
Richie termangu-mangu duduk di deretan meja menatap punggung Amber yang tidak jauh, bibirnya menekuk ke bawah, sesakit ini di tolak. Sebuah tepukan datang dari belakang.
"Gagal?" Johan tertawa dengan nada mengejek.
"Shu..t up." Richie dengan suara tanpa warna memakan potongan strawberry dalam balutan coklat.
"Nyerah dong ... " Johan meraih ponsel Richie dari saku depan, dia mengotak-atik dan memegangkan pada tangan Richie.
"Yakin?!" Richie mengalihkan pandangan dari gambar ponsel, bergeser ke Johan yang tampak berpikir keras.
"Tak usah di coba." Johan tertawa dan meninggalkan Richie yang keningnya berkerut dalam, tampaknya Johan berniat membantunya.
"Sayang, kamu-" Perkataan Lala terhenti pada layar ponsel Richie, "Eh apa itu?"
"Pekerjaan." Richie menjauhkan ponsel agar Lala tidak melihatnya. "Ayo, hari ini ke tempatku, kan, tidak mundur lagi ya." Richie sudah tidak sabar, seminggu rasanya sepuluh ribu tahun.
Lala duduk di bekas tempat Johan. "Hemm, Amber, Ivy, dan Irish terus menempel, gimana ya ... " menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Tuh kan, gagal lagi ... " bahu Richie merosot bersandar pada kursi kayu yang kecil, pahanya terkulai. Lalu tangan hangat sang kekasih mendarat di pahanya, mata Richie yang terpejam, membuka lagi.
"Erosku paling ganteng ... "
"Hem ... " Richie menangkap suara Lala yang sangat lembut, dia yakin pada pepatah pasti 'ada udang di balik batu'
"Tolong ... "
"Apa," Richie merasakan kepalanya pusing, sulit sekali menaklukan ketiga putri Lala -Amber, Irish, Ivy- yang sangat keras menolaknya.
"Telponin Bella. Edric sangat ingin melihatnya."
"Oh sayang, kenapa harus mengurusi orang lain, kau lihat ... saya masih di tolak." Richie menelan sesuatu sangat pahit, padahal dirinya tidak makan biji mahoni.
__ADS_1
"Nah, jadi, begitu." Lala menarik tangannya dari paha Richie.
Richie menarik tangan Lala lagi ke pahanya, -tangan kiri Richie- memijat keningnya yang sakit , dan tanpa sadar mendapat tatapan galak dari Irish yang duduk di meja sudut sedang memainkan ponsel. Ya, ampun, dirinya harus sabar, menaklukan para kaum hawa yang tidak mau disogok dengan, itu sangat membebaninya. Menghela nafas kasar. "Kamu kan tahu, Bella belum siuman."
"Siapa tahu, jika Edric berbicara, Bella akan membaik, mas. Ayolah, cuma kamu superman ku."
Hidung Richie begitu gatal, dia menarik tisu membawa ke hidungnya. "Haaatchhhi ... " memutar hidungnya "Haaaaatchiii ... " mendorong mengeluarkan semua ingusnya, sejak kapan dirinya bisa kena flu.
"Mas, kamu sakit?" Lala memegang kening Richie, "tidak panas kok. Apa gara-gara kemarin kamu memandikan kucing milik Irish? jangan-jangan kamu alergi bulu kucing mas."
"Ya, ampun Lala, aku nyerah- Haaaatchiii ... "
Lala menatap hidung Richie yang merah, sambil menarik tisu untuk Richie, mata Lala teralihkan saat Edric mendekati ketiga putrinya, sepertinya Edric mengucapkan selamat pada sikembar tiga, Lala merasa bersyukur melihat ketiga putrinya hilang dari wajah murung karena penolakan yang sempat Edric lakukan.
Kevin melirik ke arah sini dan tersenyum tipis, dan Lala mengangguk.
"Ayo, pulang saja." Lala menarik Richie dan memilih pulang duluan dari danau.
Lala menoleh ke belakang, "Edric? kamu mau ikut pulang?" Lala menarik bahu Edric saat anak itu mendekat, dan menagih janjinya.
Turun dari mobil terbuka, Lala membawa kotak Tisu karena Richie terus meler ...
Dan Edric terus mengikuti Lala sampai ke kamar Richie, bahkan anak itu memanggil dokter pribadi rumah itu dan kini memeriksa Richie di kamarnya.
"Terimakasih Edric." Lala berdiri di Balkon menatap halaman depan.
"Katanya mau telepon Mami." Edric memegang ponselnya dan mengulurkan pada Lala dengan pandangan memohon.
"Edric, Mami sedang sakit, dia belum siuman."
"Saya sudah tahu dari Daddy. "
__ADS_1
Lala mengangguk, menggigit pipi bagian dalam. Meraih ponsel Edric dan dada Lala terguncang ke belakang, saat melihat wellpaper -Edric saat bayi- saat di gendong Bella dengan Kevin memeluknya dari belakang. Lala meyakini, dirinya hanya kaget, sepertinya sudah tidak ada rasa sakit lagi, atau terlampau sakit sampai semua menjadi tawar. "Kamu sangat imut saat kecil, Edric. Sekarang kamu juga tampan seperti Daddy mu. Sebentar..." Lala melangkah ke dalam saat Dokter baru selesai memeriksa Richie.
Mata Richie terkulai, menatap Lala dan tidak jauh Edric yang tatapan penuh harap. Richie memberikan ponsel pada Lala "Telpon Damar, dia di sana."
Dokter keluar, dan Richie menatap langit kamar, sesekali menatap Lala yang sempat matanya membesar. "Kenapa?"
"Tidak." Lala menggelengkan kepala, matanya membesar sekali lagi, memeriksa tidak salah dengan apa yang dilihat di hp Richie, sepertinya, ini yang tadi dilihatnya.
"Haaaatchiiii ... " Richie kembali bersin-bersin. "Dapat tidak sayang, namanya Damar ... "
"I -i-iya ini lagi di cari." Lala mengalihkan dari gambar tadi dan mencari buku kontak. "Telepon dari hp mu saja ya?"
"Hm ... " Richie turun dari kamar tidur dan pergi ke kamar mandi.
Begitu terhubung, Lala mengembalikan ponsel Edric, dan menyambungkan ke Damar lewat ponsel Richie.
Duduk di sofa, anak itu tampak terguncang saat melihat video call dengan Bella yang belum siuman. Sepertinya Edric baru melihat Bella, atau Kevin memang sengaja tidak mengijinkan Edric melihat Bella yang sakit. Lala duduk di samping Edric yang terisak memangil Bella, hati Lala sakit, seharusnya ini tidak sampai terjadi.
Setelah cukup Lama, anak itu mengulurkan ponselnya dan memeluk Lala dengan terisak. Richie duduk termenung menatap Lala dalam pikiran masing-masing, mendengarkan tangisan pilu Edric yang memecah kesunyian. Sampai Dokter datang membawa obat diikuti Kevin dan Irish.
Richie memijat kening saat melihat tatapan Irish lagi.
"Mah, bantuin Irish lepas kado." Irish dengan manja langsung menggelayut ke Lala saat Edric langsung diam mungkin malu tidak mau terlihat cengeng.
"Ayo antar kakakmu dulu, Irish." Lala menepuk bahu Edric supaya ikut bangkit. Lala mengalah ini ulang tahun putrinya, bahkan karena Irish menghalanginya, hp Richie terbawa.
Dan Irish menatap tajam pada Richie yang sedang minum obat sepanjang melangkah keluar dari kamar.
Malam itu Lala menemani membuka kado si kembar tiga, di lantai kamar. Ada Amber, Lydia dan Lal mengajak Edric di situ bahkan putra Bella kini mau memangku Vino ... sementara para wanita membuka kado.
Sementara Richie merana di kamar ditemani Kevin di kamar yang biasa ditempati Richie. Akhirnya sampai larut malam Johan, Luca, adik tiri Lala ( Guskov ) , adik Kevin ( Fabio ) dan Alen , semua sibuk mengganggu Richie, dan rapat para lelaki.
__ADS_1