
-POV Richie-
Sebuah batu ruby langka. Berbentuk belah ketupat yang tercelup dalam emas putih. Saya mengayunkan tangan ke atas, mengamati secara teliti di dalam kamar yang setengah terang oleh cahaya putih dari luar.
Tanpa pikir panjang saat pelelangan pada menit ke tujuh, dengan melalui telepon dan tatap muka, saya memenangkannya di Jenewa, Swiss, satu tahun lalu disaat saya masih kehilangan ingatan, ketika Vino baru saja dilahirkan.
Hati saya terdorong ingin memiliki ini tanpa tahu alasan kuat dibaliknya. Ruby ini harta karun alam yang unik, potongannya yang proposional serta warna merahnya yang sangat indah.
Lab Batu Permata Gubelin di Zurich menyatakan kombinasi karakteristik seperti ini, sangat jarang terdapat di -rubi Birma- dengan ukuran sebesar ini.
"Lala pasti akan suka, kan?" saya mengecup mata Ruby -merah darah- membuat jantung saya berdebar.
Kring--- Saya meraih ponsel di atas nakas, dan kembali duduk di pinggiran bed, telepon dari jefri.
"Tuan, saya sudah di depan. Apa saya perlu ke kamar Johan?"
"Tidak perlu, saya akan keluar." Saya mematikan telepon, sekali lagi mengamati cincin Ruby, saya tidak bisa menahan senyum. Dengan hati-hati, saya menyimpan ke dalam kotak merah kecil. Kemudian saya menuju pintu dengan semangat, hari ini tanpa beban, bahkan selalu tidak sabar untuk selalu bersamanya. Saya membuka pintu kamar sambil memasukan kotak cincin pada saku celana jeans.
Lala di depan kamar, dia membeku di tengah bersama Johan. Saya menunduk dan menemukan Jari-jari mereka bertautan dalam genggaman erat.
Jantung saya seakan ditonjok dan hampir terlempar ke tenggorokan saat menangkap tangan Lala yang gemetar.
Semua. Potongan masa lalu mereka, melintas berputar menggerogoti pikiran. Ketika Lala membela mati-matian Johan untuk menyelamatkannya. Bahkan ketika Johan akan mati, perempuan itu histeris, memaki saya dan memilih membenamkan hidup Lala demi menyelamatkan Johan yang bahkan sudah menodai.
Jadi, apakah saya baru menyadari ini? Lala membutuhkan Johan di sisinya. Omong kosong alasan demi anak-anaknya, atau bahkan wanita itu sendiri belum menyadari perasaannya.
Apakah posisinya sama jika aku mati, akan kah dia menangis untuk saya? mustahil. Tulang-tulang saya terasa rontok, dan saya menjadi lemas.
Mengapa kamu melakukan itu semua, dan semalam kau menciumnya. Lalu, sekarang kau menggenggamnya? dan nanti apa ...
Mengangkat dagu saya. Dada dan jari-jari saya bergetar, tersayat oleh rasa sakit, seolah-olah rahang saya hampir jatuh ke lantai.
Menatap mata Lala yang bergetar, saya harap dugaan saya salah. Saya harap hanya ada saya dihatinya. Setelah saya bersabar cukup lama, saya harap akan mendapatkannya. Harus berapa lama lagi menunggu, melamar menikah. Sh*it sungguh menyiksa ku.
Aku menghela nafas mencoba berpikir rasional, sebagaimana lelaki jantan, ini tidak akan berlarut dan semua akan baik-baik saja.
"Mas hai, saya baru ambil botol ini," kata Lala terbata, menunjukan tangan yang lain, botol berisi air bening, mata saya kian memanas.
"Ya? apa, " apa harus bergandeng tangan seperti itu, ingin saya mengatakan ini. "Ya..." hanya satu kata tanpa saya bisa berkata-kata.
"Ya?" tanya Lala. Dan Johan masuk ke kamar, melewati jalan diantara saya dan Lala.
"Mama, Vino pup," ujar Lydia datang tiba-tiba. Membatasi ruang kami yang akan berbicara, setelah kami bertatapan cukup lama, sekitar satu menit.
__ADS_1
"Pergilah, kita bicarakan nanti," kata saya dengan nada rendah sambil tersenyum lembut padanya, tanpa saya bisa menyembunyikan sorot mata kecewa.
"Mah, cepat." Lydia menarik Lala, dan Lala mengangguk pada saya dengan senyum tipis.
Menghela nafas panjang, saya percaya akan melalui hambatan ini, walau tetap hati saya diselimuti kecemasan.
Angin menyapu dedaunan yang baru saja berjatuhan di susunan paving. Berjajar mobil berplat merah memenuhi parkiran. Semua kamar hotel penuh sampai dua hari ke depan.
Saya tidak mendapatkan kamar! Semalam saya menggedor kamar Johan. Dan pagi tadi saya bangun terlambat, ketika dia baru pulang olahraga bersama Lala. Ini mengesalkan.
Jefri berdiri dibelakang mobil. Kemudian saya meletakan perlahan, kotak cincin Ruby di atas telapak tangan Jefri.
"Bunga-bunga mawar segar, baru datang saat saya menuju kemari, Tuan. Jadi, jam enam sore sudah siap." Jefri memasukan batu Ruby ke dalam saku jas abu-abu muda.
"Jef, apa dia akan menerima?" tanya saya dengan gusar menatap ke arah paving dan kembali menatapnya.
Satu alis Jefri terangkat, dia mengangguk perlahan. "Saya menangkap sebuah ketulusan dimata Nyonya setiap kali Anda bersamanya. Disaat menyambut kedatangan dan kepergian Anda. Saya pikir, Nyonya, tidak memiliki alasan untuk menolak pinangan itu." Dua sudut bibir Jefri terangkat, aku tidak menemukan sebuah kebohongan di sana.
"Jika, dia menolak?"
"Saya berharap semua berjalan lancar, saya berdoa untuk keberhasilan Anda nanti malam. Kemudian Anda meraih apa yang anda cari. Dan mengenang masa kecil Anda bersama nyonya di Rusia! pasti Nyonya juga akan bahagia karena itu, Bos."
"Ya, ya, Jef, terimakasih. Tolong persiapkan kamar tambahan untuk ke lima putri Lala, pakaian dan segala macam."
"Baik bos, akan saya persiapkan hari ini. Jadi, kapan Anda akan memperlihatkan rumah itu pada Nyonya?" Dia tersenyum, mengapa dia jauh lebih semangat dari pada saya.
"Urusi saja pekerjaan kamu." Saya menatap Jefri yang masih semangat. "Jef, Cari alat untuk berenang bayi. Sejenis balon atau apa itu, saya pernah melihatnya."
"Baik. Apa ada lagi, Tuan?"
Saya menggeleng dengan gelisah dan tak nyaman.
**
Pentas panggung di balai kota, mengundang artis dari ibu kota. Lala duduk di sebelah saya, saat saya memangku Vino. Memeluk Vino dan selalu memeluknya, membuat hati saya damai.
Kami duduk di barisan kedua, sedangkan di depan pihak dari kabupaten dan segala kepala dinas. Lydia duduk diantara orang tuanya.
Tangan kiri saya, menangkup telapak tangan Lala. Dia terlonjak dan jantung saya kembali sulit dikontrol.
"Sarapan mu hanya sedikit, mas?" tanya Lala dengan wajah memerah, dia sedikit mencondong ke kanan. Suara musik cukup keras, kami harus berbicara ditelinga untuk bisa mendengarkan.
"Makanan mereka berlemak, apa itu makanan? apa mereka menggunakan minyak zaitun?"
__ADS_1
"Kamu mau, kukusan sayur? jika mau aku buatkan setelah ini?"
"Boleh."
"Leher mu kenapa mas?" dia meneliti leher saya, tanpa menyentuh. Saya ingin memeluk dia, saya merindukannya. Lydia benar-benar membatasi pergerakan saya untuk berdua.
"Lala, lihat mereka, lucu," kata saya sambil menunjuk bocah perempuan dimana sedang mengayun jari-jari kecil. Melenggang-lenggok dengan baju adat.
Lahirkan anak perempuan, Lala. Saya tidak sabar, aku sangat menginginkannya. Kamu harus menerima ku. Kita ke Moskow. Kita akan menikah di tempat kita pertama bertemu! Kemudian, membuat anak, Aku tidak akan membiarkan kamu tidur, di malam pertama saya!
"Jangan mengalihkan pertanyaan. Jadi kenapa ini?" Dia menusuk perban saya, "ahli juga orang yang bisa sampai mengenai leher kamu, atau dia seorang penjahat, nggak ... kan?"
Aku hanya melirik sekilas. Mode cerewetnya aktif, memusingkan. "Anak buah saya, latihan dan tidak sengaja menggoresnya," sahut ku dengan malas untuk sekadar menjelaskan, tentu saja ini ulah asisten dari mantan suami mu.
Dia mencubit punggung tangan saya membuat saya meringis, tapi berikutnya dia mengusap pelan, dua sudut bibirnya terangkat, membuat saya ingin menggigitnya.
Betapa sulit hanya untuk kami berduaan, tampaknya lebih sulit daripada memacari seorang gadis. Kemana saya membawa Lala pergi, pasti Lydia mengekor.
Saya memandangi Lydia memutar lensa, lalu mengarahkan kamera ke panggung. Dia manisnya, seperti ibunya.
Johan menatap tablet pada lembar kerja Excel, tidak merasa terganggu oleh sorakan dan tepuk tangan.
"Sayang, mari kita makan malam hanya 'berdua'. Ah maksud saya bertiga dengan Vino tidak apa. Aku akan menjemput kamu jam tujuh, ya?"
"Lain kali saja, mas. Maaf, aku harus mengecek keuangan kantor."
"Itu bisa besok. Aku akan membantu mu atau berikan saja ke Jefri."
"Tidak bisa, besok pembayaran pada pihak ke tiga. Aku akan tetap di rumah malam ini, titik," kata Lala dengan tegas.
Mata saya melebar, saya telah menyiapkan semuanya, aku tak mengijinkan dia mengacaukan, atau dia harus ku culik.
Saya tertawa dalam hati, memikirkan hukuman yang pantas untuk dia karena berani menolak.
Saya memijat leher saya, pegal, ke kanan dan kiri, memijit leher. Dan kembali memutar leher. Mata saya terpaku pada seseorang."Luca?"
"Siapa mas?" Lala mengusap punggung saya.
"Luca, benar itu dia, kan?" Saya memiringkan kepala, mengerjap berulang kali.
Lala mendorong punggung saya ke kiri, Lala sedikit melongok hingga kehangatan itu ada di punggung saya. Matanya tertuju ke arah dimana pria yang paling menonjol di antara kerumunan. Lelaki itu akan duduk. Jarang Dalam acara seperti ini, orang-orang menggunakan jas kecuali orang-orang tertentu.
Saya tertawa, "benar dia! saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Ha..ha...ha.."
__ADS_1
Lala berdiri dan menyerobot Vino dari tangan saya, "mas saya mau ke toilet dulu."
Saya, terdiam sejenak. "Saya antar ya? kamu sakit?" saat mendapati wajah Lala yang berubah dan terlihat tidak baik-baik saja.