
“Mamah sudah bangun?”tanya Isla sambil memasuki ruangan membawa sarapan, “Mah kenapa?” tanya Isla dengan bibir jadi melengkung ke bawah, dia tak pernah melihat mamah menangis, tapi kini sedang mengelap pipinya.
“Ini mata, hanya pedas. Papah dimana?” tanya Lala mencoba terlihat baik-baik di depan sang anak.
Isla meletakan bubur di kasur, dia mengambil sesendok bubur dan mengulurkan pada Lala, ”papah akan menyusul, kata papah … mamah pingsan karena Isla mau punya adek ya!?” tanya Isla, bibirnya tersimpul penuh, dan mata yang bersinar penuh menampakan kegirangan.
Suapan bubur di lahap Lala, entah apa yang dirasakan kini, melihat senyuman di wajah sang putri membuat Lala harus menjadi ibu yang lebih kuat mental. ‘Bagaimana putriku bisa kuat kalau aku lemah, aku tidak boleh seperti ini,’ batinnya. Lala menggelengkan kepala.
“Mah?”tanya Isla bingung, “Kenapa mamah menggelengkan kepala?Mamah tidak jadi kasih Isla adek?”
Bubur itu dilahap lagi, Lala menelisik lekat-lekat mata Isla, “kamu akan jadi kakak,” katanya, dengan senyuman manis membuat Isla langsung berdiri dan lompat-lompat kegirangan dengan mangkuk masih di tangan.
“Isla hati-hati itu tumpah nanti!” pekik Lala yang menangkap kegirangan di wajah sang putri. Isla tengah tertawa sampai menangis.
“Mah! Isla akan punya adik! Terimakasih mah!!”serunya, langsung menciumi pipi Lala dan mengelus perut mamahnya.
“Apa sih teriak-teriak!” seru Irish dengan suara melengking, heran melihat sikap kembarannya.
Irish yang baru masuk kamar, melihat mamah dan Isla yang saling pandang dengan senyum seperti habis menang lotre.
Isla memberi kode Irish agar mendekat, dan langsung membisikan ke Irish.
“Apa???? Yang bener mah? Irish punya adik? Beneran?” tanyanya dengan berbinar-binar dan nampak giginya yang rapih dengan senyum ternganga. Lala mengangguk pelan dengan pandangan lembut, mengusap pucuk kepala Irish.
Dua tangan Irish mengepal, sikutnya menekuk,” Yes yes yes!!” Irish langsung menari dengan gaya silatnya, sesekali loncat “Yeahhh!!!!!" Irish dan Isla langsung tos.
“Keren!!” seru Irish dan Isla bersamaan.
Lala tersenyum, kepalanya menggeleng, melihat sikap lucu putri-putrinya membuat hatinya menghangat.
“Sudah-sudah, jangan loncat-loncat nanti jatuh. Kalian tahu kita mau kemana?”tanya Lala yang baru sadar sedang diatas pesawat jet.
“Chile, kita akan melihat Puma, Mami. Torres Del Paine, aku datang!!" seru Isla.
"Apa? melihat Puma? apa itu?"
"Ah mami cupu banged si! ituloh hewan yang mirip singa atau kucing!" seru Isla.
"Ituloh yang ada brand merk Puma, begitulah bentuknya, mih!" seru Irish geregetan.
"Ah itu, kirain mamah tu hanya logo," kata Lala sambil tertawa renyah, "Dimana Ivy?"
"Tidur," jawab dua anaknya bersamaan.
...🍀🍀...
Di bagian bumi lain, Kevin berada di wilayah Cambridgeshire, di wilayah utara.
Kevin memasuki markas Richie, di sana terlihat sang empu hanya menatap sinis kedatangan Kevin sambil meletakan gelas kosong ke meja.
Kevin yang baru duduk, lantas meraih botol wine di depan Richie dan langsung menenggak dari botol.
__ADS_1
Richie memandangi Kevin yang baru meletakan botol, dia mulai gelisah dengan tatapan tak biasa Kevin.
Tak berselang lama Kevin melepas cincin FRAKSI UTARA, lalu mengecup begitu dalam dan meletakan di meja, mendorongnya ke depan Richie.
Melihat itu nafas Richie semakin memburu, dia menggertakan gigi, mengambil nafas panjang berusaha tenang, "Kau tahu kan, kau tak bisa keluar seenaknya. Kau tahu begitu kau keluar kau akan di depak dari daratan ini."
"Saya akan keluar dalam bulan ini, Richie."
"Itu termasuk seluruh rumah, tanah, aset, dan perusahaan mu di daratan ini, kau angkat kaki tanpa membawa apapun," kata Richie berusaha menyudutkan Kevin, agar Kevin mau menetap di daratan ini, karena Richie mengira Kevin tak akan mau melepas semua aset.
"Saya mengerti, saya akan meninggalkannya," kata Kevin dengan dingin, dia tak peduli dengan semua kekayaan yang sudah dibangun dari enol di daratan ini. Kevin kembali menenggak wine itu sampai sisa sepertiga.
"Bukankah aku sudah minta maaf?" tanya Richie dingin, dirinya mulai gelisah kesulitan membujuk Kevin.
"Saya hanya kesini untuk urusan ini, dan bukan yang lain. Terimakasih untuk bantuan mu selama ini, saya tidak akan pernah melupakannya."
Ucapan Kevin membuat Richie seperti kehabisan harapan, "Kau masih memiliki satu hutang padaku, dan aku menagihnya."
"Dengan apa?"tanya Kevin dengan nada mulai berubah tak suka, dia duduk lebih tegap.
"Tetaplah disini."
Kevin menatap tajam pada Richie, "itu tidak bisa."
"Kamu tidak bisa membawa Lala keluar dari daratan ini," sentak Richie.
"Saya bisa melindungi istriku," sahutnya datar.
"Kau tidak bisa, jangan bawa dia."
Richie menelan saliva, tak mengira kebodohannya akan berbuntut panjang sampai sejauh ini.
"Namun, apa yang kau buat? shhhha...kau memberikan apa dia! hingga dia tak sadar semalaman. Biar kuberi tahu kau, dia sedang hamil jika sampai terjadi apa-apa dengan bayi ku, saya tak akan tinggal diam," geram Kevin.
Mata Richie terbelalak dan jantungnya berdebar, "Apa kau mulai berani dan sedang menabuh genderang perang?"
"Saya hanya diam selama ini, bukan berati tidak mampu."
Richie tertawa.
Namun, Richie langsung terdiam, kali ini dia tak boleh menjaga gengsi lagi, "tolong jangan keluar dari daratan ini."
"Untuk apa? apa agar kau selalu bisa memandanginya?" gerutu Kevin, begitu kesal, apa yang ada di dadanya sudah mendidih.
"Bukankah kau menjadi ketua karena ingin melindungi dia? Ini daratan paling aman untuk Lala. Tetaplah disini, biar aku saja yang keluar dan semua wilayah akan ku berikan padamu," kata Richie berharap Kevin mau mendengar bujukannya.
"Ck. Kau pikir saya mau menukar kehormatan istriku? kau pikir aku tamak? kau pikir saya gila dengan itu semua. Lebih baik saya kehilangan itu semua dari pada melihat istri saya menderita. Sudahlah cukup!" Kevin meninju meja kaca di depannya hancur, tanpa mempedulikan kaca tertancap di tangannya, dan rasa dingin menjalar karena tetesan darah mulai mengalir dari punggung tangan Kevib.
Richie meraih kaki Kevin, dia langsung duduk di lantai menahan paha Kevin dari arah belakang. "Kau sudah tahu kan aku sudah melakukan sampai sejauh ini, tolong jangan bawa dia. Lala dalam bahaya bila keluar dari daratan ini! aku makin kesulitan melindungi Lala bila dia tak disini. Aku tak mau kehilangan dia lagi, tolong..."kata-kata Richie tercekat.
Kevin jongkok menghadap Richie, "kau dalang di balik ini semua? kau sengaja membuat Samantha menikah dengan orang lain! Kau yang menggempur kos Lala dan membuat Daniel menyerang Lala, agar aku membawanya ke daratan ini, kan? Dan kau lalu puas memandanginya dari dekat!" bentak Kevin yang belum lama ini, mengetahui kenyataan yang tak di duganya.
__ADS_1
"Tragedi ruang meeting itu kau membuatnya? agar saya tertarik padanya? lalu apa ini? ... Sekarang dia sudah menjadi milik saya, dan kau mengusik ketenangan kami! mau apa kau sebenarnya?! mengapa bila kau mencintai teman masa kecilmu, tak menjaganya sendiri? mengapa kau buat saya melakukan semuanya?"
"Kau membuat agar saya menggaet Alen, memanipulasi ku dengan iming-iming wilayah yang lebih luas. Kau menghasut ku agar segera menikahi Lala dan menghantuiku dengan nyawa istriku yang terancam. Walau sepenuhnya keadaan itu memang benar.
"Kau membuat saya terlihat oleh musuh, dan lalu mereka mengejar ku dan berniat membunuhku. Lalu setelah saya mati, pasti kau akan senang hidup dengan Lala tanpa ada gangguan musuh ataupun gangguan saya, kan?
“Sebenarnya tujuan kamu dari awal Lala kan? omong kosong dengan pertemanan sejati yang kau agung-agung kan! Cih. Kau terlalu memainkan hidup saya! Jujur saya sangat kecewa padamu, Richie! Kau pikir saya Kevin yang 22 tahun lalu yang tidak berani padamu? Saya muak, Richie!"
Richie mendekap Kevin, dua tangannya mencengkram kuat punggung Kevin, air matanya mulai terurai, "Memang pada awalnya aku menjadikan kamu alat agar kau membawanya kemari.Tapi begitu aku melihat dia bahagia di hari pernikahan itu, aku menyerah, aku melepas untuk kebahagiaanya."
Hati Kevin makin mendidih, tadinya Kevin berharap praduganya salah. Namun, nyatanya lelaki itu benar memperalatnya.
"Namun, kau juga tahu kan aku yang sulit mengontrol hastratku, aku tak bermaksud begitu, aku hanya terlalu merindukannya, tolong maafkan saya, Kevin."
Kevin mengeluarkan sesuatu dari pergelangan kaki, dia mencengkram kuat pisau itu.
"Dan saya sudah menganggapmu seperti adikku sendiri, aku juga menyayangimu, jadi jangan terlalu salah paham ... aku tak bermaksud membuatmu dalam bahaya, itu ulah Viktor yang telah membuka identitasmu sejak lama " kata Richie dalam tangisan tertahan. "Aku tak pernah menemukan teman sebaik dirimu, tetaplah disini, aku yang akan pergi dari wilayah ini, okay Kevin?"
JLEB!
“IGHH,” pekik Richie , lantas memandangi perut, terlihat pisau itu menembus perutnya, perih, pegal, perutnya yang tertusuk, “Kevin!” Richie yang tak menduga apa yang dilakukan temannya itu setelah mengikat janji suci pertemanan selama dua dekade lebih.
JLEB!
“AGHH,” rintih Richie disaaat Kevin semakin mendorong dan memutar pisau.
“Matilah kau, pengkhianat!” seru Kevin dengan suara bergetar dan mata seperti iblis.
Richie menangkup pisau di perut dan menjauhkan disaat Kevin terus berusaha mendorongnya. 'Tidak! ini bukan Kevin yang ku kenal!'
“POO POO! Alarm!” pekik Richie.
Tenggg.. Tenggg... Tennggg...
Bunyi alarm dan lampu darurat menggema di seluruh markas, para bawahan Richie melakukan tugas masing-masing dalam hitungann detik, mengumpul membentuk barisan dalam regu menempati posisi mereka.
“Keamanan tingkat tinggi telah aktif Tuan,” seru Poo Poo dalam ritme cepat, “pasukan mendekat.”
Kevin mendelik, menekan pisaunya semakin dalam, hatinya begitu hancur.
Tangan Richie dan Kevin terlumuri oleh darah kental yang mengalir dari perut Richie ke sela-sela tangan mereka.
"Ini mengenai pembuluh arteri, kau akan mati dalam 10 menit!" Urat-urat di kening Kevin makin menyembul, dia menggertakan gigi menatap lekat-lekat mata Richie yang masih shock.
Gigi Richie meringis kuat menahan tubuhnya yang semakin terdorong . Kevin membuat lawannya itu tersungkur ke Lantai.
JLEB!
...***...
Terimakasih, hai pembaca setia, othor ada novel bagus ni , mampir ya ...😘
__ADS_1