
"Tidak, saya bisa pulang sendiri. " Lala tidak mau berhubungan dengan pria asing jika bukan karena kepepet.
Lala berjalan lima langkah dan mendengar dari kejauhan penjaga lain berteriak.
"Zona B !Zona B ! ganti."
Penjaga hotel mencengkram tangan Lala. Namuny, tendangan keras Johan berhasil membuat orang itu terpental.
"Masuk mobil! mereka akan menangkapmu!" perintah Johan.
Penjaga yang mumpuni sampai membuat Johan kewalahan. Meski begitu, itu tidak bertahan lama. Pada akhirnya penjaga itu berhasil dilumpuhkan.
Johan melepas kaket hijau. "Masih berdiri di luar? tak mengindahkan ucapan ku?" Dia melempar jaket. "Pakai."
Lala menangkap jaket yang besar itu. Memutari depan mobil dan duduk di jok depan. Jaket besar itu menutupi pakaiannya dan bau ini sangat harum.
"Ikat rambutmu."
"Aku tidak bawa ikat. Ih apa ini, kumis? Aku tidak mau!"
Johan mengambil kembali kumis yang sempat dilempar ke dashboard. "Pakai ya, kamu harus menyamar." Dia menempelkan kumis ke Lala. Lalu menggulung rambut panjang itu dan memasangkan wig.
"Pakai sendiri topinya. Nanti jangan bersuara. Bersikap tenang, kalo ketangkap kita bisa mati." Johan menjelaskan saat mulai memajukan kendaraan.
Gelisah bercampur dongkol, Lala menutup wig dengan topi. Terasa hangat di kepala. Perlahan, wig membuat kepala Lala gatal, dia terus menggaruk kepala sampai mobil tiba di gerbang.
"Teman saya tidak bisa berbicara, TBCnya sedang kambuh. Dia tak boleh melepas masker atau saya tertular," kata Johan pada penjaga, lalu menoleh ke Lala. "Iya kan, Bro?"
Lala mengangguk.
Tiut! Tiut!
"Tim satu, lapor. Petugas keamanan B terluka, ganti," suara HT keamanan membuat suasana mendadak gelap bagi Lala.
"Buka topi mu." Petugas itu masih mencurigai Lala.
"Teman saya harus cepat ke rumah sakit," kata Johan beralasan. Gelagat mencurigakan itu diketahui petugas.
"Biar saya saja. Dia terlalu sensitif." Johan membuka topi Lala dengan hati-hati agar wig tidak terlepas.
"Bagasi aman," kata petugas lain.
"Semoga cepat sembuh," kata penjaga pintu pada si orang yang katanya kena TBC. Dia memberi kode agar petugas lain mengangkat portal.
Baru saja Johan bernafas lega, suara HT membuat dia berdebar.
Tiut! Tiut!
"PERINTAH DARURAT. TUTUP PINTU KELUAR, GANTI," suara HT membuat Johan dan Lala saling pandang.
Johan menancap gas kencang membabat apapun yang menghalangi laju mobil.
Kretek! Kretek!
Atap mobil ringsek membuat Lala menjeri. Begitu tiba di jalan raya, Johan memeriksa keadaan Lala sambil memperhatikan jalan.
__ADS_1
"Hei, kita berhasil kabur. Kamu tidak apa-apa? Pakai sabuk pengamanmu." Johan melaju dengan cepat dan zig-zag, menyalip setiap mobil di depan lalu membanting setir dengan tajam, memasuki tol.
"Ah! terlalu cepat!"
"Kau lihat La, ada yang mengikuti."
Hantaman mobil lain dari sisi kanan membuat mobil oleng. Dengan kelimpungan Johan mengembalikan keseimbangan setir. Hantaman datang dari sudut kiri belakang dan mobil Johan bergetar dipepet dua mobil.
"Aaaaaaaaaaaaaaahh!" teriakan Lala sangat nyaring.
"Tenang!"
"Aku belum mau mati." Lala berteriak marah.
Tembakan bertubi-tubi mengenai kaca belakang, membuat Lala langsung membisu dan tertekan.
"Meringkuk!" Tangan kiri Johan menekan kepala Lala ke bawah.
"Sialan terpaksa!" Johan menekan tombol khusus, Wuzzzzzzzzzzz____ fitur tenaga jet Aktif. Kecepatan meningkat.
"Apa kamu pingsan?" tanya Johan yang melihat Lala semakin pucat.
"A-aku sudah mati apa masih hidup?" Lala lemas tak bertenaga.
"Maaf. Kamu pertama kali menghadapi situasi ini ya. Kita akan keluar TOL, beristirahat saja dulu. Tenangkan dirimu."
.
.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Lala dengan suara serak namun terlihat semakin lucu dimata Johan.
Pemuda itu sedikit tertawa karena Lala terlihat manis. Lalu tawa itu langsung senyap karena melihat kekesalan di raut wajah Lala. "Kau sudah bangun. Tadi kamu tidur."
"Kamu membawaku kemana?" Lala berusaha merapikan rambut yang acak-acakan dengan tangan.
"Ini, ke rumah Bibi ku. Maaf kita tak bisa pulang. Aku sangat mengantuk. Kamu hubungi orang rumah, kita pulang besok pagi."
"Pinjamkan aku ponselmu. Ponsel ku hilang di hotel," pinta Lala sambil menarik baju Johan.
"Hilang? di hotel?" Johan menggeleng kepala, dia tidak percaya jika gadis itu begitu ceroboh.
"Percuma aku membawa mu kabur kalau begitu," batin Johan.
"Iya hp dan tasku jatuh di ruang meeting. Kenapa?"
"Sudahlah kita istirahat dulu," sahut Johan, seraya mengarahkan mobil masuk ke halaman rumah kuno dan terawat.
"Ayo turun." Johan membukakan pintu mobil.
Mereka berjalan melewati taman yang dikelilingi bunga, dan kena sorot lampu kuning. Sangat cantik.
Lelaki tua, menutup gerbang lalu memutari mobil sambil mengamati. "Den, sudah lama tidak kemari. Aden baik-baik saja, bukan? Mobilnya sangat parah."
"Aku tak apa. Ini insiden kecil, Pak Fuad," kata Johan sambil menggandeng Lala, sebelum Pak Fuad makin banyak pertanyaan.
__ADS_1
Setelah melewati ruang tamu bergaya klasik dan berakhir di ruang yang yang luas. Tampak di atas meja tersedia beberapa makanan yang masih mengepul pertanda baru dimasak.
Johan celingak-celinguk. "Paman dan Bibi belum pulang?"
"Oh, mereka sering pulang larut malam," jawab Pak Fuad. Dia penasaran pada perempuan ini. "Silahkan Nona, makan malam dahulu. Yang kanan, kamar untuk istirahat Nona dan di sana kamar mandi. Jadi, selamat beristirahat , Den Johan dan Nona, saya pamit." Pak Fuad memberi hormat.
"Terimakasih Pak Fuad," sahut mereka bersamaan.
.
.
Johan meminjamkan baju sepupunya, tanpa dalaman. Dia merasa malu bila meminjam sesuatu yang menggelikan .
Kringgg!
Johan menguping percakapan Lala di telepon.
"Halo Ayah selamat malam, maaf ponsel ku hilang. Jangan khawatir, besok pagi Lala pulang. Aku akan jaga diri. Ih masa tidak percaya? .... Johan? sepertinya sedang mandi. Jadi ga bisa berbicara dengan Aya .... bentar ayah."
Tenggorokan Johan terasa begitu kering, dia memegangi leher dan keluar dari kamar, ingin mengambil air putih.
"Johan, ayahku mau berbicara, bisa?"
Johan mengangguk, mengambil alih ponsel. Johan merasa mengenali suara ayah Lala, tapi tidak mungkin kan? Mungkin suaranya saja yang sama.
.
.
Dua sofa bersebrangan itu ditiduri Lala dan Johan. Di tengah mereka sebuah karpet lembut berserakan bungkus chiki. Di ujung sofa terdapat TV menyala.
"Tidur sana," perintah Johan. Dia sendiri mengantuk dan terus menguap.
"Nanti," sahut Lala dengan suara parau.
Mereka asik rebahan dan berselimut tebal. Lala berselimut biru laut, sedangkan Johan berselimut hijau. Mereka menyembunyikan tubuh rapat-rapat. Johan pun tidak tahu mengapa dirinya ikut menyembunyikan diri dalam selimut sambil menonton 'LORD OF THE RING'.
"Kamu dapat beasiswa, di Universitas Melalang Buana?" tanya Johan masih tidak percaya.
"Iya, aku berhasil mendapatkannya," lirih Lala. Mata terasa berat.
"Dunia sangat kecil." Johan menengok ke kiri, melihat Lala yang sudah tidur.
"Dasar, kau tidur sembarangan. Gimana kalo ini bukan aku?" Lelaki itu mengangkat dan memindahkan tubuh Lala ke kamar.
"Gadis ini terlihat lucu," batin Johan sambil menyelimuti.
Johan tertawa. "Tuhan mempertemukan ku dengan gadis seunik ini."
"Tapi kau berurusan dan mengusik dunia orang yang paling kejam. Petinggi perusahaan Saint Mariano Grup." Johan menghela nafas kasar.
"Mainan Petinggi. Dia menggelengkan kepala dengan kasian. "Gadis bodoh," gerutu Johan mengelus wajah Lala, "kamu tidak beruntung."
Johan semakin mendekat dan membelai rambut sambil. Dia memandangi bibir pink. "Pasti terasa manis."
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu Jo!"