Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 4 : TAMU TIDAK DIUNDANG


__ADS_3

Lala menyepeda, menikmati udara di perkampungan yang masih sangat asri. Dia pun berhati-hati menghindari jalanan aspal yang berlubang.


"La mampir, aku bikin kue !" teriak seseorang gadis di pelataran rumah sederhana.


"Sudah sore, besok ya, Sa!" Dia tak memelankan laju sepeda.


Tidak lama kemudian, Ia berhenti dan menyandarkan sepeda di pohon jambu.


"Bu beli telurnya setengah kilo, seikat kangkung, berasnya 1 kg, dan kecap yang kecil ya. "


"Siap Cah ayu. Sore banged, tumben !" Si penjual mulai menyiapkan pesanan Lala.


"Hehe Iya ibu."


"Kapan mulai masuk kuliah?"


"Seminggu lagi."


"Ibu mau perpanjang les iwan. Juga, adik iwan. Dia iri sama kakaknya," kata Ibu Penjual.


"Ah terimakasih sudah diperpanjang. Adiknya mau ikutan les juga? boleh banged, Bu! Lala malah seneng banged." Senyuman Lala merekah mendapat tambahan pemasukan.


"Ini uang les iwan, sama uang DP untuk les adiknya. Belanjaan Lala Rp 44.000,- sudah tak potongin dari sini. Ini ibu kasih bonus tempe. Oh iya salam buat bapakmu ya, La."


"Terimakasih tempenya. Lala terima uang ini, ya Bu. Nanti Lala sampaikan pesan Ibu ke Bapa, Lala pamit." Dengan berbunga-bunga Lala tak bisa menyembunyikan rasa senang karena sangat butuh banyak uang untuk kuliah.


Lala bersyukur masih bisa menabung lagi. Ia harus segera mencari pekerjaan tambahan dan ingin bisa menyajikan makan yang cukup bergizi untuk ayah.


Dari kejauhan nampak dua mobil hitam terparkir di jalanan depan rumahnya. Apakah cuma parkir? Lala semakin bertanya-tanya saat memasuki pelataran rumah. Lima bodyguard berdiri tegak di depan pintu Rumah.


Siapa mereka? apa ayah terkena masalah lagi, perasaan khawatirnya mulai timbul.


Lala membawa belanjaan dengan tak tenang. Lalu terhenti di ruang tamu berukuran 3m x 3m dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ah ini Lala uda pulang," jawab sang ayah dengan raut wajah susah ditebak.


"Ayah .... "


"LALA CLARISSA," panggil pria itu dengan tatapan yang penuh ambigu.


"Kenapa diam, cepat duduk," perintah ayah lagi.

__ADS_1


"Aku taruh ini dulu." Lala lari, masuk melewati tirai hijau.


Ditaruh belanjaan di meja makan. Lala menuangkan air dari teko, meminumnya hingga habis dua gelas. Ia duduk di kursi bingung apa yang harus Ia lakukan.


"Kenapa dia ada disini? dari mana tau rumahku?"


"Lala, ditunggu di depan malah melamun," suara ayat mengagetkan.


"Itu ada tamu cepat keluar." Alenmenarik tangan putrinya.


"Tunggu Ayah !"


"Gak sopan meninggalkan tamu sendiri." Alen mendorong Lena ke ruang tamu.


*


"Apa kamu mau berdiri terus?" Kevin dengan nada dingin dan Lala duduk di kursi kayu tua.


Seorang pria, memasuki ruang tamu dan langsung keluar setelah meletakkan dua dus premium, berukuran besar dan kecil di atas mejanya.


"Buka."


"Apa kamu akan terus diam?" Kevin dengan suara makin dingin.


"Kau tidak berniat mengatakan atau menjelaskan sesuatu?" Pria itu menggantung kalimatnya. "Seperti segelas kopi hangat."


"Bapak, saya tau saya salah, saya-" ucapan Lala dipotong.


"Bapak? Apa saya terlihat tua di matamu? Yang benar saja!" dengusnya kesal.


"KEVIN, panggil saya KEVIN!"


"Maaf saya tahu saya salah, tolong maafkan saya."


"Apa semudah itu. Bagaimana dengan proyek saya senilai 15 triliun yang gagal karenamu. Apa kamu mau menggantinya? Tak apa sih. Kau hanya perlu membayarnya dan urusan kita selesai. Tapi tetap saja, saya tidak akan memaafkanmu dengan mudah."


"Apa?" ucap Lala dengan shock. "Kenapa bisa saya yang menyebabkan itu semua? saya kan hanya membuat baju anda kotor tanpa sengaja."


"Tanpa sengaja katamu?" Pria itu memijat kening.


"Tapi kan jelas tidak ada hubungannya saya dengan proyek anda?" Lala membela diri.

__ADS_1


Pria itu memberi kode dengan jari telunjuk ke orang tadi, membuat masuk kembali membawa map biru.


"Perkenalkan nama saya Billy Samudra, sebagai asisten Tuan Kevin Saint Mariano. Disini saya akan menjelaskan kepada Nona LALA CLARISSA perihal kerugian perusahaan yang telah disebabkan oleh Anda Semalam." Billy dengan aura gelap.


DEG Lala menautkan alis, mendengar penuturan asisten Billy yang panjang x lebar itu.


Jari-jari tangan Lala gemetar tak beraturan. Sekuat-kuat menyembunyikan perasaannya, dua pasang mata itu seakan bisa mengetahui ketakutannya.


"Anda harus bertanggungjawab. Jika anda menolak, konsekuensinya di penjarakan. Lalu sebagai gantinya Ayah anda harus bekerja di perusahaan Tuan Kevin. Selama 18 jam sehari tanpa hari libur dan seumur hidup." Billy dengan percaya diri karena tatapan puas Kevin.


Apa ini lelucon? Atau sebuah prank 'Juragan menjerat orang tak punya? Ini bukan mimpi di dalam tidur kan, atau ini model pemerasan.


"Pak Kevin." Lala mengelus dada. Dadanya terasa sesak, terlebih mereka membawa ayah. "Apapun asal jangan membawa-bawa Ayah saya."


"CK.. sekali lagi kamu memanggilku PAK, pergi saja sana ke penjara."


"Maafkan saya, tolong! Biar saya saja yang bekerja untuk Anda. Untuk seumur hidup juga tidak masalah, tapi jangan bawa-bawa ayah saya," pinta Lala.


"Anda masih saja belum paham situasinya ya, Nona. Biar saya jelaskan." Billy merasakan aura Tuannya yang sudah tidak sabar itu.


"Nona Lala, meskipun Nona dan Ayah Nona, bekerja selama 24 jam tanpa hari libur, walaupun seumur hidup. Itu sama sekali tidak bisa menutupi kerugian perusahaan." Aisten itu dengan aura dingin.


"Nona cobalah bersimpuh pada Tuan Kevin, atau meminta ayah anda untuk bersimpuh, atau kalian berdua bersimpuh atau cium kaki Tuan. Sekiranya, Tuan Kevin bisa sedikit memberi kelonggaran, anda akan selamat," ucap asisten itu dengan nada yang menakutkan.


Lala terdiam, apa Ia harus bersimpuh, ini tidak manusiawi kan? tapi kalo tidak, lagi-lagi Ayahnya dibawa-bawa.


"Nona ini bukan saatnya memikirkan harga diri Nona, Tuan Kevin tidak sesabar itu.Tuan Kevin tidak memiliki banyak waktu.Tuan sudah sangat berbaik hati mendatangi Nona.


Nona masih saja berani menguji kesabaran tuan, yakin? apa setelah Tuan Kevin pergi dari sini, apa Tuan Kevin masih bisa memberikan kesempatan pada Nona lagi? Pikiran Anda salah besar Nona! Bisa-bisa .... nyawa Nona, atau Ayah Nona atau Kedua-duanya-" Ucapn Billy terpotong.


"Hah!" Kevin berdiri. Kesabaran sudah habis. Dia melangkah pergi. Ketika sampai pintu, kakinya ditahan seseorang.


Ya, Lala kini mencium sepatu Kevin. Kevin mencoba melepaskan dengan kasar, tapi Lala lebih kuat mencekal.


"Maaf, Maafkan saya! saya akan melakukan apapun, bahkan nyawa ... saya pun-" Lala mengiba.


"Kau terlalu menilai mahal nyawamu ya." Kevin mengistirahatkan kakinya, setelah gagal melepaskan dari jeratan gadis itu.


"Nyawa saya memang tak ada harganya, tolong beri saya kesempatan satu kali saja. Saya akan melakukan dengan baik." Lala menahan suara dan air mata untuk menyembunyikan tangisan. Tidak boleh terlihat lemah.


"Siapa kamu bisa menawar?" Kevin menggerakkan kaki kanan lebih kuat ke belakang. Cukup untuk memukul, membuat dada wanita itu kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2