Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 182 : GAUN PESTA


__ADS_3

-POV Lala-


Aku menahan kepala bayi, mengusap pipi chuby yangmana sorot matanya begitu tajam penuh magnetis tapi menghanyutkan. Seolah tahu apa yang aku rasakan.


Manik -deep blue-Vino yang seperti sang papa.


Aku mengusap alis pirang itu. "Vino Saint Mariano, huh beruntungnya ibu, ih gemes," cicitku, saat Vino menampakan giginya yang mengigit put*ng, empat gigi atas dan empat gigi bawahnya, belakangan ini baby Vin hobi meringis dengan sangat lucu.


Rasa gemas ingin mencubit pipi bakpo itu, tetapi saya menahan ... Vino laksana barang antik, bahkan jauh lebih dari itu, tak ingin mencubitnya walau barang sedikitpun. Takut dia merasa sakit walau sedikitpun.


Dua sudut bibirku terangkat ke atas saat Vino sudah tidak mau menyusu. Aku kembali menutup resleting gaun depan, mendekap tubuh mungil putraku yang begitu hangat, celoteh lucunya selalu membuat saya tersenyum.


Aku rasa ini saat-saat mendebarkan menjadi seorang Ibu. Kenapa kepala bayi bisa semungil ini, berulang kali dan pertanyaan yang sama kulontarkan, begitu juga dulu saat masa menyusui kelima anak-anak perempuan saya, yang kini telah menjadi gadis dewasa. Mereka adalah lambang kehangatan abadi.


Semoga kebaikan menyertai kehidupan kalian. Lydia, Amber, Isla, Irish, Ivy, dan Vino. Kalian segalanya. Paling berharga untuk Ibu.


Tuhan, berikanlah perlindungan Agung Mu untuk anak-anak ku setiap waktu.


Hatiku berdenyut, menahan rasa rindu yang terasa mencekik, ingin sebentar saja melihat senyum madu putri-putriku.


Derit suara lantai kayu bergesekan, membuyarkan lamunanku.


Tonjolan tiga urat melintang di kening Mbak Rini saat tangannya menarik tali kuat dan kakinya setengah berjinjit dengan badan yang condong ke belakang. Dari arah yang berlawan aku pergi mendorong kardus besar itu, mbak Rini bergeser dan berpindah

__ADS_1


ke samping mendorong kardus itu bersama-sama menempel ke ujung tembok.


"Apa, isinya berat sekali," ujarku.


"Kertas milik bapak. Terimakasih bantuannya, bu Lala hh," wanita itu setengah terengah dan mendekat ke Vino, yang melempar bola kecil ke arahku. Terlihat jam yang gelangnya terbuat dari kulit hewan berwarna -coklat kayu- itu melingkar indah di tangan mbak Rini. "Apa kamu suka jamnya?"


"Ini, saya suka, terimakasih Ibu Lala, jadi kecipratan kado, yang ulang tahun kan bu Shasa," cicit mbak Rini disertai sedikit cekikikan saat dia menguncir rambut ke belakang.


"Tidak apa, itu cantik di tangan mu. Senang bila kamu juga suka."


"Ibu turunlah, tamu-tamu sudah berdatangan. Percayakan Vino pada saya. Kalau hanya menjaga Vino mah, saya sangat senang." Mbak Rini mengambil bola-bola kecil yang menggelinding.


"Iya ini sebentar lagi turun. Biasanya Vino tidur jam 10. Sepertinya hari ini akan tidur lebih awal, mungkin jam delapan," kataku mencoba menjelaskan, aku berjalan cepat meraih topeng dari meja di bawah -Tivi yang menancap pada dinding saat aku mulai mendengar MC telah memulai pembukaan acara.


Aku tertawa kecil, wajahku menghangat saat aku mengaitkan karet ke ke dua telingaku. "terimakasih mba Rini. Apa ini terlihat cocok dengan gaun ku?"


"Ya! ya! topeng itu menjadi lebih hidup begitu Anda yang memakainya. Wah."Mbak Rini ternganga dan matanya melebar.


"Yang benar mbak Rini? terlihat aneh ya?" tanya ku penasaran dan tak percaya. Berlari kecil, menatap diriku di pantulan cermin di sudut ruangan. "Ah gaun dari Ella ini sangat cantik dan ringan, apa ini tidak terlalu terbuka?"


"Itu masih sopan ibu, kaki anda terlihat sangat cantik, Anda terlihat sangat anggun ibu wow!!"


Gaun dengan warna merah dengan dua helai tali yang saling melintang di atas cup dada menggantung memperlihatkan kulit bahuku, dengan bagian punggung terbuka sampai pinggang, tampak sangat serasi dengan topeng berbulu merah. Bagian bawah gaun rumbai lembut dan masih mengikuti lekuk tubuh, yang terbelah memperlihatkan kulit paha bila kaki sedikit dibentangkan, belahan itu bisa sampai setinggi paha. Tapi bila kaki rapat gaunnya menutupi kaki sampai ke betis. "Apa Ella ingin mengerjaiku? Aku bahkan belum pernah menggunakan gaun terbuka yang memperlihatkan bagian punggung."

__ADS_1


Memang benar kata mba Rini, ini terlihat sangat Elegan. Tapi aku tidak terbiasa. Aku menatap gaun yang rapat di perutku memperlihatkan perut rampingku, dan menonjol indah di payu..daraku, di tengah dada resleting kecil miring tertutupi oleh manik-manik kecil indah, sehingga aku begitu mudah untuk menyu..sui Vino bila resleting itu dibuka.


Walau ini hanya tergantung tali, tapi cukup kuat menahan gaunku dan tidak melorot. Pipiku terlihat memerah di pantulan cermin. Topeng ini hanya menutupi bagian mataku, namun cukup menyamarkan wajahku


Sampai aku tidak mengenali wajahku sendiri. Jantungku berdebar, mengapa tangan ku berkeringat dingin. Pasalnya saat bersama Kevin, aku tidak diijinkan menggunakan gaun terbuka.


Ini hanya pesta ulangtahun Sasha mengapa aku berdebar. Aku bukan ratu pesta, aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan dengan sangat lambat.


"Apa aku ganti baju saja, tahu begini aku bawa persiapan gaun sendiri." Aku mengigit bibir bawahku, mengubur rasa insecur yang tiba-tiba keluar dari dalam diri ku. "Huft."


"Mha.. maah...mah maa.." celoteh Vino saat merangkul paha ku.


"Eh..apa kamu mengenali ibu?" Aku berjongkok, dan Vino memasang wajah lucu, matanya membulat sempurna, membuatku ingin menahan tawa.


"Ini ibu, Vino bingung ya?" aku langsung menarik karet di telingaku, meraup Vino dalam gendongan saat melihat wajah Vino yang bibirnya melengkung ke bawah, dan menoleh sana-sini mencari keberadaanku, hingga dia terlihat mau menangis.


Terkikik, aku mengunci rapat-rapat mulutku, menahan tawa saat mata Vino kembali berseri begitu melihatku wajah polos tanpa balutan topeng, dia baru mengenali aku huhuhu, gemasnya, "anak lanang, anak ganteng, anak cakep ibu uh..." hati ku begitu berbunga-bunga, perasaan terhadap anak laki-laki memang berbeda. Aku mengecup seluruh pipi halusnya, menghirup dalam-dalam bau khas bayi yang selalu membuatku merasa lebih hidup, sebelum aku turun ke bawah, rasanya tak mau berpisah.


"Maaf, -... - di sini?"


Suara tak jelas seseorang yang tenggelam oleh musik dari bawah membuatku menoleh sesaat setelah aku memasang karet topeng.


"Apa?" aku berdiri setelah mengusap pipi Vino, melangkah pada pria -berkemeja putih berkilau- dada lebarnya menonjol seperti akan meledak dan mengerucut mengecil di perut rata di kemeja ketat itu dengan dua kancing teratas terbuka, si jangkung itu bertopeng hitam yangmana lengan kokoh juga turut menonjol namun tidak berlebihan.

__ADS_1


Menyempurnakan Kharisma yang terpancar dari dalam dirinya. Mataku tak berkedip, mendekat agar lebih bisa mendengar. Detak jantungku mulai meningkat. "Maaf... Anda bilang apa?"


__ADS_2