
"Nyonya... nanti kakinya bisa keram lagi."
"Kamu tahu sendiri bayi-bayiku setress belakangan ini, saya bosan dengan cuma duduk, Inem."
Pintu lift terbuka di lantai tiga, Fabio memasuki lift dengan wajah murung.
"Ada masalah apa, bio?" tanya Lala menyandarkan kepala pada bahu adik ipar.
"Perempuan memang sulit dimengerti ya, kak," ketus Fabio.
"Apa? Bio? kakak iparmu ini, juga perempuan, loh."
"Pantas, Ka'Kev berulah."
"Apa? apa maksudmu dengan berulah?"
"Ya pasti Ka'La membuat Ka'Kev bingung. Dia sering terlihat melamun, pernah aku melihat dia marah-marah saat di ruang gym, lalu berteriak, 'Lalaaa!' 'Lalaaaa!'," kata Fabio dengan nada suara menyamakan Kevin yang sedang marah.
Lala tertawa, dia menjauh dari fabio.
"Oh iya? baru tahu tuh, suamiku bisa begitu? " gumam Lala, yang tidak pernah melihat Kevin marah-marah lagi.
Mereka keluar dari lift menuju ruang keluarga. Lala duduk disebelah Fabio, menggoda adik iparnya yang mengerucutkan bibir sampai empat centi.
"Jadi, kamu lagi ada masalah dengan cewek? pacar ya? pacar kan?!"
"Dia teman, hanya teman dari kecil. Dia marah karena tahu aku menjadikan dia taruhan dalam balapan ku."
Lala menggeleng kepala, ingin rasanya menabok adik ipar, "kamu kata dia barang?"
"Tuh kan aku dimarahin lagi, bukannya kasih cara biar dia mau maafin aku, ayolah, kasih tahu," kata Fabio dengan kepala bersandar ke belakang sofa.
"Lagian, kamu pakai taruhan lagi."
"Badboy, atau playboy ingusan itu mencoba mendekati dia, dan playboy itu justru menantang aku. Tantangannya aku terima asal jika aku menang, tuh playboy harus menjauhi dia!"
Melihat penyesalan dan kebingungan fabio, Lala merasa iba, "kamu sudah minta maaf? coba kamu jelaskan ke dia, alasan kamu melakukan taruhan."
"Belum, gimana mau minta maaf, nomerku saja diblokir. Dia selalu menghindari setiap aku mendatangi, kesel deh!"
"Bio, Dia mungkin butuh waktu, sabar," menepuk pundak fabio menguatkan hati adik ipar.
"Coba kamu tulis surat permintaan maaf, dengan penuh ketulusan. Lalu, titipkan pada teman dekatnya. Pasti lambat laun, dia akan mengerti," kata Lala dengan kaki naik sofa dan menekuk duduk menghadap fabio.
__ADS_1
"Gitu ya? gimana kalo dia nggak mau ngomong sama aku? waktu ku hanya sampai lulus sekolah sebelum pindah ke sini," kata fabio mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Kamu ini! yang penting coba dulu," kata Lala geregetan.
"Apa yang di coba?" tanya Luca setelah mendengar bentakan Lala. Dia duduk di sebelah Lala membawa kotak berisi balon dan alat peniup.
Lala menurunkan kaki dari atas sofa, membalikan tubuh, duduk menghadap Luca, "Hmmm adik mu-"
Fabio mendongak dan langsung membekap mulut ipar dari belakang, "Mie korea terbaru!! harus di coba ka Luc!!" kata Fabio gelagapan, bisa celaka kalau Luca sampai tahu dia pacaran. Kakaknya itu melarang dia pacaran sampai lulus SMA, atau dirinya tidak akan mendapat hadiah mobil baru.
"Mie??? bukannya- Ahhh!" Lala meringis saat Fabio mencubit pinggang belakang.
"IYA KAN KAK, E-MIE," kata Fabio penuh penekanan sambil mencubit kaka ipar lebih kuat.
"aUUUW! AAiya mie! mie koreaww!" Lala menyingkirkan cubitan Fabio sambil menahan ringisan.
Luca menyelidik dan lebih mendekat karena senyum aneh Lala. "Kamu kenapa?"
"Aku fine-fine saja," sahut Lala tesenyum garing.
"Oh," kata Luca, beralih dari wajah Lala dan melihat Fabio yang cengir-cengir. Luca melempar sebengket balon dan alat peniup, " bantu kakak."
"Papa dimana kak?"
"Kita gagal dong kasih surprise?"
Luca menarik pita Hias di tangannya, pita siap pakai itu, sekali ditarik langsung terbentuk, "Mama bilang, jam sebelas malam, papah sudah pulang."
Tanpa sengaja Lala meraih pita itu hampir bersamaan dengan Luca. Mereka terdiam sejenak, Luca menahan tangan Lala yang terasa begitu hangat, halus, dan lembut.
Lala terpaku pada tangan hangat dan jemari Luca yang gemetar.
Mata Luca kembali mengembun, dia melirik Lala yang hanya berkedip menatap tangan itu.
Duarr! balon hijau meletus.
Lala dan Luca tersentak kaget.
"A 'ahh!! bikin kaget!" seru Fabio yang begitu dag dig dug sambil mengelus-ngelus dada sendiri.
"Yang bener dong, bisa habis itu balon," bentak Luca yang tak kalah kaget. Jantungnya masih berdebar kencang sampai tak sadar menarik tangan Lala ke dada.
Lala yang juga kaget setengah mati, lebih kaget saat tangan kanan sudah di dada Luca. Dia termenung, apa jantung memang biasanya berdegub sekencang dan sehangat itu sampai -deguban kuat- begitu kentara di telapak tangan.
__ADS_1
Lala tersadar, setelah berpandangan dengan Luca. 'lagi-lagi senyuman itu.'
"La..." panggil Luca sangat pelan,
dengan mata merah yang berkaca-kaca, membuat Lala menelan saliva. Lala merasa kasihan pada orang yang selalu menemani hari-harinya dulu, yang selalu mengajari tugas kuliah, yang selalu mengajak jalan dan selalu mencicipi makanan baru tiap resto. Yang selalu mengantar sepulang dari kerja waktu di resto.
Lala melepas tangan dari Luca saat lelaki itu mengucap," I LOVE YOU," dengan suara pelan dan tatapan sangat dalam.
"Ah!! mana aku tahu kalau balonnya mau meletus, kak Luc!" kesal fabio sambil menekan alat itu, membuat dua orang itu kembali ke dunia nyata.
"Begitu saja nggak bisa," gerutu Luca kembali meraih pita.
"Sudah-sudah, itu hanya balon, masih banyak kan," kata Lala membela Fabio, membuat yang dibela tersenyum penuh kemenangan dan meledek Luca.
Lala dan Luca terus menunduk, Lala memastikan mengambil pita itu saat tangan Luca tidak di sana.
Persiapan mereka selesai.
"Lala, bantu saya bikin kue," kata Sheril yang baru duduk di sebelah Luca, dia memegangi bahu yang pegal.
"Ikut mah," kata Luca.
"Sejak kapan kamu mau ikut bikin kue?" tanya Sheril heran dengan sikap tidak biasa Luca "Ke dapur saja nggak pernah, berlaga mau bikin kue, yang ada kue mamah berantakan."
"Yang kaka tahu kan Laptop dan angka-angka, alat berat, dan bangunan," kata Fabio sambil tertawa, dia mengikat balon terakhir, lalu memasukan ke keranjang besar.
"Dari pada kau, tahunya balapan dan taruhan. Berapa mobil yang sudah kau hilangkan coba, Bi!?" geram Luca, sambil melempar kardus kecil ke Fabio.
Lala memegangi kening, "kalian ya, terus berantem, uuuh! kepalaku sampai pusing."
"Maaf!" kata Luca dan Fabio bersamaan. Luca memegangi kepala Lala, fabio memegangi tangan Lala .
"Lala, mereka selalu begitu," kata Sheril menatap langit-langit ruang keluarga. Bagi Sheril, nikmat bersandar pada sofa memang tidak ada duanya. Kepala Sheril yang bersandar merasakan keempukan sofa, sesekali memejamkan mata, saking lelah setelah mendekorasi kamar demi hadiah luar biasa untuk Anton nanti malam.
"Mamah!" teriak Luca dan fabio bersamaan.
Lala segera memindahkan pita-pita dari pangkuan ke atas meja, "ayo mah, bikin kue."
Sheril melingkarkan tangan di pinggang Lala. Dua perempuan meninggalkan para pria.
"Mereka itu terus ribut saat dekat, dan mencari kala jauh," bisik Sheril pada Lala sambil tertawa.Ibu mertua dan menantu itu tertawa menuju lift.
"Kak Luc! uang jajan!!"
__ADS_1
"Ah berisik, nanti," kata Luca tanpa menoleh menyusul mereka.