Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 159 : INGATAN YANG KEMBALI


__ADS_3

"O, ini seperti upacara peresmian hubungan kita , Darling?" ucap Richie dengan senyum misterius.


"Apa!?" sahut Lala, "Whatt?!!!" jawab Guskov dan matanya melebar sambil mengucek-ngucek telinganya.


"Iya kita telah berciuman pagi ini, bukankah itu yang dilakukan seorang kekasih!?" gumamnya sambil berdiri mendekati Lala, mengusap pipi Vino.


"Ah a-pa? ciuman?" Guskov makin tidak percaya, dia mengangayunkan tangan kanan ke atas, meminta penjelasan pada saudaranya.


"Richie!" Lala menggigit bibir bawah, lalu meringis. Begitu geram dengan mulut Richie yang bisa membuat orang salah paham. "Sembarangan ,siapa yang berciuman." Lala berusaha mengelak, matanya terus memandang Guskov agar adik tirinya tak berpikir macam-macam.


"Muuachh." Richie mengecup pipi Vino yang berada di gendongan Lala. Lalu memainkan kaki mungil Vino pada wajahnya. "Ini calon papah mu, Vino sayang!" kata Richie dengan nada pelan dan penuh gereget.


"Pahh phaa pah pah!!!" Vino beeusaha menggenggam rambut Richie.


"Gendong dulu," perintah Lala mengulurkan Vino pada Richie.


"Guskov kamu mandi, airnya sudah mendidih." Lala berusaha mengalihkan pikiran Guskov, sebelum lelaki prosesif itu memberondongi dengan banyak pertanyaan dan Lala melangkah masuk ke dalam.


"Kamu berani sekali ya! pasti kamu yang mencium paksa dia! wah cepat-cepat pergi dari rumah ini kamu huh," kata Guskov dengan bibir maju 2 cm, dan semakin monyong sambil terus menggerutu menolak pernyataan Richie.


"Akui saja, hubungan Kami. Kakakmu itu hanya malu-malu." Richie berkata dengan dingin.


Vino menatap Richie dengan cengiran disertai kikikan, bayi itu begitu gemas dan senang, bagai melihat mainan.


"Apa saya terlihat lucu? lihat kamu saja suka sekali dengan papah kan!?" Richie menatap dalam pada Vino berharap anak itu bisa memuluskan usahanya mendekati wanita itu.


Guskov geleng-geleng kepala, "wah anda keterlaluan, wah, wah wah, apa tanggapan mamah tahu ini. Wah." Guskov benar-benar dibuat tidak bisa berkutik, bahkan untuk berkomentar dia kehabisan kata-kata.


Dia membuka kaos dan bertelanjang dada, melangkah ke dalam dengan kepala tertunduk melewati jubin hitam.


"Hei, pakai baju! tidak sopan!" Seru Richie tidak mau jika Lala melihat telanjang dada pria itu.


Langkahnya Guskov terhenti dan berbalik menghadap Richie."Apa sih nggak jelas, namanya mandi itu nggak pake baju. Kamu takut kan, kalah berotot denganku ha? Lihat perutku keren kan."


Guskov semakin menekuk tangan memperlihatkan otot trisep bisepnya yang menonjol menunjukan urat-urat yang kian tercetak di tanganya.


"Itu tidak ada apa-apanya, Lihat ... masih kerenan perut saya!" Richie membopong Vino lebih tinggi, dan tangan lain mengangkat kaus, memperlihatkan perut Six-pack yang terawat.


Lala melongo melihat kelakuan dua orang itu, "astaga kalian ya, pagi-pagi mau peragaan perut. Perlukah aku memanggil emak-emak agar kemari, terlebih mereka hobi melihat yang seperti ini. Mereka benar-benar akan senang!"


"Hah! enggak-enggak! habis aku!" Guskov yang membayangkannya saja jadi bergidik, dia melangkah cepat memasuki kamar mandi kecil.


Richie tertawa dan mengedipkan mata kepada Lala, berusaha menggoda dengan mengusap perut ramping kokoh berbentuk kotak dan terlihat keras dan disambut gelengan kepala wanita itu.


Sekelebat Ingatan Richie muncul, karena itu kepalanya laksana kena pukulan, Diapun jatuh terduduk di lantai dan Vino terhentak dan langsung menangis. Lala berlari menangkap Vino yang nyaris terlepas dari pegangan Richie yang meringkuk memegangi kepala begitu kuat.


"Richie, tenang." Lala mengusap punggung Richie sambil mengayunkan Vino di tangan kiri agar mau diam.


Lelaki itu meringis terpejam sampai urat-urat dikening menonjol nafasnya cepat dan pendek.


Cukup lama Lala menunggui Richie dengan raut khawatir dan terus memanggil Guskov agar cepat menghampiri.


"Apa, aku belum sabunan!" Guskov masih memakai kolor dan badan basah dengan handuk di bahu, seketika kaget karena Richie terlihat kesakitan meringkuk.


"Kenapa?" tanya Guskov, lalu bersama dengan Lala memapah Richie ke kursi. Sedangkan Vino yang baru diam didudukan di lantai.


"Saya, mengingat sesuatu sebagian ... Lala, ingatanku kembali, tapi kabur saya tak yakin," lirih Richie duduk menunduk memandangi lantai dan kakinya.


Tubuh itu merasa sangat lemas, berondongan ingatan itu begitu menguras tenaga, seperti mimpi panjang yang terputar dalam waktu singkat dan mengoyak tubuhnya.


"Ingatan kembali?" Guskov mengangkat alis, dan keningnya berkerut lebih dalam, "maksud kamu?"


"Iya? bagus-bagus, jangan terlalu di paksa," kata Lala pada Richie yang berkeringat dingin.


"Teruskan mandi mu," kata Lala pada Guskov yang masih meminta jawaban.

__ADS_1


Tidak perlu waktu lama Lala menarik tangan Guskov masuk ke dalam ruang tengah.


"Apa?" tanya Guskov, karena wanita itu begitu mencurigakan.


"Mandi dulu, atau pake kaosmu, nanti aku ceritakan."


"Tapi_" Belum selesai Guskov menjawab, wanita itu pergi mengangkat tubuh Vino.


Hari mulai siang, matahari tidak terlalu panas di kota itu hanya terasa hangat.


Saat rumah sakit itu kedatangan Lala, orang-orang jadi ribut ingin bersalaman dengan wanita yang menjadi topik hangat di kota, tentang Janda muda yang awet muda.


Tadinya saat awal datang orang-orang tidak tahu. Tapi setelah yang lain membeberkan, mereka jadi berbondong-bondong ingin melihat dari dekat. Bahkan tidak mempercayai wanita itu berumur 42 tahun.


Dan setelah Lala menunjukan tahun kelahirannya baru mereka percaya. Richie pun turut menjadi sasaran mereka karena wajah bulenya.


Atas kerumunan orang-orang, security membantu Lala dan Richie ke ruang tunggu, barulah dua orang itu bisa bernafas lega. Orang-orang masih melempar senyum dari jauh, Lala membalasnya dengan sangat ramah dan Richie melipat tangan bersikap dingin bagai tak tersentuh. Tapi orang-orang jadi sangat menggila dan enggan mengalihkan pandangan dari lelaki tinggi dan matang itu.


"Tuan Richie, rumah sakit ini populer selama dua tahun belakangan ini."


"Kenapa?"


"Karena menggratiskan biaya berobat bagi orang kurang mampu."


"Bagus, memang harus seperti itu."


"Dan kerennya lagi semua biaya melahirkan gratis untuk penduduk kota. Dan kelahiran Vino salah satunya, gratis tanpa mengeluarkan biaya seperak pun."


"Keren katamu?"


"Ya Tuan Richie, beliau sungguh keren dan mulia hatinya. Kami sangat terbantu. Dia sangat baik. Aku jadi ingin seperti dia."


Richie senyum-senyum sendiri, 'memang saya keren kan?' dia lebih mendekatkan bibirnya ke telinga Lala.


"Jika kamu bertemu dengan dia kamu mau apa?"


"Mau bilang banyak terimakasih dan mendoakannya semoga dia hidup bahagia."


Lelaki itu kian tersenyum, 'jika kamu tahu bahwa saya 'si pemilik', apa kamu akan tetap memujanya?' batin Richie terus memandangi wajah wanita dengan semu-semu merah.


Richie meletakan tangan kiri di atas sandaran kursi dibelakang wanita itu."Lala, lalu ... bagaimana bisa, cara kamu mendapatkan identitas baru di kota ini. Kamu pintar ya."


"Sebelum aku menikah, -ayah Alen- memberikan kontak darurat untuk aku kabur. Ayah menyiapkan tabungan selama bertahun-tahun sampai aku menikah pun, ayah selalu menyisikan gaji pada rekening khusus. Dan sampai hari inipun rekening ku selalu masih ayah inpus dana. Dan lewat nomor darurat itu, aku bisa meminta bantuan apapun termasuk identitas baru."


"Dimana ayahmu? kamu tidak hidup hidup dengan dia?"


"Dia sekarang berkerja untuk penasehat keamanan dan mendapat perlindungan khusus."


Lala duduk lebih menyerong ke kanan, "ayah juga tidak mau mencari ku, karena Kevin memata-matai. Sampai saat ini kami belum berbicara. Hanya lewat Paman kami jadi tahu kondisi satu sama lain."


Richie tercengang melihat senyuman hangat Lala, jantung itu terasa berdebar, 'lagi-lagi seperti ini'.


Kilasan memori kembali melintas di kepala Richie.


"Mood saya berubah dengan cepat tanpa saya tahu penyebabnya. Selalu saja ada hal yang membuat mood saya hancur seketika. Apa saya salah jika saya hanya mengingat kepedihan saat melihat Kevin," kata Lala datar.


Wanita itu kian terisak, "saya berfikir dengan saya pergi dari dunia ini, ayah dan Kevin akan lebih mudah dalam menjalani hidup, lalu  Kevin dan Bella bisa bahagia tanpa terganggu aku."


"Aghh, aku ingat!" Richie berusaha menghentikan pikirannya yang tak terkontrol. Orang-orang mulai mengelilingi.


"Panggilan untuk Tuan Richie, sekali lagi panggilan untuk Tuan Richie." Panggilan dari micropon rumah sakit.


Lala menghampiri perawat meminta perawat menunggu sesaat dikala orang lain ada yang memberi botol mineral dan minyak kayu putih


"Kamu sudah baikan? ayo masuk, sudah giliran mu," kata Lala mulai menuntun Richie setelah mengucapkan terimakasih pada orang-orang.

__ADS_1


Setelah sesi konsul selama dua jam, Richie menemui Lala yang telah menunggu di ruang berbeda. 'Mengapa saya begitu ingin memeluk Lala." Richie melangkah pelan dan menggenggam erat tangan mungil wanita, tidak mengijinkannya terlepas.


Di lantai bawah, orang-orang yang dilewati itu berebut mengajak salaman Lala.


Alhasil security mencoba melerai kerumunan itu. Wanita berkemeja putih dengan lengan baju di lipat sesikut, dipadukan celana kain dan sepatu hak, serta tas selempang kecil hitam itu mengatup tangan di depan dada dan tersenyum penuh makna pada antusias orang-orang.


"Tuan Richie, ada berita genting di markas," kata seorang yang sudah menyamar sambil memasukan sebuah handphone ke saku jaket.


Richie mengamati kepergian anak buahnya itu. Hal itu tidak diketahui Lala yang sedang berbincang dengan security.


Dalam perjalan pulang, Lala menatap keluar jendela. Landscape perbukitan begitu indah dan hijau. Sayuran selada air sedang dipanen, sementara yang lain memasukan dalam keranjang.


Tidak puas hanya memandang, wanita berambut sebahu itu membuka jendela kaca, hidungnya menghirup lebih dalam bau alam nan asri. Kadang bau pupuk kandang bercampur bau rerumputan dan bau dingin begitu kentara.


Kabut sudah nampak di pucuk gunung membuat makin cantik dipandang. Ya, belum lagi bila segerombolan sapi dan anak sapi sedang merumput, makin lengkap pemandangan pegunungan yang digandrungi para wisatawan dari dalam maupun luar kota.


Sungguh Paman Pedro memilih lokasi pelariannya sangat nyaman.


"Tuan Richie, untung Anda diijinkan berobat di rumah sakit itu walau tanpa identitas. Tapi, masa kamu tanpa identitas terus ... jadi apa kamu tidak berniat menelpon markas? sayang sekali aku tidak memiliki nomor pak Pram."


"Bolehkah aku disini dulu sampai ingatanku kembali semua?"


"Ya, anda bebas hidup dimana saja, siapa saya bisa melarangmu." Lala tersenyum dan kembali melihat ke luar. "Terlebih Anda sudah banyak


membantu saya. Terimakasih untuk itu, saya juga ingin membalasnya."


"Lala, kamu bisa menceritakan kenapa kita berdua pernah di danau dimana kue saling menempel di wajah?"


Richie bertanya ingin mencari tahu perasaan pada hati Lala saat ini, sebenarnya ingatan itu telah kembali. Richie melajukan mobil lebih pelan melewati jalanan aspal sempit. Terlebih jika berpapasan dengan mobil lain dipinggir jurang.


"Danu ya, berarti saat kita merayakan ulang tahun Tuan Richie. Anda merengek minta diberi Selamat." Lala menatap dalam pada Richie.


"Hem merengek?" Richie mengerutkan kening sesaat dengan satu sudut bibir terangkat.


"Karena tidak ada yang mengucapkan selamat padamu, lalu anda mau membuang kue itu ke danau dan Anda terpeleset."


Lala tertawa, Richie tersenyum karena ingat betul saat itu Lala mulai tertawa setelah traumannya.


"Tuan Richie, Sejak itu setiap tahun. Kita merayakan. Ya, bila tidak begitu, kau pasti datang ke rumah dan menagihnya!"


Lala kembali tertawa kecil.


"Begitu ya?"


"Tuan Richie, Orang-orang menamai kita 'tiga serangkai' ya bersama Kevin--h," kata Lala, tiba-tiba terpotong manakala memegangi hatinya yang berdenyut.


"Dan anda tidak pernah bisa lepas dari Kevin, bukankah karena itu aku jadi mengenalmu, Tuan Richie."


Lala tertawa getir dan makin menoleh ke kiri menyembunyikan wajah dari Richie. "Itu masa-masa terindah kita berkumpul dan selalu melengkapi."


Lelaki itu menoleh ke kiri, terlihat tangan Lala memegangi hidunya. 'Saya telah mengingat semuanya sekarang, itu membuat saya bingung harus bagaimana.' Batin Richie merasa gusar dengan semuannya.


"Maaf, aku sempat membujuk mu berpisah dengan Kevin. Padahal perasaanmu begitu dalam padanya. Maaf kan saya, Clarisaa."


"Aku menjalani semua karena murni keinginanku dan termasuk perpisahan itu karena aku telah memikirkan matang-matang," kata Lala tertahan, tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca dan tulang-tulangnya bagai lepas dari letaknya.


Richie merasakan perasaan wanita itu, dia tahu betul seberapa lama wanita itu bertahan dan selalu sembunyi-sembunyi menangis. Namun, di depan orang ... wanita itu selalu berusaha tersenyum.


'Saya disini, saya disini, Lihat saya, jangan pikirkan Kevin lagi.' Batin Richie penuh gereget dan sangat gemas.


Lala menghela nafas dalam,dia ingin benar-benar bisa melupakan Kevin. Luka di hatinya itu sulit menutup, itu sangat sakit.


"Mengapa kamu tidakmembeli mobil layak?" tanya Richie mengalihkan pikiran Lala.


Terlebih mengetahui mobil bak putih ini, memiliki jok yang keras dan sudah beberapa sobek, 'saya ingin membelikannya mobil, tapi pasti Lala tidak mau, kasian.'

__ADS_1


"Aku harus berhemat. Ini, mobil serba guna yang bisa untuk kerja. Membawa property kolam renang. Juga bisa dipinjamkan ke para tetangga saat mereka harus menjual hasil panen ke luar kota."


Lala menoleh ke kanan. Dengan sedikit ragu menyentuh tangan kiri lelaki itu. "Tuan Richie, seperti apa katamu. Mari berpacaran."


__ADS_2