
"Yaudah kita nikah saja," kata Richie. Dia kelepasan ngomong, dan kembali melihat bubur, lalu mengaduknya.
Lala melewati Richie tak menggubris omongan Richie. Dia mulai cuci piring dan botol susu, "cepat anda mandi, habis ini kita ke tempat pak RT."
"kita mau nikah ditempat pak RT?"
Lala diam saja tak menjawab, dia cepat-cepat menyelesaikan cuciannya, lalu merebus botol susu.
"Kenapa itu direbus?" tanya Richie yang baru mematikan kompor yang memasak bubur.
"Biar kumannya mati." Lala ke samping rumah mengambil baju Richie yang telah kering, dia kembali lagi mulai menggosok kemeja Richie.
"Kenapa tidak beli alat penyeteril botol?"
"Kita harus hidup hemat, Tuan Richie."
"Apa mau saya belikan?"
"Dengan apa? katanya kecopetan?" tanya Lala , menoleh ke kanan menatap lekat-lekat mata Richie.
"Ah iya iya benar ... mungkin saya perlu cari pekerjaan disini, apa ada kerjaan nganggur?"
Lala menggantung baju pada hanger dan meletakan di dinding kamar mandi, "sudah cepat mandi, aku tak mau kedamaianku diganggu isu karena aku memasukan lelaki. Kita harus lebih cepat ketemu pak RT."
Richie memasuki kamar mandi tapi keluar lagi, "apa ada ****** ***** pria?"
"Anda kira ini toko? pakai saja lagi, nanti jam sepuluh aku menyuruh orang membelinya."
"Jadi saya harus pakai ini lagi?" tanya Richie pada Lala yang mematikan kompor dan memindahkan botol-botol.
"Hu'um." Lala menyiapkan makanan di meja makan. Tak berselang lama Vino bangun dan Lala menggendongnya. Anaknya itu selalu manja sekali saat baru bangun tidur. Diberikan bebek-bebekan pada Vino, "mandi yok jagoan ibu."
"Ca.. ta cah caa," celoteh Vino dengan bahasa lucunya dengan bibir manyun, dia minta turun, dan Lala membiarkan Vino main di lantai beralas empuk. Dia mulai berdiri dan belajar berjalan lagi dengan terus berceloteh, hal itu dilihat Richie yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Richie mendekatinya dan duduk di sebelah Lala, membuat Lala bangkit menjauh dari Richie.
"Hey boy..." sapa Richie memainkan tangannya di depan Vino.
"Bpa..pha .. pha.bha.."ucap Vino menghampiri Richie, terjatuh dan bangun lagi meraih tangan Richie.
Richie mendekapnya, bagai boneka tapi begitu kecil dan hangat. Seumur hidupnya ini Richie baru memegang anak kecil, ternyata begitu menyenangkan membuat Richie melupakan semuanya dan terhanyut dalam dunia bocah cilik dalam rengkuhannya.
Lala membawa panci berisi air panas bekas merebus botol, dan di tuangkan ke ember untuk mandi Vino. Dia kembali, mendapati Richie tengah mencium pipi Vino dan Vino terus berceloteh memangil papah.
Lala menepis keresahan hatinya, dia berjanji akan jadi ibu sekaligus ayah untuk putranya.
"Keringkan rambut Anda, itu bisa masuk angin," kata Lala saat berjongkok mengambil alih Vino dari gendong Richie.
"Apa anda mengkhawatirkan saya?"
"Bukan begitu, kan bila nanti sakit, saya yang repot."
"Bhpaaa pa ba!" seru Vino tangannya berusaha menggapai wajah Richie, tapi di tangkap tangan Lala. Wanita itu menggoyang-goyangkan tangan mungil Vino, "om, ini om Richie, bukan papah," kata Lala bertatapan dengan Vino.
"Bhpaaa pa ba!"
Lala berdiri meninggalkan Richie dan memandikan Vino.
Setelah drama pagi melihat Lala yang duduk di bangku kamar mandi untuk memandikan Vino dan sarapan bersama. Kemudian mereka ke tempat pak RT jam 7 pagi, itupun suasana sudah ramai karena persiapan Launcing kolam renang jam 10 pagi.
Orang-orang menyapa Lala dan Vino, mata para ibu-ibu berseri-seri melihat lelaki ganteng macho, membuat para bapak-bapak mengingatkan istri mereka agar ingat umur.
Di depan Pak RT dan kebetulan ada wakil ketua RT sekaligus sekertaris RT, lengkap sudah aparatur di tempat tinggalnya. Lalu Lala mengutarakan maksudnya.
"Jadi, Bapak kehilangan dompet dan hape lalu tidak bisa kembali ke negaranya?"
"Saya belum menikah masih perjaka, jangan dipanggil bapak, apa saya terlihat tua?" tanya Richie tak terima di sambut gelak tawa wakil dan sekertaris.
__ADS_1
"Ah maafkan teman saya, pak RT," kata Lala.
"Tidak apa-apa wajar,"jawab pak RT.
"Jadi, saya boleh tinggal di kampung ini? saya tak punya apa-apa, tanpa identitas saya tak bisa kembali ke negara saya," kata Richie bersungguh-sungguh
"Sebagai Ketua RT, saya memberi tahu ini, tentu tidak boleh tinggal satu rumah tanpa ikatan perkawinan. Tapi kami memiliki solusi, ada rumah kosong tak ditempati, sang pemilik hanya minta di jaga saja rumahnya tanpa meminta biaya sewa. Jadi bagaimana apa anda menerima ini?"
"Tak apa, saya mau menempati rumah itu, yang penting saya bisa tinggal sementara."
Ketua RT, wakil dan sekertaris saling berpandangan dan manggut-manggut.
"Tolong jangan mencoreng nama baik kampung ini. Selamat datang di kampung berseri, Bapak Richie," kata pak RT menjabat tangan Richie. "Ah mas Richie," kata pak RT tak enak hati saat melihat wajah Richie yang cemberut saat di panggil bapak.
Mereka saling berjabat tangan. Sementara Lala menggendong Vino, pamit pada mereka dan berjalan bersama Richie menemui para tetangganya dan mengenalkan Richie.
Para warga senang, kedatangan bule tinggi, putih, gagah. Emak-emak berebut tangan Richie, Lala tersenyum melihat emak-emak yang kegirangan sementara bapak-bapak agak cemberut karena Richie mengambil perhatian emak-emak.
Acara launching dimulai, setelah lala memberi kata sambutan, ucapan terimakasih dan memotong pita. 'Boom Water Park' pun resmi di buka disambut tepuk tangan dan riuhan para warga dan pengunjung, diperkirakan ada 500 orang untuk pagi ini hadir, mereka duduk di kursi.
Lala memotong pucuk tumpeng dan diberikan pada Richie yang duduk paling depan, dan menyilakan Richie untuk berbicara sepatah dua patah, lelaki yang tak siap itu sedikit gelagapan tapi tetap lancar disambut riuh tepukan para undangan dan pengunjung.
Orang-orang mulai sibuk makan prasmanan. Richie menggendong Vino saat Lala makan sate lontong.
"Selamat untuk launchingnya, semoga sukses nyonya Lala."
Lala menghentikan sejenak suapan sate. Dia mendongak dan menelisik mata Richie, "Yah terimakasih doanya, Tuan Richie. Jadi, apa anda mau jadi pegawai saya? anda butuh uang untuk makan kan?" tanya Lala. Dia tak peduli latar belakang Richie yang sebenarnya Lala paham saking mudahnya Richie bisa telepon markas. Tapi bila Richie maunya seperti ini, Lala tak mau ikut campur selama Richie tidak mengganggunya.
"Jadi apa pekerjaan saya?"
"Penjaga kolam renang, pelatih renang juga sangat bagus. Pengunjung pasti banyak mendaftar." Lala tersenyum, mulai memikirkan pergerakan pundi-pundi recehnya. Dia tahu betul warga sini sangat menggila dengan tubuh atletis seperti tubuh Richie. 'Aku seperti menjual Richie' Lala terkikik disambut kerutan dalam di kening Richie.
Richie sadar jalan pikiran Lala, walaupun dirinya hilang ingatan bukan berati otaknya ikut bobrok, dia meraih sate dari piring Lala dan langsung memakannya. "Oke tak masalah apapun itu."
__ADS_1
"Bpah pah pah!" seru Vino mau merebut sate dari tangan Richie.
"Itu gak boleh sayang," kata Lala meraih tangan Vino yang menepuk-nepuk pipi Richie.