Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 168 : KENYAMANAN


__ADS_3

"Tuan Richie, kenapa anda tersenyum!? anda mengejek saya, ya!?"


Lelaki itu mendekatkan wajah membuat Lala mendongak "Kamu terlihat sangat manis, saya tidak tahan dibuatnya. Bukankah sebaiknya kamu minta maaf?" Richie menatap bibir Lala dari jarak dekat, kira-kira sejengkal, hatinya menari-nari, menatap dua manik biru langit Lala, yang indah. Ini hal paling menyenangkan baginya.


"Saya minta maaf karena itu."


"Itu terdengar tidak tulus, Rissa." Richie merasakan hembusan hangat nafas wanita itu di pipinya.


"Saya salah, berpikiran terlalu buruk kepadamu, aku sungguh menyesal. Bagaimana lagi aku harus mengucapkan ini."


"Cium saya jika permintaan maafmu itu tulus."


"Mana ada yang seperti itu?" Lala makin mundur, duduknya bertumpuan pada dua tangan di belakang.


"Kamu, bisa jatuh bila terus mundur. Kamu terlihat takut, tatapan mu itu seolah saya adalah seorang penjahat, Rissa."


Lala duduk tegak, semuanya menjadi serba salah. Dia menatap lelaki itu yang kini kembali duduk tegak dan tertunduk.


"Aku tidak pernah melihatmu seperti itu." Tangannya meraih tangan besar lelaki itu. "Aku hanya takut tidak dapat membalas itu semua. Berhentilah untuk terlalu baik pada kami. Biar kami tunjukan kepada dunia akan perjuangan kami berdua seutuhnya. Bukan kah tanpa barang-barang yang kamu berikan, aku dan Vino tetap menyayangimu mas?"


Richie menatap Vino yang duduk diantara mereka. "Saya ingin memberimu kejutan dengan itu, tapi kamu nampak tidak menyukai ini, ya."


Lala melembutkan suara, " anda salah paham. Aku dan Vino sangat suka dengan ini." Dia mengenggam tangan Richie. "Namun, bila itu terlalu banyak, jujur aku menjadi terbebani. Jangan melalukan ini lagi, tapi terimakasih untuk semua hadiah spesial ini, itu sangat berarti untuk kami." Dia bersandar pada bahu Richie. "Tolong maafkan saya," katanya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Mhaaaa mhaaa mhaaa!" Vino berceloteh, berjalan menggapai sang Ibu. Lala melepaskan tangan setelah mengelus punggung Richie, dia mendekap Vino pelan dan menciumi pipi Vino yang aga chubhy. "Lihat, wajah anak ibu, tampan sekali, uh...Mmhhh."


Hal itu mengundang perhatian Richie, untuk turut mengecup pipi kanan Vino saat Lala mengecup pipi kiri Vino.


"Bolehkah aku memasuki kehidupan kalian." Richie menahan tetap mengecupi pipi mungil itu. Dia masih membungkuk, tangan kiri merangkul punggung Lala dan tangan lain menahan beban tubuh.


"Phaaa phhaaabpa bhaa," celotehan Vino menanggap dua kecupan dari dua orang dewasa itu, dua tangan mungil Vino memukul pelan pada pipi sang Ibu.


"Kamu sudah memasukinya, mas." Lala tersenyum hangat pada Richie, dia merasakan kehangatan tangan Richie yang mendekapnya, dan Vino yang berada dalam pelukan mereka. Terlebih kecupan Richie di rambutnya, walau ini masih tidak nyaman bagi Lala. Dia masih harus berjuang.


...***...


Lima hari berlalu, malam itu Richie berpamitan akan pulang ke markas untuk beberapa hari. Setelah Richie mendekap dan mengecupi Vino yang sudah tidur, kini dia menatap Lala dari ujung kaki mulus wanita itu dan kembali ke atas pada guratan muka baru bangun tidur wanita itu. "Makanlah tepat waktu." Richie menjadi kikuk.


"Iya, saya akan cepat kembali untukmu. Kamu beneran tidak mau ikut dengan saya ke markas?"


Lala menggeleng dengan pelan. Dia menatap tangan Richie yang tengah menggenggamnya, dua sudut bibirnya melengkung ke bawah, hatinya berdenyut. Gusar dengan kepergian Lelaki itu.


Richie mengangkat dagu Lala, dan semakin mendekat. "Hubungi Jefri bila kamu butuh sesuatu, dia mengawasimu."


Lala mengangguk kembali dengan pelan, susah menggambarkan situasi ini, entah mengapa dia ingin mendekap Richie, tapi diurungkannya.


Melihat sikap Lala membuat Richie semakin enggan meninggalkan wanita itu. Sungguh imut, saya jadi ngin sekali melahap mu, kan...

__ADS_1


Richie memiringkan wajah, bibirnya dengan jarak setengah senti dengan Lala. Tangan Lain menyentuh leher kanan Lala mengusapnya. Matanya meredup, aroma kulit wanita itu memancing energi dalam tubuhnya. Dia menatap Lala yang terlihat canggung dengan pipi yang telah memerah."Berikan saya hadiah..."


CUP!


Wanita itu menempelkan perlahan bibirnya, bibir Richie terasa panas. Mereka saling menatap, saat dua tangan wanita itu melingkar di leher Richie, membuat lelaki itu semakin menunduk dan menunggu hadiahnya manakala dua tangannya melingkar di pinggang sang wanita disaat jantung mulai memompa dan berdegub kencang. Sial! Richie merasakan ke..jantanannya yang beraksi.


Dia menjadi tak sabar, dia masih menahan gejolaknya, menunggu hadiah. Bibir wanita itu begitu lembut dan hangat. Wanita itu hanya mencium perlahan, tapi Richie semakin menahan kesetanan dalam dirinya karena itu. Dia tak bisa hanya diam, dan mulai memagut perlahan. Ini sangat gila, seakan terbang keluar angkasa.


Lala merasakan pagutan lembut lelaki itu, itu mengingatkan dua tahun lalu saat dihotel. Lala membuang pikirannya, tidak peduli gelapnya dua tahun lalu, kini dia tidak ingin melepas pagutan lelaki itu.


Dia merasakan betapa hangat tangan Richie di pinggangnya manakala merasakan dada Richie yang mulai menempel, tangan besar itu menarik pinggangnya lebih mendekat sampai Lala merasakan sesuatu keras diantara keduanya. Degub jantung Lala kian kentara. Mengapa itu terasa begitu besar.


Nafasnya beradu, Richie tidak ingin melepasnya, dia lebih dalam memagut. Lidahnya menari membolak-balik liur lengket manis strewberry di dalam mulut sang wanita, ini pertama kalinya dirinya merasakan balasan ciuman Lala tanpa ia memintanya.


Dia melepas mulutnya dan liur mereka menetes diantara lidah mereka.


Wajah mereka telah memerah dan nafasnya telah naik turun saling menatap disaat dalam diri mereka merasakan panas.


"Darling, ikutlah bersama saya..." kata Richie dalam suara beratnya tanpa menjauhkan wajah.


"Aku akan menunggu di sini." Lala memerjapkan mata, wajahnya sudah sangat memanas. Dua tangannya masih menggelayut pada leher si jangkung.


Perasaan nyaman di dekat lelaki itu, walau Richie mulai mendekapnya, dia mulai tidak keberatan akan hal itu. Bagaimanapun dirinya akan tetap butuh sosok pendamping nantinya.

__ADS_1


__ADS_2