
Dua jam berlalu, hp Richie kehabisan bateri, senter mati, di dalam rumah itu semakin gelap.
"Yaaah!" Lala dan Richie mengeluh bersamaan.
"Mas... awas menginjak Vino."
"Iya, saya tahu. Seharusnya Jefri menyiapkan genset atau setidaknya lampu emergency!"
"Jangan keras-keras, Vino bisa terbangun." Lala berkata dengan setengah berbisik.
"Jika begitu, mana saya bisa mendengar mu. Pindah lah kesamping saya agar suara mu bisa terdengar."
"Hah, mas, tolong geser dulu."
"Sudah." Richie tersenyum dalam kegelapan, dia merasakan keuntungan dari mati lampu. Ketololan Jefri menjadi berkah juga. Bila dia terlalu pintar, pasti saya tidak menemukan kesempatan ini.
Richie merasakan Lala pindah ke sebelahnya. Dia sengaja hanya bergeser sedikit supaya kaki dan lenpgannya bisa bersentuhan dengan wanita itu.
"Apa kamu tidak kedinginan? percuma kalau mati lampu, eh tapi Sollar Cell belum bekerja karena tadi mendung."
"Aku terbiasa cuaca seperti ini. Namun, malam ini memang lebih dingin."
Richie mendekat ke telinga Lala. "Apa mau saya buat hangat?" Pertanyaan lelaki itu disambut dorongan tangan Lala. Richie menahan tangan itu membawa ke pangkuannya, dia menggenggam tangan mungil itu diantara dua tangannya.
"Solar cell?"
"Ya, rumah ini telah terpasang solar cell, agar kau bisa lebih menghemat tagihan listrik." Richie mengecup punggung tangan Lala.
"Mas, jangan seperti itu."
"S-ssaya refleks, sorry. Baiklah, saya akan belajar mengontrolnya. Mengapa rasa rindu ini tak pernah ada habisnya."
"Lihat Anda menggombalkan."
__ADS_1
"Saya berkata dengan jujur." Richie mengecup pipi Lala.
"Hentikan atau aku akan pindah ke kamar."
"Apa? jika begitu saya ikut kan?"
"Tidak, aku akan mengunci dan meninggalkan anda sendirian."
"Jangan, oke." Richie justru tidur di pangkuan Lala. "Saya tidak macam-macam. Bisakah kamu memijat kepalaku? kamu tahu tidak, saya ikut memasang lantai kayu, itu khusus dikamarmu, itu melelahkan."
"Oh ya? mengapa Anda terlalu keras pada diri anda sendiri?" Lala mengurungkan niat yang tadi mau marah. Dia meraih bantal dari belakang punggungnya. "Pakai ini, agar aku lebih mudah memijatnya." Lala meletakan bantal di atas pahanya saat kepala Richie terangkat.
Richie tersenyum, merasa menang banyak. Dia mulai menikmati pijatan tangan mungil itu, Pijatan mu keras juga, sulit dipercaya kamu bertenaga rupanya. Mengapa tidak dari dulu seperti ini, hah. Memandang mu dalam kegelapan, merasakan hangat tanganmu. Luar biasa!
Lala sudah mulai terus menguap, dia tidak yakin ini sudah berapa jam. Hujan tidak begitu lebat seperti sebelumnya, tapi juga belum kunjung mereda dan lampu tidak ada tanda-tanda untuk menyala.
"Mas, kamu tidur? kenapa tidur di sini," gumamnya, merasakan kaki yang sudah pegal setengah mati. Lala sudah menyesuaikan pandangan mata, dia sedikit menunduk mengamati wajah Richie dalam kegelapan. Sayangnya tidak ada cahaya, bila ada pasti akan semakin -terlihat jelas- kedamaian Richie dalam tidurnya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tiba-tiba terlihat silau, lampu telah menyala. Lala menyipit, membuka mata perlahan menyesuaikan, matanya terpaku pada jam yang menunjukan pukul 10.
Dipandanginya wajah tampan Richie, mata Lala melebar sempurna. Bulu matamu lentik. Mengapa kamu tersenyum? apa kamu bermimpi indah?
Dengan perlahan Lala bergeser ke samping, menurunkan bantal yang ditiduri Richie dari pangkuannya.
Lala berjalan berjinjit mengendap-ngendap memindahkan Vino ke kamar tanpa mau membangunkan Richie. Dia menutup, mengunci pintu kamar.
Hal itu tepat bersamaan Richie yang membuka mata dan menutup mulutnya, dia ingin terkekeh karena ulah lucu wanita itu yang masuk kamar seperti maling di dalam rumahnya sendiri.
Untung, saya sempat menyalakan alat penghangat di kamar. Namun, karena mati lampu, saya berharap alat itu menyala otomatis.
Bagaimana jika saya telah menikah dengan mu. Apa kita akan tidur di kamar itu? Mau tidak, jika saya membawa kamu tinggal di markas saya? Ini cukup sulit bila saya harus mondar mandir UK sini. Tapi, bukan itu masalahnya. Jadi, mau tidak jika kamu menikah dengan saya? ini sungguh membuat saya gila! Saya belum mempersiapkan diri bila kamu menolak saya. OH! Clarissa!
Hujan baru saja mereda, Richie keluar dari rumah Lala dan mengunci pintu dari luar, dia tidak ingin membangunkan wanita itu.
__ADS_1
Ketika dia baru akan masuk rumah yang kini ditempatinya, dua anak buahnya begitu sigap sudah dibelakangnya. Richie mengecek sekeliling, dia masuk diikuti anak buahnya.
Anak buahnya itu langsung bekerja, menunjukan cuplikan video pada layar laptop. Dan, cukup lama Richie menonton dan mendengarkan penjelasan panjang kali lebar sang anak buah.
"Keponakan mendiang dari nyonya Vira menyerang markas ... O! akhirnya dia menemukan petunjuk kematian saudaranya!" Lantang Richie dengan suara sedingin es kutub, yang kini meletakan dua kaki di atas meja.
"Dia sudah di penjara bawah tanah bos. Seperti dugaan anda, dia terus mengirim anak buah mendiang nyonya Vira. Mengapa anda tidak menyebutkan saja, Johan pelakunya."
"Jefri, saya tidak akan kembali ke Markas dalam beberapa hari ini."
Sang anak buah berdiri dengan tegap, Mengapa bos melindungi Johan, dan membiarkan markas terserang? walau musuh tidak bisa masuk sekalipun di ring terdepan, ini merepotkan.
"Tapi, pertemuan rutin dengan Under Boss, tinggal satu minggu lagi. Dan Kevin mungkin akan curiga bila The Boss, justru tidak hadir. Jika keponakan mendiang nyonya Vira bersekongkol dengan Kevin untuk melobi ke empat Under Bos yang baru dilantik dengan maksud melawan posisi anda- "
"Kau, terlalu pesimis Jef." Richie tersenyum licik, "saya memiliki cara sendiri ..."
Jefri memandang The Bos. Alisnya terangkat sebelah.
Ya, anda Bos dari segala Bos. Tidak ada yang tidak bisa anda dapatkan. Dan tidak ada yang berani melawan anda, kecuali orang yang akan menemui kehancuran.
Namun, mengapa anda menahan diri pada Kevin? Anda mengangkatnya untuk suatu tujuan, bukankah tujuan itu telah tercapai? seharusnya anda sudah mendepaknya, kan bos!
Bukankah anjing itu tidak tahu terimakasih? sudah menerima wilayah luas secara cuma-cuma. Justru berkhianat dan membunuh bos. Beruntung anda hidup kembali, karena jika tidak, aku sendiri yang akan menyembelih kepalanya. Dan anda melepaskannya tanpa membuat perhitungan.
Saya lebih lama dari Kevin. Lelaki itu hanya menolong anda dari satu anak peluru. Sedangkan saya sudah berkali-kali menghadapi berkali-kali peluru untuk melindungi mu, Bos. Seharusnya saya yang mendapat wilayah itu kan, Bos!
Jefri mengepalkan tangan, hatinya bergemuruh, tapi dirinya masih memasang wajah dingin. Tidak akan ada yang bisa menangkap isi hatinya.
Termasuk The Bos yang selalu peka terhadap anak buah lainnya, tapi hanya pada Jefri, sang bos seperti tidak peduli meskipun sekadar hanya memarahinya. Sang bos pilih kasih dan tidak adil. Dari semua anak buah The Bos, padahal dia merasa paling lama bertarung dan banyak berkonstribusi, bahkan jauh lebih dari sang asisten The Bos, Damar.
"Jefri." Richie berkata dengan tanpa ekspresi dan tanpa warna suara."Kau pilih mana? berada di sisiku atau kau ingin jadi BOS ... MEMIMPIN WILAYAH..." Kemudian dia menatap tajam pada Jefri.
Membuat lutut Jefri gemetar, sang bos bagai tahu isi pikirannya dan seketika dia tertunduk merasakan dingin menjalar ke seluruh punggungnya manakala wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi.
__ADS_1
Dimana keringat sebesar biji jagung di keningnya jatuh melewati alis dan melewati matanya. Bahkan dia menjadi tak berani walau sekadar untuk berkedip dan membiarkan mata terasa perih oleh keringat dinginnya.