
Keindahan luar biasa didepan matanya, Kevin menghentakan kejantanan sambil menatap kilatan penuh keringat di punggung cantik istrinya. Selama berjam-jam beradu dan hanya beristirahat sebentar saja. Dia menggedong Lala yang mau jatuh setelah berdiri cukup lama dengan berpegangan pada pinggiran bed. Dia membaringkan tubuh sang istri yang sudah tak bertenaga. Namun, istrinya akan meraih kejantanannya lagi, baru juga belum ada dua menit mencapai puncak.
"Ada apa denganmu ... hentikan, Babe, jangan seperti ini,"kata Kevin dengan suara sedikit memburu, karena tangan sang istri begitu ajaib yang selalu bisa membangkitan gairahnya.
"Tidak. Ayo sampai pagi!" Suara Lala serak.
Sprei yang ditiduri sudah basah oleh keringat bercampur cairan kehidupan dua manusia yang harumnya memenuhi kamar. Mata biru gelap Kevin melihat jam dinding, ini jam 12 malam, dia mengelap keringat di alisnya. Lala juga membantu mengelap keringat di wajah Kevin dengan tangan mungilnya, sementara tangan lainnya bermain di kejantanan Kevin yang masih basah.
Kevin mendekap tubuh sang istri tak mengijinkan Lala menggodanya lagi. Dia tak mau menuruti sikap tak biasa Lala. Istrinya itu seperti tak peduli pada keletihan tubuh sendiri. Bahkan mengangkat tangan sendiri saja ... Lala terlihat tak kuat. Mengapa istrinya itu tak memperhatikan kelelahan yang beresiko pada keselamatan bayinya..
Keringat pada tubuh depan Kevin yang menempel pada punggung Lala yang juga basah oleh keringat terasa begitu menenangkan. Mandi keringat dengan sang istri sepertinya jadi hobi baru dari pada workout sendirian.
Tak dapat dipungkiri dirinya terpukau dengan keagresifan sang istri hari ini. Lala yang biasa pemalu, berubah 360 derajat yang mana malam ini terus menantang gairah kelelakiannya. Bukankah terlihat begitu janggal baginya atau memang sikap wanita berubah total setelah menikah. Tangan kekar itu menarik selimut menutupi tubuh polos istrinya.
"Sayang, banyak perempuan cantik,"lirih Lala yang benar-benar kehabisan tenaga.
"Bagiku, hanya kamu yang cantik."
"Bolehkah aku bertanya?"
"Hem."
"Jika aku mati, akankah kamu menangis?"
"Saya tidak akan mengijinkan kamu mati, Babe. Saya tidak akan menangis, jadi jangan mati."
"Mengapa kau tak romantis? harusnya kan__"
"Katamu, bila cinta tak perlu diucapkan tapi di buktikan."
"Kamu menyebalkan, Kevin."
Kevin mengecup rambut Lala yang basah oleh keringat. "Lala Clarissa, semakin hari, cinta saya kepadamu semakin bertambah. Saya berharap kamu bisa menerima segala hal tentang saya."
"Aku menyayangimu, aku akan belajar menerima segalanya," lirih Lala.
" Saya kira Johan akan menghalangi saya, dan ternyata dia menerima pada akhirnya. Ngomong-ngomong kamu belum memberitahunya? berita gembira dari kamu mungkin bisa mengobati kekecewaannya. Kudengar kondisinya kini masih kritis."
"Apa?! mengapa kau baru kasih tau?" tanya Lala.
"Saya lupa, Babe, maaf. Bujuk Richie agar kamu bisa menemui Johan. Jika saya yang meminta, dia tak akan memberinya."
"Semoga Richie mau mendengarkanku." Lala sedikit menoleh kebelakang," Sayang, aku tak mau menemui istri para ketua tanpa kamu. Aku tak mengerti bahasa mereka."
"Santailah, saya akan menemanimu. Namun, hanya sebentar karena ada kuliah siang dan sorenya, saya harus ke SANLA."
"Oh iya, aku perlu diary hasil usg si kembar untuk Johan, di laci meja rias rak ke dua."
__ADS_1
"Besok pagi, diary sudah disini ya, mari tidur."
"Terimakasih suamiku. Apa kamu pernah hanya berdua dengan para aktris atau model cantik dalam satu ruangan?"
"Sering."
"Apa!?Ngapain."
"Hanya seputar projek, Babe."
"Mereka menyentuh mu?"
"Sedikit"
"Sedikit itu apa ih!"
"Kemari balik badanmu."
Lala membalikan badan, "jadi sedikit seperti apa."
"Hanya berjabat tangan."
"Bohong."
"Kamu cemburu ya?"
Lala mencari senjata pusaka.
"Jangan menggodanya, dia sudah tidur. Ayolah ... si kembar kasian,Babe," kata Kevin meraih tangan Lala, menjauhkannya dari arena berbahaya.
"Nyanyikan aku lagu," kata Lala yang mulai tak bisa menahan kantuknya.
Kevin mulai memejamkan mata, mengeratkan dekapan dan mulai bernyayi...
🎼aku tidak ingin tahu tentang perasaan ini kecuali itu kau dan aku
Aku tidak ingin membuang waktu, ooh
Dan aku tidak ingin memberikan yang terbaik kepada orang lain.
Aku akan lebih baik menunggumu, ooh
Tidak ingin memberikan hatiku pergi
Untuk orang lain.🎼
...🍀...
__ADS_1
Badannya sakit semua saat bangun. Hari masih jam 6 pagi, dirinya harus menyiapkan sarapan pagi untuk misinya. Entah dirinya tidak yakin, apa tekad batinnya sudah benar atau salah.
Terlihat suaminya begitu nyenyak dalam tidur dengan wajahnya terlihat semakin bersinar setelah pegumulan tadi malam. Lala beranjak ke pinggir bed dan mengelus perutnya, sikembar aktif menendang, "Mama mau mandi, nak." Lala bangkit mulai kesulitan, perutnya besar, beruntung sang suami tidak pernah kasar saat beradu.
Setelah mandi, Lala memilih beberapa pakaian yang kemarin diantarkan pelayan wanita. Bahkan itu lengkap dengan **********. Itu terlihat baru dan sudah dicuci. "Sebenarnya Richie tidak terlalu jahat, dia peduli. Dia bahkan tak memangfaatkan kesempatan saat aku bilang akan memberikan tubuhku."
Dress hijau lengan pendek berbahan katun, dipilihnya, "Wah dia benar menyiapkan dengan teliti, baju ini pas lagi di perut, sangat nyaman." Dihirup aroma baju itu, Lala sampai tersenyum saking suka dengan wanginya. Sesaat dia teringat kebodohannya, "Aku benar gila! mengapa aku berkata begitu? aku tidak akan menghianati Kevin! bagaimana bila Richie menagihnya! Tidak! aku harus menghindari Richie."
Di ruang makan - lantai dua, Lala mencari seorang pria yang kemarin berbahasa indonesia. Namun, dirinya kecewa saat menjumpai ruangan itu kosong.
"Lala?"
Suara itu membuat terkejut, Lala mencari asal suara,"AH, Tuan Richie! anda sudah bangun," matanya melebar melihat pria yang sudah penuh keringat, sampai kaos hitam tanpa lengan itu melekat pada dada berototnya, melihatkan kulit putih yang memerah pada pinggiran bongkahan dada besar milik Richie yang terlihat keras dan kuat, membuat Lala menelan salivanya.
Lelaki itu memicingkan mata melihat sorot mata Lala yang tak biasa pada dadanya. "Yeah, apa yang kamu lakukan?" tanya Richie, lalu mengelap wajah dengan handuk hitam kecil.
Mendengar itu membuat Lala menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan mengalihkan matanya. dari dada Richie "Saya mencari pak Tua berkumis, yang memaki kaca mata."
Alis Richie terangkat sebelah,"OH kepala pelayan. Apa, kamu lapar?"
"Tidak, saya mencari dapur, saya ingin menyiapkan sendiri, sarapan untuk Kevin. Ijinkan saya meminjam dapurnya."
Sejam kemudian, Richie akhirnya ikut membantu Lala membuat sarapan setelah dia berganti baju bersih. Dua orang itu memakai celemek dan asik dengan tugasnya masing-masing. Lala tak menyangka jika Richie pandai memasak di luar sisi yang menyeramkan. Lelaki itu banyak memberitahu Lala dengan beberapa makanan yang di sukai dan apa yang di hindari Kevin agar kebugaran tubuh tetap terjaga. Dirinya bahkan baru tahu jika Kevin sangat menghindari makanan tidak sehat.
"Saya ingin melihat Johan, saat Kevin ke kampus, Tuan Richie," kata Lala sambil mengaduk sup daging.
"Apa kamu mencoba selingkuh dengan Johan?"
"Bagaimana bisa Anda berkata begitu. Jika ada yang mendengarkan, pasti akan salah paham. Kami dekat cukup lama dan kami hanya berteman."
"Terserahlah, tapi saya tak bisa mengijikan kalian bertemu."
"Kenapa? apa dia sudah pulih dari kritis?"
"Dia masih berurusan denganku, sepertinya tadi pagi dia telah siuman."
"Anda bilang sudah melepaskan Johan, mengapa masih ada urusan,"kata Lala, sedikit kesal sambil memotong ujung akar daun bawang dengan penuh penekanan.
Tit Tit Titt!
Richie membuka microwave, lalu mengangkat kentang yang masih mengepul dari dalam microwave.
"Tuan Richie????" Lala menuntut jawaban.
"Dia harus menjadi bawahanku."
Lala berjalan ke dekat Richie, "kenapa?"
__ADS_1