Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 186 : BERDEBAR


__ADS_3

-POV Sasha-


Ketika memindah roti, deritan pintu kaca menghentikan tanganku. Saya memeriksa siapa gerangan. Dan menarik pandangan saya kembali pada lingkaran roti besar di tangan.


"Sibuk Sha?"


Setelah melihat jam, memperhitungkan jumlah bulatan roti di atas meja yang tersisa dua puluhan, "Enggak, beri saya sepuluh menit, nanggung."


Terdengar langkah sepatunya makin mendekat. Saya tidak menghiraukan, dengan cepat menutup dus-dus yang telah terisi.Dia mencoba membantu.


"Istirahatlah di atas" kataku sambil merebut dus yang telah diisi roti oleh Johan.


"Apa dia juga di atas?" tanya dia dengan nada berbunga-bunga.


Saya menatapnya sejenak dan dia menyeringai. Satu alisku terangkat," 'Dia'? maksudmu..." Johan tidak menjawab dan memilih meninggalkan saya, menaiki tangga.


Membawa secangkir teh mengepul dan roti, saya mendapati Johan memegangi mainan Vino.


"Dia sudah pulang?"


"Ada apa dengan mu, Jo?" memindahkan roti dari nampan, meletakan di atas meja. "Jadi, kesini hanya untuk menanyakan dia?" Aku mencoba tersenyum.


"Sha, saya ingin melihat mu," katanya terdengar basa-basi. "Dia tinggal di kota mana?" terlihat dia tidak bisa sabar, menunggu jawaban saya dengan sikap tetap menjaga gengsi.


Wajahnya memerah saat dia menunduk, asik memainkan mainan Vino yang berbentuk bintang.


Kemudian dia menghela nafas kasar lalu terkekeh.


Johan masih waras kan?


"Sejak kapan kamu bertemu dengannya, Sha?" bahunya menegang, "bahkan kamu tidak menceritakan soal 'mawar'"


Pertanyaan Johan sungguh penuh ambigu. Jadi sebenarnya dia tahu Lala atau belum.


Lala juga meminta ku melindungi identitasnya. Ini sungguh membuatku frustasi.


"Dia sudah menikah," kata ku datar, berbohong sesuai dengan permintaan Lala. Ya, saya tidak mungkin mengkhianati sahabatku.

__ADS_1


Namun, hubungan saya dan Johan juga sangat dekat, dari jaman kuliah. Bahkan Johan menolong saya dari pemabuk yang hendak mempe*rkosaku.


Dan Johan membantu keuangan suamiku dari ambang kebangkrutan.


"Oh ya? jadi, kenapa suaminya tidak ikut datang?" tanya dia dengan senyum memudar.


Alisku terangkat, "su-ami dia... sedang ada kerjaan," aku tergagap menabung kebohongan.


"Katakan, dimana kotanya?"


"Tinggalnya di ..." Aku sulit menjawab, sekalipun saya mengarang pada akhirnya saya tahu Johan pasti akan mencari sendiri.


Sama seperti saat, dia menangkap orang yang hendak memperk*saku sekalipun si brengsek itu di sudut kota terkecil, Johan berhasil menemukan dan memenjarakan si brengsek.


"Di...?" Johan menaikan alis, menatap tajam seolah sedang memindai isi kepala saya.


"Kenapa kamu tidak mencarinya sendiri?" Lalu aku tersenyum garing, jantung berdebar.


Bunyi cempreng mendalu dari mainan di tangan Johan. Saya merasa tidak berbuat salah, jadi kenapa aura Johan sungguh mengintimidasi.


"Johan," ucapku bergetar, "saya menemukan ide membuat Kue dengan bentuk istana. Itu istana kembar, mungkin Amber dan Lydia suka, " ujar ku mencoba mengalihkan pikiran dia.


Aku menghela nafas, menyandarkan diri pada sofa, menatap langit-langit dengan ukiran gipsum indah. "Jadi kapan Amber kembali ke kota ini?"


"Saya masih belum tahu," dia ikut menarik diri ke sofa, mengikuti gerakan ku seolah mata dia menembak ke langit-langit ruang keluarga. Sebenarnya, Johan masih sangat menawan di usianya, jadi ...


Dia menoleh ke arahku, "adakah yang kamu sembunyikan, Sha?" tatapannya menusuk ku.


"Tidak!" Ya, aku menjawab dengan mantap dengan penuh kebohongan.


"Seharusnya 'ITU' menjadi kado spesial untuk Lydia dan Amber, tapi itu menjadi tidak mungkin ... sekarang."


Saya menelaah ucapan Johan barusan. Seolah dia menemukan apa yang saya sembunyikan, hingga dingin terasa merayap di bawah kulit. Sial! merasakan seolah bola naik dan turun di tenggorakan saya, "Maksudmu?"


Dia kembali duduk dengan elegan dan menghabiskan teh. Sementara aku memikirkan kalimatnya yang penuh teka-teki. "Johan?"


Dia meraih satu bungkus roti isi ayam dan memasukan ke kantong jas. Kemudian mencium pipi kanan saya, hingga akhirnya dia pergi tanpa kata-kata.

__ADS_1


Haiya, aku sama sekali tidak bisa menebak apa isi pikiran dia. Aku terjebak, harusnya ini tidak terjadi dan membuatku sulit.


Sama, aku juga tidak tahu, apa Lala sebenarnya tahu itu Johan atau tidak, kenapa meminta saya menyembunyikan identitasnya dari siapapun.


Sebenarnya ada apa dengan mereka?


...**...


Besok hari jadi kota ini bertepatan tanggal merah. Saya masih asik di restoran Ella, menghabiskan waktu kami bertiga di sana.


Kami bertiga seperti paket komplit. Saya menitipkan dagangan roti saya di restoran Ella, juga di tempat usaha Lala.


Dan saya bisa mendapatkan orderan lebih banyak karena kenalan Lala di kabupaten dan teman-teman usahanya.


Dan kami bisa menghabiskan hari libur di pantai, di sana di restoran Ella. Di lantai teratas juga ada ruangan untuk kami beristirahat.


Saat hari mulai malam, hembusan dingin melewati leher saya membuat saya merinding. Saya menatap Lala yang menatap kartu Remi, dengan alis berkerut dalam. Bisa ku tebak, dia akan kalah lagi.


Saat ini Vino tidur dengan -adik Ella- di lantai atas. Malam ini kami bertiga akan menginap di sini.


Pengunjung resto pun mulai sepi, sebenarnya hotel tempat Johan menginap hanya berjarak beberapa di ruko dari tempat ini.


Apa mereka belum pernah bertemu sebelum pesta semalam?


Mataku tak berkedip saat menangkap dari jauh sosok yang sepertinya ku kenal betul. Refleks aku berpindah ke sisi Lala dan memunggungi pintu masuk. Jantung saya berdebar cepat, kuharap pria itu tidak menemukan saya.


"Hei kamu mau mengintip!" Lala mencicit sambil menangkup sisa kartu ke dada. Sementara Aku menutup kartu di sebelah kiri, berusaha menyembunyikan wajah dari sisi kiri, dan Lala justru melihat kartuku, dia melotot tajam, dan sesaat matanya terkulai. Ya, aku tahu dia akan kalah.


Namun, situasi ini berbeda, aku tak bisa bernafas mendengar suara langkah dan percakapan orang semakin mendekat.


"Hei hadaplah ke depan, jangan mengintip kartuku," kataku pada Lala, aku tak mau pria di belakang, melihat wajah Lala.


"Ye, giliran mu, cepat." Mau tak mau aku mengeluarkan kartuku dan bersamaan langkah di sampingku.


Beruntung, ternyata yang lewat bukan orang itu. Aku menghela nafas, sepertinya pria itu tak memilih kursi di dekat sini.


"Giliran mu," kata ku pada Lala yang memakai gaun putih maxi.

__ADS_1


Tepukan jatuh mendarat di bahu kiri saya, seolah jantung saya rontok! dari tempatnya, dingin merayap di pembuluh saya dan kepala saya sakit. Kemudian Lala menoleh...


__ADS_2