
-POV Author-
Baru saja, Lala menatap kepergian mobil Richie diujung jalan. Sedan hitam mercedes-Benz dari arah belakang, menepi. Empat orang wanita turun dari mobil ke dua, satu orang langsung membekap Lala, dua orang menahan tangan Lala, dan satu orang lainnya menahan Baby Vino.
Sementara sang sopir dari mobil pertama telah membuka pintu penumpang, menunggu para wanita memasukan Lala yang terbius. Sementara baby Vino yang menangis histeris karena terbangun, diserahkan pada sang bos yang menunggu di kursi penumpang.
Dua sedan itu melindas aspal tanpa menimbulkan keributan yang berarti, di kesunyian malam tanpa ada gangguan dari para penduduk bahkan lampu-lampu ruang tamu mereka telah padam.
Lala membuka mata dengan berat, setelah mengigat apa yang telah dialaminya ia terlonjak mendorong selimut, gaun merah tuanya telah berganti piyama berbahan beludru. Dia menggigit bibir bawah memutari ruangannya yang bergerak dengan sebuah jendela kecil.
Dia telah berada dalam pesawat. Namun, dia tidak mengenali pesawat itu dan menyadari seseorang telah menculiknya. Keningnya mengkerut, "Vino!! Lala turun dari bed, memutar-mutar kenop yang terkunci. "Siapapun tolong buka! Vino!!"
Terus menarik-narik kenop. Lala berbalik memutari nakas, lemari kecil. Jam tangan, hape, tasnya bahkan tidak ada barang pribadinya di kamar itu.
"Tolong buka!!!! tolong!! Vino!!" Lala menendang-nendang pintu dari besi itu bahkan tak bergerak, dan tiada jawaban dari luar.
__ADS_1
Waktu berlalu entah berapa jam, tiada sahutan dari luar sana. Lala menebak-nebak siapa yang membiusnya semalam, dia tidak mengenali mobil atau para wanita. Memikirkan apa dirinya telah menyinggung orang. Namun, jet pribadi ini hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya atau menyewanya pun hanya kalangan kelas atas.
Dia memaksa mencerna pikirannya. Ia meluruskan kakinya pada lantai karpet, bahkan putranya pasti belum minum ASI dari semalam. Ruangan ini benar-benar kedap suara sehingga tidak ada suara dari luar.
Sebuah makanan di meja terlah tersedia saat dirinya baru keluar dari kamar mandi, dia bahkan tidak sempat melihat siapa pengantarnya untuk sekadar berbicara.
Dia terus memikirkan Vino tanpa menyentuh makanannya. Terus mendobrak-dobrak pintu dan berteriak tapi tiada hasil berarti. Dia benar-benar buta tidak tahu apa-apa, jika ini ulah Kevin masuk akal. Namun, tidak mungkin. Jika lelaki itu yang membawanya, dia kira Kevin tidak akan tega membiarkan Vino tanpa ASI. Jadi bukan Kevin, lalu siapa.
Namun, hanya mantan suaminya yang mengancam akan membawa Vino. Lala berteriak mencaci maki mantan suaminya dengan ketel dalam dirinya yang telah mendidih mengingat perlakuan Kevin saat di kamar mandi hotel, dia tidak mengira mantan suaminya bertahun-tahun telah diliputi kelembutan berubah sekeji bahkan lebih buruk dari sebelum menikah.
Berlari ke pintu arah pintu besi menggedornya dengan jeritan teriakan sama saja, tiada respon dari luar. Lala berteriak dengan mengumpat dengan bulir air mata berlinang, sakit menusuk sampai ke bawah tulang rusuknya. Sakit tak terkira mengumpat. Kamera cctv di sudut ruangan itu ia lempar dengan remot ac, di lemparinya dengan botol minum apapun sampai kamera cctv itu retak, dia terus mengumpat.
"Pengecut!! datanglah!!! siapapun kalian! ha?? atau kau Kevin bedebah! siapapun datang!!! datang jangan bersembunyi!!! Aaa-Aaaa!!"
Lala jatuh terduduk dia memukul-memukul lantai, kepalanya mendidih jantungnya panas, sesuatu kemarahan menggumpal di tenggorokannya.
__ADS_1
Baru kemarin dia kira hidupnya akan dipenuhi kebahagiaan. Belum setengah hari bedebah mana yang mengganggunya. "Vino," isaknya. "Richie." Pikirannya berkabut. Akankah Richie mencarinya, dia pasti datang pagi-pagi ke rumah kan. Seharusnya dirinya menyetujui saat Richie akan membawanya ke kekediaman Richie yang baru. Namun, karena dirinya idak mengikuti kemauan Richie dan berakhir seperti ini.
Seharusnya kemarin dirinya juga menceritakan ulah Kevin, seharusnya dirinya tidak menyembunyikannya.
Hari berganti hari, Lala tak pernah bertemu siapaun yang masuk ke kamarnya. Dan setiap dia merusak kamera cctv, Setiap kali dia sadar dari tidurnya, setiap kali itu kamera cctv itu telah terganti.
Bahkan siapapun penculik itu tak mengijinkan dirinya bertemu orang.
Sepertinya dirinya, jangan memakan atau meminum air pemberian mereka. Karena dirinya selalu kecolongan dan membuatnya tertidur lelap. Lala mulai membawa air mineral ke kamar mandi, dan mengisinya dengan air mentah. Takut-takut mereka memasukan sebuah obat. Bahkan dia tidak mau memakan sarapannya. Karena mereka pasti akan memberikan makan siang dan malam berikut susu. Jika mereka penculik musuh, sepertinya tidak mungkin, mereka memberi makan cukup baik. Lala meninju dinding besi.
Tidak ada apapun di kamar itu selain bed, ac, kursi-meja, lemari dan kamar mandi.
Ia mulai merasa gila, dia mengumpulkan bulu sikat gigi, satu bulu untuk satu malam. Dia tahu malam dari jendela. Dan buku sikat gigi telah terkumpul 14 hari. Dia telah dikurung lebih dari dua minggu.
Kepalanya sering sakit, dia tidak mau makan dan sering jatuh pingsan dan bangun telah terinfus. Dia mulai kehilangan kendali atas dirinya, bertanya-tanya beby Vino, dadanya sering sakit karena asinya yang tidak dikeluarkan.
__ADS_1
Sampai suatu hari lagi-lagi dirinya terbangun lemah, saat dia mendengar sedikit suara samar, dia sulit membuka mata, entah karena pengaruh obat atau apa. Seorang dokter sepertinya, Dia membuka mata kuat tapi terlalu berat, dia hanya menangkap sedikit kemeja pria di sebelah jas putih. Namun, matanya tertutup lagi.