Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 65 : JULUKAN 'AWAN MACAN PUTIH'


__ADS_3

Dentuman keras beruntun menggema dan memekakan telinga. Kegelapan semakin nyata karena lampu turut padam, semakin menyesakan hati Alen yang sendirian dalam sekapan.


Getaran tembok, bunyi ledakan tak ada habisnya. Alen berpikir jika gedung ini tengah dihancurkan, apakah dirinya sedang dikubur hidup-hidup?


Rantai besar membelitnya, tak mengijinkan dia kabur. Ia tak bisa begeser sedikitpun, mulutnya yang tersumpal kain pun tak bisa berteriak. 'Tuhan sekali lagi tolong selamatkan nyawaku'.


Brak!


Musuh yang biasa menyiksa Alen, masuk tergesa-gesa. Satu orang membuka kunci-kunci rantai, dan bergerak cepat melepaskan lilitan rantai tebal yang membelit Alen. Laki-laki itu langsung memapah Alen.


"Cepat, cepat!"


Musuh terus melihat jam tangannya.


"10 detik lagi!"


Sebuah granat menggelinding ke pintu.


Duarrrrrr!!!!!!!


Tubuh Alen terlempar terkapar.


Niiiiiiiiiiiiiiiittttttttt


Telinga Alen berdenging hebat dalam kegelapan.


Tubuhnya terkena lemparan keras.


Tak berselang waktu bergetar Dinding disekitarnya. Alen belum siap berdiri.


Baaaagh-


Tembok ambruk


Pandangan kabur dan setengah tubuh terkubur, Alen berhasil selamat . Ia mendorong reruntuhan.


"Move! move!!" Orang-orang berjubah hitam, mengangkat runtuhan yang menghalangi tubuh Alen.


Alen terbelalak melihat orang yang Ia yakini sebagai pemimpin dari mereka.


'Sang Legenda' Batin Alen. Pandangannya seketika gelap.


*


Alen terbangun di atas kasur kamar mewah. Ia duduk di pinggir ranjang menyadari pakaian compang-campingnya telah berganti dengan pakaian formal.


"Selamat pagi, perkenalkan saya Parker Johnson. Silahkan ikut! saya yakin anda baik-baik saja."


Alen mengikuti Parker melewati banyak kamar, 'Apa aku di tempat musuh? tidak mungkin. Karena 'Sang Legenda' adalah pahlawan yang terkenal lurus.'

__ADS_1


Alen tercengang melihat pemuda angkuh dan dingin yang duduk di kursi kebesarannya. Telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja, seolah tak sabar menunggu kedatanganya.


Sebuah tumpukan kertas lengkap dengan pena diatasnya.


DE JAVU. Untuk kedua kalinya Alen bertemu Kevin lagi, dengan sebuah map yang pasti telah disiapkan Kevin, untuknya.


"Anda masih ingat saya? mari langsung ke point utama." Kevin menatap tajam Alen, "Anda kurang beruntung."


Terlihat Kevin tertawa.


'Apa yang lucu? aku yakin sorot mata itu mengetahui banyak hal' Batin Alen sambil membaca berkas di depannya. DEG 'Bukankah Lala bersama Johan?'


Alen mengangkat kepalanya menghunus tajam pada pemuda di depannya. "Menikahi Lala?"


"Benar dan nona Lala sudah setuju. Seperti yang Anda lihat, waktunya lima hari lagi," tegasnya, Parker memberikan map merah dan mengingatkan perjanjian pertama yang ditandatangani -Alen dan Lala-


DEG. 'Kenapa hidupnya selalu dibelit dengan perjanjian di atas kertas,' Alen mengepalkan tangannya.


Sang tuan mengibaskan tangan membuat Parker undur diri setelah memberikan hormat.


Di ruangan bernuansa merah itu, pemuda itu begitu kuat auranya sampai Algio dibuat diam karenanya.


Kevin mencondongkan tubuh ke depan, "Kau disekap atau diculik klan 'Scorpion', kenapa? Istimewa ya ... sampai mereka menahan mu begitu lama? Dimana bos mu? Mereka tak menolong mu?"


Terlihat pemuda itu tersenyum licik, mengapa bertanya bila sorot matanya telah tahu sesuatu.


Pemuda itu semakin tersenyum penuh kemenangan, "apa Lala masih mau menganggap mu ayah? jika tau ini?"


"Aku menyetujui, pernikahan ini," kata Alen dengan cepat membubuhkan tanda tangan, Ia merasa Kevin akan memberitahukan pekerjaan gelapnya ke Lala jika dia tidak menurutinya.


Sang pemuda tertawa. "Mengapa Anda jadi terburu-buru."


"Bukankah ini yang kamu inginkan?"


"ALGIO."


DEG. Benar saja apa yang di takutkan, identitas sebagai Algio telah diketahui Kevin.


"Kau melindungi Bos mu? sampai putrimu begitu saja kau relakan? Ayah seperti apa kamu CK! Bahkan Lala selalu membanggakan namamu." Kevin berubah masam.


"Urusan siapa bos ku tidak ada hubungannya denganmu. Aku menyetujui pernikahan ini karena Lala pernah menceritakan kekagumannya padamu."


Sang pemuda terus mengamati Algio yang terus menandatangani halaman tiap halaman perjanjian. 'Lala pernah cerita soal aku?' Sedetik kemudian Kevin menyembunyikan senyumannya.


Kevin mengambil cek kosong dari Laci. "Tulis jumlah uang, berapapun yang kau inginkan Algio."


Alen menyelesaikan tanda tangan terakhirnya. Dia meraih kertas cek kosong dan mengembalikannya. "Sampai matipun aku tidak akan menjual putriku. Simpan uangmu."


"Mengejutkan! Jadi karena ini, mereka mengandalkan mu?"

__ADS_1


Kevin menyandarkan tubuh pada kursi. " Tapi, kau tidak akan ku lepaskan begitu saja. Cepat geser fotonya."


Algio menggeser layar laptop di depannya. "Sang Legenda?"


"Pintar! jadi kau tahu 'Sang Legenda'? kau tahu kekuatannya, tentu saja. Siapa yang tidak mengenalnya.


"Namun apa kau juga tahu ... Keluarga 'Sang Legenda' telah mati karena kau yang menghabisinya?


"Kau pasti lupa dengan kejadian dua puluh tahun lalu, kau tahu, anak itu tentu mengingatnya."


Kevin terdiam sebentar dan lalu tertawa.


"Kau bisa bayangkan jika Dia tahu kau pembunuh keluarganya? Mereka lalu menargetkan putrimu, dan bagaimana nasib Lala setelahnya? CK!"


Kevin senang bisa mengintimidasi Alen, namun Kevin juga kesal mengetahui kenyataan Lala yang akan menjadi incaran.


Alen membenarkan ucapan Kevin. Setelah bertahun-tahun yang ditakutkan Alen terjadi. Nyawa putrinya terancam.


Kevin menyerahkan sebuah kartu chip bertuliskan 'Macan Putih' tertera nama 'Awan' diikuti nomer seri.


"Kau, ku kirim di bawah 'Sang Legenda'. Dia akan melatihmu selama dia belum tahu identitasmu. Itu tempat terbaikmu, hidup bersama anak dari keluarga yang telah kau habisi.


"Tinggalkan keluarga Lewis. Kau tak diijinkan berhubungan dengan mereka, termasuk Johan.


"Bila kau melanggar itu. Aku pastikan 'Sang Legenda' dan Lima musuh terbesarmu akan memburu putrimu."


Algio memasukan kartu chip kedalam saku kemejanya.


"Mulai hari ini tidak ada nama Algio. Julukanmu sekarang 'Awan Macan Putih'. Ikuti arahan Meggy, assistenmu.


"Kau memegang 5000 anggota setia atas perintahmu, arahkan bawahanmu. Dan bila kau berhianat, aku pun tahu.


"Sembunyikan ini dari Parker, ini bukan wilayahnya. Bawa laptop khusus ini, jangan biarkan siapapun menyentuhnya. Gunakan chip, sidik jari, suara dan kornea matamu untuk mengakses semua fasilitasmu. Ingat semua pergerakanmu tak luput dariku."


"Saya mengerti. Jadi, dimana Lala?" Alen tak bisa berpikir lagi, dia hanya perlu menuruti perintah.


"Lala sedang fitting gaun, nanti sore baru kembali. Jadi aku harus memangilmu Ayah mertua?" Kevin melunakan panggilannya karena Alen tak melawannya.


"Senyamanmu. Tolong jaga putriku."


Bersambung ....


___________________________________


Hai para pembaca yang baik hati. Aku punya rekomendasi bacaan buat kamu nih, bagus loh... silahkan mampir. Terimakasih



**

__ADS_1


__ADS_2