Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 131 : BUKA


__ADS_3

Siang itu Kevin telah di rumah Parker, di rumah yang cukup besar dan juga dijaga oleh beberapa pengawal.


Tidak lama berselang seorang pemuda lewat.


"Hai Boy, kemari," kata Kevin yang masih duduk.


"Ya, Tuan," kata anak itu hendak duduk bersimpuh di lantai, karena dia tahu itu bosnya ayah.


"Hey, kemarilah duduk disini," kata Kevin menepuk samping tempat duduknya, membuat anak yang tinggi itu melebarkan mata dan semakin menunduk.


"Tapi_"


"Sudah sini," kata Kevin menarik duduk pemuda itu di sampingnya, dan mereka duduk bersebelahan.


"Hasan Megumi Johnson?"


"Ya, Tuan, apa Tuan ada perlu sama Hasan?" kata Hasan.


"Panggil saya Paman, oh ya, kamu satu jurusan dengan Ivy kan?"


"Iya, tuan, eh Paman..."


"Apa pendapatmu tentang Ivy?"


"Ehm dia anak pendiam, selalu sibuk sama laptop dan teman-teman geniusnya."


"Begitu ya? hemm Paman bisa minta tolong ke kamu?"


"Apa paman?"


"Tolong jagain Ivy ya."


"Jagain dari apa?"


"Jagain dari orang-orang yang mengganggunya, saya dengar kamu mau lomba karate tingkat nasional ya?"


"Ya Paman, Hasan akan menjaga Ivy dari jauh. Ehm iya sebulan lagi kompetisinya, tapi Hasan pesimis karena lawannya sepertinya terlihat sulit."


"Ayolah, kamu tahu, ayahmu Parker orang hebat. Jadi, kamu pun akan seperti ayahmu. Semangat ya!"


"Terimakasih Paman," kata Hasan, dia tersenyum.


Tidak berselang lama, Lyra masuk ruang tamu itu saat Hasan pamit dan mencium punggung tangan Kevin.


"Tuan maaf, menunggu lama," kata Lyra dan duduk cukup jauh dari Kevin.


"Ya, tidak apa, Hasan sudah besar ya, dia mirip Billy saat muda."


"Apa tuan? maksudnya?" tanya Lyra merasa bingung, mengapa Tuannya menyebut nama Billy.

__ADS_1


"Ah begini jadi kamu belum tahu soal Billy?"


"Maksudnya Tuan?"


"Okey saya harus menceritakan ini sebelum kepergian saya. Lyra ... Sudah sejak lama saya tahu kamu memiliki perasaan pada Billy, dan sampai kamu kehilangan dia."


"Bagaimana Tuan bisa tahu, ampuni saya Tuan, apa saya terlalu tidak profesional saat itu?"


"Tidak-tidak, kamu sudah berkerja dengan baik. Sebenarnya, Billy operasi plastik semenjak dia diserang sebelum kepindahan Billy ke Cambridgeshire."


"Jadi ... Billy masih hidup, Tuan?" tanya Lyra, wajahnya nampak cemas, hatinya kembali berdebar, menatap Tuannya yang masang wajah serius.


"Ya, dia masih hidup, dia merubah identitasnya, apa kamu mau menemui dia?"


"Mau Tuan!" kata Lyra dengan penuh semangat.


Kevin tertawa.


"Cintamu itu sebenarnya untuk siapa? Parker atau Billy?" tanya Kevin mengamati mantan anak buahnya itu.


"Tentu cinta ini milik suami saya. Hanya saja, saya ingin tahu bagaimana Billy sekarang, Tuan."


Kevin tertawa lagi, membuat dahi Lyra makin berkerut.


"Saya minta maaf Lyra, karena kepatuhan Parker pada saya, sampai dia tidak membuka identitas sebenarnya. Biar saya beri tahu padamu. Parker adalah Billy. Billy adalah Parker. Satu orang dengan dua identitas. Namun, identitas Billy tidak boleh disebut-sebut lagi karena itu bisa membahayakan Parker. Jadi, kau paham?"


Pantas saja Parker memiliki kesamaan dengan Billy, nyatanya itu orang yang sama.


Air mata Lyra jatuh tanpa bisa di bendung, "saya mengerti, Tuan. Terimakasih untuk ini, bila Anda tidak memberi tahu, mungkin saya akan selalu dihantui dimana keberadaan Billy," kata Lyra kembali pada sikap profesional lagi.


Kevin memberikan paper bag pada Lyra, "Ini tujuan saya kemari, saya akan pergi ke suatu pulau bulan depan. Di dalam kotak besar ini ada 7 kotak, masing-masing ada nama, dan teka-teki kuncinya. Tolong berikan ini pada mereka, dua bulan sejak kepergian ku ,bila aku tak kembali."


Lyra meraih satu kotak hijau lumayan besar, "tuan maaf bila saya lancang, apa anda ada masalah. Biarkan saya dan Parker yang memecahkannya."


"Kali ini saya harus menyelesaikan sendiri. Dan Lyra, saya tahu kini kamu tak bekerja pada saya lagi. Tolong seandainya saya tak kembali, kembalilah ke SanLa Corp. Hanya kamu yang saya percayai, setidaknya sampai istriku atau putriku mau mengurusnya."


"Jika itu yang anda inginkan, saya akan lakukan, Tuan. Tapi, tolong pikirkan lagi, jangan membahayakan nyawa Tuan. Putri-putri Anda masih sangat membutuhkan sosok seorang Papa, Tuan. Mereka tidak akan pernah siap kehilangan papahnya. Walau mereka sudah dewasa tetap saja di dalam hati mereka sangat rapuh. Ah maaf saya lancang," kata Lyra yang merasa terlalu banyak berbicara.


"Ya, tidak apa-apa ... ucapan mu memang ada benarnya. Saya juga bingung tentang sikap Ivy yang belakangan ini sangat berubah, dia selalu menanyakan dimana keberadaan saya, dan selalu menanyakan kabar, seakan dia sangat mengkhawatirkan saya, apa kamu tahu kenapa dia seperi itu?"


"Mungkin dia mengetahui rahasia anda, Tuan. Atau dia tahu rencana kepergian anda?"


"Apa?!" Kevin tersentak karena baru terlintas di kepalanya, menduga penyusup yang masuk ruang kerja itu adalah Ivy. Apalagi Hasan bilang Ivy dekat dengan anak-anak genius. Ivy mungkin tahu teknologi dan sistem kecerdasan buatan di ruang kerja, dan meretasnya. Hingga kamera ruang itu tak merekam kedatangan Ivy.


"Saya harus segera kembali, Lyra. Terimakasih untuk analisa mu yang sangat membantu."


"Sama-sama, Tuan."


Kevin dan Lyra berjabat tangan. Lelaki itu bergegas meninggalkan rumah Parker.

__ADS_1


...🍀🍀...


Di tempat lain, di kamar Ivy. Lala membawa puding ke dalam kamar anak pendiamnya.


Begitu Lala masuk, terlihat Ivy langsung menutup laptop membuat Lala curiga. Terlebih Ivy langsung menjauh dari laptop.


"Mamah bawa apa?" tanya Ivy mengikat rambut yang panjang sebahu.


"Puding buatan mamah.Cicipin dong. Bandingkan ama buatan Irish enakan mana, coba?" tanya Lala, menyuapkan puding itu ke mulut Ivy.


Terlihat anak itu tersenyum dan merebut sekotak puding coklat, Lala melirik ke kanan, akan meraih laptop Lyra.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari mamah?" tanya Lala yang masih berdiri, di depan Ivy yang duduk di bed.


"Tidak, mah ..." kata Ivy santai, sementara hatinya berdebar-debar.


"Mamah mau apa, jangan! " seru Ivy saat Lala mau membuka laptop. Ivy kalah cepat. Sang ibu menyalakan laptop.


"Masukan sandi cepat, jangan bantah mamah," kata Lala dengan nada mulai naik satu oktaf.


Puding di tangan Ivy diletakan di sebelah laptop, Ivy memasukan sandi. Terpampang layar biasa, Lala membuka mesin pencarian dan me-restore beberapa jendela pencarian yang masih tertinggal.


"Mamah, itu hanya proyek kuliah," kata Ivy.


"Masukan sandinya," kata Lala yang melihat sebuah situs mencurigakan.


"Jangan mah, itu hanya_"


"Bila tidak apa-apa, cepat buka!" bentak Lala.


"Tapi, mah_"


"Atau mamah telepon papah!?"


Glek! Ivy menelan salivanya.


Lala mengeluarkan hp, menunjukan ke Ivy nomer Kevin, "mamah telepon papah nih?"


Ivy mematung..


Lala menghitung mundur, "10, 9,8,7...."


bersambung ...


***


Pengumuman Othor ada novel bagus nih mampir ya 😘


__ADS_1


__ADS_2