Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 97 : Mengorok


__ADS_3

"Hahh"


Johan bernafas lagi dengan sedikit mata terbuka membuat Lala ternganga dan jantungnya berdebar. Dia memiringkan tubuh Johan...


“Bajingan ! mana mereka!“ kata lala pada Richie.


“Pegang janjimu Nyonya saint.”


“Apapun sialan!” geram Lala.


Satu menit kemudian anak buah Richie membawa dokter masuk beserta ranjang pasien. Mereka memindahkan Johan ke ranjang dengan gerak sigap memasang selang oksigen. Mereka mendorong cepat ranjang. Lala tak melepaskan pandangannya dari wajah Johan, dadanya begitu ngilu, dia berjalan ceoat mengikuti mereka. Namun, tangannya tahan Richie, “Ikut saya.”


...🍀...


Di perbatasan hutan, Kevin dengan dada bergemuruh beranjak dari kursi melewati pecahan gelas yang telah tercecer di lantai kayu.


Di ruang tamu, dia duduk menggelungkan kemeja sesikut sambil terus mendengar ocehan Parker. Dia mengenakan kaus kaki di tengah pikirannya yang kalut.


"Tuan, jika Anda masuk, bukankah itu bahaya," kata Parker membujuk Kevin yang tengah memakai sepatu. Dia khawatir dengan keselamatan tuannya.


"Kau terus meragukan ku, ya," sahutnya dingin. Kevin memakluminya, karena Parker tak tahu kedekatan antara dirinya dengan Richie.


Parker memasangkan jam di tangan kiri Kevin,"amm-pun, Tuan."


Setelah memberikan ponsel dan dompet sang majikan, parker membukakan pintu. Dia hanya takut bila Tuannya terluka di markas Richie.


Pintu bagasi motorhomes telah terbuka, ferarri itu keluar dari bagasi.


Pandangan Kevin begitu dingin, hatinya sulit dikendalikan.


Breng... Brengg ... Breng...


Dalam posisi netral, pedal gas ditekan penuh berulang-ulang, raungan mobil menggambarkan kemarahan di hatinya.


Tuas digeser, dengan hentakan kuat, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi melewati hutan. Sesampai di depan pintu gerbang, kaca mobil di buka, tangannya mengulur ke arah kamera di dekatnya. Dia mengepal, menunjukan cincin. Setelah terverifikasi, gerbang itupun terbuka.


Kevin maju beberapa meter, dan mereka mulai memindai mobilnya. Setelah mereka menyelesaikan tugasnya , Kevin dibiarkan masuk. Cukup jauh melewati jalan itu ke markas ada dua puluh kilo, namun dengan mobil keluaran terbarunya dia telah sampai beberapa menit.


Di memarkirkan mobilnya, segerombolan preman-preman bertato sudah menyambutnya.


Karena mereka sudah hafal, mereka membiarkan Kevin masuk markas ditemani satu orang yang kenal betul siapa Kevin.


"Tuan Richie sedang tidak mau di ganggu," kata orang itu.


"Hey istriku tengah bersamanya, dimana dia? atau saya akan bawa potongan kepala orangtuamu kemari," desak Kevin.


"Am-mpun Tuan Saint, baik," kata orang itu berjalan lebih cepat.


Orang itu telah tiba di sebuah ruangan, saat terbuka Kevin tersentak melihat Richie yang tengah menggenggam tangan istrinya, Lala tengah ditutup matanya. Yang lebih membuat geram Kevin, karena apa yang di lakukan Richie.

__ADS_1


Richie hanya melirik Kevin, dia kembali merem melek saat wanita yang tengah jongkok itu tengah memanjakan kejantanannya, sementara tangan Richie tak melepaskan diri dari genggaman Lala.


Kevin duduk di sebelah Lala dan meraih tangan Lala dari genggaman Richie. Richie memfokuskan pikirannya, sementara wanita yang sibuk di kejantanan Richie tak terganggu dengan kedatangan Kevin. Ruangan itu cukup redup.


"Mmm Kevin?" tanya Lala meraba-raba tangan yang di yakini suaminya, dia hafal kehangatan itu, dan instingnya. Lala akan membuka penutup matanya namun Kevin menahannya, "Kenapa sayang? kenapa aku tak boleh membukannya."


"Diam dulu, Babe," kata Kevin menahan dua tangan Lala.


"Ya, mengapa kalian saling diam?" tanya Lala yang tak tahu kondisinya. Richie hanya meminta menggenggam tangannya di tengah musik romantis, dia bahkan tak tau apa yang tengah terjadi sampai Kevin sudah berada disini, 'apa ini kejutan?' batin Lala.


Richie melepas gejolaknya, kepalanya terasa enteng setelah hari yang membosankan ini. Tangannya menyuruh wanita yang berpakaian serba mini itu minggir. Richie kembali menaikan celana, dan resletingnya. Tangannya mengelap pada tisu basah.


Setah wanita itu pergi dan pintu tertutup. Richie menuangkan wine. Satu diberikan ke Kevin dan satu untuknya. Richie menyesapnya, setelah Richie dan Kevin bertatapan.


"Anda bisa membukanya, Nyonya Saint."


Lala membuka penutup matanya, dia bingung melihat dua orang yang sama-sama bersikap dingin.


"Bisakah kita pulang, membawa Johan?" tanya Lala pada Kevin yang tengah menyesap wine.


"Biar Richie mengurus Johan, Babe."


"Tapi____"


"Percayalah, Johan akan baik-baik saja," kata Kevin mengelus kepala sang istri.


"Nyonya Saint, anda harus disini selama seminggu."


"Apa!? tidak! tidak mau!" sahut Lala, tapi pandangannya menatap Kevin, mencoba minta bantuan sang suami.


"Kau harus melatih bahasamu, dan para istri ketua ... besok akan datang kemari, kau wajib hadir disana. Jadi, aku yang akan mendampingi mu, apalagi ... kau tahu ... Johan telah membunuh keponakan Nyonya Vira, jadi kamu harus lihat betapa sedihnya wajah nyonya Vira karena mayat keponakannya belum ditemukan, kau bisa tanyakan pada suami Nyonya Saint dimana suamimu menyembunyikan mayatnya."


"Richie, tidak seharusnya kau katakan itu pada istriku," kata Kevin.


"Oh begitu? kalian yang membuat masalah, mengapa saya yang repot. Kalian harus tahu, jika suami nyonya Vira terus mendesak saya untuk menemukan pelakunya."


"Kevin, kamu menyembunyikan mayat?" tanya Lala melotot.


Richie tertawa.


"Lihat itulah suami mu, nyonya Saint. Anda harus terbiasa dengan itu."


"Diam kau Richie."


"Sayang!" bentak Lala pada Kevin.


"Saya hanya bermaksud melindungi Johan dan menghilangkan jejaknya."


"Apa Johan dalam bahaya? apa mereka akan menangkap Johan?" tanya Lala pada suaminya.

__ADS_1


"Saya tak bisa memastikan itu, Babe. Untuk sejauh ini, sepertinya Richie lebih tau, dia yang dekat dengan keluarga Nyonya Vira."


DEG


"Nyonya Vira itu wanita paling galak, suaminya bahkan takut dengan dia. Apa siap menghadapinya, Nyonya Saint? Ah Anda harus mulai belajar berbohong, tapi hati-hati karena Nyonya Vira wanita cerdas, mungkin Anda dalam bahaya Nyonya Saint."


"Anda terlalu menakut-nakuti saya, Tuan Richie, ku mohon padamu agar Johan tetap baik-baik saja."


"Wo.. wo.. apa anda tak takut suami anda cemburu, nyonya Saint? mengapa anda begitu terang-terangan mengkhawatirkan lelaki lain?" tanya Richie, sesekali melirik Kevin yang yang memasang raut masam.


"Richie, pinjamkan saya kamar."


"Masih siang, apa kau mau bulan madu, sialan!" decak Richie.


"Saya belum tidur dari semalam."


Kevin menarik tangan Lala, tak mempedulikan jawaban Richie.


"Hey ! bahkan saya belum memberikan ijin, Kevin! kalian menyebalkan! kalian bahagia setelah melemparkan masalah besar pada saya, lihat kau berhutang banyak padaku Kevin, Kau juga nyonya Saint!"


Lala mengikuti Kevin, meninggalkan Richie yang terlihat kesal.


...🍀🍀...


Setiba di kamar yang biasa Kevin gunakan, Lala berlari ke kamar mandi, dia sudah tak tahan.


Dia membersihkan badannya yang terkena banyak darah Johan. Lala termenung dia tak yakin apa flek di celananya karena darah Johan ... atau si kembar, ah tidak.


Lala menyabuni perutnya, "Nak, kamu tidak apa-apa kan? maaf ini hari yang sulit."


Setelah mandi cukup lama, dia mengeringkan rambutnya. Namun, dia tak memiliki baju ganti. Lala keluar dari kamar mengenakan jubah mandi.


Dilihat Kevin terbaring tanpa melepas sepatunya, suaminya terlihat lelah. Kevin sangat terbatas dalam berbicara sejak kepindahannya ke Cambridge.


Sepatu Kevin di lepaskan Lala pelan-pelan, berikut kaus kakinya.


Dipinggirkan sepatu sang suami sembari menyambar lotion gel di kamar mandi.


Currrr!


Lala membawa segelas penuh air putih itu dan duduk di pinggir bed, dia meneguk habis air putihnya , dan meletakan gelas di nakas dekatnya.


Dia mendekati wajah sang suami yang tidur mengorok. "Astaga, luar biasa ... apa ada yang tahu suamiku mengorok," kata Lala wajahnya menghangat dan sedikit tertawa melihat wajah polos dan menawan Kevin.


Hati Lala sedikit berbunga karena suara mengorok sang suami, tangan Lala membalurkan lotion gel pada kaki Kevin. Dia memijatnya lembut, di sepanjang pergelangan kaki, terutama telapak kaki dan punggung kaki.


Setidaknya Lala sudah tahu teknik pijat saat dulu dia di kampung, dia yang sering di mintai tolong oleh ibu penjual sayur di kampung. Saat itu dia butuh banyak pemasukan, 'apa kabar si ibu ya? dia yang menolongku bahkan saat warga kampung mengusir dan memukulku sebelum kedatangan mas Luca.'


Lala melihat jam sebelas, "pagi ini sangat buruk, semoga Johan baik-baik..."

__ADS_1


__ADS_2