
Ting-
Tong-
Bel Kamar berbunyi, seseorang menempelkan kunci.
Flip
Jeglek
Mata Lala terpejam. Ia pura-pura tak sadarkan diri.
Suara langkah kaki mendadak tergopoh-gopoh. Tubuh Lala diangkat perlahan dan dipindahkan dari karpet ke bed yang sangat empuk.
Suara langkah kaki itu menjauh. Kemudian Lala mengintip sedikit.
...Dia membuka kemejanya ? Batin Lala....
Dilihat sosok pemuda tinggi itu, sungguh tinggi. Mungkin 190an, nyaris dua meter.
...Punggung itu ... baru kali ini aku melihat punggung pria dewasa. Apakah memang berotot seperti itu!...
Lala memejamkan mata saat laki-laki itu menoleh membuat jantungnya berdegub cepat dan diri nya nyaris ketahuan.
Suara langkah kaki itu lagi.
Dentingan gelas dan kucuran air dari botol.
...Sebenarnya orang itu sedang apa? Aku pura-pura tidur saja, agar dia tak menyentuhku?...
Cukup lama Lala memejamkan mata, berjaga-jaga, sampai benar-benar ketiduran. Sampai dia merasakan udara panas di sekitar wajah. Sesuatu seperti mendekati wajah!
Lala gusar, apa dia harus pasrah. Tidak berani melawan perintah Kevin, tapi dia takut menghadapi situasi ini.
"LALA, kau pura-pura pingsan? Aku tau kamu mendengarku," bisik pria itu dengan riang yang mungkin sedang tersenyum.
"Suaranya seperti Johan, tidak mungkin Johan! Kalau aku membuka mata dan bukan Johan, celaka lah aku." Batinnya.
"Lala kau mengintip punggungku. Masih mau pura-pura tidur? Atau aku mencium ini," ibu jari orang itu menekan bibirnya.
Lala memberanikan diri membuka mata, matanya melebar memastikan. "Ini ! benar-benar kamu?" Lala memeluk leher Johan yang tengah menunduk diatasnya.
"Apa sesenang itu karena aku yang datang?" Johan menyeringai.
"Tunggu ...." Lala melepas pelukan.dan duduk dibantu Johan.
"Kenapa kamu bisa di sini, bagaimana bila seseorang datang?" Lala khawatir
"Kevin? "Tanya Johan.
"Kamu kenal Kevin? tunggu kenapa kau memiliki kunci? tunggu bukan itu ... sebaiknya kamu cepat keluar sebelum orang itu datang." Lala semakin khawatir.
"Orang siapa?" Johan memancing.
"Orang yang dikirim Kevin." Lirih Lala.
__ADS_1
"Bagaimana bila aku orangnya?" Ucap Johan dingin.
"Jangan bercanda gak lucu sama sekali," gerutu Lala sangat malu karena dirinya akan terlihat rendah di mata Jo.
"Kau bisa tanya Kevin kalau tidak percaya, mau aku telfonkan?" Tawar Johan.
Lala menggelengkan kepala cepat. Tangan mengangkat dress panjang sebetis, yang telah naik sampai di lutut.
"Apa yang kau Lakukan!?"Johan menatap tajam menahan tangan Lala.
"Kalau kamu yang dikirimkan Kevin, artinya aku harus memberikannya." Lala tertunduk malu dan muram.
"Aku tidak akan melakukannya, kalau itu bukan kemauan mu sendiri." Johan mengucapkannya dengan begitu jelas.
"Tapi, Kevin akan marah .... " Lala dengan wajah tertekuk. Walau, dia sangat senang, tetapi cemas terus menghinggapi.
"Aku dan Kevin adalah teman, kami tumbuh bersama," kata Johan pindah ke sofa. Pria tampan itu mulai menyesap wine.
"Semalam aku tiba di hotel lebih awal tapi pertemuan ku dan Kevin mendadak batal. Saat itu aku baru parkir, sampai aku melihatmu berlari dan kau terjatuh," suara Johan parau pertanda mulai mabuk.
"Kevin telah melelang mu di pasar gelap. Aku termasuk anggotanya. Kau tahu ... mereka kebanyakan para mafia yang sudah berumur. Aku berhasil memenangkanmu dalam lelang itu Lala." Johan memandangi segelas wine terakhir.
"Minum ..." Johan mengacungkan gelas wine.
"Jangan memaksaku untuk minum itu, Jo," jawab Lala datar.
"Kalau kau tidak mau minum, Kevin bisa menghukum mu lebih berat." Johan menyandarkan kepala ke sofa, matanya terpejam dan gelas itu terlepas dari tangan dan tumpah dengan airnya.
Lala meloncat karena kaget pada pecahan gelas. Diraih tisu sebanyak-banyaknya dan mengumpulkan pecahan gelas agar tidak melukai Johan.
Beberapa menit berlalu, Lala berjalan ke sofa mendekati Johan.
Johan meraih tangan Lala, membuat tubuh gadis itu oleng ke bahu Johan. "Kau mau mencoba menggodaku?” dengan suara parau.
"Siapa yang menggoda?" Jawab Lala, menoleh ke samping, laki-laki itu masih terpejam. Apa Dia mengigau? Disingkirkan tangan Johan yang mendekap bahunya, pelan-pelan berhasil. Lala berdiri memandangi Johan.
"Temani aku." Pungkas Johan membuka mata, menatap dalam ke Lala. Gadis cantik itu ditarik lagi sampai terduduk di sebelahnya.
Johan belum pernah sedingin itu, apa karena Ia mabuk?
Tangan Lala terus di genggam Johan. Pria berhidung mancung itu kembali menyandarkan kepala ke sofa.
Ya benar, Ia terlihat sangat mabuk.
_________________€€€€€€______________
*** Di Tempat Lain, Kediaman Rumah Keluarga Kevin. ***
Di ruang santai bernuansa klasik dengan banyak rak-rak buku dan dua buah sofa. Kevin terus membolak-balik buku, entah apa yang sedang dibaca. Buku di tangan itu bak kertas kosong yang tidak bisa mengalihkan pikiran yang sangat ruwet.
Ia malah sibuk menebak-nebak apa yang sedang dilakukan gadis itu dengan temannya. Dirinya sedikit gusar dengan bayangan-bayangan Lala yang terus memborbardirnya.
Di tengah Ia pusing, masuklah orang bertubuh maskulin yang lebih tua, dan menjatuhkan tubuh atletis. Entah sengaja atau tidak, ini membuatnya sangat kesal karena tangannya sakit berbenturan dengan tangan Luca.
"Makin terkenal ...."
__ADS_1
"Luca Martini, urusi urusanmu sendiri." Kevin dingin tak mau menggubris orang yang selalu membuat kesal.
"Panggil Abang atau Koko. Aku ini Kakakmu, sopan sedikit," tegur Luca Martini, anak nomor satu.
"Vin, dimana sopan santunmu? Kenapa didikan etika itu tak kau terapkan pada keluargamu?" Lelaki Tua yang baru masuk, kini telah berdiri di depan Kevin.
"Terserahlah, selalu saya yang salah di mata Papa! Selalu saja Luca yang Papa bela. Sedikit-sedikit Luca, seharusnya Luca saja yang dilahirkan ! Tidak perlu ada Kevin ! " teriak Kevin sembari menatap papa dengan kebencian yang sudah menggunung. Kemarahan yang sudah di tahan selama bertahun-tahun kini meledak begitu saja.
PLAK !
Tamparan mendarat keras di pipi meninggalkan jejak merah di wajah Kevin.
"Anak Ini!" geram papa hendak menampar Kevin lagi.
"Papa Hentikan, sudah, sudah... " Luca Martini menahan papa.
"Kevin, Kau bocah tak tau di untung! Lihat, kau mengurus Proyek Reklamasi XXX saja tak becus! Coba ku berikan proyek itu pada Abangm-Luca pasti semua beres !" Anton mencerca anaknya yang suka melawan.
Kevin bangkit dari duduk, meletakan buku dengan kasar. Ia berdiri menatap papanya. "Luca! Luca terus!proyek XXX batal karena ulah gadis culun itu- "
"Kau tidak perlu mengkambing hitamkan orang lain. Kau kira Papa tidak tahu, semua itu batal karena kau meninggalkan rapatnya begitu saja. Kalau kamu bisa lebih mengontrol emosimu, proyek itu pun bisa tetap kau menangkan! Masih saja ya, kau tidak belajar !" ucapan Anton terhenti.
Kevin pergi dari ruangan dengan penuh kekecewaan, meninggalkan Anton dengan Luca di ruang yang terasa menyesakan.
"Papa, jangan terlalu keras kepada Kevin. Dia telah berusaha, untuk anak umur dua puluh tahun wajar sikapnya masih remaja, Pa ..." Luca Martini menenangkan hati papa.
"Saat kamu usia delapan belas tahun--" ucapan Anton terpotong.
"Jangan terlalu membanding-bandingkan anak-anak Papa satu sama lain. Luca hanya tidak Ingin jika nantinya Papa menyesal, "Luca Martini mengelus-ngelus pundak papa. Dia mengambil tabletnya di sofa dan berlalu meninggalkan papa.
"Anak -anak itu, hah! Seandainya aku punya anak perempuan, atau paling tidak, menantu. Kapan Luca akan membawakan aku menantu? Luca terlalu berkutat dengan Kantornya."
"Aku harus mencarikan menantu yang berani dan pintar, tapi siapa?" ujar Anton.
___________________
⬇️POV Kevin⬇️
Ini yang tidak saya inginkan bila pulang, selalu ribut dan ribut. Saya menjatuhkan diri dengan kasar ke kasur besar, menatap langit- langit kamar.
Apa yang sedang gadis itu lakukan? apa Lala menikmati?
Saya coba memejamkan mata. Bayang-bayang gadis itu mulai muncul di kepala, semakin saya menyingkirkan, semakin gambaran Lala terekam jelas di otak saya.
Apa dia kesakitan? Apa Johan memperlakukan dengan baik? mereka sedang bersenang-senang?
Kenapa saya harus memikirkan itu?
Pelukan di lift mengapa membuatku tenang?
Apa mereka sedang berpelukan sekarang? Tidak! Gadis itu pasti menolakkan!
Saya memegangi bibir yang sempat menyentuh bibir sensualnya. Begitu lembut. Bagaimana bila saya betulan berciuman dengan cara yang benar? Tidak! Dia gadis miskin.
Apa saya bisa merasakannya lagi? Ayolah, apa yang saya pikirkan? saya tidak mau menurunkan level hanya karena dia!
__ADS_1
Ah Sial! Pasti mereka sedang berciumankan?
Saya melempar remote AC saking kesalnya.