
-POV Author-
“Meskipun kita sudah berpisah, bukankah kita tetap keluarga. Kamu tidak perlu menganggap ku ada, Lala. Hanya perlu kau ingat, lihatlah putri mu di rumah, mereka berharap kamu di sana. Ya kalian akan mendaftarkan pernikahan, ku mohon untuk terakhir kalinya jangan membuat semua ini menjadi aneh.” Kevin berkata dengan nada tertahan.
“Well, menurut ku sepertinya itu lebih baik, Lala.” Johan menambahkan lalu menatap Richie. “Hei dan kamu, BOS,” Johan tertawa kecil dengan nada canda, “cobalah di posisinya, atau kau mau melihat anak-anak kecewa pada ibunya lalu menentang mu terang-terangan, atau kau mau seperti itu?!”
Richie mengangkat ke dua tangan, “fine! Ya kalian benar, baiklah,” menghela nafas pasrah, menatap Lala yang mengangkat bahu.
“Maaf, Eros,” Lala merasa tidak enak tanpa bermaksud menyakiti, dia perlu waktu untuk berbicara dengan kelima putrinya. Dan Eros menyentak tangan Kevin yang akan menyentuh pergelangan kaki Lala.
“Ya, ampun, Richie!” Kevin mendesis dengan tangan mengepal melangkah pergi. Richie menatap tajam ke Johan mengayunkan kepala ke kiri menyuruh Johan juga pergi, dan Johan membulatkan mata dengan mengangkat kedua tangan.
“Oh Lala, kamu keterlaluan, mengapa kau memilih bajingan seperti dia,” kata Johan sambil menunjuk Richie.
Richie menyipitkan mata, “move on, JO, bukan salahku. Kamu yang merebutnya dariku.” Richie dengan nada ketus melempar tisu ke punggung Johan.
“OH? Aku akan ke Master Jin agar dia tidak menjadi wali mu, Richie. Dan aku menggantikan mu.” Johan tertawa sebelum hilang di balik pintu.
Menggaruk-garuk rambutnya sambil meringis, Lala kemudian menutup wajah dengan tangan kanan, candaan Johan keterlaluan baginya.
“Risaa … “
__ADS_1
Mendongak saat Richie duduk di sampingnya, “mas, bagaimana caranya aku bilang pada mereka?”
“Risaa, biar aku saja, aku akan menaklukan ke lima putri mu.” Richie memutar bola matanya, mencoba berpikir sangat dalam, “ya ampun, Risaa …" melotot dan menelan benjolan di tenggorokkan saat menyadari sesuatu besar yang akan menghalangi hubungannya. “Kau lihat perjuangan ku! Lima!! … “
Lala tertawa sambil mengelus punggung Richie. “Mereka pasti akan menerima mu, mas, semangat! kita masih memiliki dua bulan.”
Richie menegakkan duduknya. “Ya, dua bulan, seharusnya cukup.”
“Eros ... dimana Bella? Aku ingin bertemu dengannya, aku merindukannya.”
“Aku akan membawa mu, setelah aku menculikmu ke markas ku.”
“Menculik? Itu markasmu seperti benteng perang, lalu bagaimana nanti bila kita memilki seorang anak apa kamu akan mengelilingi anak kita dengan pria-pria besar di markasmu? Dimana kita akan tinggal? kamu tahu, aku mau di Jawa.”
PLETAK-Richie menjetik kening Lala.
“ahhh! Sakit mas!”
Richie menatap Lala yang meringis; mengelus kening yang memerah itu, “kau lihat, karena kamu sering tidak mendengarkan ku. Bahkan saat di kapal aku menyuruhmu pulang, kau mengabaikan ku sayang, lihat kan … empat minggu kamu di sini. Jangan ulangi, Risaa.”
Menatap netra hitam, Lala merasa bersalah sekarang Richie tampak serius. “Maaf Mas,” memberikan jari kelingking, "aku akan mengabdikan hidupku seutuhnya untukmu sebagai seorang istri. Juga tidak akan melawan mu lagi.” Lala berkata dengan serius dengan sedikit terisak, “tapi kamu tidak boleh selingkuh; KDRT; apalagi sampai mem...bunuh orang, baik secara langsung ataupun lewat suruhan mu, aku tidak akan menerima apapun kekerasan itu, mas.”
__ADS_1
“MENGERTI.” Richie dengan mantap, mengaitkan jarinya lalu mengecup kening Lala, “aku tidak akan mengecewakanmu lagi … percayalah, Risaa.”
Dalam pelukan Richie, Lala tersenyum, dadanya merasa lebih lapang, “aku mau perjanjian pra nikah.”
“APAPUN YANG KAMU MAU, SAYANG.”
“Terimakasih, Eros …” Lala merasakan tangan panas Eros membelai rambutnya dan pelukan itu sangat nyaman.
“Mas, selama mimpi buruk kemarin … aku bermimpi saat kamu menggunakan kaca mata.” Lala tertawa kecil. “Ada apa dengan kaca mata mu? Sepertinya, aku ingat sekarang. Kamu dulu saat pendidikan tingkah menengah memakai kacamata, dan aku selalu memakaikan padamu saat kamu akan membaca komik.”
Richie terdiam sejenak. “Itu, aku menjalani operasi setelah lulus kuliah. Jadi, seseorang menyerang ku dan aku sangat lemah karena kaca mata itu. Kau lihat sekarang aku tanpa kaca mata, tapi sekarang usiaku di angka 52, sepertinya aku terlalu tua … "
“Kenapa bilang begitu?” Lala melepas pelukan Richie, “Anda masih keren, bahkan tidak ada keriput,”menyentuh seluruh area wajah yang sangat kencang; kulit putih semu pink; sehat; dan fitur rahang keras itu membuat -jantung Lala- tiba-tiba berdebar dengan kencang. Lala menangkap semburat merah di wajah Richie yang kini tatapan itu lebih terang nyalang dan nafas Richie yang meningkat.
“Oh ya? Lalu Johan dan Kevin?” suara Richie serak.
“Maksudmu?”
“Mereka lebih muda dari aku sepuluh tahun.” Richie menatap Lala dalam. “Jadi, apa kamu yakin akan menikah dengan pria tua ini, sayang?” suara Richie semakin serak, membuat Lala merinding.
“Mas, kamu yang terbaik, dan aku tidak melihat siapapun di hatiku, kecuali kamu.” Berlutut sehingga kepalanya lebih tinggi dari Richie. “Tolong, maafkan aku dan percayalah.” Satu kecupan mendarat di bibir Richie, Lala bertumpu dengan lengan tertekuk di bahu Richie saat Richi mendongak mengimbangi ci..uman teman masa kecilnya.
__ADS_1
Dalam lautan emosi, air bening mengalir di pipi Richie. Ciuman itu menjadi bercampur rasa asin, dua tangan besar menahan punggung Lala. Richie merasakan kehangatan kasih; sayang; satu-satunya cinta dalam hidupnya.