
-Lala-
Sejak Kevin mendelegasikan hubungan kami di depan keluarganya, Kevin belum menemuiku sama sekali. Apa dia marah? teleponku tidak dijawab, pesan belum dibaca.
Pengawal dan Siska juga tidak menjawab pertanyaanku.
Sejak pindah ke Istana ini aku jadi jarang bertemu Kevin, mungkin dia terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan kami, tapi setidaknya bisa kan menjawab pesan?
Dua keributan besar telah terjadi di depan kamarku. Dimana dua penjaga di depan kamarku melarang Mas Luca dan Nyonya besar melewati garis pintu.
Aku sempat membuka pintu, namun para pengawal benar-benar melarang dan mendorongku masuk dan menutup pintu.
Nyonya besar berteriak padaku dengan kalimat-kalimat yang menyakiti hatiku. Aku menyadari aku bukanlah orang yang pantas untuk Kevin, aku sudah sempat mau mundur dari pernikahan ini, tapi Kevin bersikeras melanjutkan ini. Ini sungguh dilema, menikah tanpa mendapat restu dari calon Ibu mertua. Om Anton pun sempat menentangku, dia menyuruhku membatalkan ini. Bila aku mau om Anton akan membantuku, katanya. Tapi aku sedikit kecewa pada Om Anton karena dia justru memintaku menikah dengan mas Luca. Aku mengelap air mata yang jatuh di pipiku.
DOG-DOG!
Aku mencari asal suara.
DOG-DOG!
Alisku berkerut dalam, pelan-pelan berjalan ke pintu balkon dan menggeser tirai, namun terlihat tak jelas. Aku menggeser pintu dan berdiri dibalkon, suara apa tadi...
Ini di lantai sepuluh, terlihat di bawah sana para penjaga berjaga, bila di hitung mungkin ada dua puluh lebih. Sepertinya mereka tak akan melihatku disini karena disini gelap. Suara apa tadi?
Aku melihat ke langit terlihat gemerlap bintang bertaburan, apa hariku akan seindah itu kedepan? meski tanpa restu orang tua Kevin?
Untuk pertama kali menikmati pemandangan dari balkon, sangat cantik. Aku melihat istana ini di kelilingi tembok tinggi, di beberapa tempat terdapat menara, Lala melihat kemenara terdekekat, empat orang berjaga disana membawa senapan. Apa perlu sampai seperti itu?
Aku melihat pohon-pohon lebat dibalik di luar tembok tersorot lampu, sebuah lampu mercusuar terus beralih berputar menyorot mengitari setiap area.
Mata ku tiba-tiba teralihkan dengan suara seperti tembakan, aku tak yakin karena tak terdengar jelas. Aku melihat di bawah sana ada empat mobil berjalan keluar, Itu mobil yang biasanya digunakan Kevin. Mau kemana Kevin tengah malam begini? Terlihat beberapa pengawal ikut masuk kedalam mobil di depan dan belakangnya.
__ADS_1
Tidak jauh dari mobil itu terlihat seseorang menampar orang lain sampai terjatuh. Dan mobil-mobil itu pergi. Apa benar kata Ayah, Kevin bukan orang yang bisa dibuat marah? sampai sejauh mana itu, aku ingin tahu.
Mataku tercengang, saat melihat orang yang di tampar tadi terkapar karena sebuah acungan yang aku yakini itu pistol. Mereka menggotong orang yang aku tak tahu nasibnya itu. merrka melakukan apa? ...
Aku mundur beberapa langkah ke belakang, aku benar-benar tak percaya dengan apa yang aku lihat barusan.
Tubuhku gemetaran. Mereka membunuhnya, aku yakin, aku tidak salah lihat. Aku menutup kedua wajahku dan terduduk bersandar pada pintu balkon. Aku menangis dalam keheningan.
Aku tak bisa memaafkan seorang pembunuh, apakah calon suamiku ...
Kaki terasa lemas hingga gemetar dan ku selonjorkan. Tangan mengelus kandunganku dan menatap bintang.
Bintang tampak indah tapi diselimuti kegelapan. Hidupku akan indah bersama Kevin, namun ... sekarang keindahannya tampak kabur.
Tubuhku terasa begitu lemas aku berdiri dengan susah payah karena tulang kakiku serasa dicabut.
Tak siap menahan tubuhku, aku terpleset dengan mata terpejam, beberapa detik kemudian aku tak merasakan sakit.
Saat membuka mata, mata tajam sedang menatapku, wajah dia tertutup rapat, aku akan berteriak.
Sedetik kemudian dia membuka penutup wajah, "aku Johan, jangan berisik" dia dengan suara pelan dan membuatku terkejut.
Wajah yang aku kenal itu sedikit berjamban, aku baru menyadarinya, aku dan dia terdiam sejenak. Aku menatap lebih dalam mencari kebenaran dengan tangan yang masih berpegang pada dadanya. "Tak mungkin," ucapku masih tak percaya melihat tubuhnya yang berpakaian panjang dan serba hitam.
"Lala kamu hamil?" tanya dia saat posisiku masi terlentang dan dia sedikit mencodongkan tubuh seraya memegangi perutku dan aku menjauhkan tangannya membuat dia menahan kedua tanganku ke atas kepala, tangan kiri Johan memaksa memegang kandunganku.
"Apa yang kamu lakukan!" kataku berusaha melepas tanganku, Johan menahannya. Dia tak mendengarkan dan tetap menahan tanganku lalu dia duduk di atas pahaku.
Aku merasa jijik dan takut dengan Johan, namun aku tak bisa berteriak, bagaiman bila mereka menangkap Johan?
Dalam kegelapan dia semakin mendekat, aku menatap wajahnya di bawah sinar bulan. Dia mencium bibirku begitu saja tak mengijinkan aku meronta karena tangan yang kuat menahanku.
__ADS_1
Johan justru memejamkan mata, rontaanku tak berhasil untuk melepaskan diri. Dia begitu panas menciumku, sesuatu dingin basah jatuh ke dekat mataku. Apa? dia menangis? ciuman itu mulai terasa asin, pipiku pun basah karena kristal bening dari mata Johan.
Kepala dan tubuh Johan bergetar, ia semakin mencengkram kuat tanganku. Tangannya yang lain mendekap tubuhku, hingga aku kesakitan karena cengkramannya. Kurasakan tubuh hangatnya, aku kesulitan nafas, dia menciumku lebih pelan dan mata Johan terbuka dan menatap dengan lembut.
Sesaat aku teringat pembunuhan tadi, mataku terbelalak, takut jika para menjaga melihat kami. Aku berusaha menggelengkan kepala, Johan masih tak melepaskan ciumannya.
Aku bahkan tak membalasnya, dia terus bermain dengan lidahku. Aku ketakutan, sampai aku tak bisa menahan kristal beningku di ujung mataku. Jemarinya mengelap ujung mataku, "jangan menangis, aku disini."
Aku masih sesenggukan dia membantuku duduk dan kami bersandar pada pintu balkon.
"Ini lantai sepuluh bagaimana bisa kamu kemari tanpa diketahui mereka. Apa kamu sudah gila Jo, mereka bisa melukaimu," aku semakin terisak.
"Mereka tak akan bisa," jawab Johan mencium tanganku yang masih gemetaran.
"Mereka pasti akan menangkapmu, cepatlah pergi, aku tak mau itu terjadi kumohon," ucapku dingin, aku tak bisa melihat Johan terluka, bahkan bila seperti apa yang barusan aku lihat -bagimana bila mereka membunuh Johan. Bagaimana nanti nasib putriku?
"Ikutlah bersamaku."
"Kamu sudah gila?! sadarlah,Jo. Aku akan menikah dengan Kevin. ltu bukan hal yang bisa dibatalkan tiba-tiba."
"Kamu tak mencintainya kan?"
"Aku mencintainya, aku juga ingin kamu mengejar kebahagiamu sendiri, jadi pergilah."
Aku meninggalkan Johan yang masih terduduk dan pintu balkon ku tutup. Seluruh lampu kamar Aku padamkan karena tak mau bila Johan masih berharap padaku. Aku masih merutukki diri mengapa aku tak berani bilang soal kehamilan ini pada Johan, "Maaf sayang, mama belum siap. Mama takut bila pada akhirnya papa membawa kalian pergi dari hidup mama, kalian sangat berarti untuk mama, peri-peri kecilku."
Aku berbaring dalam kegelapan memikirkan Johan, bila kamu bisa kemari artinya kamu bisa pergi dengan aman kan Jo?
Bersambung ...
_______________________________
__ADS_1
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍