Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 92 : MARKAS RICHIE


__ADS_3

Tangan Richie merasakan sesuatu hangat yang bergerak-gerak membuat dia membuka mata dan terbelalak saat tangannya berada di atas perut Lala, dia akan menarik tangannya... tapi tendangan bayi itu seperti keajaiban yang luar biasa, dia terperangah bertahan sebentar disana dengan mata berkilauan memandangi langit kamar saat bayi itu semakin menendang tangannya.


Keasikan itu semakin mendebarkan saat tangan Lala menangkap tangan Richie membuat sang empu was-was  lehernya menegang, dia melongok dan mendapati wanita itu masih terpejam. Richie perlahan membebaskan tangannya dan berangsur menjauh.


Dia menapaki lantai, berdiri dengan tegak, tangannya membelitkan kembali tali jubah tidur, dia menghela nafas mendapati ‘adik kecilnya’ minta disayang.


"Poo Poo buka tirai," kata Richie.


BIP


"Selamat pagi Tuan. Cukup dengan secangkir kopi dan senyuman manismu berhasil membuat pagi ku menjadi sempurna. Apa kabar, Tuanku tercinta?" tanya Poo Poo, si teknologi kecerdasan buatan yang Richie gunakan di markasnya.


*perangkat kecerdasan buatan tahu lebih banyak tentang manusia daripada yang manusia harapkan*


"Bualanmu buruk sekali Poo Poo, seperti pagi ku."


"Tuan mau mendengarkan saya bernyanyi, itu bisa sedikit menghibur?"


"Suaramu jelek."


"Maafkan saya.”


Cahaya semakin benderang menyapu kamar saat tirai kamar  berangsur-angsur tersingkap dari sisi tengah memisah saling menjauh.


Richie mengamati wajah di pantulan cermin. Dia menyibakkan rambut ke belakang, "menawan." Dia memegangi janggut sesekali mengelus dan tersenyum tengok kanan-tengok kiri, "oke."


Dia meneliti wajah senti demi senti, dia mengerutkan dahi manakala menemukan satu kerutan kecil di ujung mata, "apa ini? apa ini normal di usia saya ke 30? Apa saya harus mulai mencicipi daun muda? orang bilang bercinta menjaga awet muda. Sial! Jika begitu, saya harus cepat menikah. Tapi dengan siapa? mereka hanya mengincar apa yang saya miliki, CK!"


"Tuan, mau kopi atau susu?" tanya Poo Poo.


"Espresso Macchiato, dan ... pelankan suaramu," kata Richie.


"Baik Tuan, Anda ingin roti panggang?" tanya Poo Poo lebih pelan.


"Tidak," Richie beringsut ke kamar mandi.


"Poo Poo, berikan aroma stimulate kuat dan sensual," kata Richie dengan suara dalam dan tangan yang memerosotkan boxer, menyingkapkan sedikit jubah tidurnya, menjajaki daging panas  kebanggaannya.


"Poo Poo mendeteksi hastrat anda sedang tinggi. Apa anda butuh audio rangsangan atau film..."


"Berisik. Diam kau."


"Baik, maafkan saya."


Hidung Richie mengembang lalu mengempis, nafasnya berat berpacu seiring dengan aroma sensual yang menyeruak di kamar mandi, tatapan mata dalam melihat pantulan diri di cermin, Ia menjilat bibirnya. Sesekali matanya terpejam. Dia beringsut duduk di dalam bathtub, mendengar rintihannya sendiri di tengah kesibukan membebaskan benih-benihnya.


...🍀🍀...


Selesai memeriksa tekanan darah Lala, perawat bergegas keluar namun baki steinlesteel berisi bekas alat suntik itu jatuh kelantai.


Klontang!


Perawat itu mendelik dan jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar mengumpulkan peralatan suntik yang tercecer.

__ADS_1


Kegaduhan membangunkan Lala, dia duduk ... menyingkirkan selimut dan mendapati dirinya telah berganti baju. Dia mulai menyadari berada di tempat asing dan bukan di kamarnya. Jantungnya berdetak cepat saat ingatan semalam kembali.


"Johan. Dimana Johan!" gumam Lala dengan suara sengau. Dia mencabut infus tak mempedulikan rasa tak nyaman yang menyerang badannya. Lala menapaki lantai dingin menuju dinding kaca besar, menjelajahi pemandangan luar yang sangat asing. Pohon-pohon dan hutan yang sangat berbeda dari tempat tinggalnya.


TING!


Cuuuur!


Air memancur dari sebuah kotak hitam ke sebuah cangkir di sudut ruangan, kepulan panas dan aroma kopi menyeruak mengalihkan perhatian Lala.


Wanita itu berbicara dengan Lala tanpa Lala tahu maksudnya, Lala memberontak, menghempaskan sampai tubuh wanita itu terjatuh.


Lala mempercepat langkah dan semakin berlari ke arah pintu dengan wajah pucat dan harap-harap cemas, hatinya tak karuan menebak-nebak kondisi Johan.


Pintu itu tidak ada kenop dan beberapa detik kemudian terbuka, tanpa berpikir Lala terus berjalan cepat menjauh dari kamar.


"Dimana Johan?" gumamnya sambil mencermati ke segala penjuru tempat itu.


Tangannya membekam pagar tingkat, melongok ke lantai dasar, dibawah banyak orang berpakaian hitam, "apa aku harus turun kesana? dimana liftnya?"


Terdengar suara langkah sepatu semakin kentara, Lala menoleh kanan-kiri, "aku harus sembunyi dulu," memutar kenop pintu-pintu kamar, "semuanya terkunci."


Lala berlari menjauhi suara sampai di sisi kiri ada lorong, dia menyelinap tepat sebelum mereka muncul. Lala duduk di balik Guci besar dengan jantung mau copot dan mata terpejam saat suara sepatu orang-orang itu tengah lewat


Puk!


Seseorang menepuk pundak Lala membuatnya gemetar, "Mati aku," dia membuka mata, terlihat tangan keriput itu mengulurkan tangan dan berbicara dengan bahasa asing.


Lala menoleh dan berdiri dengan kesulitan, menyambut tangan kakek itu yang sedang tersenyum, 'sepertinya dia tak jahat,' batin Lala.


Lala menoleh, ke asal suara yang cukup di kenalnya "Tuan Richie?" Lala menghela nafas, 'aku kira aku akan mati.'


"Mau kemana?" Richie mendatangi Lala dengan langkah besar.


"Dimana saya, kenapa anda disni?" tanya Lala saat Richie mengulurkan tangan dengan telapak tangan menghadap atas.


Richie berbicara dengan kakek itu bahasa asing, lalu beralih lagi pada Lala, "Berikan tanganmu," kata Richie pada Lala dingin.


"Tidak."


"Ikuti saya," kata Richie dengan langkah cepat membuat Lala ketinggalan.


Di ruang makan dengan view hutan, jam menunjukan jam  delapan pagi. Di atas meja ada, pancake, omelet, waffle, sandwich dan brioche.


Lala termenung memandangi makanan sebanyak itu sementara hanya ada dia dengan Richie.Sx


Sementara di piring depan Lala berisi lengkap telur mata sapi, bacon, sosis, roti panggang, baked beans, dan tomat goreng, di dekatnya sup hangat.


Richie sedang menyobek roti, lalu mencelupkan ke sup sesaat lalu melahapnya, "Jangan hanya memandangiku. Bayi-bayimu butuh makan."


"Tapi__"


"Saya tidak akan menjawab pertanyaan, sebelum anda menyelesaikan sarapan."

__ADS_1


Lala memakannya dengan setengah hati, mana bisa makan saat keadaan tak jelas seperti ini, dirinya bahkan belum sempat ke kamar mandi dan Richie membawanya kesini.


"Habiskan makananmu atau saya takkan menjawabnya," kata Richie setelah selesai makan, "Kau tahu semalam suhumu hanya 32 derajat, jantung dan otak mu bisa rusak. Mengapa kau tak menyentuh supnya? bodoh."


Lala baru menyentuh sendok sup dengan tangan gemetar.


"Itu sudah dingin, tunggu.." kata Richie lalu dia berbicara pada pelayan.


"Ini saja," kata Lala tanpa menoleh ke Richie.


"Saya bilang jangan dimakan ya jangan."


"Tapi saya tidak bisa makan makanan panas."


"Anda harus makan sup hangat, jangan melawan saya," kata Richie dingin. "Suhu badanmu kan harus normal, hah! memang susah bicara denganmu Nyonya Saint.


"Pelayan mengantarkan sup baru dan meletakannya di depan Lala, dengan hati dongkol Lala meniup-niup sup itu supaya dingin, ’Mengesalkan!’ batin Lala saat Richie terus menatap tajam.


“Tuan Richie aku mau menelpon suami saya, pinjamkan saya telepon.”


“Suamimu tak akan memegang telpon sebelum jam 12, percuma anda menelponnya.”


‘Dia bisa tahu kebiasaan Kevin?’ Batin Lala.


“Ceritakan pada saya mengapa saya bisa disini, dimana Johan?” tanya Lala nadanya berubah kesal.


“Johan? Siapa Johan?”


“Ah anda berputar-putar, dia yang bersama saya.”


“Maksudku hubungan Nyonya Saint dengan lelaki itu apa?


“Dimana dia, kumohon Tuan Richie, dia sahabat saya. Cepat bawa saya.”


“Tidak bisa, Nyonya Saint.” Richie melihat jam tangan, “temanmu itu sudah membuat masalah.”


“Masalah Apa? Aku mau menemuinya.”


Richie mendorong kursinya, dia berdiri “tidak bisa. Anda akan diantar pulang sebentar lagi, bersiaplah.”


Lala meraih tangan Richie,”anda bilang akan menjawab pertanya saya! Masalah apa yang membuat aku tidak bisa menemuinya! Jadi itu anak buah Anda? Jika benua ini di pimpin lima ketua, dan salah satunya suamiku. Jadi seharunya suami saya memiliki hak melindungi Johankan ?”


Richie berbalik mendekat ke wajah Lala, dia menatap tajam pada mata biru langit Lala, ‘indah’batin Richie. ”Hmmm.. Teman Anda tidak cerita?”


Richie tertawa kecil sembari memperbaiki berdirinya, tangan kiri masuk saku celana.


“Memang benua ini memiliki lima ketua,” kata Richie seraya melebarkan telapak tangan kanan yang terangkat setinggi telinga Richie


“Biar saya beri tahu,  lima ketua fraksi utara, mereka yang terkenal dengan panggilan Koboi seperti topinya ... Yah mereka masing-masing menguasai 10  persen,” tangan kanan Richie terus terayun dengan menunjuk “suami anda 20 persen, dan sisanya wilayah saya 30 persen. Jadi, saya jauh diatas Kevin.”


Richie mendelik dan mencengkram rahang Lala dengan suara naik satu oktaf, “Dan Anda tak memiliki wewenang apapun, terlebih kota ini  masih di bawah pengawasan saya, Nyonya Saint.”


Richie melepaskan wanita hamil yang tengah gemetar itu, membuat Richie mengatup mulutnya terlebih karena sudut bibir Lala yang tertarik ke bawah membuat dia geram.

__ADS_1


“Dan temanmu membuat keributan di wilayah saya yang mana bukan masalah sepele. Anda tahu hal terburuknya ...? Jadi Ikuti saya. Anda akan tahu jawabannya,” kata Richie dengan penuh penekanan.


__ADS_2