Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 188 : PERUBAHAN JOHAN


__ADS_3

-POV Lala-


"Pacar?" Johan menggeram, "Aku tidak peduli, aku pasti mendapatkan mu."


Saya menarik tubuh untuk menjauh dari pelukan Johan, saya masih tidak mempercayai dia ... benar-benar Johan. Bagaimana bisa dia di kota ini. Jadi, semalam aku berdansa dengannya? Masuk akal kenapa semua terasa familiar.


Saya menurunkan mata ke sepatu kets biru, jeans denim, kemeja ketat berlengan pendek. Perubahan tubuh Johan terbentuk dengan sempurna. Selama dua tahun latihan apa yang kamu jalani? semakin ke atas saya menemukan sorot mata penuh kehangatan, yang saya rindukan, "Johan Orion Abimanyu."


Jauh dilubuk jiwaku dikejutkan oleh keputusasaan. Aku mulai gemetar hebat. Ketakutan menggantikan serangan kemarahan dan keputusasaan. Aku gemetar saat aku mere..mas gigiku."Aku benci melihat mu. Kamu mengingatkanku dengan Kevin-


"Tapi saya bukan Kevin. Saya Johan, saya tidak akan mendua, saya tidak akan berbuat seperti dia."


Saya menghela nafas berat, jiwa terasa berkabut dan menghimpit. "AAA-AAA!"saya berteriak bergetar menyayat hati dari keputusasaan, untuk setidaknya sesaat menghilangkan rasa sakit yang merobek dari dalam, yang tidak menyayangkan, tidak menyesal, tetapi memberi makan pada penderitaan dan kesedihan.


Seperti pecahnya tempurung kelapa yang keras, begitulah hati saya selama ini. Semua yang tertahan, apa yang terpendam memaksa keluar dari dalam, kemana lagi mensedekahkan luka, ya kepada siapa lagi, tapi Johan mungkin bisa. Lelaki itu selalu berdiri untuk saya.


Johan menatap saya, berdiri dalam background malam, di bagian kiri lumayan jauh lampu-lampu kuning dari petak-petak restoran.


Angin menerbangkan rambut saya, sebagian menempel pada pipi basah saya yang bersatu dalam isak. Saya menanguis kekanak-kanakan.


"Lepas semua yang membelitmu. Pindahkan rasa lelah mu pada saya." Johan berkata dengan menunjuk dada kekarnya.


"Susah, itu terus menghantui-" perasaan terkhianati itu tetap sulit kuhilangkan, terus datang tanpa diundang.


Hanya dengan Johan, saya bisa terbuka tanpa menjaga gengsi. Saya bisa memaki Johan sepuasnya, dia siap menerimanya meski itu bukan salahnya. Saya bisa berteriak tidak peduli bila ada orang yang mendengarnya.


Jarak kami hanya satu meter dan Johan terlihat tidak berniat mendekat.


Air mata besar pecah dan mengalir di pipiku. "KEVIN BRENGSEK!" Rasa sakit mencubit, menarik suatu tempat di bawah tulang rusuk. Bahuku gemetar karena isak tangis yang memilukan.


"Aku disini! aku disini datang padaku, Clarissa!!"


Saya melihat Johan menatap saya sangat dalam seakan menyedot semua luka dari dalam saya, membantu mengeluarkan semua yang membelit saya.


"Bersihkan. Buang siapapun yang membebani. Dan saya disini," katanya, mampu menenangkan saya.


"Sekarang, lihat aku tanpa embel-embel masa lalu. Datanglah kemari. Kita- ke saat awal, tidak saling mengenal." Johan membuka kedua tangan, "pelukan pertemanan," suara Johan serak.


"Apa kamu mau berjalan denganku menyusuri pantai malam? Give me, Princess." Johan membuka kedua tangan begitu lama, sampai deburan ombak bergantian "Datanglah ... Princess, atau Raja pantai akan menjemputmu."


Senyum lesu tak bernyawa, berkedut di sudut bibirku. Saya menyeka air mata, terhibur senyuman Johan, dia seperti seorang kakak.Walau dia bukan kakak, dan justru ayah dari anak-anak saya.


"Hati-hati ada ular di sekitarmu." Gumam Johan seperti sengaja, saya bergidik melihat ke belakang, merinding menyerbu sekujur sarafku.


"Mana!? ular?" Aku kembali menatap dia yang menyeringai. Sial, dia mengerjaiku.

__ADS_1


"Jadi? kamu tak mau mememelukku?" tawar dia masih membuka tangan. Saya berjalan melewati dia, mengabaikan tangannya.


Kami menapaki pinggir pantai dengan mulut kami terkunci, di bawah cahaya putih bulan, pipi basah saya geli oleh sapuan angin.


Saya mendongak, melipur Lara dengan pemandangan kesukaan saya. Apa ada seribu?Sangat Indah


BUK!Johan menabrak saya membuat saya nyaris terjerembab ke depan tapi Johan menahannya, sehingga saya tidak terjatuh.


"Luar biasa." Saya memandangi langit malam. Menatap kelap-kelip bintang paling terang. Aku berjanji akan melupakan sakit ini. Aku berjanji.


Johan menyentuh bahu saya "Kamu bisa menghitung jumlahnya?"


"Tidak."


"Ada dua ribu."


"Bagaimana kamu tahu?"


Dia melemparkan jemari kedalam jemariku sementara tangan lain melingkar di punggung saya.


"Jo!" Tubuh saya terhempas ke belakang, dia menahan punggung saya.


"Aku tidak tahu, aku hanya menebak. Sepertinya banyak. Tapi saya meyakini jika bintang-bintang lebih banyak bersembunyi dimatamu."


"Memalukan jangan menggodaku-"


Suara Johan serak, membuat saya gugup, wajah saya menghangat. "Jangan berlebihan."


Mencengkram lengan Johan, saya tidak mau jatuh ke pasir.


"Berapa Lama Anda kuat tetap seperti ini? Apa tulang punggungmu kuat?"tanya dia.


"Kaki saya tidak sekuat itu, bantu aku berdiri." Jantung saya seperti seperti gendang ketipak-ketipuk, bagamanapun juga Johan seorang pria yang tampan dan penuh pesona, saya takut jatuh kedalamnnya.


"Aku akan membuatnya kuat. Lepaskan tanganmu, ayo lepas."


Alis saya terangkar perlahan, "untuk apa?"


"Percayalah."


Melepas pegangan, saya memangku tangan di depan dada, dan Johan masih menahan punggung dengan tangan kirinya. "Pejamkan mata dan lemaskan" Johan mengetuk ujung bahu saya."percayalah kepada diri mu."


Cukup lama saya memejamkan mata melemaskan punggung saya, melepaskan semua beban dan merasakan lingkaran tangan hangat Johan yang menumpu punggung saya. Saya seperti di atas ayunan. Ini menenangkan.


"Lala," terdengar suara serak Johan tapi sangat blak-blakan.

__ADS_1


Pipi terbakar saat Johan membelai wajahku dengan tatapan penuh perhatian. Mata gelap diterangi milyaran kembang api. Senyuman Johan yang membuat saya gila.


"Johan, tolong lepaskan," saya tersadar, saat dia membungkuk lebih rendah, lantas saya meraih ujung kaus Johan, tangan Johan yang lain menutup bibir saya.


"Berhenti. Tunggu. Biarkan aku yang melakukannya." Suara Johan rendah, lembut dan serak.


Saya menggelengkan kepala perlahan dan menurunkan mata ke pasir agar tidak bertemu mata Johan. Dia tidak berhenti, tangan kekar itu meraih dagu saya.


"Jangan," kata saya tercekat menatap mata liarnya.


Johan tidak melewatkan kesempatan untuk membelai bibir saya, jempol keras itu menekan bibir, posisinya mengunci hingga saya tidak bisa berbuat apa-apa.


Dari sentuhan jempolnya, saya meleleh, dan merinding menjalari tubuh. Merasakan hembusan panas Johan. Saya berusaha mengembalikan kewarasan saya.


Membelalak dan air mata saya meluncur kembali saat Johan memejamkan mata, terlihat alis menggantung itu indah, sinar bulan terhalangi kepala dengan fitur rahang keras, cahaya bulan sedikit menembus di ujung rambutnya.


Bibir lebar itu mulai sedikit terbuka, bahkan panas bibir itu menguar.


Hembusan Johan terasa menyerbu wajah saya saat hidung panas itu menempel dan membuat bibir saya bergetar oleh sengatan listrik menusuk dan merayap ke seluruh saraf saya, mengaktifkan segala hal sensitif.


Wajah saya menghangat, tubuh saya bereaksi lain, "Richie," kata saya bergetar saat nafas saya mulai terengah oleh endusan hidungnya, ketika nafas kami terus tertukar.


Mata Johan, terbuka dengan tajam. Saya dapat menangkap perubahan drastis, seperti ada bara yang menyala di matanya.


Lelaki itu berdecak, pandangannya berubah tajam seakan mau mencongkel mata saya membuat tubuh saya makin gemetar.


Johan menjilat dan menggigit bibirnya sendiri, menarik pinggang saya dengan kasar, dia menggeram "Richie?"


Johan mengguncang bahu saya hingga bergetar,"Richie???" tanya Johan sekali lagi, menahan suaranya yang seperti mau meledak. Hidung Johan berkedut dan dia menggeram.


"Ya, Richie, kami dekat sekarang." Saya meremas gaun saya, memang itu fakta, saya menegaskan akan ada Richie di hati saya, mungkin itu menyakiti Johan, tapi yang penting sekarang adalah saya sudah bebas tanpa perlu harus berciuman. Saya masih berusaha mengatur nafas saya yang sempat tertahan dimana Jantung saya masih berdebar kencang tak dapat saya kontrol.


Sementara Johan berubah dingin seperti es kutub, lelaki itu mengerutkan alis seolah tidak mempercayai perkataan saya. Dia menarik pergelangan saya. Dan saya tak bersuara mengikuti langkahnya.


Di Restoran saya memandangi dia makan, dia telah memesan makanan kesukaannya. Sementara Sasha meninggalkan saya berdua dengan Johan, beralasan ke kamar mandi tapi belum kembali.


"Makan," dia berkata datar sambil mendorong comotan ikan bakar ke depan mulut saya.


"Tapi, sa-ya kenyang- Jo."


Mata Johan sangat dingin, dan menakutkan untuk menatap matanya."Hmm,"


Sebelumnya, Johan tidak pernah bersikap seperti ini, saya tak berani melawannya, dia bukan Johan yang dulu. Saya buru-buru melahapnya.


Apa hanya perasaanku saja dia menyentuh lidahku. Aku menunduk, wajahku menghangat, mengunyah pelan, aura Johan kini kuat , dia sangat berbeda...

__ADS_1


Menyeruput capit kepiting, menjilat bibirnya yang penuh saus orange, dia sangat rupawan.


Saya merinding. Saat Johan menangkap tatapanku dan balik menatap 'berbeda' saat menjilat sensual jempol berlumuran bumbu dalam pandangan tajam seperti macan. "Kitty, ikut saya ke hotel."


__ADS_2