
Di kediaman Clarkson Road, Cambridge. Kepala pelayan selesai menyediakan semua makanan yang dibutuhkan anak majikannya.
"Dimana Kevin?" tanya Luca sambil duduk setelah kepala pelayan menarik kursi yang disiapkan untuknya.
"Di tempat Guskov, Tuan." Kepala pelayan memberikan kain bersih pada Tuannya, agar Jas tuannya tidak kotor oleh makanan.
"Aku bertemu Guskov dirumahnya dan disana tidak ada Kevin semalam."
Kepala pelayan membukakan piring kosong untuk tuannya. "Sepertinya saat anda disana, Tuan kevin belum ke rumah Guskov."
Luca selama tiga minggu mencium gelagat aneh pak Salim terutama bila menyangkut Kevin.
"Mengapa cctv rusak, kau sedang bermain-main Pak Salim? Kau melanggar peraturan dasar. Cctv, keamanan utama yang tidak bisa di ganggu gugat."
Luca yang selalu curiga sejak menemukan gelang tangan pemberiannya ke Lala tergeletak di nakas dekat TV. Saat itu juga ia langsung memeriksa rekaman cctv dan tak menyangka layar cctv tidak bisa memutar rekaman beberapa bulan terakhir.
Dia tak bisa menghentikan rasa penasarannya. Ia terus mencari tahu sendiri termasuk keseluruh ruangan di rumah ini, mencari setiap kemungkinan.
Bagaimana bisa Lala yang dicari di negara asalnya tak meninggalkan jejak sama sekali. Sekarang mendapati gelang milik Lala di temukan disini.
"Mengapa kau diam, pak Salim? kau pikir bisa membodohiku? semua rekaman cctv hilang begitu saja. Bahkan hilangnya tepat di hari kedatanganku?"
Pak Salim diam saja dengan wajah yang berusaha terlihat tenang. Namun Luca bisa membaca gelagat pak Salim.
"Lima DVR rusak bersamaan, apa itu masuk akal. Jadi, kau pikir aku yang gila." Sinis Luca sambil tertawa.
__ADS_1
"Tu-tuan." Pak Salim ketakutan melihat anak pertama majikannya itu begitu marah.
"Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu, pak Salim." Luca tak mau menyentuh sarapannya, Ia hanya memandang piring dan makanan. Mata tajam Luca sedikit melirik pak Salim yang berdiri disamping kirinya.
"Kau bilang tidak ada wanita kemari? Semua pelayan berambut pendek, lalu apa ini?" Luca merogoh kantung jas dan melemparkan sebuah amplop kecil yang mendarat ke atas piring. "Buka itu," perintahnya.
DEG
Sang kepala pelayan semakin tertunduk, tak berani menatap Luca. Setelah membuka amplop kecil yang di dalamnya berisi gulungan sehelai rambut yang panjangnya ada tiga puluh centi di dalam kantong bening. "I- ni ..."
"Sekali saja ku dengar kau berbohong lagi, kupastikan papa memanggilmu hari ini juga. Lalu kau bisa menebaknya sendiri. Upaya papa mencari Hati yang cocok untuk kelangsungan hidup putrimu pasti akan di hentikan."
DEG
Tuan Luca yang kelihatan selalu ramah berubah dingin bahkan mengancam melaporkan hal ini ke Tuan besar.
Jika sampai tuan Besar tahu, dia membela tuan Kevin terlebih menyembunyikan nona Lala. Bisa-bisa Tuan besar marah dan menghentikan pencarian organ hati yang cocok untuk putrinya. Kalau sampai begitu, kelangsungan hidup putrinya akan semakin kecil.
"Kuberi waktu lima menit untukmu menjelaskan, lalu kuputuskan apa aku akan menelpon papa atau tidak."
Sang Kepala pelayan, sudah kalut pikirannya. Ia takut di hukum Tuan Kevin yang begitu kejam.
Namun, dia jauh lebih takut bila Tuan Besar mengacuhkannya sehingga nyawa putrinya tak terselamatkan.
Putrinya harus cepat-cepat mendapatkan hati pengganti, Ia tak boleh membuat Tuan Besar marah.
__ADS_1
"Am-pun tuan, jangan laporkan pada tuan besar. Sudah beberapa bulan, Tuan Kevin membawa pacarnya tinggal dirumah," jawab pak Salim takut-takut.
"Pacar? ada fotonya?" tanya Luca menggeser duduknya jadi mengarah pada pak Salim.
"Tidak ada fotonya Tuan, tapi wanita itu tengah hamil dan semua rekaman cctv memang dihapus atas perintah tuan Kevin." Pak salim berusaha tetap merahasiakan beberapa informasi yang diketahuinya.
"Hamil ... hamil? apa itu ulah Kevin?"
"Namanya nona Lala. Tapi saat di luar rumah, wanita itu menggunakan identitas lain atas arahan tuan Kevin."
"Apa maksudmu? jangan berbelit, Lala yang mana?" Luca penasaran, tidak mungkin itu Lala yang dia kenal, Lala yang dikenalnya tidak mungkin hamil. Pasti itu orang yang berbeda dengan nama yang sama.
Sejam kemudian Luca telah di berada di sebuah kantor fintech, perusahaan ternama di kota itu. Ia tengah menunggu kedatangan koleganya di sebuah ruangan.
Pikirannya tengah melayang jauh. Dilihatnya gelang Lala itu. "Dimana kamu Lala, mengapa kau hilang ditelan bumi. Tidak mungkin Kevin membawamu kemari, uang darimana Kevin. Lagian tidak ada penerbangan ke luar negeri atas namamu, jadi dimana kamu La? sudah berapa bulan ini? masih saja tidak menunjukkan keberadaanmu..."
Luca semakin pusing, apa gelang Lala di rebut Kevin? ah rambut panjang yang ia temukan di sebuah sisir di laci kamar itu, siapa pemiliknya? Dia kesal karena belum menemukan petunjuk lain.
Luca teringat wajah pak Salim yang berkata tidak tahu keberadaan Kevin dan wanita itu sekarang. Luca memastikan pelayan itu memang berkata jujur. Hah dia beneran tak bisa bernafas saking penasarannya, mengapa nama wanita itu Lala, mengapa sama? tapi mengapa hamil?
"Aku berharap besar, itu bukan kamu yang hamil, La. Jangan kecewakan aku. Aku sungguh akan melamarmu Lala. Jadilah pendamping hidupku atau aku tidak akan menikah untuk seumur hidupku. Ini petunjuk Tuhan, aku yakin kamu jodohku, firasatku tidak akan salah." Luca merasakan jantungnya yang semakin berdebar ... dengan senyuman penuh arti dan harapan besar.
bersambung ...
_________________________________
__ADS_1
'Bagaimana bila jodohku itu bukan kamu?'
Auto nangis darah ðŸ˜