Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 255 : TOWER BRIDGE, THAMES RIVER


__ADS_3


"Kak Amber dimana? aku perjalanan pulang, jadi ke rumah nggak?" Suara Ivy dari telepon.


"Tower Bridge." Amber bersandar pada kursi, mengelap pipinya yang basah.


"Oh, aku jemput ya, kak?"


"Tidak usah, sebentar lagi, aku ke situ."


"Ya, sudah kalau ada apa-apa telepon. Aku sudah dapat pesanan kakak."


"Makasih, dek ... " Amber memutuskan panggilan telepon, dan tampak wellpaper fotonya dengan Bobby.


Amber mengenang saat perpisahan dengan Boby setengah tahun lalu, saat pria itu memutuskan untuk mengambil S2 nya di University College London untuk bergabung dalam program Architectural Design di The Barlett. The Barlett sendiri merupakan fakultas yang fokus pada study Built-Enviroment dimana arsitektur menjadi salah satu jurusannya. Di kampus ini, program Arsitekturnya terkenal dengan desain yang advanced.


Sejak itu pacaran jarak jauh, menjadi pilihannya. Namun, dia tidak menyangka akan dikhianati, saat tadi mendapati Boby bermesraan dengan perempuan lokal, mungkin karena itu selama seminggu ini Boby tidak ada kabar?


Bahkan saat ke kota ini tiga hari lalu, dirinya mau memberi kejutan, tetapi, justru dirinya yang dikejutkan oleh Bobby dengan kehadiran perempuan lain.


Sebuah tangan menyentuh bahunya. Amber mendongak dan lagi-lagi paman menyebalkan ini. Amber bertanya-tanya, bagaimana mungkin paman itu bisa tahu keberadaan Boby, terlebih sampai tahu bahwa dirinya sudah pacaran selama dua tahun, sebenarnya siapa paman ini, selain yang dia tahu bahwa paman adalah seorang teman dari Ayah Jo dan papah Kevin.


Richie duduk di sebelah Amber dan terdiam cukup lama.


"Paman ... " Panggil Amber tanpa menoleh, memandang hilir mudik kapal yang berlalu di depan untuk berharap setidaknya itu mengikis kekesalan karena Boby.


Richie menarik sapu tangan dari saku celana, dan menaruh di atas tangan Amber yang di atas paha. "Hm ... "


Menatap sapu tangan, Amber mere..mas kain itu dan mengelap pipinya yang gatal karena basah. "Paman sedang menertawakan ku?"


Riche meletakan lengan kanan di atas kursi, di belakang bahu Amber. "Bahkan aku tak bersuara, bagaimana bisa kau menilai ku tertawa." Menggelengkan kepala.


"Jangan bilang ke ayah."


"Kenapa?" Richie menekuk telapak tangan dan menyentuh bahu Amber menarik hingga Amber tertarik ke dadanya. "Kau takut ayahmu marah?"


" .... " Amber terdiam.


"Bukan kah 'DI SINI' ayahmu yang paling harus tahu. Bagaimana pun ayahmu Jo, orang pertama yang akan paling khawatir dengan segala hal tentang mu." Richie mengelus bahu kanan Amber perlahan.


"Aku mohon jangan ... "


"Jika belum apa-apa, seorang pria sudah bermain tangan, kau pasti akan mendapatkan lebih banyak pukulan setelah menjadi pasangannya. Johan harus tahu, maaf Amber."


Telapak tangan mendorong dengan keras dada paman, dan menyingkirkan tangan paman dari bahunya, Amber mendengus dan melempar sapu tangan itu ke dada paman. "Anda mau membalas dendam, kan, karena saya tidak menyetujui pernikahan Paman!"


Richie duduk menghadap Amber. "Tidak ada sangkut paut dengan itu. Ini beda cerita. Dia ayahmu yang harus tahu ini."


"Paman menyebalkan!"


"Oke, tapi hanya dengan satu syarat-" Richie menatap mata Amber yang membesar.


"Jangan kira, karena Paman menunjukan Boby selingkuh, lalu berarti ku akan mau menerima Paman. TIDAK AKAN!" Amber melirik orang-orang di sekitar yang memandangnya. Angin malam berhembus menyapu wajah Amber, dia menjadi demam oleh marah yang bercampur kesal, sedih dan semuanya menjadi satu.


"Sebentar. Tidak baik ketika orang yang lebih tua sedang berbicara, dan kamu asal memotongnya." Richie menghembuskan nafasnya yang mulai meningkat karena marah. "Ayo kita cari makanan, itu syaratnya."

__ADS_1


Amber menatap ke richie ...


"Kita naik Cruise, kita perlu mengelilingi sungai Thames." Richie berjalan cepat, emosinya sudah sempat tersulut.


Amber berdiri dan terdiam menatap punggung tinggi yang mulai menjauh.


"Cepat," geram Richie tanpa menoleh ke belakang.


Amber merasa kesal, belum memberikan jawaban mau, tapi ...


"Ayo, nona. Atau tuan tidak segan-sega melaporkan anda pada ayah anda."


Amber menoleh ke kanan, dia baru menyadari ada pengikut paman di situ. "Bapak mengancam ku?" Kesal amber pada anak buah paman.


Damar menggelengkan kepala. "Saya memberitahu ... Mengapa saya harus mengancam. Biar kuberi tahu. Saat tuan menutup pintu tandanya tengah menelpon ayah anda saat itu. Sepertinya, bahkan Tuan Richie tetap akan melaporkan anda, dan mungkin ayah anda langsung memberi perhitungan sendiri pada pacar anda, seperti pada para teman pria yang berani mendekati anda, kan."


Memajukan kepala, bibir Amber maju mengerucut, kembali heran orang-orang ini bisa tahu. Amber mendengus kesal pada orang itu dan langsung melepas sepatu haknya.


" ... " Damar tersenyum tipis saat Amber menjinjing dua sandal samil berlari dengan cepat.


"Paman! hah hah!"


Sopir membuka pintu... Richie mengambil ponsel, dan melangkahkan satu kaki ke mobil. Dia tersenyum ... karena Damar berhasil membujuk Amber.


Richi masuk tepat saat Amber membuka pintu.


Richie duduk,saat Amber melempar pantat ke kursi sebelah pengemudi dengan kehabisan nafas ...


"Apa kamu berolahraga malam, Amber?" Tanya Richie dingin, memperbaiki posisi duduk. Satu sudut bibirnya menyeringai saat sopir menutup pintu di sebelah Richie.


"An--dah..hah..se-dang- mengerjai-- dan .memba-las den-hhh-dam kan!" Amber meluruskan kaki nya ke depan saat sopir menutupkan pintu.


Richie menyeringai saat Amber meraih dengan ketus botol itu dan langsung menggelegak nya.


Dalam perjalanan Amber menyetel musik itu dengan keras. Richie mendelik, putri Lala ini benar-benar menghabiskan kesabarannya, bahkan ini lebih keras dari pada suara di kasino.


DRrrrt-


Amber tersenyum melihat sopir yang tampak tegang dan amber melirik spion tengah, tapi paman itu tampak tenang! Amber membuka ponselnya saat membuka ponsel dan membacanya.


-Apa kau berniat memecahkan gendang telingaku!? - Richie


Amber mendengus kesal, kenapa paman mengesalkan itu tidak berbicara langsung . Dan Amber melihat ke kanan, di luar jendela orang berlalu lalang. Amber membiarkan musik itu tetap keras.


Supir meilirik ke spion tengah, tidak berani berkutik tanpa perintah sang Bos, jadi dia tidak berani mengecilkan suara.


-Apa kamu ingin aku menelpon ayahmu sekarang?'- Richie.


Amber meremas ponselnya begitu membaca lagi. Huh! Amber langsung mengecilkan suara ... dan Richie mengangguk tidak mau kalah oleh keegoisan seorang gadis kecil.


Di depan kapal Thames malam itu. Damar memakaikan Jas baru ke Richie. Saat menaiki kapal, petugas menghentikan Amber karena memakai kaos dan jeans. Damar diam-diam menodongkan senjata di belakang pinggang petugas tanpa sepengetahuan orang, terutama Amber. Dan petugas mengijinkan masuk karena todongan senjata.


Amber keluar dari kamar mandi mengenakan gaun pink yang baru dipakainya, padahal dirinya tidak suka dengan gaun pink. Sepertinya, Paman memikirkan dirinya, karena semua di sini harus berpakaian formal.


Menyusuri sungai Thames menatap gemerlap lampu gedung-gedung, Amber menyelesaikan makanan itu dan berharap segera pulang. Sesekali menatap pacar Ibu yang terus tampak tenang.

__ADS_1


"Amber, mengapa kamu tidak membuat perusahaan sendiri? Aku akan menanamkan modal di perusahaan mu?" Richie mulai berbicara saat Amber mengelap mulutnya dengan serbet.


"Apa anda berniat menyogok saya. Saya bilang tidak akan mau!" Amber mere..mas serbet di atas meja.


"Menyogok!?" Richie menggelengkan kepala, hatinya kesal karena gadis itu menyadari rencananya. "Ternyata nyali mu ciut ya ... Memulai membangun perusahaan sendiri saja, tidak mampu."


"Anda ... " Amber lalu berpikir sejenak. "Siapa bilang aku tak mampu," Amber menekan suaranya.


"Buktikan kalo kamu mampu." Richie menarik gelas kaca ke dekatnya. "Apa kamu bisa memberikan keuntungan, ya tak usah banyak-banyak. Lima persen saja."


"Anda meremehkan saya, Paman." Amber menatap paman yang sedang minum air bening.


"Semua itu harus ada pembuktian, Amber." Richie menjauhkan gelas yang telah kosong.


"Orang tidak bisa mempercayai hanya dari omongan, dan lalu orang itu menyebutnya 'omong kosong'. Aku akan memberimu modal dan dalam kurun enam bulan kau harus mengembalikannya." Richie tersenyum menantang.


Melirik jam tangan, pukul delapan, Richie berpikir pasti Lala sudah menunggunya. "Aku ingin melihat mu apa kamu mampu mandiri dengan usahamu sendiri? Atau kamu justru menghilangkan modal investor dan meminta ayahmu bertanggungjawab karena ketidakmampuan mu. Aku menantang mu."


Amber mendengus kesal. Harga dirinya merasa diinjak-injak. "Aku akan membuatnya untung ... untung lima kali lipat dalam tiga bulan!!!"


Richie menyeringai, setelah sekian lama, sepertinya ... usaha ini, tampak membawa harapan. "Ya. Baguslah. Jadi, kapan kamu akan memulai? Datang ke kantor. Di tempatku, kita buat MOU tepat saat aku membawa mamahmu ke tempat saya. Besok."


"Saya tidak setuju bila anda membawa mamah saya!"


"Amber, kau sedih kan terpisah dari pacarmu? seperti itu lah kami, aku dan ibu mu. Kamu tidak tahu mamahmu juga sedih. Dia bisa saja tidak mempedulikan pendapatmu dan pergi dengan saya, tapi dia menunggu mu untuk menerimaku. Kamu egois, Amber. Mamahmu mencoba mengerti mu. Namun, kamu sama sekali tidak mengerti perasaanya."


Amber terdiam sejenak, bibirnya melengkung ke bawah, memikirkan mamahnya yang tidak pernah memperlihatkan kesedihan di depannya. "Paman, saya ingin mama hidup dengan ayah Jo. Anda ... " Amber tidak meneruskan kata-kata, menatap orang paling menyebalkan itu.


"Amber, maaf, tapi kami tidak terpisahkan, dan kami memiliki seorang bayi." Richie menatap mata Amber yang melotot.


"A-apa ... maksud anda," lirih Amber loyo.


"Kamu sudah dewasa. Amber ... Kamu tahu artinya."


Menggelengkan kepala dengan cepat, mata Amber bergegetar. Usaha untuk mempersatukan ibu dengan ayah Jo dihantam realita.


'Realita tak semanis ekspetasi'


Bahu Amber terguncang dan tulang-tulangnya terasa seperti kapas tak kuat menopang tubuhnya, tetapi dia menguatkan, harus tetap berdiri tidak boleh terlihat lemah dan dirinya harus menerima kenyataan hal paling pahit. Semua rencana dan angan-angan indah berbuah menjadi kekecewaan yang teramat dalam di relung hati, saat mengetahui bahwa ... ini tidak mungkin, Amber tidak mempercayai, mata Amber memanas.


Ibu hamil ... (Amber)


"Suka atau tidak suka kamu harus menerima. Kami akan tetap melangsungkan pernikahan meski tanpa persetujuan mu." Richie mengusap mulut menggunakan serbet putih.


"Dan sebelum kau mulai mengacaukannya, biar dari awal sekarang saya beri tahu padamu." Richie meletakan serbet di meja dan berdiri, merapikan jas, melangkah mendekati putri dari sang kekasih.


"Dia kekasihku, Amber. Ibumu adalah kekasihku. Kami pasangan, bahkan sejak kami masih kecil. Kamu tidak tahu ... kami telah berjuang melewati badai."


"Usahamu akan sia-sia, bahkan itu ... sudah sia-sia sekarang. Jadi, aku memberitahu mu agar, kamu berhenti dalam bersikap kanak-kanakan. Kamu sudah besar. Karena suatu saat kamu akan memahami posisi kami. Ya, Anda paham, kan ... putriku?!


Bibir amber berkedut, dia menggigit pipi bagian dalam, di sisa tenaganya ... mendongak menatap pria itu "Aku bukan putri mu!"


"Kamu akan .... " Richie mengepalkan tangan, menatap kepergian Amber.


Mulut Amber terus berkedut, laring terus mencengkeram tenggorokan menyebabkan rasa panas menyakitkan karena kekesalan. Otaknya mati. Ini tidak boleh.

__ADS_1


Amber tidak senang dengan kepercayaan diri paman Richie. "Aku tidak akan, tidak akan," isaknya saat air bening meluncur ke pipi. Tidak mempedulikan jika menabrak orang-orang yang langsung marah-marah padanya, dia mulai berjalan perlahan berpegangan pada tembok besi kapal dan di sudut kapal, tubuhnya merosot.


Bahunya terguncang "Ayah hggg...hggg" sesenggukan memeluk lutut, mencengkeram lengan.


__ADS_2