
Richie menghela nafas panjang, mengalah, harus mengalah, "Jangan berkeliaran sendiri di kapal ini. Dan jangan mempercayai perkataan Bella, sebisa mungkin menjauh, " Richie dengan nada kaku, matanya memandang langit di luar kaca bening.
"Maksudmu?" Lala menusukkan kuku-kuku di telapak tangan Richie, tidak seperti biasanya tangan Richie kini menjadi dingin, Lala menebak mungkin lelaki itu menjadi banyak pikiran karenanya, makin membuat Lala merasa bersalah.
"Kamu boleh tetap di sini, tapi tetap jangan mempercayai siapapun terutama Bella, dia akan bertemu denganmu, dan sebaiknya kau minta Ars untuk tidak usah menemui Bella," Richie dengan lidah getir, pria mana yang akan rela melepas wanita yang dicintainya, ke medan perang, terlebih jika tahu wanita ini lemah tidak memiliki kemampuan melindungi diri, sedangkan sang lawan sudah selevel suhu. "Bella akan meledakan kediaman Kevin."
"Apa!?" teriakkan Lala tercekik, lalu menggeleng dan mendongak menatap Richie yang baru mau menatapnya kembali. "Tidak mungkin!"
"Ya, dia hanya perlu dana untuk semua itu, dan saat dana nya terpenuhi dia akan menjalankan misinya."
"Apa Kevin tahu ini?" Lala tidak mau mempercayai, tapi faktanya Richie tidak pernah berbohong. Kepala Lala menjadi pusing saat Richie mengangguk. Lutut Lala menjadi selemah kapas, dan Richie menahan pinggangnya, sehingga dia tidak sampai merosot.
"Tidak mungkin bila Bella sampai setega itu, dan mengapa dia bisa memiliki kekuatan seperti itu sampai ... meledakkan? itu tidak masuk akal, mengingat Bella yang ku kenal sangat jauh dari membuat masalah. Dan rumah Kevin diselimuti hutan belantara luas seharusnya tidak sampai menyentuh rumah kan. Richie, semua anak ku sedang berkumpul di sana," rintih Lala dimana pikirannya menjadi buyar tidak terkendali.
"Tenanglah, sayang, kita akan cari jalan keluar. Aku, Kevin, dan Kakek yang datang bersama mu sedang memancing Bella. Berpura-pura tidak tahu apa-apa di depan Bella, itu baik untukmu sayang. Dan selama Bella tidak mendapatkan dana, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa, dan itu tidak akan terjadi bulan ini."
Richie menggoyangkan pinggul melepas pelukan, dan berjalan ke balkon.
Lala menyusulnya dan menatap Richie yang menutup pintu balkon saat angin luar sudah menerpa wajah Lala. Matahari semakin orange mungkin jam setengah lima sore, apakah Ars sebentar lagi akan ke kamar? jam makan malam jam tujuh biasanya Ars membawanya dinner.
Sebuah katrol terpasang di pagar besi dan Richie memakaikan sabuk pengaman pada Lala seperti sebuah ikat pinggang yang menyangga sedikit pantat Lala.
"Mas, jangan, bagaimana jika Ars tahu ini," Lala menempel di pagar, mencodongkan dada, melirik ke bawah ... ke ombak laut besar, ini sangat tinggi. Satu tali menggantung dan Richie langsung turun menggunakan itu dan kaki Richie meraih pagar di kamar bawah, lelaki itu kini mendongak ke atas ke arahnya sambil menggoyangkan tangan memanggilnya.
"Aku bisa jatuh ke laut, mas..." pekik Lala bergidik, karena tidak bisa berenang, sepoi angin menerbangkan rambut pendek menutupi mata.
"Cepat sayang, berpegangan seperti caraku turun. Ars sedang sibuk," Richie sedikit mengencangkan suara di antara desisan angin.
Lala naik pagar, dan kini dia berpegangan diluar pagar dengan gemetar sesekali menoleh ke bawah, dingin menjalar di kaki, perlahan Lala melepas tangan dan ... dirinya tergantung oleh tali pengaman.
Tangan kiri meremas pada satu tali sambil menjepitkan tali diantara mata kaki yang saling menempel. Sementara tangan kanan memencet tombol pada tali pengaman yang mengikat pinggangnya.
Setiap dia memencet tombol, maka tali akan memanjang dan turun menjauh dari kamarnya. Dia terus menekan tombol sampai berayun di lantai bawah, sesekali melirik Richie yang sedang tersenyum puas dengan sabar menunggu.
Saat kaki Lala nyaris menyentuh pagar di kamar yang berbeda. Richie menarik kaki Lala lalu menggendong paha itu di dada kokohnya, menunggu Lala menekan tombolnya.
__ADS_1
"Bagaimana sayang? seru kan?" Richie mengulas senyum dengan tawa mengejek sambil memeluk pinggul Lala di gendongannya.
"Bikin jantungku mau copot, mas. Sepertinya aku pobia ketinggian," kesal Lala saat Richie menurunkan tubuhnya ke Lantai.
Richie berjongkok tanpa menghilangkan senyuman lalu melepas tali dari pinggang Lala.
"Jadi begini caramu masuk ke kamarku. Apa ini kamar mu mas? tepat di bawahku? bagaimana bisa Ars tidak tahu ini." Lala memperhatikan seluruh isi kamar.
"Selama ini saya di sini," Richie menelan salivanya menatap paha polos karena gaun Lala yang terangkat oleh tali. Dengan tanga gemetar Richie menurunkan tali pengaman melewati di sepanjang paha mulus itu.
Lala mengangkat kakinya bergantian dengan bertumpu pada bahu Richie dengan tangannya.
Richi meraih tali itu dan cepat bangki sebelum pikiran nakal menguasainya. Dia menempel di pagar lalu menekan tombol di ujung tali. Dan tali yang tergantung di kamar atas, terlepas dari pagar dan jatuh ke tangannya.
Richie menggandeng Lala masuk ke dalam. Lampu kamar dalam keadaan menyala.
Bunyi klik pintu terkunci, Richi menekan tombol dan tirai perlahan menutup. Entah apa yang akan di lakukan Richie, Lala menjadi merinding karena gugup.
Richie melangkah ke kamar sebelah, dua kamar ini terhubung.
Di sana peralatan Richie, Lala menghitung laptop ada sepuluh buah yang masih menyala dan dua laptop semacam cctv di beberapa titik kapal, termasuk cctv mengarah ke pintu kamar di atas.
Deretan kemeja menggantung di lemari, seperti sudah tinggal lama di kamar ini.
Sebuah pelukan datang dari arah belakang, kecupan mendarat di bahu Lala, bergantian ke telinga membuat Lala merinding bercampur demam di telapak kakinya lalu menjalar ke titik dimana mendapatan sentuhan dan kecupan lembut Richie.
"Mas," Lala sedikit meng...erang tidak tahan geli. Menoleh ke kanan menangkap pipi semu-semu pink Richie, bibir panas itu mendekat, nafas panas saling bertukar. Panas tangan Richie yang melingkar di perutnya. "Apa hubungannya Bella dan Ars?"
"Hmm," Richie dengan tatapan dalam, "mereka bekerja sama untuk melawan Kevin. Biar ku beri tahu, saat Kevin dulu bertemu Bella dan membawa Edrick, Kevin membunuh suami Bella. Karena itu mungkin temanmu itu membalasnya sekarang."
Glek. Lala menelan saliva, beberapa lama kemudian kening Richie jatuh di bahunya. "Kevin membunuh suami Bella? Bella sudah menikah?" tubuhnya seketika bergidik ngeri, oh hal paling mengerikan adalah pembunuhan.
Lalu apakah Richie juga membunuh seseorang? Bukankah kekasihnya dulu sangat kejam, dia mengingat betul saat Richie akan membunuh Johan dengan macannya, dirinya masih tidak menyangka, hidupnya diliputi orang-orang kejam, dan apalagi ayah sendiri, apa kata mereka orang-orang nanti, apa keamanan akan menangkap ayah atau orang-orang yang terlibat kekerasan terlebih pembunuhan, bulu kuduk Lala meremang, jari-jarinya gemetar.
"Bukan, sorry aku salah bilang. Yang benar itu, suami Bella terbunuh di rumahnya, ketika Kevin sudah di dalam penerbangan."
__ADS_1
"Kevin membawa Bella dari suaminya?" Lala bergidik.
oh sebegitu, rasa cinta Kevin pada Bella, kah? sampai membawa kabur istri orang? (Lala)
Menghela nafas berat, Lala bersandar ke kepala Richie, mengalihkan pikirannya, terlebih karena Richie tidak menjawabnya. "Di ruangan mana ayah disekap?"
"Jangan kaget," mengecup pipi kanan kekasih, Richie lalu berjalan ke depan laptop dan menggoyang pinggul untuk mendarat di kursi. Menggeser mouse, mengetik keyboard dengan jari-jarinya.
"Sayang, apa kamu mencintaiku?" tanya Richie saat Lala akan duduk di pangkuannya, pantat hangat itu lalu mendarat di pangkuannya.
Duduk bergeser ke kanan, merasakan halusnya celana panjang Richie. Kehangatan paha Richie itu menembus celana sutra sampai melewati gaunnya, sangat nyaman. Kini tinggi kepalanya bisa sejajar dengan kepala Richie yang tengah memandang dengan antusias. "Kenapa dengan pertanyaan mu?"
"Jawab," kata Richie datar, sementara tangan kanannya di atas pangkuan Lala dengan sedikit mencengkram paha kiri Lala, membuat pipi wanita itu semakin memerah.
"Enggak," sahutnya datar, Lala melingkarkan kedua tangan di leher Richie yang tampak muram seketika karena jawabannya, dari dalam dirinya menahan tawa memperhatikan ekspresi Richie yang dirindukannya.
"Hoh..." mata Richie menyipit dan bibir mengatub.
"Enggak perlu ditanyakan, itu terus yang ditanya?" Lala dengan nada sedikit manja dan satu alis terangkat. Mendekatkan bibir ke telinga Richie, "Bukankah kita sudah membuat Baby."
Mengigit dagu Lala sampai wanita itu meringis karena tidak tahan dengan sikap manisnnya dan Lala mendorong kepala Richie. "Mas, tolong maafin, Rissa," hidungnya menempel ke hidung mancung Richie.
"Hm."
Menatap serius pada Richie yang seperti masih marah, Lala memainkan jari-jarinya di telinga Richie, yang mana telunjuk kiri turun dengan sensual melewati leher jakun, ke dada diantara kulit di bagian tengah pada kemeja yang terbuka, dan bergeser ke kiri membentuk sebuah pola sensual di dada kiri Richie dengan ujung kukunya, Lala merasakan nafas Richie yang kian meningkat.
"Kapan, kamu mau kalah? Rissa," suara Richie menjadi serak, menahan.
Bibir Lala berkedut, huh, "Jadi, tidak terima?" Lala membuat gerakan, menjilat bibir atasnya dari ujung kiri ke kanan dengan perlahan. Lalu menggigit bibir bawahnya dengan gerakan sensual. Sambil sedikit membuka mulut dengan terus memindai netra hitam di depannya, saat Richie terus memainkan hidungnya dengan hidung Richie.
Namun, Lala merasa dirinya sendiri yang menjadi panas apalagi karena aroma maskulin Richie yang memabukkan. Seharusnya dia melakukan ini sekadar untuk meredakan kemarahan Richie, tidak! sudahi permainan gila ini. Lala mengembalikan pikirannya fokus pada ayah.
"Masih tanya?" Richie menjilat bibirnya sendiri yang terasa kering memperhatikan tatapan tajam sang kekasih. Dan bibir tebal wanita itu yang sengaja atau tidak, seperti sedang memancing kejantanan dalam dirinya. "Saya mencemaskan mu, Rissa."
Richie menyembunyikan perasaan yang tidak nyaman, instingnya sedang sangat buruk. Entah apa yang salah dengan misi ini, atau apa yang belum dia ketahui, masih ada yang mengganjal, atau Bella mengecoh anak buahnya.
__ADS_1
Mengecup lama pipi kiri Lala. Kemudian mencondongkan dada ke kanan sedikit melirik Laptop, "Sayang, kamu lihat Alen," Richie membuka layar cctv penjara Veeper, anak buahnya meretas cctv kapal ini.
Mata Lala membelalak, "Ayah!"