
š¤POV Richieā¬ļø
Malam itu aku belum bisa tidur, aku enggan tidur, karena itu aku terus meminum epresso.
Aku tidak mau tidur, karena jika sampai aku terpejam lagi-lagi mimpi aneh yang membuat kepala ku sakit.
Aku memindahkan pantat ke kursi roda, menuju Laci terdekat. Aku membuka satu persatu rak Laci. Isinya hanya buku-buku baca cerita dongeng. "Siapa yang menyimpan buku-buku dongeng anak kecil? sudah lusuh lagi."
Terdapat diary kecil bersampul coklat di ujung laci, aku membuka lembar pertama, "tulisannya jelek sekali, buku siapa ini? Poo poo ..."
"Selamat malam, Tuan Richie, ada yang bisa Poo Poo lakukan?" suara itu tiba-tiba menggema di ruangan, membuatku memutar kursi rodanya, mengamati setiap sudut ruangan. "Siapa itu?"
"Saya Poo Poo, asisten pintar anda, Tuan Richie."
"Apa kamu robot?"
"Saya lebih dari segalanya."
"Bisa kah kau menceritakan siapa aku?"
Tiba-Tiba muncul video hologram, robot atau apa namanya itu menceritakan semua sejarah ku dari kecil, bersama foto-foto anak kecil dan semua keluargaku yang telah mati terbunuh sejak aku masih bayi.
Dari tengah malam sampai pagi menjelang robot itu terus menunjukan siapa aku, siapa bawahan ku, siapa orang terdekatku, sampai aku melihat video saat aku terluka.
"Dimana Kevin?" tanyaku yang sudah diliputi marah, mengapa lelaki itu sampai berniat menghilangkan nyawaku bila dia orang terdekatku.
"Kevin di ruang bawah tanah, Tuan,"jawab Poo Poo.
TOK!TOK!TOK!
Pak Pram masuk, dan video hologram itu langsung menghilang.
"Pak Pram? dimana wanita itu?" kataku pada kepala pelayan yang akan mengisi bathtube. Lelaki tua itu berjalan menghampiri, "Nyonya Saint, tengah sibuk memasak untuk Anda, Tuan."
"Cih! apa dia tidak meracuniku? kau lihat suaminya saja mau membunuhku. Usir wanita itu dari tempat ini!"
"Tuan, anda pernah berkata. Semarah-marahnya Anda, saya harus tetap mempertahankan nyonya Saint di sini. Tak peduli jika anda dalam keadaan sakit atau hilang ingatan, anda sudah mempersiapkan semuanya."
"Aku pernah berkata seperti itu?" tanyaku, aku melihat pak Pram yang mengangguk. "Mustahil. Cepat, setelah mandi aku akan menemui, Kevin."
__ADS_1
Satu jam kemudian, Pak Pram membawaku ke meja makan. Disana telah tersaji hidangan di depan.
"Siapa kau sampai lancang di rumahku? kamu membuang-membuang makanan dengan masak sebanyak ini?"
"Tuan," sela Pak Pram.
"Diam kau!" sentak ku pada Pak Pram. Dan aku beralih pada wanita itu. "Katakan apa maumu?"
Wanita itu berjalan dan berdiri jarak satu meter.
"Richie, bebaskan Kevin."
"Kau kira kamu siapa? apa kamu pikir aku akan membebaskan orang yang jelas berniat membunuhku?!"
"Tapi, pasti itu tidak sengaja."
"Tidak sengaja katamu? Dua minggu aku sampai tak sadarkan diri. Apa kau pikir nyawaku maianan? bahkan kau melihat kematian ku yang dua puluh menit, kau menungggu ku disana dan kau kenapa menangisi ku? aku tanya jawab kenapa!"
Aku melihat lutut wanita itu gemetar, Apa benar dia teman kecil ku? aku masih tak mempercayai penuturan robot itu, walaupun kata si robot, aku yang memasukan semua data penting itu.
"Kevin teman baik mu Richie."
Tanganku mengepal kuat saat mendengar tangisannya, mengapa hatiku ikut tersayat mendengar itu.
"Tolong tuan Richie, bebaskan dia ..."
"Seenaknya kau memanggil, tadi 'Richie' sekarang 'Tuan Richie', wanita gila! mengapa kau tak masuk penjara saja dengan suami mu.
"Lakukan bila itu yang kau mau! asal lepaskan dia," kata Lala dengan kata-kata tercekat.
"Pak Pram masukan dia bersebelahan dengan suaminya!" Aku mencengkram tangan mungil itu agar terlepas dari pegangan kursi roda ku.
"Baik Tuan." Pak Pram memberi kode dan pengawal menjagal Lala.
"Richie!!!! Richie sadarlah!!! Aku membencimu! mana si Richie pembuat kue!!"
DEG
Tubuhku tersentak mendengar itu, aku tidak tahu apa, hatiku begitu berdenyut. Mungkin aku tidak terima di hina sebagai pembuat kue. Apa aku bisa membuat kue?
__ADS_1
"Tuan, saya membawa anda ke ruang kerja." Pak Pram mendorong kursiku.
"Sudah berapa lama kau ikut aku?"
"Tuan, Sebenarnya saya dulu ikut orang tua Anda sejak saya masih muda. Tapi sejak kematian orang tua Anda, saya bekerja di tempat lain. Kebetulan di usia Anda yang ke 20 tahun, Anda mulai mau terjun meneruskan peninggalan Ayah Anda. Sejak itu saya melamar masuk ke markas ini kembali dan Anda langsung menempatkan saya sebagai kepala pelayan," kata Pak Pram suaranya terdengar hangat.
Dia membawaku ke sebuah ruangan, dan aku diminta memverifikasi sidik jari, kornea mata. "Ini tidak mau terbuka."
Aku menoleh kepada kepala pelayan yang cukup jauh dariku.
"Tuan, kunci terakhir, anda harus mengingat permainan favorit anda dengan Nyonya Saint saat Nyonya Saint berumur 4 tahun."
"Apa!? kenapa harus wanita itu lagi. Panggil dia kemari, biar aku tanyakan padanya."
Pak Pram diam, sejenak dan berpikir. "Itu yang jadi masalahnya, Tuan. Kata Tuan, Nyonya Saint tidak mengingat ingatan sebelum SD."
"lelucon macam apa ini, Pak Pram? Cepat reset saja sistemnya."
"Tidak bisa, itu akan meledak dari dalam bila kita meresetnya."
"Memang isinya apa sampai itu meledak, sepenting itu kah?"
"Ya, yang tahu Anda Tuan."
"Lalu gimana kita bisa membukanya? masa tidak ada yang tahu si? kamu atau Damar? "
Pak Damar mendorong ku pergi menjauh dari ruang rahasia itu."Tidak ada yang tahu diantara kami Tuan, Anda begitu sangat menjaganya.
"Jadi, satu-satunya cara, anda harus membuat Nyonya Saint ingat kembali, Tuan. Atau anda akan kehilangan semua data terpenting Anda."
"****!"
bersambung ...
***
terimakasih para pembaca, pengumunan novel bagus nih , mampir ya ...
__ADS_1