Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 79 : DUNIA BARU


__ADS_3

Aku kira dia akan menjawab ku, ternyata dia hanya diam lalu menghadap tembok polos hitam. Telapak tangan Richie menekannya beberapa detik lalu ibu jari dia tekan pada tembok dan terakhir dia memicingkan matanya menghadap tembok. Alisku terangkat.


"Apa!?" pekik ku saat dinding itu terbuka, aku terdiam melihat dinding bergeser itu dan dentuman suara menyambut kedatangan kami, di gedung yang lebih tinggi dan besar daripada gedung pernikahanku.


"Selamat datang di dunia kami," kata Richie di telingaku, dia mememberikan dan memasangkan penutup telinga padaku.


Cahaya dari lampu-lampu kristal besar berbentuk bundar membuat seluruh gedung mengkilap. deretan meja panjang lonjong tertata rapih. Para wanita muda yang hanya memakai kemben dan rok mini berwarna merah terang, menggelayut manja pada setiap pria yang sedang asik dengan kartu dan dadu. Tidak jauh dari mereka tumpukan pecahan dollar menghiasi setiap meja.


'Mereka sedang judi kan? Apa sebenarnya yang kamu pikirkan, Kevin? sampai menggelar acara seperti ini disisi lain prosesi suci? apa kamu tidak menghargai pernikahan kita?'


Richi melambaikan tangan di depanku membuat jantungku mulai berdebar. Aku mengikuti langkah Richie ke sisi kanan. Seketika aku mematung memandang Richie yang memberiku kode untukku menyusulnya ke podium.


Tanpa pikir panjang, kini aku berdiri di sisi Richie. Di depanku, entah kapan mereka berkumpul, tiba-tiba mereka telah berjajar rapih dan para wanita berpakaian serba mini ikut berjajar di belakang.


Aku menggigit jariku dan lutut ku gemetar, sementara kulihat layar belakangku, sebuah monitor menshooting acara pernikahan kami, terlihat Kevin sedang bersalaman dan terlihat berbincang dengan para pejabat yang aku tahu itu orang terkenal karena sering muncul di berita pagi, Inem yang hobi melihat berita otomatis aku mau tak mau mendengar ocehannya.


Richie menarik tanganku, kami berdiri sejajar. Dia membuka pertemuan dengan bahasa asing yang berbeda.


Beberapa menit berlalu, mereka semua membungkuk ke arah Aku dan Richie. Aku melebarkan mata, apa aku harus ikut membungkuk?


Richie serong kanan, aku mengikuti arah mata Richie. Lima orang ekslusif usianya sekitar kepala empat, memakai kemeja santai ala pantai mereka sedang duduk di sofa sisi kanan.


Mereka menggunakan kalung emas sampai menutupi perut mereka. Mereka dibatasi pembatas kaca rapat, sehingga tidak ada yang bisa memasuki ke ruangan itu, karena tak terlihat pintunya.


Mereka bertopi koboi coklat, dengan pita hitam melingkar di dasarnya. Mereka serentak mengangkat topi ke kanan setinggi di atas kepala. Wajah mereka kaku, saat mereka tersenyum justru terlihat seperti hantu, aku tak berani menatapnya.


DEG aku kembali mengingat penjahat pada malam kelam ku. lutut ku gemetar.


Richie setengah membungkuk kepada orang-orang yang dari tadi membungkuk, apa orang-orang itu anak buah Richie? padahal orang-orang itu juga berpakaian serba mahal.


Siapa Richie? sampa di segani orang-orang itu?


"Jangan! tetap seperti itu," kata Richie nadanya keras memperingatkan ku saat aku akan membungkuk.


Aku berdiri mematung, tak tahu harus berbuat apa.


Tuan Richie kembali dari membungkuk nya.


Mereka yang telah membungkuk memberi hormat pun ikut tegap kembali mengikuti Richie.


Tuan Richie kembali berpidato lagi dengan bahasa asing. Kulihat semua orang kini menyerong ke kiri.


Dinding di sisi kanan ku bergeser, Disana terlihat lampu terang, tapi aku tak biss melihat karena pandangnku terbatas. Aku hanya melihat orang-orang melebarkan mata, ternganga, beberapa berbisik.


GOARRRRR


Aku mendelik mendengar raungan keras, aku melepas penutup telingaku, ternyata musik ruang ini telah mati.


Orang-orang serentak mereka mundur dengan wajah yang seperti melihat hantu. Richie berbicara bahasa asing kepada mereka dan mereka maju kembali ke posisinya.


GOARRR.


Aku melihat asal suara dari dinding yang terbuka itu. Tak mungkin kan ada macan?


DAK!


"Ah!" aku melebarkan mata dan melompat ke balik punggung Richie serta mencengkram kuat tangan Richie.


GOAR


BUGH! BUGH!

__ADS_1


Raungan memekakkan telinga, orang-orang di hadapanku pucat.


Richi menggeser tubuhku hingga aku berdiri di depannya. Dia kuat menahan lenganku hingga aku tak bisa bersembunyi atau lari, "Nyonya Saint tenanglah dengarkan saya baik-baik," ucap Richie di telinga kananku.


Aku melotot memandangi macan itu terus mencakar aquarium kaca yang terdapat lima orang eksklusife, namun lima orang itu asik dengan minuman dan cerutunya.


GOARR


Macan itu mencakar-cakar, dan kaca itu tak tergores sedikitpun.


"Apa Anda tak mengenal macan itu, Nyonya Saint?" bisik Richie.


"Tu-tuan Richie ini hari pernikahanku, mengapa aku di ba-bawa kemari," jawabku tergagap, aku mengelap keringat di pipiku, Padahal ruangan ini bersuhu sekitar 11 derajat celcius.


Richie meniup telingaku.


"Tuan Richie! aku ingin kembali."


Riche meniup telingaku lagi.


"Apa Anda tak merasakan hembusan hangatku di telingamu, Nyonya Saint?"


"Ku mohon," lutut ku semakin gemetar manakala macan itu berbalik menatapku.


Richi mengigit telingaku keras. "Nyonya Saint!"


Aku semakin mundur mendorong tubuh Richie manakala macan itu terus berjalan mendekati kami.


"Nyonya Saint! Anda mendengar ku!"


Aku terus mundur mendorong Richie ke belakang sampai kami di ujung tembok monitor.


Richie mengigit tengkukku keras.


GOARRR!


Aku diam mematung, seketika badanku bergetar hebat saat macan putih itu membuka mulutnya sangat lebar. Mengapa dari sekian orang macan itu justru menghampiriku.


Richie memeluk pinggangku, hingg punggungku semakin rapat dengan Richie, dia berbisik di telingaku. "Panggil Namanya," bisik Richie dengan suara baritonnya. "Hanya Anda yang tahu namanya," bisik Richie lagi.


"Anda sedang bercanda tuan Richie! dia seperti akan memangsaku.Tolong saya, Anda pindah ke depan, Biar dia memangsa Anda, dan saya bisa kabur!"


Macan itu terus memutari kami, matanya menatapku. Keringat dinginku menyembul.


"Teddy," aku menyebut sebuah nama yang kuingat.


"Ya?" tanya Riche, "lebih keras, nyonya Saint."


"TEDDY!!" teriakku dengan lutut gemetar.


GOARRR!!!


"Lebih keras!" Richie melepaskan pelukannya dan mendorong tubuhku.


"TEDDY ! TEDDY ! TEDDY!", mataku terpejam.


"Ayolah nyonya Saint dia akan memakanmu !!"


"TEDDY ! TEDDY! TEDDY SAINT!" lututku gemetar dan tak sanggup berdiri, aku jatuh terduduk namun Richie menahan ku sebelum pantatku menyentuh lantai. Seketika pandanganku mulai buram, kulihat samar mulut macan itu membuat pipiku, basah dan lengket.


"Nyonya Saint, anda mendengar ku?"

__ADS_1


Aku kembali mendengar suara-suara, badanku terasa letih. Aku bangkit dari sanggahan tangan Richie. Aku mulai berderai tak bisa menahan air mataku lagi.


Aku sempat melihat 5 orang ekslusife itu tersenyum kepadaku.


"Kemari Boy," Richie menjentikkan jari, macan itu sekali lompatan sudah di depan kami.


GOAAARRRRRR


Aku merasa tak punya nyawa, menyisakan indra penglihatan ku dan itu pun sedikit kabur melihat mulut tenggorokan macan yang akan memakan ku, bahkan suaranya seperti hilang dari indra pendengaran ku.


Lidah pink merah itu menjulur. Tidak. Macan itu menjilat mukaku. Dan menjilat lagi.


Aku tak merasakan apa-apa, tatapanku kosong. Pandanganku gelap sesaat, macan itu mengelapkan bulu lehernya pada wajahku.


Pendengaranku kembali berkerja, kakiku mulai terasa sangat dingin, aku menggigil hebat. Kandunganku semakin mengencang. "Ke..vin...," aku tak yakin suaraku terdengar tidak, aku memegangi perutku.


Nafasku berat. "hhhha"


DUG DUG DUG Aku mendengar jelas bunyik detak nadi di telingaku dari pada suara lain.. hah..


Semua terlihat gelap seketika.


.


.


Hah


pandanganku terbuka samar, ku lihat samar-samar bibir Richie di bibirku, begitu dekat pipi Richie..


"Anda mendengar ku? atur nafasmu!" suara Richie terus menggema dalam setengah kesadaranku.


Tubuhku sangat lemah, Richie memiringkan tubuhku yang tergeletak di lantai ke arah kanan, aku seperti kehabisan nafas...


Cukup lama Richie mengajakku berbicara, aku tak tahu apa yang dikatakan dia.


Dia membantuku duduk.


"Bertahanlah sebentar lagi," bisik Richie di telingaku. "Anda mendengar ku? jika iya kedip kan mata."


Richie terus membisikkan di telingaku.


"Nyonya saint, turuti lah, atau suamimu jadi taruhan!!" bisik Richie penuh penekanan


Kristal-kristal air mata jatuh dari mataku.


Aku berusaha mengumpulkan sisa tenaga. Dan aku mengedipkan mata sebisaku.


"Dengar saya nyonya Saint ..."


-Satu jam kemudian-


Aku duduk di sofa dengan tubuh yang sudah mulai pulih, "Kapan suami saya datang?"


"Setelah kita menyelesaikan ini."


Bersambung ...


_______________________________


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍

__ADS_1



__ADS_2