Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 260 : SULIT


__ADS_3

Hari telah malam, saat Lala telah siap dengan gaun merah buatan Lydia tidak terlalu seksi, tapi ini sangat anggun, dengan potongan tidak beraturan di bagian bawah. Dan saat Johan keluar dari pintu, lelaki itu membawa dua helm, satu helm telah dipakai.


"What??? Jo! kamu yakin mau naik motor?!" menunjuk gaun bagian bawahannya, ya, meskipun longgar tapi yang benar saja, naik motor. "Lihat aku! apa perlu aku telpon taksi?" Lala menjadi kesal tapi Johan justru tertawa.


"Sudahlah, nggak usah protes," Johan memakaikan helm pada Lala dengan mengepaskan tali pengaman di leher jenjang wanita itu. Dia menatap Lala membuat Lala tersipu karena sorot mata pria itu yang tajam tak berkedip.


"Begini asik, La. Kamu sudah bosan, kan, naik mobil terus. Lokasinya dekat, tenang saja." Pria jangkung, melepas jas dan memakaikan pada Lala. Wanita itu jelas tenggelam dalam balutan jasnya.


"Jangan tertawa!!" Lala merentangkan tangan, memperhatikan dirinya sendiri.


Panjang jas Johan menutupi hingga sepaha, dan bagian lengan yang menyembunyikan jari-jarinya. Sedangkan Johan terus tergelak tawa dengan memegangi perutnya. Tetapi beberapa saat kemudian, Johan terus tersenyum dan masih menahan tawa, saat menekuk lengan jas agar tangan Lala terlihat.


Pria jangkung mulai menaiki motor yang sudah menyala dari tadi, sambil menatap Lala yang cemberut. Wanita itu melepas kaitan sepatu hak warna putih tulang dan menggantung tas kecil di bahu.


Dengan sedikit susah Lala memegang dua sepatu haknya di tangan kanan dan memegang pundak Johan. Kemudian menaiki dan melempar kaki mencari pijakan di kanan.


"Udah?" Johan bertanya, saat Lala terus mendengus marah. Pria itu mengatur spion kiri untuk bisa melirik ke Lala.


"Bentar," menggeser duduk ke kanan, Lala memindah sepatu ke tangan kiri. Merubah posisi tali tas, yang sebelumnya di bahu - menjadi di leher, dan kini tas mini di perutnya. Tangan kanan memegang pundak Johan, "sudah."


"Kalo udah, hayuk turun."


"Johan!!!" Lala menabok punggung kanan Johan, tetapi lelaki itu kembali tertawa. "Rese! Jo, awas kalau ngebut aku turun naik taksi!"


"Beres nyonya ... "

__ADS_1


"Hati-hati Ayah," teriak Amber saat menggendong Vino, dia senang mendapati ayahnya tertawa lepas.


"Tentu sayang," kata Johan sambil menarik tangan Lala untuk memegang pinggangnya.


Lydia yang baru keluar melongo setelah bunyi motor menggerung dan ayah menancap gas. "Ayah serius naik motor? mana motor sport lagi, kasian ibu duduk kesusahan."


"Huh, Lydia, seandainya mereka seperti itu terus .... " Amber menghela nafas kasar, menatap kepergian ibu dan ayah saat Lydia mengelus pinggangnya.


Johan sepanjang jalan meresapi pelukan Lala, hatinya bergetar, dia sengaja memutar jalan mengambil jalan terjauh. Mengapa Tuhan tidak menyatukan kami?!


"Kenapa jauh? katamu dekat," kata Lala melempar sepatu haknya ke bawah. Melepas helm saat Johan baru mematikan mesin.


"Menurutku dekat kok. Kamu bilang jangan ngebut, ya, aku jadi pelan-pelan." Johan melepas helm melirik orang-orang yang sepertinya sudah di dalam memulai acara.


"Huh, aku berantakan lagi kan," melepas jas Johan, dan desis angin cukup kencang hingga membuatnya menggigil.


"Mereka mungkin sudah mulai." Johan tersenyum, bibirnya tak bisa menyembunyikannya kesenangan, saat Lala mulai mengkancingkan jas di bagian pinggang. Johan ikut menyisir rambut Lala dengan jemarinya, tidak banyak, hanya menyingkirkan rambut Lala ke bagian belakang telinga, dan meluruskan garis belahan rambut tengah.


"Diam," Johan berjongkok, "angkat," Johan mengambil sapu tangan dan mengelap telapak kaki Lala dan memakaikan high heels kanan.


"Biar aku sendiri," Lala menatap ke bawah, sambil berpegangan pada motor.


"Sudah biar cepat," Johan memakaikan sepatu heel lainnya setelah mengelap telapak kaki Lala, aroma vanila begitu kentara saat terbawa angin.


"Sudah siap?" Johan meraih genggaman saat wanita itu mengangguk.

__ADS_1


"Dia teman apa?" tanya Lala berjalan perlahan.


"Teman kontraktor," Johan membuat Lala menggandeng lengannya begitu memasuki hall room. Orang-orang sudah mulai makan, sepertinya benar, jika terlambat, tak masalah bagi Johan.


Johan menemui beberapa rekannya dan Lala hanya tersenyum saat mereka mengobrol soal seputar perusahaan, proyek, nominal. Lala berjalan menjauh ke meja terdekatnya sambil memandangi tarian china, dia meraih potongan roti.


"Hai," suara datang dari arah belakang, "aku kira siapa."


Lala mendongak ke belakang, "mas Luca. Ah ya, pasti teman kontraktor ya?" Lala menatap Luca dan melirik kanan kiri. "Mana mbak Zaya?"


"Ya, teman kontraktor. Zaya, sedang ke toilet." Luca mengambil kue dan melirik Johan yang sedang mengobrol, entah mengapa dirinya menjadi gugup dan tangannya meraih segelas minuman beralkohol di dekat kue, meremas gagang gelas saat Lala fokus menonton pertunjukan.


"Dimana kamu akan menetap nanti?" tanya Luca setelah menggelegak satu gelas dengan cepat.


"Sepertinya, di sini mas." Lala melirik sebelah pada wajah Luca yang memerah. "Ah aku aku mau ke toilet juga," kata Lala saat mendapati tatapan tajam Zaya yang baru muncul. "Permisi."


Hari mulai larut, Johan meminjam mobil managernya, saat Lala mabuk. Pria itu tidak mengerti kapan ibu dari anak-anaknya itu, menyentuh minuman, tetapi selepas berdansa, wanita itu terus melantur dan segala omongan keluar darinya. Entah Bella, Kevin, Richie semua keluar, setah seminggu ini wanita itu terus diam.


"Jadi, akhirnya kamu tahu tentang Kevin?" Johan mengemudi perlahan dengan tangan kanan. Sepanjang jalan meremas tangan lembut Lala yang dibawa ke pahanya.


"Jadi, kau takut dengan Kevin pada akhirnya? mengapa kau memikirkan itu. Perkara Bela dan Kevin itu masalah mereka, bukan salahmu. Dan meski tanpamu, mereka tetap akan bermusuhan."


Johan menepikan mobil, mengisi BBM, setelah jalan kembali Johan menyetel musik. Rasanya, enggan untuk kembali ke rumah.


Alhasil dia terus memutari pinggiran kota tanpa arah, sesaat kemudian berhenti ... Air mata berderai meluncur ke pipinya dengan marah, di pinggir laut menatap deburan ombak menutupi gaun Lala dengan jas dan mengecup pipi kanan Lala yang bau Vanila. "Kau tak pernah melihatku?" bisiknya dengan kesal.

__ADS_1


Keluar dari mobil, Johan ke warung, membeli sebungkus rokok dan memesan segelas kopi hitam.


Duduk di dermaga ditemani penjual kopi yang memakai sarung dan penutup kepala. Johan tidak mempedulikan kencangnya angin, seperti itulah hatinya, dingin pergi tak tentu arah, pasrah menatap dam lepas pantai, pada perahu-perahu nelayan yang bergoyang.


__ADS_2