
Udara mulai dingin dibawah lampu neon saat suara tangisan Vino memenuhi ruangan dalam gendongan sang ibu. Bayi itu meregang menjerit dan menangis tidak ketulungan. Richie berusaha menghiburnya dengan lampu kelap-kelip merah muda pada mainan mobil, tapi tidak kunjung berhasil.
“Kemarikan.” Richie menggendong mengambil alih, dan membawanya menuju pelataran rumah. Di bawah kilauan cahaya rembulan ditemani bunyi jangkrik dan hewan malam. Dia bersenandung sambil sesekali mengecup kepala bayi itu manakala Vino mulai menenggelamkan wajah ke bahunya. Dia mencoba menikmati fase-fase baru dalam dirinya, dan itu masih seperti mimpi.
Sebelum Lala duduk di alas tipis, dia senyum-senyum sendiri setelah mendapati apa yang dilihat barusan.
Apa salah jika dirinya menilai Richie adalah sosok calon ayah yang baik untuk putranya. Walau mengetahui Richie belum pernah memilki anak, tapi lelaki itu cukup pandai mengambil hati Vino. Terlebih Vino bisa diam dalam gendongan pria yang menurutnya terlihat manis.
“Kenapa? Hih apa kamu sudah mulai nggak waras?” Guskov mendongak, dia bergidik, jangan-jangan saudaranya mulai gila akibat perpisahannya.
“Mm.” Lala semakin menyunggingkan bibir. “Tidak.”Dia menyentuh lehernya dan duduk di sebelah Guskov yang kembali asik dengan ponsel.
“Aku tahu kamu masih mencintai Kevin Kak. Dan Kevin juga selalu mencarimu, apa tidak-”
“Jika tentang ini. Silahkan pergi,” kata Lala terus terang.
“Kakak”
“Ini tidak bisa sepeti ini. Kita harus menyelesaikan pada akhirnya. Saya tahu sebagian besar salah Kevin. Tolong maafkan dia kak.”
“Aku tidak bisa.”
“Tapi kuharap kakak memikirkannya kembali. Tidak ada di dunia ini yang mencintai kakak seperti Kevin. Bagaimanapun dia temanku dari kuliah, aku tahu betul dia bagaimana.”
“Oh, jadi kamu juga tahu dia selalu menemui wanita itu, hm?”
”Ah, itu tidak tahu. Mengapa kakak asal keluar dari rumah itu. Kakak belum coba dengar penjelasan dia, dan-”
“Guskov! Hentikan. Kamu memihak kakak atau dia!?”
“Ah tidak seperti itu maksudku. Ya sudahlah terserah kakak. Tapi, berhati-hatilah dengan Richie, dia berbahaya, aku bingung tidak ada yang menjaga kaka disini. Kakak pindah saja ke rumah mamah, di kota besar banyak penjaga. Disini mah--”
“Dasar cerewet. Kamu ya, hobi sekali mengatur kakakmu.”
__ADS_1
“Dengarlah! Aku mengingatkanmu. Richie itu serigala.”
“Dia, tidak seperti yang kamu pikirkan. Mm … Bagaimana kabar Tisa, bagaimana dengan lambungnya?”
“Istriku sudah tidak apa-apa. Kakak juga jaga kesehatan, lain kali aku bawa mamah ya. Kasian … dia ingin bertemu Vino.”
“Baiklah, tapi jangan pernah telepon. Aku tidak mau ada yang tahu, aku masih butuh waktu.” Lala bangkit menyusul Richie yang baru masuk kamar untuk menidurkan Vino. Melihat Richie yang begitu cekatan memakaikan kaus kaki pada Vino, dan menyelimutinya Lala duduk tertegun, tapi hatinya bagai diputar-putar.
Pantulan cahaya kamar makin memancarkan aura penuh kasih Richie. Kaki Vino begitu mungil di telapak tangan besarnya.
“Apa yang kamu lihat?” Richie menoleh dan bangkit dengan gaya elegan tetap tenang sambil mengulurkan tangan membantu Lala.
“Kamu seperti sudah pernah merawat bayi.”
“Sebenarnya saya pernah-”
“Apa?”
“Hanya menolong seorang bayi yang dibuang.”
“Ya sudah, Saya pulang. Apa tidak ada hadiah malam ini?” Jarak diantara mereka setengah meter.
Lelaki berkaos putih itu maju satu langkah dan aura mendominasi menyelimuti seluruh ruangan.
“Richie.” Dia menggeleng, menagggapi sorot mata elang Richie.
CUP!
Sesuatu panas dan lembab, mendarat di kening. Dimana dadanya bergemuruh ketika menatap leher berjakun yang semakin dekat dan indra penciumannya terus menghirup aroma wangi samar cendana.
Sebelum Richie menjauhkan kepala. Lala memejamkan mata, mengingat lebih dalam wangi yang mulai menjauh.
Richie mengelus pipi Lala yang memerah, bila tidak ada Guskov ingin dia menyentuh bibir strawberry, terlebih karena wanita itu memejamkan mata seolah menunggu dirinya. Richie berbisik dengan jarak satu cm ,“tidurlah. Semoga bermimpi tentang saya, Darling.”
__ADS_1
Dua sudut bibir Lala makin terangkat, dia membuka mata menatap kepergian punggung kekar dan sangat lebar, terlihat kokoh, kaos putih itu begitu ketat.
“Kak!” Guskov melihat pipi Lala yang merah. “Kamu kenapa? Richie sudah pergi, kamu malah seperti orang gila, jangan senyum-senyum sendiri.
***
Lala kembali tinggal berdua dengan Vino. Guskov telah kembali tengah malam dan Richie mulai menempati rumah kosong. Namun, Richie yang sudah tahu Lala bangun jam 5, dia datang jam segitu dengan alasan ingin mendekap Vino saat bocah itu masih tidur, sungguh alasan yang susah diterima Lala.
Kesibukan pagi di rumah Lala menjadi hal baru yang menyenangkan Richie, dia bisa dengan mudah mengganggu wanita itu dan membangun kedekatan dengan sang bayi. Pagi itupun Richie belajar memandikan Vino, tentunya dengan bantuan Lala, Alhasil mereka berdua basah, karena Richie menciprati Lala manakala itu membuat Vino tertawa. Jadilah dua orang dewasa itu saling membalas, dan Vino tertawa dengan gaya lucunya.
Richie yang sudah mandi, hanya menganti baju dengan pakaian baru yang masih di rumah Lala. Lelaki itu mengambil alih Vino yang masih dibelit handuk, Namun tak berselang lama Lala kembali membawa baju Vino.
“Anda tidak perlu bekerja di kolam renang, Tuan Richie.” Lala menghanduki Vino saat lelaki itu memegang bahu mungil yang hendak kabur.
“Kenapa?”
“Kolam renang begitu banyak pengunjung, dan pegawai bilang para pengunjung membicarakanmu.”
“Berani sekali mereka.”
“Itu karena kamu terlalu menonjol, bisa-bisa kolam renang kacau karena keberadaanmu disana.”
“Jadi bukan karena kamu cemburu?”
Lala memakaikan minyak telon pada Vino yang mau kabur merangkak di kasur depan tivi. “Cemburu? Untuk apa? Memang kamu siapa?”
Richie memegangi Vino yang telanjang menghadap Lala, wanita itu mulai memberi bedak ke seluruh tubuh mungil. “Siapa saya? Hm, calon papahnya Vino.”
Wanita itu batuk-batuk
“Kamu tidak apa-apa?” Richie mendudukan Vino, memasukan celana mini ke dalam kaki-kaki mungil.
“Ya, emh … hari ini aku ada pertemuan dengan pengusaha lokal, aku bingung takut kamu bosan… Apa aku tak apa meninggalkanmu sendiri?”
__ADS_1
Richie memandang baju Lala yang putih karena bedak, “sebenarnya kemrin di rumah sakit, ada anak buahku datang dengan begitu cepat dan memberiku Ponsel.”
Wanita itu mengancingkan baju Vino yang telah dipakaikan Richie,”jadi, apa kamu akan kembali ke markas?”