Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 35 : PENJAGAAN MAS LUCA


__ADS_3

"Lala kamu belum tidur?" Pria jangkung memasuki kamar.


Lala menggelengkan kepala, matanya melebar. Mas Luca? kenapa kemari? bagaimana bila Kevin tahu dan marah.


"Bella tidak bisa datang, dia memintaku kemari," Laki- laki dengan jeans dan hems putih menghampiri Lala yang masih termenung.


" Aku akan membacakan novel dengan cerita seru." Lelaki itu terlihat canggung dan duduk di kursi sebelah ranjang.


Lala terkesima, mas Luca sangat charming, kalem, sulit sekali menggambarkan sosok mas Luca yang memiliki aura yang sangat menarik perhatian. Lala menggelengkan kepala, dia tidak boleh seperti ini. Dia sudah menjadi pacarnya Kevin, jadi harus mulai menjaga matanya.Namun cuma cuci mata tidak apa-apa kan?


"Gimana, apa masih sakit rahangnya? Bella sudah menceritakan semua kejadiannya."


Lala mengambil kertas di meja dan menulisnya.


Rahang Lala masih sakit. Mas Luca, kenapa kemari? bukannya mas Luca sibuk dan banyak kerjaan. Jangan khawatir, aku gak apa-apa sendirian, mas Luca pulang saja.(Lala)


"Aku tidak ada kerjaan, jadi aku akan tetap disini. Aku akan mulai bercerita, dengarkan dulu," ucap Luca.


Lala sulit menolak Luca yang sudah mulai membuka buku, dan mulai membacakan ceritanya.


.


.


Cukup lama Lala mendengarkan cerita Luca dalam duduknya, Ia kemudian berbaring dibantu Luca dan sembunyi di bawah selimutnya. Laki-laki itu melanjutkan cerita dengan penuh ekpresi, bahkan suara antar tokoh coba Ia bedakan ... saat laki itu mengekspresikan suara anak kecil, Lala dibuat tersenyum. Mas Luca seperti ayahnya, dia membacakan cerita saat Lala hendak tidur.


Gadis itu semakin tidak bisa menahan kantuknya.


Luca menghentikan bacaannya, disentuhnya pipi Lala dan di elusnya pelan.


Kamu ditinju sampai seperti ini, apa terluka jadi salah satu hobimu ya? kamu ini memang tidak bisa menjaga diri, dasar gadis ceroboh.


Luca mencium kening Lala, Ia berjalan ke Sofa dan menyandarkan kepalanya disana. Dia akan tidur malam ini di sofa memandangi Lala dari sofa sampai Ia pun semakin mengantuk.


...**...


Lala bangun pagi masih jam lima, Ia ingin sekali buang air kecil,


Loh mas Luca gak pulang?


Gadis itu pelan-pelan menuruni kasur berusaha tidak menimbulkan suara. Ia ke kamar mandi. Aduh gawat dia mens, Bella kemarin hanya membawakan ce lana dalam, dia harus bagaimana, ini masih pagi Bella pasti belum bangun.


"Lala? kau tidak apa-apa?" tanya mas Luca.


Lala menggaruk kepalanya, celananya ngeflek, Ia lupa membawa tisu ke kamar mandi.


Lala membuka pintu kamar mandi sedikit. Dilihatnya mas Luca sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah khawatir.


Lala memberi kode mulutnya tak bisa bicara dan dia memberi kode dengan tangannya isyarat mau menulis.


" Sebentar." Mas Luca mengambil kertas d atas meja dan memberikan pada Lala, beruntung pria itu tahu maksudnya.


Mas Luca, aku minta tolong, ini genting. Aku butuh pembalut, tamu bulananku datang, tolong belikan pembalut menstruasi.(Lala)

__ADS_1


Lala memberikan kertas itu, tak peduli jika malu, daripada darah kemana-mana.


Mas Luca mengerutkan dahi, "Oh jadi kamu sedang itu? baiklah tunggu, aku akan segera kembali."


Lelaki itu meninggalkannya, Lala buru2 mengganti ****** ******** dan mengganjal sementara dengan tisu.


Ah kenapa pas banged si, aku malu!


Lima belas menit kemudian mas Luca sudah kembali dengan sekantong besar di tangannya.


Mata Lala membulat penuh, Ia sampai memajukan kepalanya melihat apa yang dibawa mas Luca. Lelaki itu menghampiri Lala dan memberikan kantong besar itu. Lala melihat isinya.


Astaga ini pembalut semua? semua merk dengan panjang ukuran yang berbeda, sampai ada patyliner.Hidung Lala mengerut tak percaya.


"Aku tidak tahu mana yang pas dan cocok, semoga ada yang benar"


Lala menatap mas Luca dengan heran, Ia berlalu ke kamar mandi membawa sekantong pembalut. Bebarapa menit kemudia dia sudah keluar dan meninggalkan sekantong pembalut di kamar mandi.


"Lala, aku harus pulang, sudah pagi, kamu tak apa-apa kan ku tinggal?"


Lala mengangguk, Ia mengambil kertas dan menuliskan sesuatu.


Baik mas Luca terimakasih, sudah repot-repot menemani malam Lala, dan berapa total belanjaan pembalutnya? ( Lala)


"Ah aku senang bisa menjagamu. Kau masih saja hitung-hitungan Lala, tidak perlu di ganti, aku buru-buru, sampai jumpa dan lekas sembuh ya"


Mas Luca menyentuh pelan pipi Lala yang lebamnya mulai memudar meninggalkan Warna luka biru keunguan.


Lelaki itu berbalik meninggalkannya, namun kemudian berbalik lagi.


"Ah ini mungkin tidak terlalu kamu suka, tapi ini sayang sekali, aku mendapat promo di dari seorang teman."


Luca menarik tangan kanan Lala dan memasangkan gelang berbandul kuda berponi pada pergelangan tangan, membuat Lala terkejut karena laki-laki itu begitu cepat memasangnya.


"Jangan di buang, ini cantik di tanganmu, ya sudah, tidurlah lagi."


Lelaki yang terlihat canggung itu buru-buru meninggalkan Lala yang masih memandangi gelang lucu di tangannya.


Kini Lala melihat tangan kirinya, disana melingkar gelang pemberian Kevin semalam. Gelang keberuntungan katanya, dan Kevin juga memakai gelang yang sama, ini sejenis gelang couple.


Lala yang baru tahu mereka Kakak beradik saja sudah membuatnya shock, dan lagi apa ini, mengapa dua orang itu sama-sama memberi gelang, apa ini lelucon????


Dan apa yang Kevin sangkakan semalam, katanya : aku akan menikah dengan mas Luca?? kenapa dia bisa berpikir sejauh itu sih.


Apa benar aku sudah pacaran dengan Kevin? difilm-film pacaran kan harus ada pernyataan cinta dulu, kenapa Kevin malah mengancamnya dengan perjanjian kontrak itu.Apa benar ini yang dinamakan pacaran?


Lala menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia kembali ke tempat tidurnya, Ia sudah sangat bosan di rumah sakit, Ia ingin cepat pulang. Ini terlalu sepi baginya.


...**...


Hari minggu setelah visit dokter, hari ini juga Lala diijinkan dokter pulang.


Johan masih belum ada kabar.

__ADS_1


Kevin justru yang sudah datang pagi-pagi menemani Lala.


Sedangkan Bella datang siang. Dia membereskan semua barang dan kebutuhan Lala.


Tak lama setelah itu mama Tiara juga datang.


.


.


Infus telah dicabut dan semua administrasi telah di urus Tiara.


Senja akan datang mereka baru keluar dari halaman parkir rumah sakit. Lala di dalam mobil Tiara, sedangkan Bella memilih ikut mobil Kevin karena tak punya pilihan.


.


.


"Kamu yakin masih mau di kos? ayolah pulang ke rumah, biar mama bisa jagain kamu," ucap Tiara.


Lala mengetikan sesuatu di hpnya.


Mamah maaf ya, aku harus tinggal di kos, teman-teman akan datang, kasian mereka mencari, dan kos Lala lebih dekat dari rumah mereka, boleh ya? (Lala)


"Ya sudah, jika ada apa-apa segera beri kabar, mama kirim orang setiap dua hari sekali untuk mengecek kesehatanmu, kamu tidak boleh menolak." Titah mama Tiara.


Lala mengangguk dari pada Ia harus di rumah besar Johan yang sepi dan jauh.


-Di perjalanan di mobil Kevin-


"Kenapa kau masih tidak menjauhi Lala, Bella Anastasya?" tanya Kevin.


"Apa hakmu melarangku?" jawab Bella dingin.


"Hak ku? dia adalah wanitaku, jadi jangan macam-macam."


Bella tertawa garing, Ia berdecak malas.


"Wanita??? apa aku nggak salah dengar? itu nggak penting mau kamu siapanya. Kamu pikir Lala masih mau jika tahu siapa kamu sebenarnya?" Bella berdesis.


bersambung ...


________________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.


Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2