala menggeleng tanpa ekspresi tanpa melihat Richie. Wanita itu tertunduk turun dari sofa hingga sempoyongan.


Richie hendak menuntun Lala, tapi wanita itu tak mau dan memilih bertumpu pada dinding dengan jalannya yang terlihat berat.


Seumur-umur, rasanya baru kali ini, Richie dibuat merasa serba salah, apalagi yang bukan kesalahannya. Richie yang tidak mau dibantah, kini justru tak bisa menghadapi Lala yang marah dalam diamnya.


Bahkan dirinya tak tahu apa itu ekpresi marah, sedih... karena Lala lebih terlihat seperti mayat yang sedang berjalan, Ah mummy. Lala yang biasanya cengeng, kini justru diam, itu lebih menyeramkan baginya.


Di depan lift Lala dan Kevin bertemu. Richie melotot karena melihat Lala yang tersenyum seperti tidak ada apa-apa.


"Maaf, saya ketiduran, Babe" kata Kevin datar.


"Tidak apa-apa, kamu kecapekan habis bikin cilok, ya..." kata Lala pelan, tangan kirinya memegang lengan Kevin saat mereka di lift.


Mereka bertiga diam di dalam Lift.


Menyebalkan,apa mereka pasangan? mengapa jadi seperti ada tembok besar yang memisahkan mereka? apa saya harus mengerjai mereka? Tenang saja! saya akan memberikan aroma stimulate sensual pada kamar mereka, sepertinya membantu. batin Richie.


...🍀...


Sesampai di kamar, keheningan itu semakin kentara.


Lala melepas outernya, sambil menatap Kevin yang terlihat banyak pikiran. Dia beranjak ke depan Kevin yang duduk termenung. Lala melepas kancing kemeja casual Kevin, satu persatu. Suhu hangat itu langsung menyeruak dari badan sixpack sang suami.


Pikiran Lala bercabang setiap melepas semua pakaian yang di kenakan Kevin, hatinya begitu tercabik. Terakhir Lala duduk dalam pangkuan tubuh polos Kevin, sambil melepas jam tangan suaminya, kemudian meletakan di kasur.


"Sayang, tolong telanjangi aku," lirih Lala.


"Hem?" Kevin mendekap Lala, "Kamu juga mau ikut mandi?"


"Aku akan menggosok punggungmu, sayang..."lirih Lala


"Apa kamu sakit? kenapa suaramu begitu lemas, Babe?" tanya Kevin dengan nada suara yang mulai mencair, dibandingkan tadi yang pikiran Kevin seperti di tempat lain.


Lala memegangi kedua tangan Kevin, "Aku merindukanmu, sayang. Bolehkah kita melakukannya sampai pagi?"


"Apa???"


"Kenapa? apa kamu tak menginginkan diriku, sayang..."


"Bukan, bukan begitu... bukankah pertanyaan kamu aneh, Lala. Tentu, saya sangat menginginkanmu dan selalu begitu dari dulu," kata Kevin mengecup telinga Lala.


"Apa cuma aku?"


"A-a-apa!? kamu tanya apa, Babe?"


Lala tertawa kecil, "tidak , aku melantur," kata Lala, tersenyum kecut.

__ADS_1


Lala mulai merasakan tangan Kevin yang menyingkapkan rambutnya ke samping dan mulai menghujani kecupan lembut, sangat lembut dan pelan. Bahkan saat ini kecupan itu lebih terasa penuh kasih sayang.


Apa ini yang kamu lakukan pada Bela, sayang? mengapa?dan mengapa harus Bella?mengapa harus dia?


Aroma kamar tiba-tiba tercium bau wangi bunga, rempah. Lala semakin melayang. Kevin mengecupnya begitu lembut.


Suaminya telah membuang dress begitu saja tanpa melepas kecupan, Sembulan nafas hangat Kevin semakin menyetrum semua saraf kewanitaan Lala, terlebih gigitan Kecil Kevin di bahunya.


Aroma wangi ruangan semakin membuat tubuh Kevin yang sudah wangi, jadi semakin menggairahkan di tengah kehancuran hati Lala.


Lelaki yang segala ototnya keras itu, tengah menarik kedua tangan Lala ke atas dan menahannya, Kevin mengecup pelan bibirnya, sorot mata penuh nafsu itu tengah menatapnya tajam.


"Babe, jangan pergi dariku," lirih Kevin di sela ciumannya, mata itu menghunus tajam penuh cinta seolah tahu kegundahan hati Lala.


"Mengapa kau tak membalas ciumanku, Babe? kamu marah? apa kita harus menghentikan ini?" tanya Kevin akan menarik tubuhnya. Beberapa detik, Lala mengaitkan kakinya pada kaki Kevin, hingga lelaki itu tak bisa kabur.


"Cium aku, Babe, apa yang kamu pikirkan?" suara Kevin yang berat dan nafas begitu memburu.


Kevin menghujani kecupan ke lehernya, meninggalkan berbagai gigitan yang Lala yakini, telah meninggalkan noda merah.


Nafas Lala mulai memburu dan jantungannya semakin berdebar. Rasanya, dia ingin menangis keras di tengah lubang besar di hatinya, tapi jilatan Kevin membuat darahnya mendidih membuatnya merasakan kenikmatan. Namun, setiap mengingat Bella, gairah Lala turun. Semua bercampur aduk.


"Apa kamu suka, Babe?" Kevin kembali beradu dengan kewanitaanya.


"Kau tak menjawab?" Tanyanya lagi semakin melancarkan serangan-serangan mautnya, setiap Lala akan mencapai puncak, Kevin menghentikannya. Saat Lala terkontrol, Kevin kembali menyerangnya. Terus begitu, tak mengijinkan Lala mencapai puncak.


"Mintalah, jika tidak, saya tak akan meneruskannya, Babe," kata Kevin dengan mata dan nafas penuh nafsu.


"Sayang, beri aku!" kesal Lala yang mulai pusing.


"Sebut namaku, Babe!"


"Kevin Saint Mariano, Beri Aku! Aku memintamu!"


Tak cukup disitu, Kevin mulai memijat pergelangan kaki Lala dengan pelan.


Mereka menyadari satu sama lain ada tatapan yang tak beres. Namun, mereka lebih memilih diam.


"Kamu banyak diam. Apa kamu masih mencintai saya, Babe?" tanya Kevin dengan tatapan dalam.


"Apa perasaan cinta harus di ucapkan? Lebih baik tidak diucapkan tapi dibuktikan. Dari pada di ucapkan tapi ..."


"Mengapa kau tak meneruskannya? Ada apa dengan mu Babe? kau tahu, kamu tak bisa berbohong padaku, Lala. Itu begitu jelas di matamu."


"Mengapa kamu bilang aku berbohong? apa kamu bisa menunjukan bukti jika aku berbohong? jika kamu tahu, seharusnya kamu tak perlu menanyakan lagi kan?"


Pijatan Kevin berubah jadi sentuhan sensual, dia mulai mengecup lagi ke atas...


Melucuti b r a Lala, memberi pijatan ekstra membuat Kevin dan Lala beradu nafas.


Ciuman panas itu mengaktifkan kehangatan dua tubuh polos, mata mereka sesekali menghunus tajam, bercampur nafsu dan sorot mata mendalam.


Tangan Lala memanjakan Kevin, membuat sang suami menjerit kecil dan terlihat semakin seksi.


Apa Bella melihat suamiku seperti ini? batin Lala, hatinya benar-benar di bombardir granat, sampai kepalanya terasa begitu sakit, bukan karena gairah tapi batu besar itu seperti terus memukulnya.


"Mengapa kamu menangis, Babe?" tanya Kevin mengelap setetes kristal di ujung mata Lala, Kevin yang tadi merem melek kenikmatan, dia menyingkir dari atas Lala dan melepaskan tangan istrinya dari kejantanannya.


Lala menggeleng pelan, "aku terlalu bahagia..." lirih Lala tersenyum semanis-manisnya, setengah dusta.

__ADS_1


"Hentikan ini," kata Kevin dingin, beranjak meninggalkan Lala ke kamar mandi.


Lala meringkuk, tangan kirinya meremas kuat pada sprei. Sedangkan wajahnya, iya sembunyikan pada lengan kanan.


Tidak, aku tak boleh terang-terangan seperti ini. Aku tak boleh terlihat lemah.


Lala langsung beranjak menghampiri Kevin yang tengah berendam.


"Sayang..."


"Babe ... saya merasa lelah."


"Kenapa?"


"Entahlah."


"Balik badanmu, aku akan memijat punggungmu," kata Lala lembut tak tega melihat wajah kelam Kevin. Dipijatnya punggung keras dan lebar Kevin dengan sabun, sabun ini membuatya sangat licin.


Lala beralih ke leher Kevin, dia memijat lama disana.


"Babe, apa kau tak mau bernyanyi untuk ku seperti saat kami di Vila, suaramu jelek, tapi aku merindukannya."


"Kenapa kau begitu terang-terangan, walaupun suaraku jelek, seharusnya kamu bilang bagus kan???" kesal Lala.


Kevin tertawa kecil, membuat Lala sedikit terhibur hanya dengan melihat tawanya.


Kevin mulai bernyanyi saat Lala memijat kepala Kevin dengan sedikit sampo.


🎼"Seandainya saya bisa,


saya bisa mengucapkan setiap detik.


Saya akan mengatakan apa yang saya inginkan,


Bahkan mungkin menangis untukmu.


🎼Jika saya tahu itu akan melukai hatimu,


Aku akan mematahkan hatiku menjadi dua,


Coba selamatkan sebagian dirimu.


🎼Tidak ingin merasakan sentuhan lagi..


Tidak ingin gairah lain..


Tidak ingin ciuman lain..


Tidak ada nama lain yang keluar dari bibirku..


Tidak ingin memberikan hatiku pergi..


Untuk orang asing lainnya..


Atau biarkan hari lain dimulai.


Bahkan tidak akan membiarkan sinar matahari masuk.


🎼Tidak, aku tidak akan pernah mencintai lagi ..

__ADS_1


Aku tidak akan pernah mencintai lagi, oh, oh, oh, oh..."


Suara Kevin yang bagus dan menghayati, membuat Lala yang berusaha kuat menyimpan kelemahan dirinya ...tapi, kristal bening itu tetap meluncur tanpa permisi, Lala mengelap dengan punggung tangannya, tak akan membiarkan Kevin melihat tangisannya lagi.


__ADS_2