
-POV Lala-
Sejak kejadian itu, Ars menjadi berubah, tidak membiarkan saya sendirian.
Suatu kali, dia melihat-lihat slide yang dia miliki dan dia menyuruh saya menuliskan apa gambar itu di masing-masing slide.
Kadang dia meminta saya untuk membantunya, mengisi peluru senapan.
Dia selalu menunggu saya tidur terlebih dulu, dan saya tidak mengerti apakah dia tidur di tempat yang sama dengan saya atau tidak.
Namun, setidaknya saya bernafas lega, Ars tidak menyentuh saya.
Bila dia pulang pada malam hari, dia menyuruh pelayannya menemani saya sepanjang hari. Saya benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Ars.
Dua hari ini Ars membawaku untuk menemaninya seharian. Saya selalu memperhatikan bagaimana anak buahnya selalu menunduk ketakutan pucat pasi.
Meskipun Ars menakutkan terkadang dia terlihat seperti manusia normal. Ketika aku sering mencuri untuk menatapnya diam-diam saat dia sibuk, saya dapat menangkap tatapan Ars yang sering kosong, dingin, dan tidak bernyawa, alisnya yang hampir menyatu. Namun saat dia mendengarkan cerita saya dia tampak antusias.
Dia sering bertanya tentang hidup saya dan menawarkan saya nasihat. Sungguh aneh, dia adalah penculik, bahkan tidak mengijinkan saya melihat Vino.
Kemarin dia memberitahu saya, bahwa dia akan membawa saya ke pesta di sebuah kapal pesiar, alasannya dia bilang dia tidak ingin saya sendirian di malam hari. Apa itu artinya dua malam ini kami tidur dalam satu ranjang?. Saya langsung merinding memikirkan ini. Bahkan saya kesulitan untuk bangun saat malam untuk memeriksanya.
Namun, saya yakin, dia orang yang cukup sopan.
Sore ini, Ars pergi menaiki kapal Tugboat. Mereka selalu menggunakan kapal mesin.
"Ibu Lala."
Saya berbalik ke belakang, dan seketika mata saya melebar berseri-seri dan mulut terngaga.
"Tatyana! Dima!" Jantung saya ingin meledak penuh euforia kegembiraan dan rasa syukur, dan secara alami saya setengah berlari memeluk Tatyana yang juga berlari menghambur pada saya.
"Tatyana! kamu baik-baik saja!" mata saya berkaca-kaca mengelus punggung Tatyana, dan menatap Dima yang mengulas senyum manisnya pada saya.
Di meja pinggir sungai, kami duduk tentunya dengan bantuan Dima sebagai penerjamah untuk saya dan Tatyana. Di bawah meja, tangan saya dan Tatyana berpegangan, gadis ini sangat manja saat menceritakan bagaimana anak buah Ars membawanya saat aku dan Dima terjebak dalam bunker.
Saya bertanya tentang hukuman Ars, dan mereka tidak mengakuinya, padahal saat itu saya tahu mereka dihukum di lapangan dengan senapan Ars, Ah mereka sangat baik.
"Dima bisakah anda menghubungi seseorang untuk saya? apa anda bisa menghafal nomor?" Saya bertanya saat penjaga itu menjauh.
"Tidak ada sinyal di hutan ini, mereka menggunakan jaringan khusus. Saya harus ke pelabuhan untuk mendapat sinyal. Apa penawarannya masih berlaku, Ibu Lala?"
Saya mengangguk, "Ars sudah membebaskan kalian?" satu alis saya naik penuh tanya.
"Ya, asalkan kami bisa membuat anda tertawa, Ars akan membebaskan kami." Dima berkata dengan sedikit tertawa membuat saya memicingkan mata.
"Jika begitu, saya akan terus tertawa demi kalian." Dua sudut bibir saya terangkat penuh.
"Tuan Ars bersikap sangat berbeda pada anda." Dima menerjemahkan ucapan Tatyana.
"Berbeda?"
"Tuan Ars perhatian pada anda, sampai memerintahkan kami membuat Anda tertawa, dan kami dapat menangkap bagaimana tatapannya yang berbeda pada anda," Dima menerjemahkan perkataan Tatyana.
__ADS_1
Saya terdiam sejenak, dan memperhatikan Dima yang memakan apelnya. "Boleh saya tahu pekerjaan anda disini, Tuan Dima, apa anda mengenal Thyoma?"
"Maksud anda Artyom... Artem?" Dia melirik ke kanan memperhatikan penjaga, dan kembali menatapku dan menelitinya. Dima duduk di kanan saya. Sedangkan Tatyana di depan saya, gadis itu memunggungi rumah.
"Yang anda maksud pria dengan tato hiu menganga di leher bagian kiri?"
Saya mengangguk cepat, dan Dima melebarkan mata dalam keterjutan.
"Jangan bertanya soal Artyom, dia jauh lebih bengis daripada bos Ars."
"Tidak mungkin," saya dalam keterjutan menggelengkan kepala cepat. "Dia sangat baik."
"Jangan percaya padanya, orang itu penuh tipu muslihat, jangan bilang anda bertemu dengannya?" Dima dengan keterkejutan, condong ke depan sambil menggebrak meja.
Saya mengangguk, "Thyoma atau Artem bilang akan membantu saya tanpa sepengetahuan Ars."
"Bullsh*it!" Dima dengan dada gemuruh, seakan dia memiliki dendam pribadi pada daniel. "Dia adik bos Ars, bahkan jauh lebih licik."
"Adik??!!!" isi perut saya seakan-akan langsung keluar, dan dingin menjalar ke seluruh badan. Bagaimana bisa adik ... saya langsung loyo membayangkan apakah Daniel menjebak saya.
"Ya, saya beritahu namanya Artyom Vladimir adik dari Bos Ars Vladimir," Dima menegaskan. "Dan semua orang paling tidak mau berurusan dengan Artyom, dia selalu membuat masalah dan tukang mengkambinghitamkan kami."
Tatyana mengangguk, dia bercerita bagaimana Tatyana menjadi korban kambinghitam Daniel, tetapi tetap saja itu sulit saya terima. Daniel bukan orang seperti itu, pria itu selalu membantuku.
"Tuan Dima, anda apakah tahu soal Tiger Shark dan ALGIO?" tanya saya dengan begitu antusias.
Dima memiringkan kepala ke kiri sejenak memutar bola mata dan menatap Tatyan sebentar lalu kembali pada saya. "Tiger shark adalah legenda lama, saya mendengar sedikit dari papah tapi saya lupa. Namun, sebagian anak buah Tiger Shark kini menjadi bagian dari Veeper. Eh, anda tahu darimana nama Algio?"
"Lalu Bee, black lion dan macan putih, apa anda tahu?"
Saya semakin berdebar menunggu, berharap Dima mengetahui semua dan menjawab rasa penasaran saya yang terus memborbardir selama dua hari ini.
"Bee, saya tidak tahu."
Saya langsung loyo, seharusnya saya tidak berharap banyak dan akhirnya saya makan pil kekecewaan.
"Tapi-"
Mata saya langsung melebar menatap penuh harap pada Dima dan jantung memompa makin cepat. "Tapi?"
"Black Lion adalah perusahaan pembunuh-"
Deg-otak saya mati. "Pembunuh?" saya langsung memotong cepat.
"Jangan memotong kata-kata saya, nanti saya jadi lupa!" Dima mengeluh dan saya langsung mengangguk patuh dengan dua tangan telapak tangan separuh di pinggiran meja. Seperti anjing menunggu daging dari sang Tuan.
"Pembunuh bayaran terkenal di dunia bawah. Siapa yang tidak tahu akan itu."
"Apa! kamu bilang apa!?" saya berteriak tanpa sadar menarik perhatian penjaga datang ke tempat kami, dan saya tersenyum berkata pada mereka tidak ada apa-apa, mereka kembali.
Saya berharap pendengaran saya.
"Apa anda tahu sesuatu?" Dima sedikit berbisik, "Dan bos saya sangat tertarik pada black lion, kami akan mendapat imbalan besar setiap informasi yang menyangkut Black lion yang kami peroleh," Dia berkata-kata dengan penuh semangat. Saya setengah tercekik menelaah semua.
__ADS_1
"Tuan Dima, apakah Ars seorang ketua dari Veeper dan Artyom juga bagian dari Veeper?"
Dima mengangguk sedikit nyaris tak terlihat. "Ars ketua, Artyom wakil."
Pikiran saya melayang jauh pada diagram itu, masuk akal, sesuai dugaan saya.
Namun, yang saya tidak tahu hubungan black lion, Kevin, dan tuan Parker.
"Black Lion pembunuh bayaran, pembunuh untuk apa?" saya bertanya setengah bingung.
"Membunuh orang," Dima berkata dengan enteng seolah itu hal biasa baginya. "Asal anda punya uang, anda bisa menyewa mereka untuk menyingkirkan seseorang."
"Maksud anda menghilangkan nyawa seseorang, orang hidup bisa menjadi mayat di tangan black lion, Tuan Dima?" tanya saya ingin tahu lebih jelas.
Dima mengangguk, dan tanggapan Dima seketika membuat saya ... seolah-olah bangunan berlantai lima puluh ambruk menimpa saya membuat saya tak berdaya, tangan saya gemetar. Tidak mungkin! Tidak mungkin!
"Algio, eh anda keren bisa tahu nama paling legenda itu. Saya sangat mengaguminya."
"Kenapa, Tuan Dima siapa Algio?" tanya saya serak, suara saya nyaris tak mau keluar, bahkan tak siap dengan insting saya yang telah membuat saya semakin demam tidak karuan, berharap Algio yang tertera pada setiap nama ayah saya, bukanlah ... bukanlah ... bukan orang jahat.
"Menurut cerita dari papa saya, Algio dulu adalah kepercayaan Tiger Shark dan dia berkhianat."
Kelapa saya berdengung, berputar, mengembang dan mengempis, sakit menusuk dari benjolan di tenggorokan turun ke dadsla dan makin menusuk titik di bawah tulang rusuk saya.
Dima menatap saya dalam, "Kasus kematian orang tua Ars diisukan ada hubungannya dengan Algio. Dan orang itu berpindah pada klan Bee. Algio orang paling dicari diburu di dunia bawah setelah dua puluh tahun menghilang dalam persembunyian macan putih, dan orang-orang bersatu menangkap Algio-."
Otak saya mati, mata saya berkunang-kunang, saya mulai tak dapat mendengar suara Dima, penddngaran saya mulai kabur, dingin menusuk kulit dan merayap ke seluruh pembuluh darah saya.
Informasi dari Dima seperti 'bisa ular cobra' yang menjerat jantung saya dan membuat saya nyaris terbunuh karena rasa sakit dan keterkejutan besar yang tidak siap saya terima.
"Ibu Lala... " Sayup-sayup suara Tatyana dan Dima, mereka menjadi khawatir dan mereka terus memanggil-manggil saya saat Bibir saya terkunci. Air mataku jatuh ke pipi saya.
"Ibu Lala, kenapa anda menangis? kami ... pasti akan mendapat masalah," mata Dima tampak kosong, alisnya mengkerut.
Saya menguatkan diri, dengan -punggu tangan- tak punya tenaga perlahan mengelap pipi saya dari air mata yang menerobos tanpa permisi.
"Apa macan putih?" tanya saya dengan suara tercekik. Dima dengan ragu enggan menjawab dan aku menatapnya dengan tajam.
"Macan putih dia penolong orang-orang lemah, orang lurus yang teraniaya, asal mereka tertindas, macan putih akan siap membantu dengan syarat tertentu. Kebanyakan mereka terbantu oleh macan putih."
"Apa itu Klan?" saya bertanya lagi begitu asing, saat Tatyana menggenggam tangan, seolah menguatkan saya.
"Mungkin maksud anda... emh... pada intinya : sekelompok yang memberikan perlindungan ilegal dan menjalankan kegiatan-kegiatan ilegal, membentuk hukum sendiri dalam kelompok itu."
Kepala saya mulai pusing, tenaga saya mulai hilang sepenuhnya.
"Karena pemerintah tak akan melindungi dan mengurus orang-orang bermasalah itu sampai tuntas, dan mereka berlari pada perlindungan ilegal yang membantu mereka demi mencapai tujuan dengan bantuan para klan. Dan darimana anda bisa tahu nama Klan-klan besar?"
Dima bertanya, sebelum pada akhirnya pandangan saya semakin gelap dan tubuh saya semakin ringan...
Aroma terapi mengganggu reseptor, kepala seperti dicucuk burung pelatuk, sakit sekali.
"Anda sudah bangun?"
__ADS_1
Saya membuka mata perlahan dan mendapati lampu kuning, saya telah berpindah dalam kamar dan Ars di samping saya dengan sang asisten.