
Seminggu berlalu sejak Lala kembali ke kediaman Kevin. Sore ini perayaan hari ulang tahun si kembar tiga, putri -Kevin dan Lala-
Semua berkumpul. Di danau di kediaman Kevin, seorang photografer mengambil foto keluarga.
Deretan depan berjongkok:
Amber, Lydia, Isla, irish, Ivy, Edric.
Deretan kedua berdiri berjajar:
Guskov; mama Lala; mama Kevin; Luca; Fabio; Kevin; Alen dengan kursi roda; Lala menggendong Vino; Richie dan Johan.
Seorang fotografer mengambil gambar beberapa kali. Saat potongan pertama kue si kembar, mereka memberikan pada Edric, calon anggota keluarga baru yang akan tinggal di kediaman Kevin.
Kevin mengelus bahu Edric, "ambil Boy, adikmu menunggu."
"Kak Edric ... " Isla menarik perlahan tangan dari, kakak tirinya yang menggunakan sarung tangan dan baju tertutup.
Lala dan Richie berpandangan, lalu kembali menatap putra Bella yang tampak sangat pendiam.
Beberapa saat kemudian semua dikejutkan saat Edric menampik kue itu dan dengan mata penuh kebencian. "Kamu bukan adikku!"
Lala dapat menangkap kemuraman di wajah ketiga putri kembarnya yang sedang ditenangkan Johan.
Edric pergi menjauh, Lala memberikan Vino ke tangan Richie dan mengelus lengan Richie, "sebentar mas."
Richie menatap kepergian Lala yang mengikuti Kevin, saat Amber mendekat lalu meminta menggendong Vino, tak mengijinkan Richie menyentuh sang adik. Sejak Richie mengatakan akan menikah dengan Ibunya, sejak itu Amber terus ketus padanya. Richie menatap Johan, dan Johan hanya mengangkat bahu karena tidak bisa membantu, menaklukan Amber.
Tidak terlalu dekat, Lala menangkap perdebatan Kevin dengan -putra Bella-
Beberapa saat kemudian, Lala berlari langsung menutup telinga Edric dari arah belakang saat Kevin yang akan mengatakan umpatan kasar pada Edric.
__ADS_1
"Lala, minggirlah, jangan urusi kami ... " Kevin mengatubkan bibir lalu meraih tangan Edric.
"Jangan, seperti ini, tolong. Jangan berbicara kasar padanya, dan jangan berbicara buruk tentang ibunya."
"LALA," geram Kevin. "Pergi!"
"Tidak mau, aku mau berbicara dengannya. Lepaskan tanganmu."
"Kau keterlaluan, Lala. Jika kamu mau mengurusi Edric, menikah denganku, bukan malah dengan temanku." Darah di dalam dada Kevin terasa mendidih.
"Aku mau berbicara dengan, Edric." Lala menjauhkan tangan dari telinga Edric dan melepas jemari Kevin dari lengan Edric.
Bibir Kevin berkedut, tapi pada akhirnya mau pergi.
Lala menatap tubuh Edric, dari seminggu sejak pertemuan, Edric tidak pernah mau berbicara.
"Bisa bawa saya ke Mami? kalau tidak pergi saja," tanpa basa basi Edric membuka suara, dia menurunkan penutup hodienya dan rambutnya -yang pirang seperti Kevin- tersorot sedikit cahaya sore.
"Jika tidak bisa, pergi saja." Edric membalikan badan, dan tangannya tertahan. "Bisa tidak?"
"Jika, kamu mau bersikap baik pada adik mu, aku akan membawa ke Mami Bella. Jadi, gimana, maukah Edric?!
"Tapi, saya mau telepon Mami hari ini!"
Lala membeku, keadaan Bella belum memungkinkan untuk berbicara.
"Tidak bisa kan?! Anda sama saja menyakiti Mami saya!"
"Tunggu Edric, apa kamu mau video call dengan Mami?" mata Lala menangkap langkah kaki Edric yang terhenti.
"Ayo satu jam lagi, kita video call dengan Mami. Aku tahu ini sulit Edric, bisakah saya minta tolong. Jika kamu memberi ucapan selamat ulangtahun pada putriku, aku akan sangat berterimakasih. Dan saya akan tetap mengusahakan minggu ini membawamu ke Mami Bella, ya?"
__ADS_1
"Apa Anda bisa berjanji?" Suara Edric terdengar sedikit terisak. Lala melangkah perlahan.
"Sudah seharusnya, kita akan datangi Mami mu, kan?" menyentuh perlahan bahu Edric, dan anak itu tak melawan, tapi bahu itu gemetar. "Aku berjanji Edric, kamu boleh pegang janjiku ... " Lala merasakan bahu Edric semakin terguncang. "Edric, kamu tidak sendirian ... kita sama-sama merindukan Mami mu."
Lala tercengang saat Edric memeluk lehernya dengan tiba-tiba dan terisak, hingga Lala menahan nafas cukup lama. Sangat pelan, tangan Lala gemetar mengelus rambut Edric yang tebal di bahu kirinya.
"Kami membuatmu, kesulitan ... " Lala merasakan suaranya yang bergetar. "Tolong, maafkan kami, sayang ... kami menyayangi mu, terutama Mami dan Daddy mu ... Kita mulai semua dari enol" Pada akhir kata-katanya Lala tidak bisa meneruskan kata-katanya, bahunya ikut terguncang, menahan tangisan, tapi cairan dingin terus berjatuhan
Dan dari kejauhan Lala dapat menangkap Kevin yang menatap ke arah sini dengan tatapan frustasi.
"Mereka menunggu kita, Edric ... kami menyayangimu ... " Lala mendorong bahu Edric, menatap mata Edric. Lala mengelus pipi Edric, "kamu sangat mirip dengan Bella," suara Lala tertahan sambil mengelap pipi Edric yang basah, beberapa bintik merah di wajahnya yang tampak pucat.
"Maaf ... "
"Ha?" Lala tercengang dengan kata-kata barusan, sepertinya pendengaranya bermasalah.
"Maaf ..." Suara itu bergetar, itu beneran keluar dari mulut Edric. Lala mengangguk. Mengelus lengan Edric.
"Edric ... " Kevin memanggil. Dan Lala dapat menangkap mata Edric yang berputar ke atas.
"Daddy mu sangat menyayangi mu, Edric, dia menderita tanpamu ... " Lala mencoba meyakinkan dengan tatapan matanya yang serius. Jantung Lala berdebar, tidak tahu caranya membujuk lagi. "Semua bisa dengan kepala dingin, ayo ... " Lala menarik bahu Edric dan kemudian jalan Edric terhalang Kevin.
Menepuk-nepuk punggung -putra Bella-, "Kami menunggu mu, Edric." Lala memberikan waktu untuk mereka berdua, setelah sempat menatap Kevin yang tampak menyembunyikan kebingungannya.
**
"Amber ..." Richie berdiri ke sisi anak itu, dan Amber diam saja tetap fokus bermain dengan Vino. "Mendaki di pegunungan Alpen, sepertinya seru." Richie berusaha, karena katanya anak itu suka bertualangan.
"Saya tidak suka mendaki."
Richie menelan benjolan di tenggorokan karena gugup, dia tahu Amber berbohong, tapi setidaknya anak itu ternyata mau mendengarnya, "saya dengar kamu tidak mau ikut perusahaan ayahmu. Dan saya akan membangun hotel baru di Manhattan, apa kamu bisa mendesain bangunan super megah dengan konsep yang sangat ramah lingkungan, atau kita buat hotel di gurun pasir-"
__ADS_1
"Hentikan om, saya tidak akan pernah menyetujui pernikahan Anda dengan ibu." Amber meninggalkan Richie yang terguncang kepalanya.