Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 23 PERTEMUAN LUCA DENGAN LALA


__ADS_3

-Di Villa Kota Budaya Jam 8 malam-


Luca sedang mengotak-ngatik handphonenya, lelaki itu menghembuskan nafas dengan kasar. Dibuka foto-foto yang dikirimkan anak buah Papa, itu  foto Lala. Papa terus mengawasi Lala, apa Papanya terobsesi dengan gadis itu? Luca memijat keningnya.


“Apa Bang Luca sakit?” Bella datang lalu membuka martabak telor dan sate kambing yang tadi dibeli di tengah perjalanan. Perjalanan ditempuh satu jam dari kos-an Lala. Luca tadi menjemput Bella dulu, sebelumnya Bella menolak tapi Luca meyakinkan Bella, akhirnya ia mau ikut dan membereskan barang Lala karena Lala masih tidur di mobil.


“Aku baik-baik saja,” Luca menyingkirkan handphonenya, dan mulai ikut makan satenya.


“Jadi besok ke Festival jam berapa?” tanya Bella sambil mengunyah satenya.


“Jam 8, apa kalian perlu sesuatu untuk besok ?” tanya Luca pada Bella.


“Belum si … gampanglah besok saja. Apa Villa yang dulu berhasil terjual? kenapa sekarang kita kesini?” tanya Bella penasaran.


“Ya begitu kamu dan Lala jadi model pemasarannya, langsung ada yang minat, masih satu fakultas denganmu kok, anaknya jurusan Seni, aku lupa namanya … sudah lama 4 bulan kan. Oh ya terimakasih karena itu.” Luca mencoba mengigat-ngingat sesuatu.


“Ya sama-sama, aku yang terimakasih, aku baru kenal kalian namun kalian sudah mengajaku berlibur ke Vila.” jawab Bella lalu minum air.


“Dimana kalian bertemu?”tanya Luca yang tak pernah basa-basi dengan lawan jenis selain dengan lala dan teman tk nya yang kini entah dimana.


“aku setiap minggu selalu membeli bunga, dan Lala yang selalu melayaniku. Kami tukar kontak agar aku bisa memesan bunga yang aku inginkan. Suatu hari dia pasang status di media sosialnya jika Ia sedang mencari kos di dekat kampus. Kebetulan aku butuh teman untuk menemani hari-hari terberatku. Kucoba saja tawarkan. Bila Ia mau berbagi kama, ngekos saja di kamarku … dan dia mau. Belum ada seminggu kami tinggal bersama, Lala memintaku untuk ikut pergi ke villa dan itu pertama kalinya kita bertiga berkumpulkan? Di villa yang sudah kamu jual itu. Namun kau saat itu banyak diam, kenapa? Apa kamu punya masalah sepertiku juga?” Bella tertawa lagi.


 Entah apa yang membuat Bella tertawa namun itu cukup untuk mengubah presepsi Luca, bahwa mungkin tidak terlalu sulit membuka diri hanya sekadar untuk berteman dengan lawan jenis.


“Lalu dimana kamu bisa betemu Lala? Apa kalian teman dari kecil?” tanya Bella penasaran, Ia cuma beberapa kali melihat Luca mengantar jemput Lala, tidak sesering Johan. Bella memakan suapan terakhirnya dan mengelap tanganya dengan tisu basah.


“5 bulan lalu aku mencari alamat di suatu perkampungan, saat itu mobil kami terhalang karena kerumunan orang, dan Lala yang ada di kerumunan itu, Ia terluka. Aku membawanya ke rumah sakit. Hari berikutnya dia sudah  pergi entah kemana. Kami bertemu kembali di suatu tempat, sejak saat itu kami jadi lumayan sering bertemu,” jawab Johan tidak menyebutkan detailnya.

__ADS_1


“Perkampungan?” Bella terdiam.


“Lala sering mengigau? Kenapa memanggil Ibunya? Ada apa dengan ibunya?” Luca mencoba mencari tahu.


“Ayahnya pernah menemuiku, Ibunya sudah meninggal semenjak Lala masi bayi.  Beliau minta agar aku ikut menjaganya, dan kalau  terjadi sesuatu aku suruh menghubungi Beliau. Tapi selama 4 bulan aku berbagi kamar dengannya , Ia sering begitu, memangil Ibunya,”Lirih Bella raut wajahnya jadi sedih.


“Kamu mau menonton?” hibur Luca, Ia tak tahu cara menghibur orang sedih.


“Aku mau istirahat saja ya, smpai jumpa besok, malam,” Lala beranjak dari meja makan, Ia menahan kesedihannya, lalu meminggalkan Luca sendiri.


**


Luca berjalan ke kamar,  membanting dirinya ke kasur. Ternyata hari-harinya sangat kesepian  hanya berkutat dengan urusan kantor. Papanya sering ke Luar kota karena kerja. Mamanya hampir tak pernah di rumah karena teman-teman arisannya. Kevin jarang di rumah, sekalipun di rumah mengunci kamarnya, anak itu dari kecil selalu menutup diri, bila Ia mendekati Kevin … Kevin selalu menjauh, kami nyaris tidak pernah mengobrol, bahkan kami tak saling mempunyai nomor handphone, selalu apa-apa lewat pengawal atau asisten Billy dan asistennya. Sedangkan Fabio sibuk dengan teman-teman motor dan sekolahnya. APA INI YANG DINAMAKAN KELUARGA?


Lalu untuk apa fungsi rumah kalo tidak bisa berkumpul, terakhir duduk bersama satu meja ber enam dengan Grandpa itu 6 tahun lalu.


Luca memegangi tangannya yang tadi disentuh Lala, Ia merasakan kehangatan walaupun tak langsung. Lala  memeluknya walaupun karena mengigau.


Apa cuma aku manusia yang paling kurang pelukan. Hanya pelukan Grandpa yang aku ingat 6 tahun lalu.


Pria itu mencoba mengingat kehangatan dekapan Lala, ternyata ia sangat kesepian.


 


Setelah Kevin mulai kuliah di Luar Negeri Anton selalu mengirim jepretan mata-mata setiap Lala berpindah tempat, dan komplit dengan lokasinya lewat ponsel, sehari bisa sampai 5 kali selalu dikirimkan ke handphone Luca.  Awalnya Luca sangat terganggu, apalagi Anton  selalu meminta agar Luca menghampiri Lala.  Diam-diam Luca mulai mendatangi lokasi  karena hasil jepretan  fotografer profesional yang membuat pikirannya terusik, mereka pintar sekali mengambil sudut yang paling indah, banyak foto Lala yang tengah tersenyum. Memang  gadis itu terlihat sederhana, tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan yang terdapat pada hasil-hasil jepretan si profesional.


Terlebih saat Ia dikirimi foto Lala yang tengah menangis di sebuah danau.  Foto ini yang membuat Luca langsung datang ke lokasi. Ia mengikuti gadis itu masuk ke perkampungan. Namun saat  itu  gadis tersebut dicegat segerombolan orang. Luca tidak bisa melihatnya langsung, sampai mata-mata itu mengabari Luca kalo gadis itu di aniyaya.

__ADS_1


Mobil Luca mendekati kerumunan yang di tengah jalan persis, Luca turun mendengar teriakan cacian mereka.


 Anak Har*m ! , Anak seling*an !  anak ja*ang ! 


 


Luca yang masih belum paham berlari ke gadis itu dan menggendongnya ke mobil, dibantu para pengawal menyingkirkan kumpulan orang yang main hakim sendiri.


Darah banyak menetes dari kepala, wajah, tangan kakinya ,lebam. Jas petinggi perusahaan itu merah oleh darah Lala. Ia membawa gadis itu ke rumah sakit. Anton tahu kejadian itu, dan Anton mendamprat Luca.


Semenjak saat itu, satu minggu minimal sekali, Luca harus menemui Lala dan tidak bisa menolak.


Ternyata lala mengalami kehidupan yang berat. Kenapa Kevin, adiknya itu, sama kejamnya dengan segerombolan orang kampung itu ? bahkan Kevin kejam sekali, dari mana dia bisa sekejam itu.


____________________________________


...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....


Bagaimana kusah liburan Lala , Bella dan Mas Luca ? Apakah akan seru?


Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2