
-POV Daniel-
Memasuki kamar yang pernah di tempati Lala, saya mematikan semua lampu di lantai atas, dan tidur dalam kegelapan memeluk guling.
Jadi, sprei ini masih bau Lala, maid belum menggantinya sejak terakhir kali di tiduri Lala.
Pikiran terbang melayang jauh pada perkataan Paman Jin perkara Bella memperalat ku itu sepertinya mustahil. Yang saya tahu wanita itu hanya mau membalas dendam dan menyingkirkan Kevin, karena kematian suaminya. Dan juga akan membunuh Alen karena kematian mertuanya.
Aku bekerja sama dengannya, berusaha menyingkirkan Kevin sehingga Bella akan mendapatkan Sanla Entertaiment. Dan Black Lion atau Macan putih adalah bagianku.
Tujuan utama kami adalah sama, yakni kematian Alen.
Namun, penuturan paman Jin membuatku kebingungan, bahwa Alen bukanlah yang meluncurkan misi itu, meski dia bekerja di sana. Akan tetapi bahwa Alen hanya diperintah papa untuk memata-matai, itu mungkin Paman Jin yang mengarang.
Mungkin saya tidak perlu mempercayai Jin, bagaimana ya ... tapi pria tua itu adalah sahabat papa.
Dan saya tahu betul, saat saya kecil, Paman Jin hampir setiap minggu datang ke rumah membawa keluarganya.
Jadi, kemungkinan sangat kecil bila paman berbohong.
Tetapi, mengapa semua alasan Bella juga masuk akal?
Ini terlalu memusingkan. Dan siapa yang meracuni paman Jin. Bahkan semua belum di ceritakan paman, belum sampai kita tahu siapa yang membunuh papah.
Bunyi klik dari kunci diputar dan derit pintu balkon perlahan bergeser. Saya memperhatikan dengan pendengaran saya, penyusup mengendap semakin dekat, saya lebih waspada siap menyerang. Jadi kita lihat siapa dia? Saya diam mendengar setiap gerakannya, tiba-tiba sesuatu nyeri di pinggang kiri saya, hampir saja sesuatu tajam menusuk perut saya, beruntung saya menghindar.
Kami bergulat, dan saya membalikan tusukan itu mengenai pahanya, dan menangkapnya. "Siapa kau," tanyaku dengan suara bergetar sambil meraih penutup kepalanya dan aku berhasil menahannya. Saya menangkap bentuk bibir dan hidung, Sedikit lagi, tapi dia membanting ku ke belakang sehingga saya tersungkur.
Dia melepaskan diri dari pegangan ku dan berlari. Saya mengejarnya, lelaki itu langsung melompat keluar dan terjun ke laut, ku lihat dia berenang, sial aku tidak membawa senapan.
Saya berlari ke bagian apartment Ars masuk ke ruang kerja, meraih HT menekan angka saluran, "Satu penyusup terjun di kiri belakang kapal!" Saya berlari lagi keluar dari ruangan dan pergi ke ruang kontrol. Anak-anak mencari di sekitar kapal.
Dari arah belakang pintu terbuka, dan saya masih fokus pada laporan di setiap titik. Sampai Nick meraba saya, dan dia datang bersama Dokter dan mengobati pinggang saya.
"Periksa DNA di kamar 02," kataku pada anak-anak di HT. Saya tidak mau duduk, jadi dokter mengobati ku sambil berdiri.
__ADS_1
"Siapa penyusup kenapa datang ke kamar Lala," mataku memutar dan melirik Nick.
"Aku tahu tatapan itu Nick, penyusup itu tampak terkejut saat aku membuka selimut. Sial, jika aku tidak menyuruh Lala tinggal di ruangan Ars, pasti sesuatu menjadi berantakan," Daniel mendengus. "Dan kalo dipikir-pikir kenapa orang ini langsung menikam?"
"Dia berniat membunuh nona."
"Tapi kenapa saat di kapal ku."
"Sebaiknya Tuan Damir dikirim pulang, Tuan. Situasi di kapal sangat tidak kondusif. Saya sudah memperkecil lingkup, juga pada departemen makanan keluarga dan menyisakan beberapa orang yang telah bekerja lama dan terpercaya, bahan baku makanan keluarga sudah telah diubah, dan penjagaan diperketat dua puluh empat jam, mungkin kita perlu menggunakan sistem keamanan khusus di area dapur keluarga."
"Ya, kirim Damir pulang pagi ini, dan perketat penjagaan di daratan, kita tidak tahu siapa yang diincar, tapi sepertinya orang-orang ini tahu seluk beluk kapal, bahkan anak-anak tak menemukan hal-hal yang mencurigakan dari para tamu. Begini saja, kosongkan para tamu setelah berlabuh, dan berikan kompensasi untuk tujuan berikutnya, kirimkan mereka dengan pesawat tanpa dikenakan biaya."
Dokter selesai memlaster dan keluar dari ruang kontrol.
"Itu sangat memakan biaya, Tuan?" Nick mendorong kursi dan aku duduk di kursi putar.
"Kau lihat anak buah Jin, mulai mengadakan pertemuan, dan kapal Jin sedang mengisi bahan bakar mengarah pada pelabuhan selajutnya, ku pikir mereka akan berhenti dan membajak kapal ku, mereka akan atau bahkan menyerang kita, entahlah," saya menelungkup wajah dengan kedua tangan, melempar kepala ke belakang.
"Saya akan berupaya lebih untuk menemukan siapa pemberi racun, kami sedang memeriksa mencari DNA di dapur, saya berusaha sebelum anak buah Jin datang."
"Ya, bergegaslah. Dan sebelum itu kita perlu membereskan Kevin."
"Ya, hubungi seorang teman pindahkan ke kapal lebih besar dan pengiriman tidak boleh terlambat, pastikan semua bersih."
"Baik Tuan, saya sudah melobi pihak pelabuhan, dan steril dari polisi." Nick memperhatikan cctv di monitor dan mengotak-atik tombol. "Dan saya sempat menjumpai nona Bella mengendap-ngedap di atas di arena pribadi keluarga, Tuan. Seharusnya wanita itu tidak memiliki akses lantai teratas, jadi ..."
"Maksudmu kamu mencurigai Bella? apa alasanmu? dia bagian dari kita."
"Bukankah itu terlalu bebas Tuan? Tuan Ars tidak akan suka dengan itu. Saya sudah memperingatkan Bella dan dia bilang tersesat, tapi saya tahu mata itu penuh dengan kebohongan."
"Sudahlah," saya meninggalkan Nick, "dan bila mereka menangkap penyusup nya segera kau datang ke kamar saya, aku butuh tidur untuk satu jam.Dan DNA itu siang harus sudah keluar," perintahku pada Nick dan lelaki itu mengangguk seolah ada pertanyaan di matanya tapi saya tidak peduli.
**
Saya melewati kamar Ars dan kakak ku masih tidur, melirik jam pukul empat pagi, saya terus menguap sampai sesuatu mengganggu reseptor, bau masakan ... saya bergeser sedikit, koki tidak pernah masak di tempat ini, dan saya menangkap satu lampu dapur menyala menyorot pada sesosok yang mengalihkan perhatianku.
__ADS_1
Mataku menangkap wanita itu tengah sibuk di dapur, dia berlaku seperti di rumahnya sendiri. Bukankah jiwanya terlalu bebas ...
Saya melenggangkan kaki ke meja dekat dapur memperhatikannya, entah apa yang dia buat. Dia memindahkan ke piring, berbalik dan matanya melebar, terkejut denganku.
"Eh, chef! oh maksud ku ... Tuan Daniel," Lala tertawa dengan giginya, wajahnya memerah. "Saya lapar, jadi-" Wanita itu duduk di depanku, saya melirik pada makanannya.
"Kau bisa tekan tombol dan memesannya," kata ku datar dengan tanganku di atas meja, meraih sendok dari piringnya.
"Eh, ini jauh dari kata enak, tidak seperti buatan chef Daniel," Lala melongo dengan satu alisnya, saat aku menyendok makanan buatannya.
Saya mengunyah dan menilai. "Apa kamu suka asin? sangat tidak bagus."
Dia condong ke depan dan mengangkat dagunya, "saya sedang menginginkan makanan asin, sayangnya tidak ada ikan asin. Ngomong-ngomong anda belum tidur?" Lala memakan mie gorengnya dengan garpu.
"Jangan kembali ke kamarmu, tinggal di ruangan ini, ada penyusup di kamarmu."
Lala tersedak, dia batuk-batuk.
"Makan dengan pelan," kataku saat dia terus menatapku.
"Penyusup di kamarku? apa penyusup itu tertangkap?" tanyanya setelah dia tidak batuk-batuk.
"Belum, dia terjun ke laut mungkin tenggelam," kataku asal, satu alisku terangkat saat dia menghela nafas panjang. Saya menangkap dia seperti merasa lega dari tatapan matanya, atau hanya cuma perasaanku saja. "Kenapa kamu? kau seharusnya sedih kan, karena penikam itu belum tertangkap."
Lala memiringkan kiri, "Penikam? kenapa saya harus sedih?"
"Ada yang mencoba mencoba untuk melukai mu, jadi jangan berkeliaran sendiri dan jangan ke kamar itu."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, cepat habiskan makananmu." Dia mematuhi, makan dengan perlahan dan terus memandangi saya seolah sedang menggambar di wajah saya.
"Ada yang mau kau tanyakan?" tanyaku datar.
"Kapan saya dan ayah, bisa pulang? apa tawaran menjadi perawat Damir masih berlaku lalu ayah saya bebas?"
__ADS_1
DEG- pertanyaan macam apa itu ... Mungkin ada kemungkinan Aku dan Ars mengurungkan niat menghabisi Alen. Namun, tidak dengan Bella, wanita itu tidak akan melepaskannya. Dan saya tidak mau ikut campur.
Lalu ada apa dengan tatapan penuh memohon itu, dia mempercayai jika kami akan membebaskan Alen begitu saja? sungguh naif atau terlalu bodoh.