Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 174 : MENGINAP


__ADS_3

Richie menoleh ke kanan, terlihat Kevin mendekat. Begitupun Richie mendekatkan telinganya "apa?"


Jantung Richie bergemuruh, sebab Kevin adalah orang penting dalam hidupnya, tidak ingin hubungannya menjadi berantakan. Selain kepandaian Kevin mengelola pemutaran uang Fraksi Utara, dia menganggap Kevin sudah menjadi adiknya sendiri.


Chemistry seolah dia telah terhubung lama dengan Kevin yang belum pernah Richie temukan pada orang lain.


Sikap Kevin sangat berbeda dengan kebanyakan orang. Kevin yang dingin, manis, tapi di dalamnya memendam luka yang begitu banyak, atau karena hal itu yang membuat dirinya jadi berempati kepada Kevin.


Terlepas dari itu semua, Richie mengagumi tanggung jawab Kevin pada segala hal. Karena itu, dia mempercayakan Lala menikah dengannya.


Namun, karena rasa terlalu bertanggung jawab, sepertinya Kevin terlalu mempedulikan Bella. Atau itu hanya sekadar demi putranya bersama Bella.


Itu sangat membuat dada Richie terasa terbakar sampai sekarang. Karena jika tahu dari awal akan seperti itu, Richie akan menjaga wanita itu sendiri.


Atau ini takdir yang harus kami lewati?


Begitu Richie merasa terlena oleh kekaguman pada Kevin yang mana terlihat serius mengejar semua ambisi besar, selalu konsisten pada impian, pekerjaan, termasuk dengan apa yang semua Richie ajarkan, diterapkan pria yang selalu kesepian itu.


Tiada orang yang tahu, bila Kevin selalu merasa kesepian karena Kevin sering mengeluhkan itu padanya.


Kevin yang merasa sedikit terobati oleh keberadaan Lala disampingnya saat itu.


Tapi sekarang, sepertinya Kevin akan lebih terpuruk lagi.


Karena Kesepian itu, mungkin kami jadi dekat. Sulit menggambarkan itu, kami jadi saling membutuhkan. Dan saling percaya.


Namun, belakangan ini, kepercayaan diantara kami sepertinya hilang terurai, dan hubungan kami berantakan.


"Kau mengurung keponakan mendiang nyonya Vira? apa kau tak bermaksud menjelaskan pada mereka," ujar Kevin datar.


Richie menoleh lagi dan lama beradu tatap dengan netra deep blue Kevin.


Kevin, Saya tahu arti tatapan yang artinya kau mengetahui sesuatu. Bagaimana jika kamu tahu saya dekat dengan Lala? apakah hubungan kita makin memburuk?


Bahkan sampai detik ini aku juga merindukan pelukanmu, Kevin. Ha..ha..ha..


Ini lucu bukan? Apa yang sekarang terjadi pada kami bertiga? Ini kacau.


Richie menelan saliva, rasa sayang kepada Kevin juga dalam.


Ia memutar bola mata ke kiri, mencoba berpikir sejenak. Dalam hidupnya, Lala dan Kevin itu sama-sama penting.


"Richie?"


Richie kembali menatap dokumen, tapi pikirannya tidak disana. "Ya, saya akan menjelaskan pada mereka. Apa kamu punya waktu setelah ini selesai, Kevin?"

__ADS_1


Kevin menatap dingin ke meja bundar. "Iya ada, bukankah saya selalu punya waktu untuk mu," sahut Kevin dingin sambil menoleh ke kiri, terlihat Richie menyembunyikan sesuatu.


Aku tak bisa berkomentar saat kau diam-diam menemui mantan istriku.


Apa karena ini, kau meminta surat cerai Lala untuk dikirimkan ke tempat mu.


Atau selama ini memang kau yang membantu Lala menghilang tanpa jejak? masuk diakal, siapa lagi yang bisa melakukan ini? ya pasti kamu, Richie. Bukankah dulu kau yang selalu membantunya.


Seharusnya dari awal memang kamu yang harus saya curigai kan?


Seharusnya dari awal saya tidak membawa Lala ke Eropa, seharusnya dari awal saya tidak mendengarkan mu, dan mengenalkan mu dan tidak menceritakan padamu tentang Lala.


Meeting berlangsung lama selama beberapa jam. Manager keuangan Sanla Pictures, menyampaikan laporan di depan lima ketua.


Walau sang manager sudah terbiasa dengan intimidasi dari Kevin. Tetap saja, ketakutannya bertambah 100x lipat, sulit bernafas dan berkeringat dingin, rasanya seperti menghadapi malaikat maut saat di depan ke lima orang itu.


Terutama bila sampai dilirik 'The Bos' Richie, itu membuatnya tertekan, melihat mata The Bos seperti menghadang anak peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan The Bos paling tidak suka bila ada yang mengobrol dengannya tanpa kontak mata. Lelaki itu tentu akan menyuruh asistennya menembak kedua mata orang yang berani menghindari tatapannya.


Bersyukur aku mengikuti bos Kevin, semenakut-nakutkan itu bos Kevin masih peduli dan memberi kelonggaran.


Pertemuan, itu di tahap akhir. Masing- masing asisten membereskan dokumen sang ketua.


Meja itu perlahan turun ke -lantai yang terbuka- dan dari dalam lubang itu ... meja lain keluar dalam bentuk yang lebih kecil.


Beberapa orang masuk membawa lima gelas, sampanye di dalam ember es dan meletakannya di meja tadi.


Richie membuka sampanye sebagai bentuk penghormatan dan menuangkan ke gelas empat ketua termasuk Kevin yang telah mendekatkan gelas.


Mereka semua bersulam, kembali berbincang-bincang ringan. Namun, tidak berjalan mulus ketika suasana mulai memanas.


"Dimana Tuan Mike? mengapa dia tidak hadir?" tanya seorang berumur 43 tahun.


Richie menoleh pada Kevin, saling berpandangan memikirkan hal yang sama.


"Saya sedang menghukumnya, dia menyerang markas saya."


"Tuan Mike sungguh lancang melawan Anda, pantaslah dia mendapat hukuman," sahut lelaki itu.


"Saya mendengar dia mencari dalang di balik kematian kakaknya, bukankah seharusnya ini tidak terjadi di wilayah Anda, Tuan Richie? apa karena itu dia menyerang markas?" tanya lelaki lain.


"Apa anda mencurigai saya? Tuan David?"tanya Richie dengan suara penuh penekanan.


"Sampai sekarang tiada jejak dan itu sangat janggal. Bukankah, ini di arena Anda, Tuan Richie? Bahkan Anda tidak bisa menjamin keselamatan keluarga anggota inti?" tanya David lagi, merasa ada yang di sembunyikan sang ketua.

__ADS_1


"Apakah jika semua orang mati karena keteledoran mereka sendiri. Lantas kau semudah itu melemparkan kepada The Bos? lancang sekali Anda, Tuan David. Anda baru terhubung dengan kami belum ada lima tahun. Lihatlah sikap Tuan David, apa betul Anda sudah membaca seluruh peraturan?" tantang Kevin dengan penuh penekanan dan sorot mata tajam.


Richie menyesap sampanye, dia menahan senyum saat mendengar itu. Ternyata Kevin masih mempedulikan hubungannya.


"Mengapa Anda berbicara seperti itu pada saya, Tuan Saint? saya hanya mengingatkan tentang hak yang kami dapatkan, di wilayah ini untuk tetap terlindungi?"


"Oh, jadi anda keberatan dengan itu, Tuan David?" geram Richie menatap tajam dan satu sudut bibirnya terangkat, membuat dua orang ketua lain terlihat gemetar dan berkeringat dingin di kening.


"Jelas saya keberatan, bisa jadi di masa depan hal itu terjadi pada keluarga saya."


Richie menarik nafas dalam-dalam berulang kali, menjaga emosinya, "Itu tidak akan terjadi, Tuan David. Kami saling melindungi, percayalah. Anda bisa membuktikannya."


Hari telah malam, Richie menyuruh Damar pulang, dia memasuki mobil Kevin dan menuju ke kediaman Kevin. Dalam perjalan mereka hanya diam.


Parker hanya menatap dua orang itu dari spion. Duduk dalam keheningan di antara mereka bagai duduk diantara dua beruang yang tengah berperang.


Richie memandangi jalan dimana dulu dilalui taksi Lala, saat wanita itu pergi dari daratan eropa.


Sesampai di kediaman Kevin, hari telah sangat larut malam. Seorang pelayan membukakan pintu mobil untuk Richie.


Richie turun, dan berdiri terpaku, menatap gedung putih yang tersorot lampu kuning. Sudah berapa tahun lamanya dia tidak kemari malam-malam. Hatinya berdesir, merasakan kerinduan teramat dalam dengan kehangatan rumah ini.


Ia melangkah perlahan menatap punggung Kevin yang berjalan tegap. Sesampai di ruang tamu, Richie melihat foto keluarga utuh dalam bingkai besar, Lala dan Kevin bersama tiga putrinya. Hati Richie berdenyut, tidak ada yang berubah dari tempat itu. Disana berjajar banyak foto, dan foto Lala utuh disana.


"Tidurlah, ini sudah larut malam."


Terdengar Kevin berbicara dengan seseorang dan Richie mempercepat langkahnya memasuki ruang keluarga yang nyala lampunya redup.


"Ivy?"


Richie melihat gadis itu yang terlihat murung di depan tv menyala, dengan tatapan kosong tak mempedulikan bahkan tak mau menatap Kevin.


Ada apa mereka? sedang bertengkar?


Richie membelalakan mata saat Kevin menggendong Ivy, berlalu ke arah lift.


"Silahkan duduk, Tuan...?" ujar kepala Pelayan yang melihat Richie termenung dan terlihat melebarkan mata.


Richie beralih melirik lelaki tua di sampingnya,"Ivy kenapa?"


Lelaki tua itu dengan dua tangan saling bertumpu di depan perutnya, "nona Ivy, merindukan nyonya Lala, Tuan. Apa anda ingin minum kopi atau teh? atau ingin mandi? mari saya antar ke kamar?"


Richie terdiam, tadinya dia mau ngobrol dengan Ivy saat dirumah ini, tapi mengetahui kondisi Ivy seperti ini, akan jadi sulit.


"Tuan?"

__ADS_1


"Ya, boleh, bawa saya ke kamar."


__ADS_2