Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 60 : SIAPA YANG KAU PILIH


__ADS_3

Kevin duduk bersandar di atas kasur dengan tablet di tangannya. "Mengapa memakan pemberian orang yang tidak kamu kenal!?"


Lala yang baru mematikan tivi, berjalan ke meja rias mengambil sisir lalu duduk di sebelah Kevin. "Bungkusnya utuh seperti coklat pada umumnya. Lagian itu coklat ternama."


Sekarang Lala menyisir rambutnya yang baru bisa dilakukannya sejak mandi tadi jam tiga.


"Bungkus memang berlabel pabrik, tapi isinya sudah dirubah racun. Untung kamu dan dedek bayi selamat. Jika ada apa-apa dengan kalian, terus aku bagaimana?"


Rambut panjang Lala sedang diikat ke belakang. Gadis itu berceloteh karena selama dua minggu Kevin hanya menemuinya sebentar dan tidak pernah tidur di rumah, karena itu ia memakannya coklat pemberian orang, karena saat itu moodnya sedang buruk.


Kevin memperlihatkan layar tablet berisi gambar rumah besar yang masih baru, berwarna putih yang bak istana itu "Kita akan pindah ke rumah ini. Kuharap anak-anak nanti senang lari-lari, eh ada tempat bermain yang besar untuk mereka."


"Kau memikirkan sejauh ini?" Lala mengamati view ruangan demi ruangan yang ditunjukan Kevin. "Terimakasih untuk semua, karena kamu menyayangi bayi-bayi ini dengan ketulusan mu. Aku kira, ini sulit bagi kamu ... tapi kamu terus berusaha untuk membahagiakan kami, sayang," lirih Lala. Bulir air mata berlomba-lomba menyentuh pipi Lala.


"Kamu adalah bagian dari hidupku." Kevin mengelap pipi basah dan mengecup kening Lala. Berharap calon istrinya itu hidup bahagia bersamanya.


Tiba-tiba sang wanita meraih lalu menuntun tangan Kevin ke perut Lala. Mereka membulatkan mata ... dua sudut bibir mereka tertarik ke atas, terbuka lebar sampai ternganga.


Mata mereka semakin terbuka lebar merasakan tendangan-tendangan si kembar di perut Lala.


"Syukurlah kalian tak apa," Kevin terharu. "Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat kau tak sadarkan diri karena keracunan."


"Sayang, aku sudah terlalu sabar menunggu," kata Kevin lalu meletakan tabletnya di meja. "Bahkan ini sudah dua tahun sejak awal pertemuan kita di danau."


Di genggamnya tangan gadis itu. Kevin dengan senyum meronanya mengenang masa-masa lampau bersama Lala


"Kamu sangat cantik dan sangat seksi saat kau menyiram kopi di ruang meeting itu dengan gaun merahmu," ungkap Kevin lagi, tersenyum lebar penuh arti.


"Itu menurutku tidak ada yang spesial, justru membuat aku malu sendiri." Lala yang merasa sudah tak punya muka karena mengingat itu, langsung menutupi wajahnya.


"Aku mau kamu yang menginginkan pernikahan ini, bukan sebab paksaan. Aku akan menemukan ayah mu dalam tiga hari ini." Tutur Kevin menyampaikan niat Lamarannya. Termasuk sebab niat melindungi keamanan Lala dan anak-anaknya, yang sedang dalam bahaya.


Daniel, dia bukan orang baik, dia sedang mengincar nyawamu."

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi membahas Head chef? dia selalu membantuku di tempat kerja jadi bukan orang jahat."


Kevin menjelaskan pelan-pelan detail alasan dibalik perbuatan baik yang hanya sebuah taktik Daniel untuk meraih tujuannya lebih lanjut.


Namun pernyataan Kevin itu tidak bisa diterima Lala, Sebab Daniel terlalu baik padanya.


Lelaki itu bertanya pad Lala soal kemungkinan ada musuh yang mungkin Lala curigai.


"Mengapa mereka menargetkan nyawa ku? aku orang yang tak punya. Kami hanya hidup berdua tanpa punya kerabat, sebab Ayah yatim piatu sejak kecill."


"Apa ayahmu tak memiliki musuh?"


Lala menggelengkan kepala. Setahunya ayahnya tidak memiliki musuh, tapi siapa yang dulu membuat ayahnya pernah terluka parah?


"Kevin, anak-anakku harus tahu siapa ayahnya, meski aku belum siap bertemu dan berbicara dengan Johan." Lala takut, bila Johan akan memaksa menikah dengannya.


Gadis itu teringat saat Johan melamarnya. Lala selalu bertanya-tanya benarkah lelaki itu menodainya satu jam sebelum Johan melamarnya? Lala tak bisa mempercayai karena saat itu dia tak merasakan apa-apa dalam tidur lelapnya.


Terlalu besar kekecewaanya pada Johan, sampai dirinya tak ingin melihat Johan lagi. Mengapa lelaki itu begitu berani, dirinya pun tidak tahu perasaan apa yang ia miliki pada Johan.


Saat ciuman pertamanya di ambil Johan di kursi kayu, mengapa lelaki itu terlihat lebih bersinar dan tatapan matanya sangat dalam, apa Johan tengah mempermainkannya saat itu.


Memang Kevin yang lebih awal menciumnya ... tapi saat itu Kevin mabuk. Saat itu pacarnya terlalu kejam membuang dirinya pada psikopat sek'sual. Hingga menorehkan trauma dan besar kubangan luka di hati Lala.


"Anak-anak boleh tahu ayahnya, aku tidak melarang."


Lala mengecup bibir seksi pria maskulin itu. Mereka berciuman sangat dalam. Kevin selalu merindukan ciuman itu, hanya saja dia tidak berani memulainya.


Lala melepaskan ciumannya, karena lelaki itu tak membiarkannya bernafas.


"Aku hamil ini bukan anakmu, apa kata orang? Apa kata Ayah Anton, Ayah Alen, Mama mu yang belum kenal aku. Bagaimana bila mereka menentang?"


"Ayo Lala Clarissa, kita hadapi bersama."

__ADS_1


"Aku sendiri tak punya jawaban, apa bayi-bayi ini akan kecewa padaku. Atau..."


"Kenapa bilang seperti itu? apa kamu bermaksud mengharapkan Johan?"


"Kenapa kau malah berpikir seperti itu?" hardik Lala yang tidak tahu jalan pikiran Kevin.


"Anak-anak kan belum lahir." protes Kevin yang tak terima karena Lala menjadikan bayi itu sebagai alasan.


"Justru karena mereka belum lahir aku tak mau menyakiti mereka nantinya," terang Lala.


"Lalu kamu menyakiti aku?" dongkol Kevin.


Jlebb


"Bukan cuma kamu, aku pun disini sakit," lirihnya mengelus perutnya dengan kedua tangan. Ia yang bingung dengan hidupnya yang menjadi tak jelas dan di luar rencananya.


Lala mencoba mencari jalan terbaik, mengapa seakan-akan semua seperti salahnya. Dia juga tidak bermaksud menyakiti Kevin, tapi pertanyaan Kevin membuatnya jadi ilfeel.


"Satu-satunya cara untuk menyingkirkan penjahat itu adalah pernikahan ini." Kevin memegang kehamilan Lala, "untuk melindungi malaikat-malaikat kecil tak berdosa."


Kevin mengecup kening, lalu kepala menempel bersandar pada rambut Lala. "Terutama keselamatan mu."


"Tapi kamu masih kuliah, aku takut mengusik impianmu."


Lala berusaha mempertahankan pendapatnya. Pendidikan nomor satu, baginya. Lala ingin Kevin mendapatkan nilai tertinggi. Sebagaimana Lala menginginkan kuliah dan lulus dari kampus ternama.


"Selama ini aku kuliah biasa saja. Kita mau menikah saja terlalu banyak alasanmu. Kamu menginnginkan Johan kan?" Kevin memasang raut kekecewaan dan sakit hati sekaligus kemarahan terpendam.


Kevin menendang nakas didepannya sampai nakas itu bergeser jauh. Lalu Kevin berjalan keluar Kamar sambil menyeret dan membanting semua hiasan kaca, porcelen dari atas meja bufet kamar.


Bunyi benturan ke lantai dan pecahan terdengar menggemururuhkan hati.


Lala yang mendengarkan bunyi bantingan menyeramkan berkali-kali, hanya menahan nafasnya pelan, memejamkan mata karena takut ... sabar menahan kesabaran. Tidak ada yang bisa di lakukannya sekarang, percuma

__ADS_1


Blaak!


Terdengar tutupan bantingan pintu keras yang menggema keseluruh kamar.


__ADS_2