
"Bpah pah pah!" seru Vino mau merebut sate dari tangan Richie.
"Itu gak boleh sayang," kata Lala meraih tangan Vino yang menepuk-nepuk pipi Richie.
"Biar saja," seru Richie sambil menusuk lontong di piring Lala dan sedikit menunduk
menggigit lontongnya. Vino semakin menepuk-nepuk rambutnya mencoba meminta apa yang dimakan Richie.
"Sanalah makan dulu." Lala Melihat Richie yang kesulitan makan sambil menggendong Vino dan Lala meletakan piring di atas meja.
"Suapin," kata Richie, menjauhkan badannya dari Lala, ketika wanita itu akan merebut Vino.
"Makan sendiri." Lala benar-benar bingung dengan jalan pikiran Richie. Sejak hilang ingatan, pria itu marah-marah tak jelas. Sedangkan tiba-tiba sikapnya berubah saat Kevin menjemput Bella. Kini sikap Richie juga susah di tebak dan justru jauh-jauh ketempat terpencil ini. 'Sebenarnya bagaimana Richie bisa tahu aku disini? kalau dia tahu aku disini, apa yang lain akan ikutan tahu? Sedangkan aku tak mungkin lagi bisa kabur, karena semua uang tabungan telah aku gelontorkan untuk kolam renang dan bantuan warga.'
"Ibu Lala, kita kedatangan Pak Bupati lagi hah hah," kata seorang gadis yang menarik-narik tangan Lala. "Katanya, mau bertemu, ibu. Ayo ..."
"Oh ya? " Lala menatap Richie sesaat, "bentar, Richie."
Lala langsung menuju kerumunan orang yang mengerubuti pejabat karena minta foto bareng. Akhirnya Richie bergeser sedikit mengambil lontong sate.
"Bpa pah pha pha bbrr brr." Tangan Vino mencoba menggenggam bibir bawah Richie, membuat Lelaki itu menahan tangan Vino dengan bibirnya, "Mmmhhhh baahhh." Richie, mencengkram tangan kiri Vino dan menggoyang-goyangkan.
Vino merosotkan badan.
"Apa Boy?? kamu mau turun??"
"Cha chaa ..taa."
"Okelah Boy." Richie menurunkan Vino, memegang kedua tangan Vino dan berjalan bersama. Kaki mungil itu mulai menapaki tanah berumput. Richie sedikit mendongak, melihat ke arah Lala yang sedang terlihat bercengkrama. Richie dari kejauhan kurang nyaman dengan tatapan mata pejabat itu pada Lala. Sebagai sesama lelaki, Richie tahu betul tatapan apa itu.
"Mengapa saya jadi terjebak disini?" gumam Richie menuntun Vino ke pos kampling.
-Kilas balik Richie-
Dua tahun yang lalu, sepulang Kevin dari wilayah barat, lelaki itu memberikan sebuah kotak dan Richie langsung membuka kotak itu berisi flashdisk.
Membiarkan Kevin menemui Lala, Richie berjalan ke ruang kerja. Karena -ruang kerja utama- terkunci oleh sandi yang belum terpecahkan sebab hilang ingatan, Richie membuat ruang kerja sementara.
Damar membuka Flashdisk, dan video itu terputar di layar proyektor. Pak Pram berdiri di sisi kiri Richie, ikut meninjau karena yang tahu masa lalu Richie hanya sang kepala pelayan. Sedangkan Damar baru ikut Richie selama sepuluh tahun.
"Itu Lala kecil?" tanya Richie ketika melihat wajah di video begitu mirip dengan foto-foto yang di tunjukan Poo Poo.
"Iya itu nyonya Lala. Jadi, dia berada di kebakaran yang menghabiskan seluruh gedung apartemen?" gumam Pak Pram jadi keingat apartemen besar itu terletak di Rusia, terbakar karena kasus pembunuhan, dan sampai saat ini belum diketahui titik terang dan siapa pelakunya.
"Untuk apa Kevin memberikan ini?" kata Richie melihat cuplikan demi cuplikan berita. Mereka melanjutkan video dan file-file dalam flashdisk. Itu termasuk rekam medis Lala saat kebakaran itu.
"Jadi, Alen membawa Lala terjun dari lantai tiga dan nyonya Lala sempat pendarahan otak sedang, dan membuatnya kehilangan ingatan," kata Pak Pram.
__ADS_1
"Lalu, sejak itu. Alen membawa nyonya ke Indo..." kata Damar.
"Jadi, nyonya Lala tak mengingat ingatan sebelum SD karena musibah itu," kata Pak Pram.
"Kita akan semakin kesulitan membuka ruang kerja ku."
TOk!TOk!TOk!
Seorang bawahan masuk dan membisikan sesuatu pada Pak Pram disambut anggukan dan menyuruh orang itu kembali.
"Kevin telah membawa nyonya Saint, mereka ribut lagi, Tuan," kata Pak Pram.
"Biarkan, itu bagus, kita tak perlu bersusah payah. Siapkan jet, Damar. Aku akan menemui Kevin. Sebenarnya, apa maksud dia memberikan ini."
Tidak berselang lama, Richie mendarat di rumah sakit miliknya, di temani Damar menuju kediaman Kevin.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang di guyur hujan dan petir. Melewati jalanan panjang yang jarang dilewati orang umum.
Damar melewati sebuah taksi yang berhenti di pinggir jalan. "Siapa yang memesan taksi di wilayah sepi, dalam cuaca seburuk ini."
Tiba-tiba Damar mengerem mendadak, membuat Richie terhempas ke jok depan.
"Gila kau! mau cari mati denganku hah?" Richie memegangi kepalanya yang terantuk jok depan.
"Ampun Tuan, saya melihat nyonya Lala, barusan naik taksi!" Seru Damar tanpa pikir panjang.
"Bukan urusan ku, cepat saya akan menemui Kevin!" Seru Richie duduk kembali membenarkan jasnya.
"Bukan urusan saya."
"Tuan, bukankah artinya Nyonya Saint mau pergi, dan anda akan kehilangan kunci rahasia itu, karena harapan satu-satunya Nyonya Lala."
Richie berpikir sebentar, ada benarnya juga apa yang diucapkan asistennya itu."Berhenti."
Damar berhenti mendadak, membuat Richie kembali terdepak ke depan.
"Bedebah kau! cepat putar balik." Geram Richie sudah dengan wajah merah padam.
"Ampun Tuan, anda mengagetkan saya," kata Damar dengan suara gemetar menuruti permintaan tuannya.Ia menambah kecepatan laju mobil, sampai dia yakin taksi itu yang dilewatinya tadi.
"Jaga jarak, ikuti dia."
"Bukankah kita mau membawanya, Tuan?"
"Tidak, kita lihat dia mau kemana."
Satu jam perjalanan ... Richie masih ragu, apa perlu sampai seperti ini, mengikutinya.
__ADS_1
"Ini mengarah ke pelabuhan Tuan, apa kita mau memgikutinya?"
"Pulang saja, utus anak buahmu mengikuti wanita itu. Kemanapun dia pergi. Dan kau, kirim supir taksi itu keluar negeri, hapus history perjalanan taksi itu. Hapu semua jejak wanita itu, sampai Kevin tak bisa menemuinya."
"Baik Tuan, saya akan menelpon penjaga pelabuhan."
Bulan demi bulan, Richie mengamati dari jauh kehidupan Lala. Sampai wanita itu mau melahirkan, Richie mulai stay dan membeli rumah sakit terdekat, memperbaharui dengan peralatan medis canggih terbaru.
Saat itu dirinya masih belum sadar, mengapa melakukan sampai sejauh itu.
Sampai hari-hari terakhir, dirinya mulai frustasi karena mimpi aneh itu terus menganggu tidur dan membuat kepalanya sakit bukan main.
Richie terbang ke Indo, dan rumah sakit telah di bugar, agar jetnya bisa mendarat disana. Dia membeli dengan harga tinggi tanah-tanah warga di sekitar rumah sakit. Tentunya, nama pemilik rumah sakit itu atas nama anak buahnya.
Suatu malam Richie tak tahan dengan frustasinya, dia ke sebuah klub malam. Tanpa sadar pagi-pagi dia sudah di rumah Lala. Tapi sungguh berani pencopet yang mengambil tas, dompet dan jamnya. Damar pasti menangkap pencopet itu.
Sebenarnya jarak dari klub itu ke rumah Lala hanya 15 menit. Richie tinggal di rumah anak buahnya yang cukup besar selama ini.
-kilas balik selesai-
"Kini saya tak tahu atas apa yang saya lakukan sampai sejauh ini, pasti ini karena demi sebuah sandi. Tapi bagaimana cara membuat Lala ingat permainan itu?" Richie mengangkat Vino yang terlihat mengantuk, dia menimang Vino yang mulai tertidur.
Dengan satu tangan, Richie menimang, sementara tangan lain menyambi makan lontong sate yang nyaris habis.
'Mengapa saya jadi seperti ini? apa perlu sampai jadi pegawai? yang benar saja...' batin Richie.
"Bos..."
Richie menoleh ke asal suara. Melihat anak buahnya yang biasa berpakaian hitam kini berpakaian kaus murahan dan sedang membawa es serut di tangannya.
"Pergi kau, apa yang kau lakukan?" Richie dengan suara pelan, mengamati sekitar.
"Tenang saja, mereka akan percaya. Bukankah akting saya sangat bagus, Bos? apa anda perlu sesuatu?" tanya Anak buahnya ketika mengambil sate lontong."
"Seminggu sekali kau harus datang kesini, awasi semua gerak-gerik pendatang."
"Baik, apa... saya perlu membeli rumah terbaik di jalanan ini, agar anda bisa pura-pura bekerja disana. Dan anda bisa beristirahat dengan nyaman?"
"Ide bagus__"
"Pak beli esnya!" panggil anak-anak sekolah dasar mulai mengerubuti anak buah Richie.
"Siap anak-anak, kalian kesana dulu ya, sebentar bapak habisin ini dulu ya..." Anak buah Richie menunjukan piringnya, memberitahu bahwa dirinya harus menghabiskan makanan.
"Sudahlah sana pergi." Richie meletakan piring yang telah kosong di meja.
'Tak disangka, bos sangat imut,' batin anak buah Richie yang melihat sisi lain sang bos berdarah dingin yang sedang menimang bayi.
__ADS_1
"Anda terlihat sangat cocok jadi ayah, Tuan." Anak buah itu tersenyum meninggalkan Richie.
Satu alis Richie terangkat, "Cocok? apa ... maksud dia cocok?"