
Lala menghitung mundur, "10, 9,8,7, 6.."
Ivy semakin pusing, mamanya tidak boleh tahu ini.
"3, 2," kata Lala penuh penekanan.
"Oke!!!!!" teriak Ivy langsung memasukan sandi.
Laptop menunjukan sekumpulan gambar wanita menggendong anak. Dan terlihat satu foto Kevin dengan seorang wanita dan satu anak yang pipinya berbintik.
Melihat itu Lala duduk di kursi itu dan terus menggulir gambar-gambar itu, sesekali menatap Ivy.
"Bagaimana kamu bisa memiliki gambar-gambar ini?" tanya Lala dengan nada sangat rendah.
"..." Ivy diam saja...
"Mamah tanya dari mana kamu dapat foto ini, sayang," tanya Lala dengan suara bergetar saat Ivy terduduk di lantai dengan lemas.
"Maafin Ivy, mamah," kata Ivy mulai terisak.
"Mama tidak meminta kata maaf, mama tanya darimana kamu dapatkan ini???????"tanya Lala yang mulai mencodong ke Ivy dan ikut duduk di karpet bersama Ivy, dia memegangi wajah Ivy yang terlihat banyak menyimpan rahasia.
" Ivy, tolong terbuka sama mamah. Mamah sudah tahu siapa wanita itu, tapi mamah baru liat foto ini. Jadi jawab mamah, dari mana kamu dapatkan ini?"
Ivy menatap lekat-lekat mata Lala yang tidak bisa ditebak.
"Laptop papa, mah, jangan bilang ke papah."
"Gimana bisa kamu menyentuh laptop papah? itu ruang tertutup ,Ivy?" tanya Lala semakin tak percaya dengan hal yang tidak mungkin itu.
"Bukan itu yang penting mah, siapa wanita itu, mengapa dia dekat-dekat dengan papah?" tanya Ivy meminta jawaban pada Lala, mamahnya itu seperti sudah tahu banyak.
Hati Lala kembali sakit, tapi dia berusaha terlihat kuat, "Ivy, jangan beri tahu ini ke papah, mamah sudah tahu dari lama, mamah juga tidak tahu banyak, tapi perempuan itu sahabat mamah, namanya Bella, kamu tidak boleh membencinya."
"Bagaimana bisa sahabat mamah bisa sama papah!! mengapa mamah diam saja!"
"Sayang, mamah tidak bisa menjelaskan itu, tapi ini takdir kehidupan. Apa kamu mencoba memata-matai papah? sejauh mana yang kamu tahu, sayang?"
"Papa bulan depan akan menemu wanita itu di wilayah barat..."
"Apa?!" kata Lala, dia tersentak, setelah sekian lama suaminya itu akan kembali menemui Bella. Memang tidak dapat dipungkiri Lala, pasti itu akan terjadi cepat atau lambat.
"Dan wilayah itu di kuasai orang sadis, psikopat, gila, jika papa kesana, papa bisa tak selamat mah..." kata Ivy langsung terisak.
"Mamah tidak mengerti maksudmu?"
"Pokoknya papa dalam bahaya! kita harus menolong papah mah!! Ivy tidak mau kehilangan papah!!"
"Huuss, kamu ngomong apa sih, kamu mendoakan papahmu begitu, papa orang kuat," kata Lala, yang mulai ikut khawarir, dia memeluk Ivy yang terisak.
__ADS_1
"Mah! Ivy tidak main-main dengan ucapan Ivy! Ivy sudah tahu siapa orang itu, dia bukan manusia, dia monster, tolong mah !"
"Ivy, apapun yang kita bicarakan sekarang, jangan pernah ada siapapun yang mendengarnya. Mamah akan meminta bantuan," kata Lala dengan tegas.
Ivy mengangguk pelan.
"Cepat tutup itu, sebelum papahmu_"
Ceklek-
Pintu terbuka dan Kevin sudah berdiri di depan pintu.
"Hentikan!" kata Kevin saat Ivy berdiri mau menutup laptopnya.
Badan Ivy gemetar hebat, saat papahnya semakin mendekat. Lala berdiri di depan Ivy menutupi laptop dengan badannya.
Tatapan tajam Kevin pada mata Ivy dan istrinya.
"Sayang, pulang lebih awal?" tanya Lala dengan suara kaku. Kevin memeluk Lala yang berjalan mundur sampai mentok kena kursi.
Layar laptop itu telah diketahui Kevin. "Ivy? ikut ke ruangan papah," kata Kevin saat memeluk Lala, mata Kevin menatap tajam pada Ivy.
"Papah..." kata Ivy dengan bibir melengkung kebawah.
"Keluarlah dulu," perintah Kevin dengan nada kecewa pada Ivy. Setelah bunyi pintu tertutup, Kevin semakin memeluk erat istrinya yang masih diam itu.
"Aku mau ngomong," kata Lala, "Saya mau berbicara," kata Kevin bersamaan. Mereka duduk di pinggir ranjang Ivy.
"Babe, saya salah tolong maafkan saya."
"kenapa?"
"Itu berawal tidak sengaja disaat saya mabuk. Saya ke kosmu dan saya tidak sadar melakukan itu dengan Bella, sungguh saya tidak tahu. Dan suatu hari saya membawa Bella hanya demi memeriksa DNA kandungannya, dan ternyata itu beneran darah daging saya, Babe."
Lala memejamkan mata, tak siap mendengarkan itu langsung dari mulut suaminya, 'tidak, aku tidak boleh terlihat lemah, Kevin sudah banyak berusaha untuk keluarga ini. Aku tidak boleh egois.'
"Saya tidak pantas mendapat maaf mu," kata Kevin melihat istrinya terus terpejam dan bibir gemetar seperti menahan emosi.
"Aku sudah tau semenjak Johan disekap saat di markas Richie. Tidak usah dipikirkan soal ini," kata Lala dengan penuh tertekan. Wanita mana yang bisa menerima suaminya menghamili wanita lain.
"Maksud kamu?"
"Aku tahu setiap kamu menemui Bella."
"Bagaimana bisa?"
"Selama ini aku meminta bantuan Richie, jangan salahkan dia, aku yang memaksanya."
Glek!
__ADS_1
Kevin menelan salivanya, "jadi selama ini kamu telah tahu, dan hanya diam saja? membuat aku terlihat begitu pengecut..."
"Kamu tidak pengecut sayang, apa kamu mencintai Bella?" tanya Lala dengan suara gemetar, Lala melirik foto Kevin bersama Bella di layar laptop.
"Saya hanya mencintaimu, Babe... tolong percaya padaku."
Lala menelisik dalam ke bola mata -deep blue- itu, "apa kau tak bisa menjawab pertanyaan ku tentang perasaan mu? apa sulit untuk jujur soal itu?"
"Saya tidak tahu perasaanku pada Bella, saya minta maaf, saya tidak tahu sayang."
Hati Lala berdenyut hebat, dirinya seperti mendapat jawaban langsung dari tatapan dalam suaminya.
"Saya akan menemuinya, apa kamu mengijinkan saya Babe?"
Lala tersenyum tapi matanya nampak kekecewaan yang begitu dalam.
"Temui dia, aku mengijinkan ... kamu," kata Lala dengan gemetar dan hati begitu sakit. "Kapan kau akan bertemu? "
"Bulan depan," kata Kevin datar.
"Apa karena hal ini, lalu kamu merencanakan liburan kali ini?"
"Babe, saya hanya ingin meluangkan waktu bersama anak-anak kita."
Lala menghela nafas, dadanya begitu sesak. Lala mengira liburan yang direncanakan Kevin hanya untuk menutupi rasa bersalah Kevin.
"Apa rencana mu setelah bertemu dengan dia? tanya Lala datar.
"Saya belum tahu, saya hanya ingin bertemu Edric..."
"Edric? jadi namanya Edric?"
"Dia putraku, apa kamu bisa menerimanya, istriku?"
"Hmmm... apa aku punya alasan untuk tidak menerima putramu?"tanya Lala, dia sudah tidak tahu bagaimana perasaanya, yang jelas hatinya sudah hancur.
Kevin mendekap Lala, "tolong terima semua hal tentang saya. Babe, saya tidak bisa hidup tanpamu, jangan membenci saya karena ini."
...☘️☘️...
Terlihat Ivy masih berdiri di depan pintu kerja Kevin. Lelaki yang melangkah dengan dingin itu berhenti di depan Ivy.
"Kenapa tidak masuk?"
"Terkunci," kata Ivy dengan lutut gemetar.
"Terkunci?" tanya Kevin sambil memberikan tutup flashdisk pink yang Kevin tahu itu milik Ivy, "apa kamu bisa menjelaskan ini?"
bersambung ...
__ADS_1
Terimakasih, hai pembaca setia, othor ada novel bagus ni , mampir ya ...😘