Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 178 : GELENG-GELENG


__ADS_3

Luca yang badannya pegal seperti dipukuli, setelah meninjau lapangan. Dia akhirnya nyenyak dalam alam mimpinya, di kamar hotel, sampai dia merasa digerayangi membuat dia tersentak karena kejan..tanan dikepal oleh sesuatu hangat.


Jantungnya berdebar, semua tampak gelap saat dia memaksa membuka mata, tangan kirinya meraba-raba menekan tombol di nakas. Klek!


Lampu menyala, pria itu mengerjap perlahan, mata terasa berat dan mengucek. Tiba-tiba hidung dan alis Luca berkerut sambil mundur menjauh, "Ziya!" membulatkan mata, mendapati wanita itu berjongkok di depan inti tubuh yang telah terbangun dan mengeras.


Bibir atas Luca terangkat, refleks menyentak tangan Ziya.


"Zi.. ya, ka...mu." Luca menggeram bersamaan dengan inti tubuh yang seketika mengendur. Sambil menaikan celana pendek luar yang entah bagaimana telah berpindah ke lutut.


"Mas!" Alis Ziya terangkat, bibir menekuk ke bawah, menatap tonjolan yang mengecil di celana sang suami.


Harapan melihat benda besar itu, gagal, setelah sempat merasakan menggenggam sang pusaka. Dia menelan ludahnya hanya membayangkan saja. "Ma'af, Ziya kangen."


"Jangan lakukan ini." Bangkit menjauh merasa ngeri dengan yang dilakukan Ziya, terlebih dengan pakaian minim bahan itu.


Merinding, Luca benar-benar tidak habis pikir dengan Ziya. Dia membuka lemari dan meraih kaus dengan acak .


"Mas mau kemana? Ziya minta maaf."


"Seharusnya aku bertanya, ada apa dengan mu, ha?" Luca berjalan ke kamar mandi meninggalkan Ziya yang tertunduk, wanita itu mengigit bibir dengan mata berapi-api, merasa dongkol.


Luca telah berpakaian rapi, melangkah cepat meraih dompet dan handphone di nakas.


"Jangan tinggalin Ziya. Salahkah Ziya yang menginginkan nafkah batin dari mas Luca?"


"Ziya." Luca tertunduk memandangi jam tangan yang tergeletak di atas nakas meja. "Dari awal kamu sudah menyetujui ini," memasukan dompet ke dalam saku celana hitam.


"Lalu sekarang kamu mulai menuntutku?" Luca memasukan jam rolex ke tangan kiri sambil tertawa.


"Mas, aku kurang menarik apa!" Ziya meninggikan suara, saat darahnya telah mendidih. "Jangankan mencium atau menyentuhku, melihatku saja kamu tak pernah mas!"


"Kamu cantik Ziya, dan pintar," mengunci jam berwarna perak. "Aku akan memberikan apa saja." Dia menghela nafas. "Kecuali, SATU ITU. Apa itu masih belum cukup?"


"Tatap aku mas, bahkan hanya untuk menatapku apa itu sulit?"


Luca berbalik ke lemari mengambil mantel dari gantungan dan memasukan tangan ke mantel hijau itu, dia menghela nafas panjang menatap karpet abu-abu hotel. "Maaf Ziya, dari awal kamu yang memaksa pernikahan ini."

__ADS_1


"Aku menyayangi kamu." Ziya bangkit dan turun.


"Berhenti." Luca mengambil hp dan kunci mobil dari laci. "Jangan menyentuhku. Baca perjanjiannya. Jangan membuatku terlihat seperti bajingan."


"Mas..."


"Jika kamu rakus, mari kita akhiri ini."


"Ma...s sudah larut, jangan pergi." Ziya meraih punggung tangan Luca.


"Sssssah...." Luca menyentak tangan. "Kamu membuatku ggrrr" Luca menahan kegeraman dari dalam hati.


Ziya meme..ras bajunya begitu kuat, dan mengigit giginya hingga bergetar.


"Tidurlah, tidak perlu menunggu." Luca berusaha merendahkan suara, sebelum pada akhirnya menutup pintu kamar. Matanya begitu dingin, bulu kuduknya berdiri atas apa yang Ziya lakukan.


Di dalam kamar, Ziya melempar bantal guling dari atas kasur. "Aaaaaah!! sialan kamu mas."


Ingatan Ziya kembali ke satu tahun lalu. Saat dia mengetahui suaminya telah bangun pagi.


Dia mencoba mendekat ke kamar mandi, dan mendengar lenguhan sang suami. Lenguhan panjang.


Setelah Ziya yakin Luca pergi, dia memasuki kamar mandi. Betul, aroma pandan begitu kuat. Saat itu perasaanya pada Luca masih biasa saja.


Lambat laun, Ziya lebih sering mendapati lenguhan pagi suaminya kala pagi. Ziya menjadi gagal sebagai seorang istri, dia mulai berdandan, mulai mencari perhatian Luca.


Itu tak berhasil, masih saja setiap pagi Ziya selalu mendengar lenguhan itu di tambah suaminya selalu menyebut nama 'wanita itu'.


Padahal ada dirinya yang akan siap melayani sang suami, tapi mengapa Luca tidak melihatnya.


Aroma-aroma pandan itu sungguh membuat Ziya tersiksa. Dia jadi menginginkan belaian suaminya.


Meski tidur di atas satu ranjang dan satu selimut, tapi bila Ziya menyentuh secara diam-diam ... Luca selalu tersadar dan menjauh.


Hingga Ziya tidak bisa menempel. Bahkan dia sangat ingin melihat Luca bertelanjang dada. Itu hanya mimpi yang menjadi bumerang dan menggerogoti perasaan Ziya.


Dari awal padahal dia yakin akan bisa melewati pernikahan itu tanpa menuntut hati Luca. Ternyata hatinya berkhianat, dia ingin memiliki Luca seutuhnya. Wanita mana yang bisa tahan dengan kelembutan Luca dan ketampanan pria menawan itu?

__ADS_1


Aku ingin digenggam mas, ingin dipeluk, ingin semuanya.


Cairan jatuh dari ujung mata Ziya, dia terisak, "mas Luca, buang wanita itu dari pikiranmu! apa itu susah!"


🍻***🥂


Di Bar satu-satunya di kota itu, Luca memarkirkan mobilnya.


Hari telah larut pagi, dia menengok jam telah jam satu pagi. Dia keluar dari mobil dan semakin menutup kerah mantelnya, saat angin melewati leher membuatnya menggigil.


Dia melangkah cepat ke dalam, melewati lalu lalang orang. Dia ingin membuka meja, tapi tiada teman bersamanya.


Sungguh menyedihkan.


Dia hanya duduk di depan Bartender, menenggak *artin* memandangi orang-orang yang asik di dance floor. Beberapa gadis mendekatinya, dia sampai menyewa penjaga dadakan untuk menyingkirkan para wanita. Dia sedikit menikmati alunan DJ, bukan itu. Tunggu


Dia menangkap gadis yang berjoget lincah, tampak menonjol dari pada yang lain.


"Anda terlihat tertarik pada gadis itu tuan?" tanya sang Bartender di sela kesibukannya.


Luca meletakan tangan kiri di meja, dan lebih mendekat. "Siapa bilang, mana mungkin saya mau melirik gadis," menggeleng kepala, dia menoleh lagi melihat wanita dalam ruangan semi gelap dengan sorot lampu redup ungu, merah, biru bergantian, menjadi tak jelas. Luca yakin dia hanya sekadar menilai tenaga gadis itu yang energik.


"Gadis itu jago beladiri, Tuan. Berhati-hatilah, atau tulang anda bisa patah."


"Apa? anda serius? gadis sekecil itu?" tanya Luca sedikit berteriak di tengah musik keras.


"Ya, dia ratu baru di tempat ini, tidak ada yang berani. Korbannya sudah berapa orang dan masih terbaring di rumah sakit."


"Wah anda pasti bercanda..."


"Silahkan anda lawan dia, kalau anda tidak percaya." Bartender itu bergeser ke sisi lain melayani pelanggan lain dan Luca memutar minuman dalam gelasnya, dia menyesapnya perlahan.


Semakin mengamati, semakin tidak asing. Saat gadis itu melangkah dengan limbung ke sisi meja bartender lain. Luca mengerutkan kening semakin dalam. Astaga.


Mengerjap berulang kali, Luca mengucek matanya berulang kali, dia sepertinya salah melihat. Apa saya sudah mabuk?


Dia menggeleng kepala tidak percaya, terutama saat gadis itu melangkah ke kursi sebelahnya. "Lydia?"

__ADS_1


Gadis itu menyentuh bahu Luca, "sepertinya aku sudah mabuk," kata gadis itu tak jelas sambil geleng-geleng kepala.


__ADS_2