
Ivy masih berdiri di depan lift meringis menatap ceceran darah papah, pikirannya melayang pada setiap teriakan sang papah. Merinding, seumur-umur baru mendapati sang papah meneriaki mamah.
Bagai ditikam besi karat mengiritasi dan menyisakan nanah dalam hati Ivy. Perih. Tidak memahami mengapa orang tuanya harus saling menyakiti.
Ting- Pintu lift terbuka saling menjauh.
Johan yang baru mengaca di lift sambil merapikan rambut dengan tangan, tiba-tiba alisnya berkerut karena sosok gadis yang bersandar di dinding dengan menutup wajah.
Johan memperhatikan gadis yang baru menjauhkan dua tangan dari wajah, tampak tatapan sayu dari balik kaca mata, pipi bak bayi dengan noda basah seperti aliran anak sungai. "Ivy apa yang terjadi disini?"
Johan menunduk pada titik akhir pandangan Ivy, "Eh darah siapa ini?" ditangkup bahu kanan Ivy dan di putar 45 derajat, di susur atas kepala ke bawah. Bergantian bahu kiri, dan gadis itu makin merengek dengan suara makin melengking.
"Hei, kamu terluka? apa ada yang menyakitimu?" Semakin Johan bertanya Ivy semakin menaikan nadanya turun naik seperti motor yang sedang dipanasi.
Dia tidak pandai membujuk para hawa untuk menghentikan tangisan. Jangankan Ivy, menangani Lydia aja susah tidak ketulungan, sekali mengambek bisa berhari-hari dirinya dikacangin. Musuhnya memang para hawa, ada apa dengan hidupnya. Atau ini karma karena dulu sering menjadikan gonta-ganti pacar dalam hitungan minggu hanya untuk dijadiin tameng.
"Tolong, kaki papah berdarah. Cepat, Uncle," Ivy mengembik sambil menarik kaos Johan dengan terus menunduk menahan gemetar oleh ketakutan.
"Kenapa bisa berdarah? hm," Johan menunduk, berfikir, mengikuti alur tipis noda darah di sepanjang lantai. Dia menyipitkan mata noda mengarah, dari pintu terbuka kamar Lala.
Menarik lengan Johan, "jangan uncle. Jangan ganggu mamah, mamah akan sangat malu. Dan sedang sangat buruk. Uncle tolong papah saja," lirih Ivy ketika Johan terus menatap ujung lorong. "Uncle, Ivy akan mengundang oma Sheril untuk mamah."
**
Kesunyian di lantai sepuluh, hanya suara berderak di bawah langkah kakinya yang terhenti karena reseptor mengenali aroma yang khas Lala-manis mawar bercampur vanila, di dekat pintu kamar Kevin yang dalam keadaan terbuka.
Beberapa menit kemudian Johan memasuki arena privasi, semua lekat dengan bau Lala.
__ADS_1
Apa bahkan Kevin memakai parfum Lala. Ini kenapa? kamu mau membuat lukisan dengan darah, Kevin? (Johan)
"Keluar," Kevin tidak menginginkan siapapun hadir dikamarnya. Menjengkelkan baginya, hatinya sangat gelap, "jangan menggangguku."
"Dimana p3k, bro? dasar childish." Johan meraih tisu di dekat nakas.
"Go or I’ll kick your ***!" (Pergi atau akan kuhajar kau!)
"What the fu..ck is with you ?" (Ada apa denganmu sia..lan?) Menekan dan menahannya pada luka terbuka di kaki Kevin saat tisu putih meresap noda merah tua.
"What the hell are you doing here !?" (Apa yang kamu lakukan disini !?")
"Mau kehabisan darah? dasar cengeng," diganti tisu lain sampai merembes merah tua dan basah oleh darah. "Panggilkan dokter ya? ini sepertinya dalam, perlu dijahit."
"Get the fu..ck out of here, Jo!" (Enyah kau dari sini!)
"Why are you acting like a bit..ch?" (Mengapa kau bertingkah seperti orang berengsek?) Johan mencekal pergelangan -kaki kanan- Kevin, menarik dan membanting untuk diam manakala darah tambah mengalir.
"You are such an as..shole, Jo!"(Kau berengsek)
Can you shut the fu..ck up, Vin?" (Bisakah kamu diam, Vin?)
Kevin menendang tak beraturan dengan kaki kiri karena Johan membuat dadanya makin mendidih "So what motherfu..cker, Johan!"(Jadi bajingan apa!)
Johan menduduki lutut Kevin, hingga sobatnya itu tidak dapat bergerak. "Can you shut that damn mouth?!" terbiasa dengan sikap Kevin disaat-saat tertentu, Johan tidak mau mengalah, dan membelit yang terluka dengan sebuah selendang kecil di atas kasur, sekadar untuk menghentikan darah sebelum dokter datang kamar, walau di rumah itu tersedia dokter. Namun, tidak akan yang berani mendekat saat Kevin berulah.
"Jo Fu*k you!"
__ADS_1
"Turun, Kevin! kami menunggu mu sarapan! seharusnya bersyukur Lala di sini! dan kau akan menyesal setelah dia pergi! Damn! kenapa aku jadi emosi." Johan menendang tempat tidur sampai bergetar sebelum keluar dari kamar.
**
Kamar tamu di kamar pojok, Sheril yang menggendong Vino mendapati ponselnya hancur menjadi dua dan tas Hermes dengan isinya berceceran, tas mahalnya terdapat bercak merah tua darah yang hampir mengering, melewati itu tidak mempedulikan barangnya, mana ada janji temu dengan teman, ponsel pakai acara rusak, Kevin keterlaluan.
Merasa trenyuh Sheril pada Lala yang baru mendongak dengan sorot mata sayu.
Seharusnya saya tak menyuruh Kevin, mungkin ini tidak akan terjadi. (Sheril)
Lala bangkit, “maaf, semua gara-gara Lala membuat marah Kevin, ponsel mamah hancur-“
“Sudah cuci wajahmu, kau tampak buruk, jangan sampai putri-putrimu melihat itu.” Sheril melirik cetakan bundar basah di pantat Lala pada jubah mandi beludru, siapa yang menyangka tadi tampak baik-baik saja semua menjadi berantakan dalam satu jam hanya karena dirinya menyuruh Kevin mengambil tas.
Vino pindah dalam gendongan sang ibu, Sheril mengelap wajah Lala dengan lipatan tisu. “Lala, maafkan putra mamah, saya telah mendengar dari Ivy. Ya putra mamah memang suka sulit di tebak,” pipi kanan Lala telah kering, Sheril pindah mengelap kelopak mata kiri, mata Lala yang sembab, “cantikmu bisa hilang ini, bagaimana ya ... Apalagi mamahmu Rumi dan adikmu sebentar lagi sampai.”
Memegang tangan kanan Sheril, “mamah Rumi? Oh mama Rumi tidak memberitahuku, padahal kemarin bilang masih di jakarta.” Lala sangat merindukan mama Rumi, dia ingin segera memeluknya setelah dua tahun tidak bertemu.
Mengusap pipi Lala, “dia mau memberimu kejutan. Bisakah saya minta tolong, temui Kevin sekarang, Nak. Ganti pakaianmu, Kevin menyimpan banyak pakaianmu, jadi kamu tidak inginkan melihat mamah Rumi nanti sedih? Jika kamu berdandan cantik dan kamu tampak bahagia, otomatis mamahmu bahagia, ya?”
Berkedip perlahan, “Mah, Lala mau jujur, aku dan Kevin tidak bisa lagi, dan Lala sudah memiliki kekasih dalam tiga bulan kami akan melangsungkan pernikahan.”
Mengelus lembut Lala, “Sayang, dengar mamah. Saya hanya memohon untuk dua hari ini, hiburlah Kevin. Sedikit saja akan sangat berarti untuknya. Kamu masih ingat, besok hari ulangtahunnya?”
Lala menahan nafas, “aku tidak mau memberinya harapan, seharusnya nanti siang Lala harus pergi mah, maafin Lala.”
“Dimana nurani mu, Lala? Tanyakan. Bukankah saat dulu kamu terpuruk, Kevin kebingungan untuk selalu menyiapkan segala sesuatu yang baik untuk mu? di belakangmu dia selalu mengeluh pada mama. Ini hanya dua hari, mamah tidak meminta lebih.”
__ADS_1
Lala mengigit ujung bibir karena Sheril memegang dua bahunya.