Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 48 : CLARKSON ROAD


__ADS_3

Cambridgeshire merupakan salah satu county di Inggris. Disanalah Lala kini tinggal bersama Kevin.


Cahaya kabut putih di selimuti mendung di pagi hari tampak dari sisi ruang makan yang full jendela kaca di Lantai dua.


Hujan membuat suhu di luar semakin dingin hingga dingin itu mencuri masuk lewat cela-cela rumah membuat orang didalamnya juga semakin kedinginan, terutama Lala.


Lampu kristal menyala kuning menerangi ke seluruh ruangan bernuansa emas dengan lantai kayu yang terdapat karpet abu-abu.


Berderet-deret kursi tertata rapih mengelilingi meja makan dengan alas karpet lembut di bawahnya.


Sarapan mengepul di atas meja panjang itu. Dua anak manusia duduk disana bersebelahan tanpa bersuara.


Telah terjadi Perang dingin selama berhari-hari di antara mereka. Namun sepertinya tidak dengan hari ini. Perasaan tidak nyaman itu membuat mereka tidak mampu menahannya lebih lama lagi.


Detik demi detik berlalu, tak disangka batu es yang menggerogoti hati mereka pada akhirnya terpecah, memberi harapan baru setelah kian lama tidak ada obrolan diantara mereka.


"Cepat makan, sayang. Sampai kapan, kamu akan terus mengacuhkan ku?" tanya Kevin memulai obrolan.


"Aku mau pulang, aku hanya ingin pulang-" jawab Lala.


Mendengar jawaban itu, sontak sang Lelaki membanting kasar sendok dan garpunya.


Suara sendok-garpu bertemu piring terdengar nyaring membuat Lala gemetar.


Kevin sudah tak berselera untuk makan, bahkan makanan itu menjadi tampak sangat menjijikan dimatanya.


Kevin menatap tajam mata gadisnya, wajah Lala terlihat pucat, pucat karena pacarnya itu jarang mau makan.


Dia mulai jengah karena sikap Lala yang terus melawannya dan tidak mau menurutinya.


"Pulang? mengapa masih terus membahas ini kamu yank, sudah beberapa kali selalu ini dan ini yang kamu perdebatkan, tolong akhiri ini."


"Aku masih punya ayah, Kevin," jawab Lala memandang Kevin dengan sorot mengiba.


"Ke mana dia? apa ayahmu itu mengurusimu? aku tanya di mana ayahmu!? dia justru menghilang, apa kamu bisa menjawabnya, ke mana dia?!" tantang Kevin dengan suara beratnya dan raut wajah yang mulai berubah masam.


Rasa jengah dalam diri Kevin semakin menjadi-jadi setiap memperdebatkan hal yang sama berulang kali. Kevin berdiri dari tempat duduknya dan memilih beranjak dari meja makan untuk segera ke kampus lebih awal dari pada menahan kesabarannya, yang mungkin bisa pecah sewaktu-waktu.


Suara sepatu Kevin terdengar mulai menjauh. Lala menunduk memegangi perutnya, sesekali merutuki dirinya di dalam hati. "Tapi, Johan harus tahu kehamilan ini."


Terdengar suara sepatu Kevin berhenti, Lala langsung memegangi mulutnya, Ia baru sadar telah melakukan kesalahan.


"Johan? Kau sebut nama itu lagi!" sentak Kevin seraya berbalik menghampiri Lala. Dia mendongakkan dagu gadis itu dengan kasar.


"Ingat perjanjian kita sayang, Kamu tidak boleh menyebut nama Bajingan itu lagi," ucap Kevin dingin menatap Lala tak suka.


Lala yang mendengar itu, menjadi marah, Ia ingat betul saat-saat itu. Pacarnya itu dengan kasar memaksanya agar mau menandatangi perjanjian dengan poin-poin yang tidak bisa diterima Lala.


Kedua pasang mata itu saling menghunus. Sorot perasaan cinta dan amarah menjadi satu itu tercetak jelas pada netra Kevin dan Lala.


"Kamu mau melawanku? apa kamu siap menghadapi konsekuensinya?!" tantang Kevin.


"Tapi, aku sangat lelah, aku ingin bertemu mereka, aku tidak kenal siapapun disini, itu membuatku gila!" pekik Lala seraya membendung sesuatu di sudut matanya.


"Hah! sudah! aku juga sama lelahnya," geram Kevin semakin tak tega melihat raut wajah Lala, tapi Kevin melawan dirinya tak mau kalah hanya karena melihat kesedihan pacarnya.


Kevin mundur menjauhi Lala. Dia berbalik dengan langkah kaki yang lebih cepat, keluar dari atmosfir ruangan yang membuat hatinya sesak. Hatinya berkecamuk, apa tidak bisa bila dia dan Lala hidup damai tanpa ada keributan?

__ADS_1


Lala semakin tidak mau makan, usahanya membujuk Kevin agar mau memulangkan dia ke negara asalnya gagal.


Perasaan dongkol tak bisa hilang dari hatinya karena Kevin melarang Lala menghubungi orang-orang terdekatnya, termasuk Johan .


Dia merasa seperti dikubur, terpenjara di negara orang, tidak bisa berbuat apa-apa, dia yang tidak memiliki kekuasaan harus selalu kalah dengan arogansi Kevin yang selalu bisa melakukan apa saja terhadapnya.


Makanan yang tadi telah diambilkan Kevin ke piring Lala sama sekali belum disentuh, bibirnya mengerucut melihat piring di depannya.


"Nona, apa masih mual?" ucap sang pelayan meletakan segelas minuman jahe hangat di sebelah piring Lala.


Inem merasa iba melihat Lala yang selalu terlihat tertekan, terlebih karena Inem memergoki Lala yang sering bersembunyi-bunyi setiap menangis. Menurut Inem, Lala tidak bahagia sejak awal di bawa Tuannya ke rumah ini.


"Terimakasih Inem. Mualnya telah berkurang berkat kamu," jawab Lala dengan senyum tipis.


Kamu tidak apa-apa kan, sayang? kenapa kamu jadi sering marah?.Batin Lala terus memikirkan Kevin, keributan ini bukanlah yang diinginkan dirinya.


"Nona, mau dipijat? saya jago mijat. Inem punya sertifikat terlatih, lalu Inem pernah juara mijat. Kalau Nona mau dipijat, syaratnya harus makan dulu," tawar Inem.


"Harus pakai syarat?" keluh Lala, sekujur badannya memang pegal dan terasa capek, pijatan pasti bisa meringankannya rasa tidak enak ditubuhnya.


"Nona, makan sarapannya, ini minggu-minggu penting untuk perkembangan kecerdasan janin, loh Nona," ucap Inem.


"Terimakasih Inem, tapi saya maunya makan nasi goreng buatan kamu," lirih Lala, dia tidak tahu kenapa pagi ini jadi sangat menginginkan nasi goreng tradisional. Lala bisa menghabiskan tiga piring setiap menyantap nasi goreng buatan Inem, nasi gorengnya terlihat menggoda sekali di benak pikirannya, dia hampir ngences hanya dengan membayangkannya saja.


Namun sejak kesukaanya itu ketahuan Kevin, Lala dilarang keras makan nasi goreng, katanya terlalu banyak minyak dan tidak sehat. Jadi Lala harus bersembunyi-sembunyi untuk bisa memenuhi keinginannya menyantap nasi goreng.


...**...


Mobil berlalu-lalang di jalan depan rumah, Lala berdiri di depan jendela kamar di lantai dua. Ia terus melihat Pohon-pohon tinggi menjulang di halaman depan rumah yang membuatnya terlihat sangat rimbun dan asri.


Setiap Lala pulang dan pergi melewati Clarkson Road ini, semua rumah dari luar terlihat sama. Bingkai jendelanya putih dan dindingnya alami bata merah. Kevin sering mengajaknya keluar, mengelilingi kota Cambridge, hampir semua bangunan berdinding bata.


Rumah yang ditinggalinya bersama Kevin dari luarnya terlihat rumah bata biasa ... bahkan tampak kuno.


Bagian dalam rumah justru kesan modern dan minimalis, dengan hiasan seni tinggi. Vas bunga antik, jam besar dengan bandul, dan banyak lukisan indah berbeda ukuran di setiap ruangan.


Kamar Lala bercat kuning gading, karpet dan sofa memiliki warna merah senada, tirainya menggunakan motif bunga kecil dengan warna coklat membuat suasananya semakin terasa hommy.


Kamar mandi di kamarnya, dengan bathtub besar Ergonomic corner bathtub with whirlpool , bathtub untuk jacuzzi sekaligus fitur untuk memutar musik.


Kamar mandi dengan jendela kaca yang besar dan tinggi, sehingga saat siang kamar mandinya terang karena cahaya alami dari luar. Namun aktifitas di kamar mandi tidak akan terlihat dari luar saat siang karena kaca kamar mandi menggunakan riben.


Saat siang Lala biasa berendam air hangat sekaligus dipijat oleh semburan air pada punggungnya, hal ini bisa mengurangi stressnya. Sambil berendam biasanya dia memandangi halaman-belakang yang luas. Ada lapangan, kolam renang dan jembatan kecil di halaman belakang, pagar-rumput yang tinggi terawat mengelilingi setiap sisi halaman.


Rumah besar ini hanya ada pelayan. Lala semakin kesepian, terutama saat Kevin kuliah. Kesepian semakin membuatnya frustasi. Lala yang dulu biasa sibuk kerja, kini leyeh-leyeh tidak jelas.


"Aku terus makan dan tidur di rumah yang sesepi ini. Kenapa kamu kejam sekali, sayang. Apa kamu menganggap ku boneka yang tidak memiliki perasaan? Padahal kamu sendiri benci kesepian, Kevin." monolog Lala.


"Kenapa ponselmu mati, ayah."


Lala sesenggukan menahan rindu pada negara dan semua tentangnya.


"Bella dimana, apa aku melakukan kesalahan atau dia lagi ada masalah? tapi dia tidak bercerita, terakhir ketemu juga biasa saja, apa kamu tidak mencari ku Bell? aku khawatir sekaligus kangen. Aku hamil, Bell"


Lala memegangi perut memandanginya dengan banyak pertanyaan.


Dirinya sudah berusaha termasuk meminta tolong kepada Inem. Namun, Kevin mengawasinya dengan ketat, Inem yang ketahuan meminjamkan hp, justru Inem di hukum cambuk, sampai badan Inem merah-merah, Lala protes kepada pacarnya itu, tapi kembali lagi dia tak punya kuasa dengan semua yang dilakukan Kevin.

__ADS_1


Sejak saat itu Lala berhati-hati, tidak mau membuat orang lain terluka.


"Johann, aku nggak bisa, aku nggak mampu, jangan menghilang setelah apa yang kamu lakukan! apa kamu nggak ada niatan untuk menjelaskannya padaku ya? tega sekali kamu Joo."


"Nona," lnem kaget dengan tangisan Lala yang memilukan. Dia berlari menghampiri Lala yang duduk tak berdaya di lantai, setelah meletakan kotak nasi goreng yang sempat di sembunyikan di dalam tumpukan baju yang dibawanya.


Hal itu Inem lakukan supaya tidak terlihat cctv. Karena hanya kamar dan bagian dapur yang tidak diberi cctv, jadi Inem masih bisa menyiapkan nasi goreng yang sangat diinginkan Lala.


...**...


Martini Group adalah Perusahaan Kontruksi yang mengelola proyek-proyek swasta dan lingkungan, lalu memperluas ke ranah pembangunan jalan, jembatan, infrastruktur penerbangan dan maritim, kelistrikan, gedung dan real estate sampai jalan tol. Sang CEO yang dikenal sangat Berwibawa sangat disegani bawahannya, dialah Luca Martini. Seorang anak pertama yang selalu ingin membuat papanya bahagia.


"Gimana Luca? sudah melamar Lala?" tanya Anton.


"Lala?" tanya Luca balik.


Anak dan bapak itu saling berpandangan di meja kerja Luca. Sang anak menatap papanya, berniat mencari alasan karena belakangan dia selalu sibuk dengan proyeknya, terutama karena karena Ia harus menyiapkan kepergiannya ke Cambridge untuk menemui arsitek mudah ternama sekaligus mampir menengok Kevin.


"Luca," geram Anton dengan penuh penekanan.


"Papa, kerjaan Luca banyak."


"Mau sampai kapan? sampai mati mau melajang?"


"Ih, Papah kenapa menyumpahi Luca?"


"Jadi mana hasilnya? mengapa kau tak pernah membawa Lala lagi ke rumah?"


"Pah, sepertinya adikku yang paling dingin itu beneran pacaran sama Lala."


"Papa tidak mau tahu, Luca!"


"Bila mereka pacaran, seharusnya Luca mengalah saja kan?"


"Kamu mengecewakan Papa, Luca," ucap Anton tiba-tiba meringis memegangi dadanya.


"Papa," Luca terkejut dan langsung beranjak dari duduknya, mengambil obat jantung papanya di lemari dekat situ, dan Luca langsung memberi obat ke mulut Papanya dan gelas d tangan kirinya. "Minum..."


Anton meminum obatnya, dia mengatur nafasnya."Jangan kau biarkan Lala jatuh ke tangan adikmu, pisahkan mereka dan cepat nikahi Lala."


"Papa, perhatikan jantung Papa, apa sebegitunya Papa menginginkan, Lala?"


"Dimana sekarang Lala? Papa mau menemuinya," tanya Anton.


bersambung . . .


____________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


Simak BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2