Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 57 : TOKO BUNGA


__ADS_3

Hari telah siang, Lala terbangun dari tidurnya, tirai di kamar terbang melambai-lambai di sapu angin. Lala berjalan menatap keluar jendela. Terlihat para pengawal sedang berjaga, mengapa Kevin selalu memberikan penjagaan ketat?


Tok-


Tok-


Klek-


Pintu kamar terbuka. Lala menoleh, Siska? mengapa dia disini?


"Anda sudah bangun nona, bagaimana kabar nona? lama tidak berjumpa, mulai hari ini, saya, akan mengawal Anda kembali. Jika, Nona ingin pergi ke suatu tempat, Anda tinggal bilang ke saya, saya siap mengantarkannya," tutur Siska dengan senyum manisnya.


"Kabar saya baik-baik saja, seperti apa yang kamu lihat. Siska, sejak kapan kamu di negara ini?"


"Sejak seminggu yang lalu. Saya mengurus pembukaan toko bunga. Dan toko itu kini telah siap, Tuan Kevin telah membuka toko bunga itu sebagai hadiah untuk Anda, Nona." jelas Siska dengan penuh semangat.


"Toko bunga? kenapa Kevin tidak bilang apa-apa?"


"Ini kejutan untuk Nona. Ayo, apa Anda mau melihatnya sekarang?" tawar Siska dengan senyum yang menenangkan.


"Boleh juga, aku akan bersiap-siap dulu," jawab Lala dengan senyum merekah, bagaimana tidak, bunga adalah kesukaannya, maka dari itu dia pernah bekerja di toko bunga.


Setengah jam kemudian Lala telah selesai bersiap-siap, Lala menempati kamar lantai satu karena perutnya yang sudah mulai membesar.


Kini Lala di dalam mobil, dan Siska yang mengemudi.Tentu saja ada mobil pengawal lain yang mengikutinya.


Lima belas menit kemudian mobil berhenti. Mereka sampai di deretan toko-toko besar. Siska mengajaknya ke sebuah toko yang di depannya sudah terlihat beraneka bunga-bunga segar.


Siska memperkenalkan Lala ke para pegawai yang terlihat sudah cekatan menangani bunga-bunga.


"Perkenalkan saya Sofie, nona. Penanggung jawab di sini. Saya siap menerima perintah, Anda." Sofie memberikan hormat, begitupun lima pegawai perempuan lainnya turut memperkenalkan diri di depan Lala.


"Terimakasih Sofie, dan rekan-rekan, mohon kerjasamanya, ya?" ucap Lala dengan senyum ayunya.


"Dengan senang hati, Nona," ucap Sofie dan pegawai lain serentak.


Tak butuh waktu lama, Lala sudah akrab dengan Sofie dan para pegawainya. Sepertinya Kevin sengaja memilih para pegawai dari negara asalnya, agar Lala mudah berkomunikasi. Meskipun begitu, para pegawai terlihat sudah fasih dengan bahasa setempat. Lumayan juga, Lala bisa belajar dari mereka.


Keakraban dengan para pegawainya membuat Lala sedikit terhibur. Tak lama setelah itu Lala mendapat panggilan video dari Kevin. Dengan senyum tak bisa di sembunyikan, Lala menceritakan hal-hal yang menurutnya menarik dari toko bunga itu, tak lupa Lala mengucapkan terimakasih pada pacarnya itu.

__ADS_1


Lala juga mendapat kiriman makan siang dari Kevin, Ia menyantapnya bersama para pegawainya. Pegawainya pun turut senang, karena Lala-majikannya itu lembut dan ramah.


Dari kejauhan dua pasang mata, tengah mengawasi gerak-gerik Lala di toko bunga, tentunya tanpa sepengetahuan para pengawal Kevin. Dua orang itu terus mengawasi dan melaporkan segala sesuatunya pada bosnya.


**


Di negara Kepulauan.


Rumi selesai menemui koleganya di hotel terbesar di wilayah A. Ia bergegas kembali ke kamar, namun di loby hotel dia bertabrakan dengan anak muda tinggi, membuat semua dokumen di tangannya jatuh berserakan.


"Maaf tante, saya tak sengaja," ucap pemuda itu membantunya.


"Jo, cepat, kita bisa telat, pelatih bisa marah!" seru pemuda lain.


"Ah, tinggal saja, tak apa. Kamu terburu-buru kan?" Rumi mengambil dokumen yang berserakan bersama pemuda yang di panggil Jo itu.


"Tak apa, tante. Sekali lagi maafkan saya," ucap pemuda itu akan beranjak.


"Tunggu, nak!" sentak Rumi terkejut melihat sesuatu di depan matanya.


"Yaaa?! " pemuda itu terkejut saat perempuan itu menyentuh kalung di lehernya. "Maaf tante."


"Tunggu, tunggu!" Rumi berlari mengejar pemuda itu, namun sang pemuda sudah masuk mobil dan mobil sudah berlalu. "Rumi tidak salah lihat, itu kalung langka, itu hanya diproduksi satu di dunia. Astaga Tuhan ... tolong Rumi."


"Nyonya Rumi, Anda sedang apa? masih ada klien yang harus kita temui," ujar seorang laki-laki yang menyusul Rumi.


"Felix, cepat minta rekaman cctv hotel! siapa yang menabrak ku di loby, cepat cari tahu," titah Rumi pada asistennya.


"Tapi, untuk apa? Nyonya, klien kali ini orang yang sulit, dia sangat disiplin waktu, kita tidak boleh terlam-"


"Batalkan saja! Apa aku harus menyuruhmu dua kali, bodoh!"


"Baik-baik Nyonya, saya segera mencari tahu." Felix bergegas menghubungi pihak Hotel.


**


Joha, Budi dan pemain lain, dalam perjalanan ke gedung olahraga.


"Sudah tahu kita terlambat masih saja nolong-"

__ADS_1


"Berisik!" sentak Johan membuat Budi langsung diam.


Siapa wanita itu? Mengapa tatapannya seperti mengetahui sesuatu. Batin Johan seraya memegang kalungnya.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di gedung olahraga.


Johan dan pemain basket lain melakukan pemanasan dan latihan lebih lanjut.


Satu jam berlalu.


"Johan kemari," panggil pelatih. Sementara pemain lain istirahat.


"Ya, Coach"


"Ada apa denganmu!? permainanmu jelek sekali! kau sadar tidak? sepenting apa kompetisi ini?? ha!!"


"Maaf Coach, saya tidak akan mengulanginya."


"Jika sampai tiga hari ini kau tidak perbaiki permainanmu, keluar saja! lebih baik aku mendidik mereka yang giat dan fokus daripada kamu yang setengah-setengah. Saya tidak bisa memberi toleransi walaupun prestasimu banyak, Paham!!?"


"Paham Coach, maafkan saya."


Pelatih meninggalkan Johan. Budi menghampiri Johan, menepuk-nepuk punggung Johan, dan memberikan minuman ke Johan.


"Fokus-fokus, Jo. Aku yakin, Lala tidak mau melihat kamu yang begini," celetuk Budi berjalan ke pinggir lapangan, dan duduk di sana, diikuti Johan.


"Hah, Bagaimana Lala bisa ke luar negeri tanpa identitas dan paspor? padahal tidak ada penerbangan atas namanya? Pantas saja, tidak ada yang bisa melacak dia."


"Ya, ulah siapa lagi? kalo bukan orang berduit," ujar Budi sambil mengelap keringatnya. "Makannya kau fokus, Jo. Tiga bulan lagi kita bertanding di sana, kau bisa 'sambil menyelam minum air' sambil ikut laga di Cambridge lalu menemui Lala."


"Tiga bulan itu lama, Bud."


"Ya memang lama. Lagian kamu juga nggak bisa sembarangan keluar dari kompetisi ini. Nama kamu bisa di blacklist selamanya, Jo. Bersabarlah, kamu juga bisa menunggu libur semester."


Johan membenarkan apa yang dikatakan sahabatnya. Sebagai pemain terpilih tidak bisa semena-mena dalam kompetisi. Ia harus bersabar dan fokus.


'Lala, kalo bukan pesawat kami yang diserang musuh, pasti kami saat itu pulang tepat waktu.


Di hutan tidak ada mayat Alen. Aku yakin Alen masih hidup. Grandpa bilang, Alen tidak akan selamat. Tapi Aku tetap menunggumu, Alen. Kau pasti akan kembali kan?' Batin Johan.

__ADS_1


__ADS_2