Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 203 : JANGAN BOROS OKSIGEN


__ADS_3

-POV Author-


"Salut." (Halo.)


Tepukan di bahu datang dari arah belakang. Lala menoleh tajam dan menyipit,menyesuaikan cahaya.


Seorang gadis membungkuk sambil tersenyum manis. Kemudian duduk di samping.


Mengukur, Lala meyakini rambut berwarna coklat muda itu sehalus sutra. Netra tajam yang berwarna coklat, matanya sangat bening sehat dan tajam. Bagian puncak hidung itu mancung.


Seksi dan cantik adalah kombinasi yang sempurna.


Apa saya saya bermimpi?


"Bună ziua. Îmi cer scuze.Pot să te ajut?" tanya wanita bersweater tebal gelap, dimana rambut bergelombang sepunggung sangat indah seperti wanita romawi, Lala dibuat mabuk karena terpesona.(Selamat siang.Maaf. Bisa saya bantu?)


Lala menunjuk bibir sendiri menggunakan telunjuk. Kemudian mendorong telapak tangan sambil menggoyangkan ke kanan dan kiri. Kepalanya menggeleng, tidak tahu perkataan gadis romawi.


"Do you speak english?” tanya Lala


"Vorbești engleză?" (Anda berbicara bahasa Inggris?)


"No, i don’t. I’m sorry. I can't understand what you’re saying?” (Maaf, saya tidak bisa. Saya tidak bisa mengerti apa yang anda katakan?)


"Ce ai spus?" (Anda bilang apa?) Wanita itu merangkul lutut. "Nu știu." (Saya tidak tahu).


"May I know your name, please?" tanya Lala.


"Nume?" Kedua tangan wanita itu, terayun dua kali membuat gerakan memegang dada, "Tatiana."


"Ah, Tatiana. I need help. Can I ask you a favour?" (Aku butuh bantuan. Boleh aku minta tolong padamu?)


"Nu înțeleg." (Saya tidak mengerti.)


“I’m from Indonesia,” kata Lala.


Seketika mata Tatian melebar, "Indonesia!?"


Tatiana mengajak wanita asing berdiri dan memberi kode supaya mengikutinya. Sebuah keranjang berisi hasil hutan dalam gendongan punggungnya."Care e numele tău?" (Siapa namamu?)


Lala menggeleng, tidak mengerti dan mereka berjalan jauh mungkin ada satu jam ditambah istirahat dua kali.


Sebuah rumah menghadap sungai besar. Sementara di sisi kiri dan belakang adalah, tanah lapang. Atap rumah berbentuk kapal terbalik. Bukan genteng tapi seperti ijuk sapu hitam.


Tatiana bercakap dengan wanita paruh baya, wajah mereka mirip.


Mereka seperti bertengkar. Lala masih berdiri mematung di halaman rumah. Lala meyakini, kedatangannya ditolak sang wanita paruh baya. Lala bingung harus bagaimana. Dan Lala menghela nafas putus asa.


Mungkin ini lebih dari lima belas menit. Sampai Tatiana pergi ke dalam rumah dan keluar membawa kotak besar.


Tatiana membawa Lala duduk pada kursi di pelataran. Mengobati luka-luka Lala di sekujur tubuh yang terbuka termasuk telapak kaki, dan menutup dengan plester. Dalam kondisi menahan nyeri dan ringisan pun, Lala terkesiap menikmati gadis romawi yang mungkin seusia Amber.


Sementara sang wanita paruh baya yang berbicara dengan Tatiana telah pergi, setelah bertengkar dengan Tatiana dan mengucapkan sesuatu pada Lala yang tidak dimengerti. Namun, dari tatapannya jelas ancaman.


Tatiana memeriksa suhu badan Lala dengan termometer. Dan memberi obat untuk diminum. Dia meminta Lala memakai baju layak, milik Tatiana.


Lala masih termenung di ruang tamu, entah efek obat atau apa, dia sulit menahan kantuk saat Tatiana memasak.


Keributan dari dalam dapur membuat Lala terbangun, dia mengendap, khawatir akan keselamatan Tatiana



Tatiana menggeser pandangan, dari pria beralih ke wanita asing.


Seorang pria menoleh tajam dengan tatapan meneliti pada wanita asing.

__ADS_1


Lala memperhatikan sang pria saat air liur terus mengumpul dalam mulut. Wajah dengan bentuk lonjong itu berkumis dan berjambang, tetap terawat. Netra dan rambut coklat. Sebelas, dua belas, pria itu mirip Tatiana.


Tampilan pria itu sangat berkelas. Sepertinya, orang penting, tapi mengapa di hutan.


Pria itu datang menghampiri Lala. Dibelakangnya Tatiana, menahan lengan pria berjambang.


Lala menelan berat liurnya dan berkedip perlahan, dia harap lelaki itu bukan anggota penculik.


"Sudah selesai?" Netra tajam itu menghunus. "Jadi, pergi lah dari tempat ini."


Lala melebarkan mata meski tahu diri, tapi tidak percaya dirinya akan langsung di usir. Dia bernafas dengan teratur. "Anda bisa berbahasa Indonesia?"


"Pergilah, sekarang, atau saya akan membawa Anda pada bos Ars."


Glek- Mata Lala melebar, tidak mengerti apa yang dibicarakan pria berjambang yangmana penuh penekanan. "Bos Ars, siapa?"


"Pergi," perintah pria berjamban, sambil mendelik dengan tatapan ketidaksukaan.


"Boleh," Lala mematung, pikirannya gelap, memikirkan hutan. "Tunjukan jalan raya, Tuan?" tanya Lala. Kemudian menghembus putus-asa, membuang himpitan mental yang menekan diantara payu..daranya.


Lala tidak menemukan jawaban, dia memahami isyarat pria berjamban, lelaki itu telah menolak keras.


Ketika Lala berpamitan dengan Tatiana, pria itu merentang tangan kanan. Menghalangi Lala. Tatiana tampak cemberut. Lala memberi kode perpisahan.


"Tatiana, thank you, so much. I wish you the best," ujar Lala pada Tatiana dengan senyum hangat dan mengangguk, dengan sorot mata kekaguman. Untuk terakhir kali, Lala merekam jelas fitur wajah Tatiana yangmana -bibir gadis itu melengkung ke bawah- membentuk kesedihan.


Sesuai janjinya, Lala akan membalas kebaikan Tatiana, suatu hari nanti.


Mungkin dirinya akan menyusuri tepian sungai, siapa tahu akan menemukan penduduk lagi.


Dari dalam rumah, teriakan suara Tatiana dan pria berjambang, bersahutan. Mereka jadi bertengkar karenanya.


Lala memperhatikan air sungai biru gelap. Mengukur, mungkin lebarnya ada lima belas meter. Dan mungkin berbeda jalur dengan sungai yang tadi pagi, ini bukan seperti air gunung.


"Kemari."


Lala membulatkan mata, terkejut, tidak bisa berfikir .... memperhatikan punggung jaket coklat. "Maaf, apa anda mau menunjukan jalan aspal?"


"Saya Dima, akan membantumu, hanya karena Tatiana."


Lala mengangguk semangat walau pria berjambang memunggunginya."Tuan Dima, terimakasih!"


"Saya akan mengantarmu ke pelabuhan." Dia berbalik menatap Lala dari bawah ke atas, seolah mengukur sesuatu.


Lala mengerutkan alis penuh tanda tanya.


"Di sana ada seorang." Dima menegaskan, "yang akan mengarahkan."


"Pelabuhan?" tanya Lala mengulangi, takut pendengarannya ... salah.


"Ya, di sana, Anda bisa meminta bantuan." Dima melirik ke kiri, lalu ke kanan bawah. Kemudian menatap Lala lagi. "Nanti malam kita harus berjalan, melewati hutan."


Tatiana di tengah ambang pintu, tersenyum. Ingin berkomunikasi dengan wanita asing itu. Namun, tidak mampu mencerna perbedaan bahasa.


Derung mesin dari arah sungai menderu, dari kejauhan, diikuti ombak sungai.


Dada Dima terguncang, dia menarik wanita asing, "Lari! mereka akan menangkap mu!"


Lala berlari sekuat tenaga, mengikuti Dima, ke dalam rumah bersamaan ... Tatiana yang menarik, tirai jendela. Lala dimasukan ke dalam kamar saat Tatiana menutup pintu. Namun, berikutnya, Lala ditarik lagi lewat pintu lain.


Lelaki itu berbicara dengan Tatiana dengan raut kekhawatiran, dan tatapan dalam, pada Tatian. Lala menyadari, situasinya, menjadi gawat.


Dima membawa bekas- pakaian compang-camping wanita asing itu.


Di belakang rumah. "Masuklah, cepat!" Dima menahan tangan wanita asing dan menurunkannya ke sebuah bunker tanah melewati tangga kayu, kecil. Dima ikut ke bawah dan menarik penutupnya.

__ADS_1


Bunker tanpa cahaya, pengap, panas.


"Jangan bersuara." Dima menarik tangan wanita asing didepannya dan membawa duduk.


Mereka duduk dalam kegelapan dan keheningan.


...***...


Sesuatu bergetar melindas di atas permukaan. Pasir atau butiran tanah, berguguran dari atas jatuh ke pucuk kepala dan wajah Lala.


Dima membekap mulut Lala saat Lala akan bersin. Kemudian terus menahan mulut Lala dengan tangan kasarnya.


Embusan panas Lala melesat ke tangan Dima dan memantul kembali ke wajah.


Sesuatu di atas bergetar, sayup-sayup percakapan para lelaki. Bulu kuduk Lala merinding.


Apakah mereka tahu keberadaan ku?


Waktu berlalu keadaan mulai nyenyat, derap langkah kaki Dima menjauh


"Debak-bak!"


Suara pukulan atau dipukul Lala tak meyakini apa yang sedang dilakukan Dima.


Lala melangkah sambil tangan merambat pada dinding tanah, meraba-raba.


"Kita terjebak." Dima berbicara seakan dia sendiri, tidak menyangka, "Ini semua karena mu."


Lala berhenti melangkah, menelan air liurnya yang mengental."Yang Anda maksudkan, kita tidak bisa ke luar dari tempat ini?"


"Ya, ini semua karena Anda. Anda datang membawa masalah pada keluarga saya?"


"Saya harus bagaimana sekarang, Tuan Dima?"


"Mereka mungkin membawa Tatiana." Suaranya menggeram dengan nafas cepat.


"Mereka siapa yang Anda maksud?"


"Veeper."


Lala tidak mengerti. "Apa itu Veeper?"


"Anda sangat berisik." Dima mendengus. "Jangan banyak bergerak-sehingga Anda memenuhi ruangan ini dengan CO2."


Lala menggigit jari, dia mulai kepanasan, sesak, udara terbatas.


"Tuan, Kita, tidak akan mati kan?"


"Semua yang membuat masalah dengan Veeper-kematian."


Gedebuk!


"Tuan Dima? Anda tidak apa-apa? apa anda jatuh?"


Lala tidak tahu dimana Dima dan suara apa tadi.


"Jangan berisik, Anda memboroskan oksigen. Dan Anda akan kehabisan oksigen lalu mati."


"Tapi, sampai kapan kita terjebak, dan akan keluar?"


"Jika mereka membawa Tatiana. Kita .... akan terjebak, sampai pagi," Dima dengan nada suara tidak yakin.


Lala membuang nafas kasar, dua telapak tangan menempel dan bertahan pada dinding tanah di belakang, dan tubuh merosot perlahan. Bahu loyo, menahan beban mental.


"Berapa jam oksigen tersisa untuk dua orang?"

__ADS_1


__ADS_2